
Banu Pov
Aku berdiri menatap rumahku yang beberapa hari ini tidak aku kunjungi, Mentari merawat rumah ini sangat baik. Aku sangat tahu itu, setiap hari aku mengunjunginya hanya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja, walau dia tidak pernah menyadari kehadiranku, karena aku hanya melihatnya dari jauh.
Mentari, istriku itu terlalu polos untuk pria brengsek sepertiku. Istri? pantaskah dia untuk jadi istri laki-laki pendosa seperti ku. Pantas tidak pantas semua sudah terjadi, terlebih lagi aku telah jatuh cinta padanya, jatuh cinta pada pribadi dan kecantikannya. Mentari sangat sempurna, dia cantik alami, tanpa perlu polesan make up. Seperti namanya, wajahnya bersinar secerah mentari.
Entah kapan rasa ini mulai ada, yang aku tahu, aku sangat ingin memiliki dia seutuhnya. Tapi aku terikat janji, janji yang aku ucapkan dihadapannya, janji kalau aku tidak akan menyentuhnya sampai dia menyelesaikan pendidikannya. Janji itu menyiksaku, aku yang berjanji tapi aku yang tersiksa. Bukan tanpa sebab, tapi setiap kali aku melihat Mentari, perasaan untuk memilikinya seutuhnya semakin besar.
Untuk menghindari itu, maka aku memutuskan untuk tidak berada didekatnya. Aku takut, takut tidak bisa menahan keinginanku untuk menyentuhnya, walau sebagai suami aku berhak karena dia istriku.
"Pak Banu" seseorang menarikku dari lamunan. "Pak Banu tidak bisa masuk ya, makanya hanya berdiri didepan pintu" aku hanya tersenyum pada ibu yang usianya hampir sama dengan ibuku. Aku baru menyadari kalau dari tadi aku hanya berdiri disini.
"Ini tadi mbaknya nitip kunci, maaf saya tidak tahu kalau Pak Banu pulang cepat" ibu itu menyerahkan kunci rumahku. Aku baru sadar, ternyata Mentari tidak ada dirumah, pantas saja sepi.
"Mentari pergi kemana bu?" tanyaku padanya, aku cukup penasaran, dia tidak mungkin pergi jauhkan. Jadi untuk apa dia menitipkan kunci rumah?
"Lho, apa tidak pamit Pak Banu, kalau dia pulang ke Jawa" penjelasan tetanggaku ini membuat aku terkejut.
Mentari pulang? Kenapa? Bodoh menanyakan itu, tentu saja dia marah dan kecewa bahkan mungkin dia benci. "Tidak" tanpa sadar aku berteriak. Mentari tidak boleh membenciku.
Aku menatap nanar pada kotak perhiasan yang aku bawa ini, perhiasan ini sebagai bentuk permintaan maafku. Aku hanya bisa terduduk lemas disofa depan tv, setelah aku masuk dan mencoba mencari Mentari didalam. Aku berharap ini hanya sebuah candaan untuk mengerjaiku. Sayangnya aku harus menerima kalau ini kenyataan.
__ADS_1
"Terlambat" kata itulah yang bisa aku ucapkan sekarang. Aku terlalu lama menyelesaikan masalahku dengan Cindy, aku juga terlalu takut untuk bicara jujur.
Menghindar dan menjauh dari Mentari adalah satu kesalahan yang aku sesali saat ini. Seharusnya aku berkata jujur sejak awal padanya, tentu dia tidak akan marah seperti saat ini. Sekarang dia membenciku, membenci laki-laki yang tidak jujur bila sudah memiliki seorang putra, laki-laki dengan masa lalu yang buruk.
Setelah kejadian di dago pakar malam itu, aku memilih untuk terlebih dulu menyelesaikan hubunganku dengan Cindy. Bukan tanpa alasan aku mengakhiri penantiannku untuk hidup bersama Cindy, tapi aku sudah lelah dipermainkan oleh ibu dari putraku ini. Terlebih lagi setelah aku menemukan rekaman Cindy yang bercinta dengan pria lain, membuat aku semakin yakin dengan keputusanku.
Awalnya aku memeriksa CCTV karena permintaan Zein tentang Cindy yang dicurigainya sedang dekat dengan seseorang. Dengan rasa penasaran aku ikut memeriksa siapa saja tamu yang datang, dan benar saja aku menemukan seorang pria yang datang mengunjungi Cindy. Setelah menemukan adegan panas itu dan menyerahkan pada Zein, aku langsung pulang ke apartemen.
"Tinggalkan apartemen ini sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi" aku yang baru masuk keapartemen langsung mengucapkan kata-kata itu, membuat Cindy tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kamu mengusirku Nu? Dimana aku dan Jojo akan tinggal?"
"Kamu tidak sedang mabukkan Nu?" tanya Cindy padaku, sepertinya dia masih tidak percaya dengan ucapanku.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan" aku meninggikan suaraku.
"Ada apa? Kamu tidak bisa mengusirku seperti ini Nu" Cindy membantahku. Aku tahu dia tidak terima dengan perlakuanku, tapi aku lebih tidak terima dengan perlakuannya. Selama ini aku terlalu sabar dan baik mengikuti keinginannya untuk kembali dengan Reyhan yang sudah jelas menolaknya saat ini. Tapi kali ini cukup Cindy mempernainkanku, dia terlalu berani membawa pria lain dan bercinta di apartemenku.
"Tentu saja bisa, kita tidak ada ikatan apa-apa, dan ini apartemenku" aku kembali membalas ucapannya.
"Banu" Cindy berteriak.
__ADS_1
"Aku sudah muak dengan tingkahmu Cindy, sudah cukup aku bersabar selama ini" aku balik berteriak padanya.
"Ini pasti karena istrimu itu, iya kan" aku tidak terima Cindy menyalahkan Mentari.
"Jangan bawa-bawa istriku, ini karena kesalahanmu sendiri, kamu sudah berani membawa pria lain dan tidur bersamanya di tempatku" Cindy terdiam dengan perkataanku, dia pasti tidak menyangka kalau aku akan tahu apa yang dia lakukan.
Aku menarik kasar rambutku, aku sengaja hari ini pulang untuk bicara dan minta maaf pada Mentari. Tapi kenyataanya aku terlambat, Mentari sudah lebih dulu pergi. Aku kembali menatap kotak perhiasan yang tadi kubeli sebelum pulang "Kamu pasti akan sampai pada pemilikmu" gumamku.
Aku menjemput Jojo disekolahnya, Jojo yang melihatku langsung berlari dan memanggilku. "Ayah" aku hanya bisa tersenyum sambil menyambutnya.
"Ayah yang jemput. Ibu kemana?" aku baru ingat sejak kemarin sampai sekarang dia baru bertanya tentang ibunya.
"Ibu pergi, jadi Jojo sekarang sama Ayah ya" Jojo mengangguk setuju, saat ini mungkin dia tidak banyak bertanya, tapi saat dia merindukan ibunya, aku tidak tahu harus memberi jawaban apa.
"Jo, sama Om Zein dulu ya. Ayah janji cepat pulang" Jojo mengangguk setuju. Aku terpaksa menitipkan Jojo pada Zein. Setelah tadi aku menjelaskan pada Jojo kalau aku harus pergi keluar kota. Untung saja ada Zein yang bisa kutitipkan Jojo, karena tidak mungkin aku membawa Jojo kerumah orang tuaku sebelum aku memberi penjelasan pada mereka.
"Jojo pasti aman disini, jangan khawatir. Mas Banu selesaikan saja masalah Mas dengan keluarga" Zein menenangkanku, iya aku tidak akan takut menitipkan Jojo pada Zein, bagi Jojo Zein adalah ayah keduanya, karena Zein juga Jojo bisa terlahir dengan selamat dan juga bisa tumbuh seperti sekarang.
Berlahan tapi pasti aku melajukan kendaraanku meninggalkan Cafe Zein, lalu masuk kegerbang tol menuju Purwokerto. Kota dimana orang tuaku dan orang tua Mentari tinggal. Mentari, aku tidak akan melepaskanmu. Ini janjiku.
...◇◇◇...
__ADS_1