Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
38. Penjelasan Peristiwa


__ADS_3

Mery keluar dari ruang operasi, baru kali ini dia membantu proses persalinan yang ibunya sudah tidak bernyawa lagi. Keringat dingin membanjiri dirinya, ada rasa pedih yang dia rasakan, walau bayi itu dapat dikeluarkan dari rahim ibunya dengan selamat tapi kondisinya sangat lemah. Tugasnya sebagai dokter kandungan sudah dia lakukan dan dokter anaklah yang sekarang bertanggung jawab atas bayi kecil itu, namun tetap saja dia merasakan sedih saat ini.


"Bagaimana keadaan anak dan cucu saya dok?" tanya seorang wanita paruh baya saat dia keluar dari kamar operasi


Kalau saja keadaannya normal tentu saja Mery akan menyampaikan kabar bahagia ini pada pihak keluarga dengan wajah dan senyum bahagia. Namun kali ini dia membantu persalinan dimana sang ibu sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mery menarik nafas panjang untuk menormalkan detak jantungnya, walau pahit dia harus meyampaikan berita ini pada pihak keluarga.


"Bayinya laki-laki, dia bisa diselamatkan, sekarang sedang diperiksa dokter spesialis anak. Untuk ibunya saya mohon maaf, dia tidak dapat diselamatkan, dia sudah meninggal sebelum dibawa kerumah sakit" jawab Mery pada wanita paruh baya itu yang hanya bisa menangis mendengar apa yang disampaikan Mery.


Tak lama Mery selesai menyapaikan apa yang terjadi, tiba-tiba seorang pria dengan keadaan berantakan mendorongnya kedinding dan mencekik lehernya.


"Kamu membunuh istri saya, kamu membunuhnya" teriaknya.


Mery yang tidak menyangka akan diserang hanya bisa berontak, namun semakin berontak semakin keras pria itu menekan lehernya, dia yang sudah lelah sejak pagi terlebih lagi baru saja selesai melakukan operasi tidak bisa berbuat banyak, Mery pasrah, dia semakin kesakitan dan lemah dengan cekikan dilehernya. Pria itu tidak mau melepaskanya walau sang ibu sudah memintanya melepaskan Mery.


Bruuk


Suara keras hasil gerakan tangan Zein yang melayang pada pria yang mencekik Mery membuat pria itu melepasakan cekikanya pada Mery.


Zein ada disana untuk menjemput Mery, dia sudah dikabari asisten Mery kalau istrinya sudah selesai operasi, Melihat dengan mata kepalanya sendiri nyawa istrinya dalam bahaya, tanpa pikir panjang dia melepaskan tinjunya pada pria tersebut.


Zein langsung membawa Mery dalam pelukannya dan memeriksa tanda merah dileher istrinya. "Ayo kita obati" ajak Zein yang langsung membawa Mery ke UGD. Sedangkan pria tersebut diamankan oleh pihak security rumah sakit.


Setelah dua hari dari kejadian itu, Mery mendengar kabar kalau bayi yang diselamatkannya ikut pergi menyusul ibunya. Kecewa dan sedih juga diarasakan Mery, tapi tidak ada yang bisa melawan kehendak yang diatas. Dia juga memaafkan apa yang dilakukan ayah bayi tersebut padanya dengan tidak melaporkannya pada pihak berwajib. Mery berpikir mungkin saat itu pria itu sedang emosi karena istrinya yang baru saja meninggal, untuk itu dia memakluminya dan bekerja seperti biasa.


Satu minggu setelah kabar bayi yang ditolongnya meninggal, Mery mendapat teror. Tapi dia mengabaikannya, tidak ingin terusik dengan masalah ancaman untuk dirinya. Mery tidak takut, semenjak resmi menjadi anggota keluarga Harley dia mendapatkan fasilitas seorang pengawal pribadi yang selalu menjaganya dari jarak jauh. Hanya saat Mery bersama Zein, pengawal itu diijinkan untuk istirahat. Seperti saat kejadian hari itu, sang pengawal sedang tidak ditempat, karena Zein mengabarinya kalau dia sudah ada dirumah sakit.


Keadaan Mery sudah mulai membaik, dia sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ditemani Shinta dan Nayla juga Jessyca di ruangan Reyhan.

__ADS_1


Sementara para pria sedang membereskan kekacauan yang terjadi dibawah bersama beberpa polisi yang sempat dihubungi Zein.


"Teh Shinta, Mery udah bisa ikut ke ruang meeting belum?" tanya Melly yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.


"Ada apa Mel?" Nayla yang bertanya.


"Ada pihak yang berwajib mau minta keterangan Mery untuk laporan. Mereka sudah menunggu di ruang meeting bersama Zein, Bang Rey dan Kak Sandy" jelas Melly.


Nayla mendekati Mery dan bertanya pada sahabat yang sudah jadi saudaranya itu "Bagaimana Mer, kamu udah bisa kasih keterangan?" tanyanya. Mery mengangguk walau lemah, dia sudah menyerah untuk tidak melaporkan kejadian ini pada polisi.


Zein langsung berdiri mendekati Mery dan merengkuh tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya.


"Semua akan baik-baik saja" ucap Zein mencoba memberi kekuatan pada istrinya.


Semua sudah duduk ditempat masing-masing. Mery dimintai keterangan saat kejadian dia membantu proses persalinan istri pelaku hingga kejadian hari ini. Mery menceritakannya dengan lancar, saat itulah Shinta baru mengerti apa yang sebenarnya terkadi pada Mery sampai dilecehkan seperti tadi.


"Jadi Mery itu adiknya istrinya Reyhan?" tanya Jessyca pada Melly.


"Adik ipar" tegas Melly, namun dia malas menjelaskan lebih jauh lagi tentang hubungan Shinta dan Mery sebenarnya.


"Kalau istrinya Sandy, ada hubungan apa sama istrinya Reyhan?" Jessyca sepertinya sangat ingin tahu siapa saja yang dekat dengan Reyhan. Melly kalau boleh jujur dia sangat malas berurusan dengan Jessyca, dengan terpaksa dia menjelaskan hubungan Shinta, Nayla dan Zein.


"Oh, jadi mereka itu sepupu, pantas saja sangat dekat. Kamu juga sebagai sekertaris sepertinya sangat dekat dengan Reyhan dan istrinya"


kepo banget nih orang, batin Melly. "Ya... gimana tidak dekat, sayakan adiknya Bang Rey" adik sepupu lanjutnya dalam hati.


"Kamu adik Reyhan?" ulang Jessyca dengan cukup keras, membuat perhatian Jonathan dan Harem beralih padanya.

__ADS_1


"Iya Mbak bule, saya ini adiknya Bang Reyhan" ulang Melly dengan suara yang tidak kalah keras dengan Jessyca.


"Bukannya Reyhan tidak punya adik?"


"Siapa bilang, buktinya ada saya" jelas Melly sambil tersenyum penuh arti. Syukurin binggung kan kamu. batin Melly menertawakan Jessyca. Makanya baik-baik sama aku.


"Assalamualaikum, tante Melly" Ilham memberi salam mendekati Melly diikuti Raka, Zola, Awan dan Revan.


"Waalaikumsalam, keponakan-keponakan tante udah pulang sekolah ya" sambut Melly mencium mereka satu persatu. Yang mendapat tatapan penuh tanya dari Jessyca, Jonathan dan Harem.


Dibelakang kelima anak itu ada Citra dan Alex serta Bella dan Roy. Inilah kekompakan kelima sahabat yang juga saudara ini, mereka selalu ada disaat yang lain mendapatkan kesusahan.


"Mas Alex dan Citra sudah ditunggu didalam, Bella sama Roy juga" kekeh Melly.


"Anak-anak biar sama aku" jelasnya lagi.


Kedua pasang suami istri itupun langsung masuk kedalam ruang meeting tanpa menyapa Jonathan, Jessyca dan Harem yang ada disana, bukan karena sombong tapi mereka sudah terlambat dan juga tidak mengenal ketiga orang tersebut.


"Siapa mereka?" kali ini Jonathan yang bertanya.


"Mereka sahabat dan keluarga kami" jawab Melly. Lalu meminta kelima jagoan yang ada dihadapannya memperkenalkan diri satu persatu pada ketiga orang asing dibelakang mereka.


"Keponakan-keponakan tante Melly yang gantengnya tidak diragukan lagi, salam kenal dulu sama tamunya tante" pinta Melly


Kelimanya menuruti apa yang Melly katakan dan langsung berbaris seperti biasanya tanpa perlu diatur.


...◇◇◇...

__ADS_1


__ADS_2