Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
7. Sebuah Rahasia


__ADS_3

Suasana kediaman Zein ramai dengan suara anak-anak laki-laki yang sibuk bertanya jawab dengan Tante Vina mereka, Vina, adik zein dan putri kedua keluarga Harley tersebt baru saja selesai berdongeng pada lima keponakannya yang lucu dan tampan. Tidak jauh dari anak-anak itu ada Dea dan Jo yang tidak tertarik dengan dongeng yang diceritakan Vina. Sementara para pria dewasa sibuk bicara perusahaan yang mereka dirikan bersama, tidak jauh dari duduk anak-anak, sementara para istri sibuk bicara di ruang keluarga.


Shinta tidak terlalu banyak bicara, bukan dirinya yang sebenarnya bersikap seperti itu, tapi keempat wanita yang tahu perasaan Shinta, terlebih lagi Nayla, mengerti dengan sikap berbeda Shinta. Apalagi kalau bukan kehadiran Cindy.


"Jadi Mbak Cindy mau menetap disini?" tanya Nayla mewakili perasaan Shinta yang ingin tahu tujuan Cindy kembali ke Indonesia.


"Iya Nay, pengen cari suasana baru" jawab Cindy santai.


"Jo sudah mau SD. Sekolah di Belanda butuh biaya besar, jadi lebih baik sekolah disini, walau swasta tidak sebesar di Belanda" lanjut Cindy.


"Bukankah kita punya yayasan sekolah sendiri Mbak? Untuk anggota keluarga hanya diwajibkan membayar setengahnya. Seperti Dafa" Jawab Nayla membuat Cindy tidak bisa berkutik.


"Di Bandung apa Cimahi?" tanya Nayla lagi, melihat Cindy yang hanya diam.


"Cimahi" jawab Cindy cepat.


"Rumah Mbak kan di Cimahi Nay. Kalau di Bandung merepotkan kamu sama Zein" lanjut Cindy.


"Teh Shinta" panggil Vina.


"Teteh di panggil Abang Rey" ucapnya, menyampaikan pesan Reyhan.


"Bukan kebiasaan Bang Rey memanggil. Biasanya dia akan datang langsung menghampiri Teteh" Sela Nayla.


"Iya, Bag Rey sombong sekarang, tidak mau ketemu kita" Citra menimpali.


Shinta berdiri begitu Vina menyelesaikan ucapannya, sambil terkekeh mendengar ucapan Citra. Tapi kepalanya sedikit pusing, sudah dua hari ini dia merasa tidak nyaman dengan kesehatannya.


"Teteh kenapa?" tanya Mery, sebagai dokter, Mery cukup jeli bila seseorang dalam kondisi tidak baik.


"Teteh jangan-jangan hamil lagi ya" ucap Citra menggoda.


"Bang Rey doyan gempur soalnya" Citra terkekeh setelah mengucapkannya, diikuti yang lain. Hanya Cindy yang wajahnya berubah asam, tidak suka dengan ucapan Citra.


"Semalam berapa ronde Teh?" kali ini Bella yang bicara.

__ADS_1


"Tiga ronde nonstop, tanpa jeda" jawab Shinta, sengaja membuat telinga Cindy panas.


"Wah.... bisa-bisa kembar dong teh" timpal Nayla.


"Tambah rame anggota keluarga kita" sahut Mery.


Bukan tanpa maksud, keempat sahabat itu punya tujuan membuat Cindy sadar, kalau Reyhan adalah milik Shinta.


Tanpa sengaja Mery mendengar Cindy sedang bicara dengan seseorang lewat pangilan Video di kamarnya, pintunya sedikit terbuka. Mery baru pulang dari rumah sakit saat itu, dan Cindy tidak sadar kehadirannya.


Terdengar suara laki-laki dari panggilan video itu berbicara pada Cindy tentang Jojo.


"Aku ingin bertemu Jo" ucap pria itu.


"Sabar sedikit Nu, aku baru berapa hari disini" jawab Cindy.


"Kamu setiap hari bertemu Jo, tentu tidak merasakan rindu padanya. Apa salah seorang ayah merindukan anaknya?" tanya pria tersebut.


"Besok aku bawa Jo bertemu kamu" jawab Cindy.


"Cukup Nu, aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan mu. Melahirkan Jo kesalahanku, sampai aku harus melepaskan Reyhan" jawab Cindy lagi.


"Ayolah Cin, hanya aku yang bisa kasih kamu kepuasan, sampai kamu meminta berkali-kali. Reyhan tidak pernah tertarik padamu walau kamu sudah tidak berpakaian" laki-laki diseberang sana tertawa puas.


"Itu dulu, karena dia belum tahu nikmat bercinta. Sekarang berbeda, dia sudah tahu rasanya bercinta, dengan sedikit godaan Reyhan pasti akan jatuh dalam pelukanku, dan aku bisa merasakan miliknya memasuki ku" jawab Cindy sombong.


"Aku harap kamu gagal dan kembali dalam pelukanku, dan hanya milikku yang bisa memasuki milikmu, seperti biasanya, kamu pasti akan lari padaku, dan meminta aku yang memuaskan keiginanmu" pria itu kembali tertawa lepas.


Mery panas mendengarnya, tapi dia harus mendengar sampai selesai percakapan dua orang yang tidak takut dosa ini.


"Cukup Banu, jangan ganggu aku untuk mendapatkan Reyhan, dan aku akan meyerahkan Jo padamu sebagai balasannya"


"Karena kamu tidak butuh uangku lagi bila kamu bersama Reyhan, dengan mudah kamu melepaskan hak asuh Jo padaku. Kamu benar-benar licik Cindy, kamu memanfaatkan Jo agar aku setiap bulan memberi uang padamu. Kamu tidak tulus menyayangi Jo" ucap pria itu dengan nada marah.


"Iya, karena Jo itu anakmu, bukan anak Reyhan" jawab Cindy dengan nada menghina.

__ADS_1


"Ingat Cindy aku sudah meminta mu baik-baik, menikah dengan ku saat kamu hamil Jo. Bukan aku yang tidak ingin bertanggung jawab padamu, tapi kamu yang tidak ingin aku bertanggung jawab, dan membuat jalan cerita sesuai keinginanmu. Tapi apa yang kamu dapat, ternyata Reyhan tidak mencari dan menunggumu. Dia menikahi wanita lain. wanita baik-baik. Bukan menikahi wanita sepertimu, wanita yang jadi kekasihnya tapi tidur dan punya anak dengan pria lain. Wanita dengan kebutuhan hasrat yang tinggi, bahkan walau di Belanda, kamu tetap mencariku untuk memuaskan mu" laki-laki itu kembali tertawa menghina Cindy.


"Suatu saat kebohonganmu tentang diperkosa akan terbongkar Cindy, ingat itu. Zeyn dan Nayla akan sangat membencimu. Pada akhirnya kamu akan kembali padaku, tidak ada laki-laki lain yang bisa menerimamu kecuali aku. Itu juga karena aku yang mendapatkan keperawanamu dan ada Jo diantara kita. Kalau saja saat kau tidur dengan ku kau tidak perawan dan tidak ada Jo diatara kita, tentu aku akan senang hati melepaskanmu dan tidak perlu repot-repot membujukmu" Jelas laki-laki itu, tidak ada sahutan dari Cindy, dia hanya diam membisu, mebenarkan apa yang diucapkan pria diseberang sana, ayah dari anaknya.


"Aku menerimamu hanya karena Jo,Cindy. Tidak lebih dari itu, walau aku juga suka dengan caramu memuaskan juniorku" Laki-laki itu kembali tertawa.


"Besok bersiaplah, kita bertempur saling memuaskan seperti biasanya. Reyhan tidak akan tahu, dulu saat kamu jadi kekasihnya saja dia tidak tahu kalau kamu sering tidur dan menikmati malam panas bersamaku, apa lagi sekarang, dia sibuk dengan anak dan istrinya, yang mungkin juga menikmati malam panas dengan istrinya" tawar laki-laki itu.


"Besok aku kerumahmu" jawab Cindy.


"Tentu sayang, aku akan menunggumu. Kita bertempur siang dan malam sampai kamu puas" goda laki-laki itu sambil tertawa bahagia.


Mery segera pergi setelah keduanya mengakhiri percakapan mereka, yang bagi Mery benar-benar pulgar. Mereka tidak menutupi dan mersa malu dengan hubungan yang mereka lakukan. Mery tidak mau peduli dengan hubungan mereka, yang menjadi pikirannya saat ini adalah tujuan Cindy kembali ke Indonesia sebenarnya.


Mery menghubungi ketiga sahabatnya di group lama mereka, dimana yang hanya beranggotakan mereka berempat.


Mery [Kita harus bertemu. Segera sebelum pertemuan sabtu nanti]


Nayla [Ada apa?]


Citra [Penting?]


Bella [Tentang Teteh?]


Mery [Iya, sebuah rahasia luar biasa yang baru aku ketahui. Untuk kebaikan Teh Shinta dan Bang Rey]


Nayla [Besok saat anak-anak di Sekolah. Di cafe Zein]


Bella [👌]


Citra [Siaap]


Mery [Aku tunggu]


Mery masih memegang ponselnya, sambil berpikir, "Aku harus memberi tahu Zein terlebih dahulu" pikirnya.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2