Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
48. Kegelisahan Shinta


__ADS_3

Hari ini hari ke empat pasca Reyhan keracunan, namun belum ada tanda-tanda ayah satu anak itu akan bangun dari tidur panjangnya. Shinta yang setia menunggunya setiap saat sekarang dalam kegelisahan, bukan tanpa sebab tapi karena dia binggung untuk memilih.


Mama Syila akan operasi tiga hari lagi, itu berarti dia harus kembali ke Jakarta besok, karena Mama Syila harus sudah menginap dirumah sakit satu hari sebelum operasi. Shinta binggung dia harus menemani Mama Syila operasi seperti janjinya pada Mamanya itu dan dilain sisi dia tidak bisa meninggalkan Reyhan suaminya dalam keadaan seperti ini.


"Bang Rey, Shinta harus bagaimana sekarang. Shinta sayang sama kalian berdua, kenapa abang tidak mau bangun. Apa Bang Rey sudah tidak mau melihat Shinta lagi bang? Kenapa? Bagaimana dengan Ilham? Dia membutuhkan abang disisinya, mendampinginya, bermain dengannya. Shinta mohon Bang Rey bangun bang" Shinta kembali terisak.


Tanpa Shinta sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari balik pintu kamar inap Reyhan. Orang itu tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Shinta namun dia sangat yakin Shinta sangat sedih dengan keadaan suaminya.


"Aku tidak peduli dengan kesedihanmu, aku akan tetap menunjukkan wajahku sebagai kekasih Reyhan dan menunjukkan padamu kemesraan kami selama satu minggu kemarin" gumanya dengan senyum penuh arti.


Orang itu bersiap membuka pintu kamar rawat inap Reyhan tapi gerakannya terhenti saat disampingnya sudah berdiri dua orang yang dia kenal.


"Lyra" orang dihadapannya memanggil. Mereka dapat mengenalinya walau dia mengenakan masker diwajahnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Jes, kapan kamu datang?"


"Jangan mengalihkan pertanyaanku Lyra. Apa yang kamu lakukan disini?" Jessyca mengulangi pertanyaannya.


Lyra menatap Jessyca dan Jonathan bergantian, tampak jelas raut wajah Jonathan yang tidak suka dengan kehadirannya disini.


"Jes, kamu datang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk mengunjungi sahabat laki-lakimu?" sindir Lyra yang tidak tahu keadaan sebenarnya. Yang dia tahu dia bersaing dengan Jessyca untuk mendapatkan hati Reyhan dimasa lalu.


"Istri Reyhan adik suamiku" jelas Jessyca.


"Apa?" Lyra tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Ikut denganku" Jessyca menarik tangan Lyra lalu berbalik lagi pada Jonathan. "Jo, kamu temui saja Shinta, aku akan menyusul setelah urusanku dengan Lyra selesai" tanpa menunggu jawaban dari Jonathan, Jessyca kembali menarik tangan Lyra untuk ikut bersamanya.


"Kamu takut kalau aku akan membuka kisahmu mendapatkan Reyhan pada suamimu, sehingga kamu menarikku ketaman ini"


Jessyca menggelengkan kepalanya "Pertama aku tidak pernah menginginkan Reyhan, kedua aku tahu apa yang membawamu berdiri dipintu kamar inap Reyhan"


"Farrel yang memintamu bukan?" lanjut Jessyca kata-katanya setelah dia diam sesaat.


"Apa kamu yang memberi racun pada Reyhan?" Jessyca langsung pada inti persoalannya, tidak perlu berbasa-basi pada sepupunya yang sudah lama tidak pernah akur lagi dengannya. Tepatnya setelah Jessyca tahu kalau Lyra menyukai Reyhan.


Bukan karena Jessyca menyukai Reyhan tapi lebih tepatnya dia ingin melindungi sahabatnya dari wanita seperti Lyra. Dia sangat tahu wanita seperti apa sepupunya ini.


"Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh pada pria yang aku sukai, tapi aku tahu kamu pasti bisa menebak siapa pelakunya. Aku juga sedang mencarinya untuk bertanggung jawab, karena saat ini aku yang jadi tersangka utamanya"


"Lalu untuk apa kamu mengunjungi Reyhan" Jessyca benar-benar tidak mengerti apa tujuan sepupunya ini.


"Tentu saja untuk mengunjungi kekasihku" kekeh Lyra.


Lyra terkekeh mendengar ucapan Jessyca. Dia membenarkan apa yang diucapkan sepupunya itu. Karena itulah Farrel akhirnya menyuruh orang untuk membunuh Reyhan dengan cara memberinya racun.


"Aku memberimu waktu satu minggu untuk mendapatkan Reyhan. Kamu dapatkan dia dan aku akan mendapatkan Shinta"


"Apa tidak bisa memberikan waktu lebih lagi padaku Farrel?"


"Hanya satu minggu" tegasa Farrel pada Lyra.


"Kalau aku tidak berhasil?" tanya Lyra, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Farrel.

__ADS_1


"Aku akan membunuhnya lalu menculik Shinta, kekasihku"


"Baiklah akan aku coba mendapatkan hati Reyhan, setidaknya satu minggu ini aku bisa bersamanya. Apa perlu aku tarik ketempat tidur seperti pria yang lainnya?" Lyra memberitahu idenya pada Farrel.


"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukakan, bisa membawanya ketempat tidur itu lebih baik, setidaknya membuat Shinta membenci suaminya" Farrel tersenyum senang dengan ide Lyra.


"Kamu dan Farrel sama-sama gila" kesal Jessyca setelah mendengar cerita apa yang menjadi kesepakatan Farrel dan Lyra.


"Kamu tidak berhasil bukan?" ledek Jessyca pada Lyra. "Reyhan laki-laki setia, bahkan Cindy mantan kekasihnyapun tidak bisa merayunya walau sudah tidak mengenakkan benang sehelaipun. Shinta juga sangat percaya pada Reyhan asal kamu tahu. Dia tidak mungkin percaya dengan kata-katamu yang akan mengaku sebagai kekasihnya" Jessyca memberitahu Lyra apa yang dia ketahui.


"Jangan ganggu Reyhan dan istrinya lagi. Carilah Farrel dan minta dia membersihkan namamu" Jessyca berdiri meninggalkan Lyra yang tersadar kalau saat ini dia menjadi tersangka untuk kasus keracunan pada Reyhan.


Pelaku yang ditangkap polisi menyeret nama Lyra sebagai orang yang memerintahkan untuk memberi racun, itu yang Lyra ketahui dan polisi sekarang mencarinya. Bahkan apartemenya sempat digeledah. "Farrel kurang ajar kamu. Aku tidak akan diam saja, aku yakinkan kalau kau juga akan aku tarik, karena kamulah yang memerintahkan mereka untuk meracuni Reyhan" gumam Lyra lalu berdiri mebinggalkan rumah sakit.


Sementara itu dialam kamar inap Reyhan, Shinta yang sedang binggung, gelisah dan sedih merasa lebih tenang setelah Jonathan memeluk dan membiarkannya menanggis didada laki-laki yang sangat mencintainya. Yang rela berkorban demi kebahagiaannya, dan datang disaat dia benar-benar membutuhkan orang yang bisa menenangkannya.


Shinta mengurai pelukan Jonathan "Aku sudah lebih baik Nath, terima kasih" dia tahu ini salah, tapi dia sangat membutuhkannya saat ini.


Jonathan berjalan mendekati Reyhan yang masih setia dengan tidurnya.


"Bangun atau akan aku ambil istrimu. Bukannkah aku sudah memberitahumu untuk membahagiakam Shinta. Kalau kamu seperti ini kamu menyakiti adikku. Bangun sebelum aku membawa Shinta pergi jauh darimu" Jonathan bicara cukup keras.


Jonathan sengaja memancing emosi Reyhan agar terjaga. dia yakin pria yang terbaring ini bisa mendengarnya. Karena itu dia mengatakan hal yang sangat ditakuti Reyhan.


Jessyca memperhatikan dari balik pintu kamar rawat inap Reyhan. Suara Jonathan yang keras membuatnya bisa mendengar apa yang diucapkan Jonathan.


"Jo, kamu sangat mencintai Shinta sampai kamu rela mengorbankan perasaanmu sendiri" lirih Jessyca melihat suaminya yang sangat mencintai Shinta.

__ADS_1


"Akankah aku bisa mendapatkan cintamu Jo" batin Jesayca lalu dia membuka pintu kamar rawat inap Reyhan, dia masuk seakan-akan tidak mendengar apa-apa. Jessyca tersenyum pada Sinta yang juga tersenyum padanya.


...◇◇◇...


__ADS_2