
Harem kembali berkumpul dengan teman-remannya semasa kuliah, setelah lelah mencari sosok wanita berhijab yang membuatnya terpana. "Dimana Reyhan dan Jessy?" tanyanya pada Jeco.
"Reyhan sepertinya ada sesuatu yang penting, tadi sekertarisnya menemuinya. Jessy, I don't know. Dia pergi begitu Reyhan pergi" Harem mengangguk mengerti.
Jonathan yang penasaran kemana Shinta pergi terus mengikuti gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta dan tidak bisa berpaling darinya. Langkahnya ikut berhenti saat melihat apa yang dilihat Shinta. Dia dapat mengenali wanita dalam pelukan pria yang dia ketahui adalah suami Shinta setelah bertanya pada Melly. Dan wanita itu adalah Jessica istrinya, istri yang tidak pernah dicintainya.
"Mereka saling mengenal?" batin Jonathan.
Jonathan terus mengikuti kemana Shinta melangkah. "Lantai sepuluh" gumamnya saat dia melihat lift yang dinaiki Shinta berhenti di nomor sepuluh. Dia tidak tahu Shinta berada di ruangan yang mana, "Ini terlihat seperti perkantoran bukan kamar-kamar hotel" gumamnya begitu dia menginjakan kakinya dilantai sepuluh.
Ting, suara lift kembali terdengar. Jonathan menyembunyikan dirinya dibawa meja yang entah berfungsi sebagai apa. Dia bisa melihat jelas yang keluar dari lift adalah suami Shinta, dan dia bisa mengetahui dimana Shinta berada saat suaminya langsung memanggil Shinta begitu masuk kedalam ruangan yang bertuliskan Ceo. Jonathan baru menyadari kalau hotel tempat dia menginap adalah milik suami gadis yang dia cintai.
Seperti orang bodoh Jonathan duduk dibalik meja yang dia tidak tahu milik siapa menunggu Shinta dan suaminya didalam ruangan. limabelas menit berlalu, suara lift kembali berbunyi.
"Saya mau menyusul Rey, kamu tidak bisa melarang saya" Jonathan tahu pasti suara siapa itu. Istri pajangannya sepertinya memiliki hubungan sangat dekat dengan suami Shinta. Itu yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Pak Rey sedang ada tamu, tidak bisa diganggu. Anda bisa kembali ke ruangan dimana acara anda dan teman-teman anda berada"
Jonathan tidak menyangka, istri bodohnya itu berani menerobos masuk tanpa ijin, pintu terbuka Jonathan dapat melihat apa yang terjadi didalam. Dadanya sesak saat menyaksikan wanita kesayangannya begitu menikmati ciuman dari suaminya.
"Apakah Jes mencintai suami Shinta. Bukankah ini sangat lucu" Jonathan sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dua suara memanggilnya hampir bersamaan.
"Jo"
"Nath"
Jonathan hanya bisa tersinyum kikuk saat dia ketahuan berada disana.
"Jes, aku mencarimu. Kami sudah selesai dengan kunjungan kami dan akan makan siang dibawa. Kebetulan aku melihatmu naik kelantai ini" Bohong Jonathan.
__ADS_1
Shinta menatap Jonathan meminta penjelasan. "Shinta kenalkan ini Jessyca, my wife" jelas Jonathan yang mengerti arti tatapan Shinta.
"Senang bisa bertemu dengan istri kakak angkatku yang ternyata sahabat suamiku" ucap Shinta sambil menatap tajam Jonathan untuk tidak membuat ulah dan mengiyakan ucapan Shinta.
"Bang Rey, ini Jonathan putra Mr.Smith yang juga kakak angkatku" Shinta memberitahu Reyhan begitu Jonathan tersenyum menyetujui apa yang Shinta ucapkan.
"Nath ini Reyhan suamiku"
Kedua pria itu saling bejabat tangan. Reyhan yang tadinya ingin bertanya siapa Jonathan mengurungkan niatnya setelah Shinta menjelaskan hubungan mereka. Pantas saja mereka sangat akrab, batin Reyhan.
Shinta yang tahu dia berbohong pada suaminya tentang hubungannya dengan Jonathan merasa bersalah, tapi dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Reyhan. Shinta menatap Jessy, dia tahu Jessy menganggap Reyhan bukan sekadar sahabat, tapi ada cinta disorot matanya.
Shinta dan Reyhan, Jonathan dan Jessy. Mereka berempat terikat satu sama lain. Jonathan dan Jessy, keduanya mencintai pasangan yang ada dihadapan mereka. Jonathan mencintai Shinta begitu juga Jessy menginginkan Reyhan. Dan ini menjadi empat sisi yang saling terhubung.
"Apakah mereka menikah tidak saling mencintai" batin Shinta sambil mengamati interaksi pasangan yang ada didepannya.
Mereka saat ini berjalan menuju room lima, setelah Jonathan meminta Jessyca mengajaknya bertemu teman-teman kuliahnya.
"Kenapa?" tanya Reyhan berbisik.
"Ingat Ilham" jawab Shinta berbohong.
"Selesai dari sini kita langsung temui Ilham" Reyhan mencoba menenangkan. Shinta mengangguk setuju.
Harem menatap pada dua pasang manusia yang baru saja melewati pintu masuk, wanita yang tadi dicarinya masuk bersama Reyhan sahabatnya dengan tangan yang saling bertautan. Dia langsung bisa menduga siapa wanita itu bagi Reyhan. "Aku terlambat" gumamnya.
"Apa yang terlambat?" tanya Jeco setelah mendengar gumaman temanya.
"Bukan apa-apa" balas Harem.
__ADS_1
"Harem, kenalkan ini Shinta istriku" entah sejak kapan Reyhan kini sudah berada dihadapan Harem dengan tangannya yang memeluk erat pada pinggang ramping milik Shinta.
Tentu saja itu membuat rasa canggung yang diarasakan Harem. Dia berdehem untuk menenangkan dirinya. "Harem" dengan gagah dia menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya.
Pandangan Jonathan tidak berpaling sedikitpun dari Shinta, walau dia berada disisi Jessy istrinya. Saat ini dia bisa melihat jelas Harem yang akan mengulurkan tangannya pada Shinta, dan dia tidak menyukai tatapan pria itu untuk wanita yang dicintainya.
"Bukankah itu temanmu yang hadir dipernikahan kita" Jonathan menunjuk pada Harem. Jessyca mengangguk.
"Ayo kita temui dia" Jonathan menarik tangan Jessyca.
Ada sesuatu yang menganjal dibenak Jessyca, suaminya biasanya tidak begitu peduli dengan apa yang dia lakukan terlebih lagi dengan teman-temannya. Namun hari ini, satu perubahan besar yang Jonathan lakukan. Suaminya tampak lebih perhatian padanya, bahkan dengan sukarela mau menemaninya bertemu teman-temannya yang sejak kemarin dia menolak keras permintaan Jessyca untuk ikut dengannya.
"Harem" Jonathan memanggil Harem sebelum Shinta menyambut uluran tangan Pria itu.
"Oh, saya kira Jessyca hanya sendiri" Harem bicara begitu tahu siapa yang memanggilnya adalah suami sahabatnya.
"Kami datang bersama keluarga saya, kebetulan ada kunjungan dengan kerabat kami. Shinta salah satunya. Betul begitu Shinta?"
Shinta mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Jonathan.
"Shinta ini adik saya, saya sudah mengenalnya sejak dia SMP" Jonathan tersenyum senang, satu kebanggan baginya telah mengenal Shinta lebih dulu dari kedua pria dihadapannya saat ini.
"Dia seperti boneka saat masih kecil, lucu dan menggemaskan. Karena itu saya sangat suka mengganggunya, bahkan membuatnya sampai menangis. Semakin dia menanggis semakin mengemaskan" cicit Jonathan
Reyhan menatap Shinta, menayakan apa yang dibicarakan Jonathan adalah sebuah kebenaran. Shinta hanya bisa mengangguk mebenarkan, walau sebenarnya banyak kebohongan dari pada kebenaran yang diucapkan Jonathan.
"Kalau begitu salam hormat untuk kakak ipar" ucap Reyhan sambil menundukkan kepalanya pada Jonathan. Shinta tidak suka melihat Reyhan sampai meundukan kepala pada pria yang selalu membuatnya tidak nyaman, walau dia sadar Jonathan melakukan itu untuk menutupi kebohongannya.
"Tidak perlu seperti itu, adik ipar" Jonathan menepuk bahu Reyhan. Dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Dia bicara seperti tadi hanya untuk menyelamatkan Shinta dari kebohongannya, yang dia tahu semua karena perlakuannya yang berlebihan pada Shinta dan Shinta tidak ingin suaminya berpikir buruk tentangnya dan dia.
__ADS_1
...◇◇◇...