
Tok.. tok...
Nayla tersadar dari lamunannya "Teh Shinta" ucapnya saat melihat Shinta yang mengetuk kaca mobil. Dia melamun sepanjang jalan, sampai tidak sadar kalau sopir sudah membawanya sampai disekolahan Raka.
"Apa yang kamu pikirkan Nay? Sampai kamu tidak keluar dari mobil. Apa ada masalah?" tanya Shinta, begitu Nayla turun dari mobil.
"Tidak ada Teh, aku baik-baik saja, hanya memikirkan masalah Putri" Nayla terpaksa berbohong.
"Putri akan baik-baik saja nanti, saat dia tinggal disana, Ada Kak Adam dan Mbak Azizah yang menjaganya" Shinta mencoba menenangkan Nayla. Nayla mengangguk dan tersenyum.
"Nay, ada yang ingin teteh tunjukkan sama kamu" tegur Shinta, setelah mereka duduk di bangku yang disiapkan sekolah untuk orang tua yang menjemput. Saat itu hanya ada mereka berdua, biasanya sudah ramai ibu-ibu yang menjemput atau menunggu dengan gaya sosialita mereka yang saling memamerkan apa yang mereka pakai.
Shinta mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan foto dimana ada Putri, Lola dan Arya bersama Jojo. Setelah Nayla melihatnya, Shinta mengeser layar lalu menunjukkn foto kedua, dimana disana sudah ada Cindy dan Banu. Nayla membaca nama yang menggirim foto tersebut, karena Shinta membukanya di aplikasi hijau berlogo gagang telepon.
"Ak Dewa, kenal Cindy?" tanya Nayla heran, mengapa Dewa bisa mengirim foto Cindy dengan Putri dan Lola.
"Dewa tahu siapa Cindy. Tiga tahun yang lalu dia pernah melihat Cindy berdua Bang Rey. Dewa saat itu mengirim foto kebersamaan mereka, karena itu juga Teteh nekat pergi meninggalkan Bang Rey waktu itu" jawab Shinta jujur.
"Teh, sebaiknya Ak Dewa jangan terlalu ikut campur urusan Teteh dan Bang Rey. Ini tidak baik, dia orang luar walaupun berteman baik. Berbeda dengan kami, saudara teteh, tentu tidak ada maksud lain, selain tulus membantu Teteh agar bahagia" Nayla mencoba memberi masukan.
Bukan tanpa alasan Nayla mengatakan ketulusan Dewa membantu, belum lama ini dia bertemu Devi dan bercerita kalau Dewa sekarang tidak seperti Dewa yang dulu.
"Putri dan Lola memberi tahu Nay kalau mereka bertemu Jojo dan Cindy" lanjut Nayla ucapannya, setelah Shinta menyetujui ucapannya.
"Siapa laki-laki yang bersama Cindy? Wajahnya mirip seperti Jojo" tanya Shinta.
"Apa yang Ak Dewa dengar dari percakapan mereka?" lanjut Nayla dengan pertanyaan.
"Laki-laki itu kemungkinan Ayah Jojo" jawab Shinta.
"Mungkin saja, melihat wajah mereka sangat mirip" sahut Nayla.
"Apa boleh Teteh merasa sedikit senang, kalau memang laki-laki itu ayah Jojo?" tanya Shinta. "Setidaknya Cindy sudah tidak akan mengganggu Bang Rey"
__ADS_1
"Teh Shinta pantas untuk berbahagia. Satu hal yang Nay pinta, Teteh harus percaya dengan Bang Rey" jawab Nayla, yang ingatannya kini kembali pada percakapannya dengan Lola dan Putri tadi malam, dan dengan Zein tadi di Cafe Zein.
"Mom, Dad. Tadi kita berdua bertemu Tante Cindy, Jojo dan ayahnya Jojo" ucap Lola.
"Lalu?" tanya Sandy.
"Ayah Jojo bilang kalau dia sudah menikah dan itu dibenarkan oleh Arya" lanjut Lola.
"Arya? Apa hubungannya dengan Arya?" kali ini Nayla yang bertanya.
"Ternyata Arya itu tetanggaan sama ayahnya Jojo Mom. Tapi Arya bilang kalau ayah Jojo nikahnya di kota orangtuanya" kini Putri yang menjawab pertanyaan Nayla.
"Mom Jojo wajahnya mirip banget sama ayahnya" ucap Lola.
"Benar Mom, asli ibarat kunci, Jojo itu duplikat ayahnya" Putri menambahkan.
Nayla melirik Zein setelah dia menceritakan kembali apa yang dibicarakan Putri dan Lola. "Bagaimana menurut kamu Zein? Apa karena ayah Jojo sudah menikah dengan wanita lain, sehingga Mbak Cindy kembali mencoba mengganggu Bang Rey?" tanya Nayla pada Zein. Sekarang dia sedang berada di ruangan Zein.
"Bukankah saat mereka bicara yang direkam Mery, Ayah Jojo tetap meminta Mbak Cindy untuk menikah dengannya?" Zein balik bertanya.
"Iya, aku lupa tentang itu"
"Sepertinya Mbak Cindy tidak tahu kalau ayah Jojo sudah menikah. Jadi aku pikir tetap saja kita pada rencana awal terus mengawasi dan menyelidiki Mbak Cindy" Zein mengemukakan pendapatnya.
"Sepertinya kita harus bicara dengan ayah Jojo, setidaknya kita harus tahu apa yang terjadi sebenarnya diantara mereka. Karena kita tidak bisa berharap banyak kalau bertanya dengan Mbak Cindy" kali ini Nayla mencoba memberikan saran.
"Kamu benar Nay, kita akan mencobanya. Biar aku atur jadwal pertemuan dengannya"
Nayla mengangguk setuju lalu pamit pada Zein. Sepanjang jalan menuju sekolah Raka, Nayla terus berpikir, merasa bersyukur, hubunganya dengan Mitha sangat baik, begitu juga Sandy dan Bob, hanya saja sekarang dia tidak tahu kabar Kak Nunonya dan Silvia. Nayla tersadar dari lamunannya saat Shinta mengetuk kaca jendela mobilnya.
"Tapi Nay, mengapa keluarga kalian tidak tahu kalau Cindy menikah?" tanya Shinta lagi yang kembali menyadarkan Nayla dari lamunannya.
"Kalian dari mana?" Nayla memanggil Bella dan Citra, untuk mengalihkan pertanyaan Shinta.
__ADS_1
Ditempat lain, Reyhan baru saja menutup panggilan teleponnya.
"Apa yang dikatakan Zein?" tanya Sandy pada Reyhan.
Hari ini mereka sedang rapat diperusahaan yang didirikan oleh Roy, yang mendapat suntikan dana dari Zein, Sandy Alex dan Reyhan, sehingga jadilah perusahaan itu milik mereka berlima dan Roy sebagai Direkturnya. Awalnya, perusahaan ini didirikan Roy di Jakarta, menginggat empat yang lain berada di Bandung, akhirnya Roy yang mengalah, memindahkan kantor pusat mereka di Bandung.
"Dia tidak bisa ikut rapat hari ini, ada sesuatu yang harus dia selesaikan" jawab Reyhan.
"Apa ada yang kami berdua tidak ketahui?" tanya Alex merujuk dia dan Roy.
"Ayah Jojo sudah menikah" jawab Sandy dan Reyhan hampir bersamaan.
Alex menatap tidak percaya "Lalu?" tanyanya.
"Zein sedang menyelidikinya, setelah itu kita baru menyusun rencana baru. Aku harus bicara dengan Cindy empat mata" Ucap Reyhan, membuat semua berpaling menatap Reyhan.
"Mama menyarankanku untuk benar-benar menyelesaikan masalahku dengan Cindy. Untuk itu aku harus bertemu dengannya langsung, bicara baik-baik. Memintanya untuk berhenti menggangguku dan Shinta" jelas Reyhan.
"Ya, itu bagus, tapi kamu tidak bisa menemuinya sendiri Rey. Salah satu diantara kami harus ikut, dan orang yang tepat adalah Zein" nasehat Sandy.
Reyhan mengangguk setuju pendapat Sandy, begitupun dengan Alex dan Roy. Selesai pembahasan tentang Cindy, mereka kembali fokus pada pekerjaan. Namun baru saja akan mulai, Sandy mendapat telepon dari Nayla
"Ada apa La?" tanyanya begitu menekan tombol hijau. Sandy mendengarkan Nayla bicara, "Apa? Baiklah kami akan kesana" Sandy mengakhiri panggilannya lalu meminta yang lain segera kesekolah anak-anak mereka.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Ilham hilang" jawab Sandy.
"Apa?" jawab Reyhan, Alex dan Roy bersamaan.
Tanpa menunggu lama mereka pergi kesekolah untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
...◇◇◇...
__ADS_1