
"Dev, buka pintunya cepat" Devi melongo pada Shinta, dia tidak percaya dengan apa yang diperintahkan wanita itu. Mengapa Shinta membiarkan penjahat itu masuk? pikirnya.
"Buka Dev, sekarang" Shinta kembali meneriaki Devi saat melihat istri mantan kekasihnya itu masih berdiam diri.
Dengan perasaan takut dan juga tidak mengerti maksud Shinta, Devi mengikuti perintah Shinta untuk segera membukakan pintu.
Ceklek kunci terbuka, Dewa segera mendorong pintu yang sudah tidak terkunci itu, dia masuk keruang kerja Shinta dan Devi lalu menutupnya kembali dan tidak lupa memutar kuncinya agar pintu tempatnya saat ini kembali terkunci.
"Kenapa lama sekali" Ucap Dewa begitu dia membalikkan badan dan membuka maskernya.
"Dewa" teriak Devi begitu menyadari pria yang ada dihadapannya adalah suaminya yang langsung dipeluknya. Ada perasaan lega dalam hatinya.
"Pelankan suaramu" Dewa mengingatkan istrinya jangan sampai pihak luar mendengar. Bila itu terjadi maka gagal semua rencana yang akan mereka jalankan.
Sementara itu Shinta masih mencoba menghubungi Reyhan, dia ingin memberitahu suaminya kalau saat ini sudah ada Dewa bersama mereka.
Reyhan mengendarai kendaraannya lebih cepat, untuk sementara dia tidak menghiraukan suara telpon yang terus berbunyi. Sampai akhirnya dia menghentikan kendaraannya tidak jauh dari toko Shinta. Berjalan mendekati toko dimana pengawal Shinta berada.
"Sayang bagaimana keadaan kalian?" tanya Reyhan begitu dia menghubungi Shinta setelah mengecek siapa yang dari tadi mengubunginya.
"Kami baik bang. Aku hanya ingin memberitahumu kalau sekarang ada Dewa bersama kami" jelas Shinta membuat Reyhan sedikit tenang.
"Syukurlah Dewa sudah berhasil masuk" ucapnya. "Kalau begitu kalian bersembunyilah di kamar rahasia. Biarkan Dewa yang menghadapi mereka bila mereka masuk keruangan kalian"
Shinta sangat mengerti apa yang diperintahkan suaminya itu, dia mengiyakan semua yang Reyhan katakan.
Disinilah sekarang Shinta, Ilham, Devi dan satu karyawannya berada. Diruang privat untuk Shinta dan Devi istirahat. Tempat ini didesain khusus oleh Nayla dan Citra sebagai desain iterior yang memiliki banyak ide. Dari ruang kerja tidak terliha kalau ada ruang rahasia ini, karena tidak ada pintu yang menghubungkan. Melainkan sebuah rak besar yang bila didorong akan menjadi penghubung antara dua ruangan.
Shinta menidurkan Ilham ditempat tidur yang memang mereka siapkan diruang rahasia ini. Sementara Devi duduk dengan cemas, karena saat ini Dewa hanya sendiri diruang kerja mereka. Dia membayangkan bagaimana suaminya akan menghadapi musuh mereka yang jumlahnya tidak sedikit.
"Dewa tidak sendiri, Bang Rey sudah bersama orang-orangnya Dev. Sekarang kita banyak-banyak berdoa saja" ucap Shinta saat meyadari kegelisahaan Devi.
Devi mengiyakan ucapan Shinta. "Polisi juga akan segera tiba. Temanku baru saja mengirimkan pesan" jawabnya.
__ADS_1
Diluar, Dewa dan Reyhan sedang berkoordinasi sambil terus memantau keadaan toko.
"Orang-orang kita sudah siap ditempat masing-masing" jelas Reyhan pada Dewa, agar Dewa tidak perlu khawatir bila para perusuh itu masuk keruang kerja Shinta dan Devi.
"Ya, dua dari mereka sudah berjalan keruangan ini" jawab Dewa yang matanya tidak berpaling dari layar pipih yang ada dihadapannya.
Dari layar ini dia bisa melihat kekacauan yang ada. Beruntung tadi pihak musuh tidak menyadari kehadiran Dewa yang masuk dari pintu belakang secara diam-diam, karena musuh terlalu fokus pada bagian depan.
"Farrel" ucap Dewa saat pria yang berjalan keruang dimana dia berada membuka maskernya.
Reyhan yang masih terhubung dengan Dewa bisa mendengar nama yang disebutkan mantan kekasih istrinya itu.
"Jadi ini ulahnya" gumam Reyhan. Dia langsung memutus sambungannya dengan Dewa lalu menghubungi Zein.
"Iya bang" sahut Zein dari seberang sana.
"Farrel membuat ulah di toko tetehmu. Segera hubungi detektif yang menyelidiki kasus keracunan abang. Minta dia segera datang ke toko" Reyhan langsung memberi tahu Zein apa yang terjadi, begitu saudara Shinta itu mengangkat panggilannya.
"Terima Farrel, kami bergerak sekarang" jelas Reyhan.
"Baiklah" sahut Dewa tanpa mengakhiri sambungan teleponnya dengan Reyhan.
"Hitungan ketiga dari sekarang" lanjut Dewa.
"Siap" Reyhan memberi kode kalau orang-orang mereka siap bergerak.
Dengan santai Dewa membuka pintu dan membiarkan tamunya masuk.
"Dimana Shinta?" Farrel langgsung menanyakan keberadaan Shinta saat dia tidak melihat keberadaan orang yang dicarinya.
"Shinta sedang pergi makan siang bersama istriku" jawab Dewa dengan tenang.
Dewa mempersilakan Farel dan anak buahnya duduk disofa. Sedangkan dia kembali duduk dimeja kerja Shinta dan Devi. Dia dapat melihat pergerakan orang-orang Reyhan yang menjatuhkan musuh satu persatu tanpa di ketahui bos mereka Farrel.
__ADS_1
"Saya yakin dia masih ada disini, kami tidak melihat dia keluar dari toko ini sejak tadi bos" ucap anak buah Farrel.
Dewa tersenyum "Anda bisa mencarinya kalau memang dia ada disini" ucapnya.
Farrel kembali mengedarkan panglihatannya, mencoba mencari sesuatu petunjuk keberadaan Shinta. Tapi ruangan ini bersih, hanya ada tumpukan pakaian dilantai yang habis di periksa serta sample pakaian yag tersusun rapi di rak-rak yang ada diruangan ini dan nota-nota yang tersusun rapi., serta beberapa pajangan dan aksesioris.
Farrel juga melihat beberapa pot berisi tanaman hidup di dua sudut ruangan ini. Ciri khas seorang Shinta yang sangat menyukai tanaman.
"Suruh yang lain cari kelantai dua, jangan sampai ada yang terlewatkan" Farrel memberi perintah anak buahnya, setelah dia menatap tajam Dewa yang juga membalas menatap tajam padanya. Kedua mantan kekasih Shinta itu diam membisu dengan pikiran mereka masing-masing.
Anak buah Farrel keluar dari ruang kerja Shinta dan Devi seperti yang diperintahkan bosnya, dia langsung di sergap begitu keluar dari ruangan dan dibawa menjauh oleh pengawal Shinta untuk bergabung bersama teman-teman mereka yang lain yang sudah terlebih dahulu dilumpuhkan.
Sementara itu diluar Reyhan melihat kedatangan polisi, dia segera mendekati dan memperkenalkan diri. Dia menceritakan apa yang terjadi di toko dan siapa yang melakukan ini semua.
"Maaf kalau orang-orang saya begerak lebih dulu, karena ini sangat mendesak" ucap Reyhan di akhir katanya setelah memberitahu polisi.
"Tidak apa-apa, tadi saya di hubungi Devi" sahut polisi yang diajal Reyhan bicara.
"Tinggal satu orang didalam pak, dia dalang semua ini" jelas Reyhan.
Ditengah perbincangan mereka, detektif yang menangani kasus kercunan Reyhan datang, dia langsung menemui Reyhan dan rekannya.
Polisi masuk untuk menangkap Farrel dan anak buahnya. Mereka masuk tanpa suara, diawali Reyhan yang memberi kode orang-orangnya untuk tetap diam.
Polisi bergerak, mereka terlebih dahulu mengamankan anak buah Farrel yang sudah di lumpuhkan oleh orang-orang Reyhan.
Sementara Dewa terus memantau keadan diluar melalui layar dihadapannya, dia cukup lega karenan polisi sudah tiba sambil sesekali dia melihat ke arah Farrel. Dewa menghitung mundur saat polisi sudah berjalan kearah dimana ruangan yang saat ini dia berada.
Tiga..... dua..... satu
"Jangan bergerak" polisi masuk dan langsung menangkap Farrel.
...◇◇◇...
__ADS_1