Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
80. Keluarga Diatas Segalanya


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar diruang persalinan, perasaan bahagia menghampiri Shinta dan Reyhan. Putri cantik mereka yang diberi nama Khaira telah lahir kedunia dengan sehat dan sempurna, menambah warna baru bagi keluarga kecil itu.


"Selamat Bang, teteh" ucap Mery setelah membantu peralinan Shinta.


"Keponakanku cantik sekali" Seru Merry saat menyerahkan bayi perempuan itu pada Reyhan untuk mengazaninya.


Rasa haru bahagia jadi satu, lengkap sudah kebahagiaan keluarganya. Rasa syukur tak henti-henti Reyhan ucapkan.


"Terima kasih sayang, sudah membuat hidup abang sempura. I love you" bisik Reyhan saat Shinta menyusui putrinya pertama kali.


Reyhan tak henti-henti memandang wajah cantik putrinya, wajahnya menyunginggkan senyum bahagia. Bagaimana dia tidak bahagia dengan hidupnya saat ini, didampingi istri yang cantik yang selalu bisa mengerti dirinya yang sudah memberikanya putra-putra yang tampan dan putri yang cantik membuat hidupnya lebih sempurna.


Kejadian beberapa bulan yang lalu, dimana dia harus berakhir dirumah sakit karena pengaruh obat yang diberikan sekertaris kliennya, membuat Reyhan lebih berhati-hati. Terlebih lagi kasus itu hampir menghabiskan waktunya untuk bolak balik datang ke kantor polisi. Sekertaris klien yang dia laporkan ke pihak yang berwajib tidak bisa dituntut olehnya, sekertaris yang dibantu asisten klienya itu sudah menghapus semua barang bukti kejahatan mereka. Sebaliknya mereka menuntut Reyhan dengan kasus pencemaran nama baik.


Reyhan pasrah dengan apa yang dia hadapi saat itu, awalnya dia tidak memperdulikan gugatan yang ditujukan padanya. Tuntutan ganti rugipun menurutnya tidak masuk akal. Namun karena mengancam kelangsungan perusahaannya mau tidak mau Reyhan harus bertindak.


Segala cara dia usahakan untuk menemukan barang bukti apa yang dia tuduhkan pada sekertaris kliennya itu adalah kebenaran dan pihak musulah yang salah.


Masalah ini cukup menguras pikirannya, tapi dia akan bersikap baik-baik saja dihadapan Shinta. Terlebih lagi Shinta sedang mengandung buah hati mereka, dia harus menjaga dan melindungi keluarganya.


"Permisi pak" Arman masuk membawa sebuah amplop coklat.


"Ada yang mengirimkan ini pak" Arman menyerahlan amplop itu pada Reyhan.


Reyhan meneliti siapa pengirimnya namun tidak menemukan hasil. Amplop itu hanya bertuliskan untuk dirinya tanpa nama dan alamat si pengirim. Untuk membuang rasa penasarannya, Reyhan membuka amplop tersebut. Ada sebuah kertas bertuliskan INI BARANG BUKTI YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK MELAWAN MEREKA.


Reyhan tidak percaya begitu saja melihat benda yang ada dihadapannya saat ini. Dia langsung menyerahkan bukti-bukti tersebut pada Arman untuk diperiksa kebenaran dan keasliannya.


"Ini bukti rekaman suara dan ini CCTV yang diretoran" ucap Arman seraya menunjukkan kedua bukti tersebut.


Tidak menunggu lama Reyhan meminta Arman memanggil pengacaranya untuk segera menyerahkan barang bukti atas tuduannya pada sekertaris kliennya.


Reyhan sedikit lega, bukti-bukti tersebut benar-benar bisa memperkarakan sekertaris kliennya yang ternyata bekerja sama dengan asisten kliennya. Serta bisa membersihkan nama baiknya dari tuduhan yang disebarkan oleh sekertaris tersebut.


Keluarganya sekarang dia letakkan diatas segalanya, bahkan Reyhan menyerahkan urusan pekerjaannya pada Arman sang asisten bila berhubungan dengan klien wanita. Dia juga tidak perlu berpikir untung dan rugi, dia akan langsung menolak setiap klien yang bisa membawa kehancuran keluarga kecilnya.


Satu hal yang saat ini terus Reyhan pikirkan. Siapa orang yang membantunya? dengan mengirimkan barang bukti tersebut padanya. Tidak ada satupun petunjuk yang dia temukan untuk menemukan dewa penolongnya. Mengapa orang tersebut tidak ingin meunjukkan siapa dirinya?

__ADS_1


"Bang" Shinta menarik kesadaran Reyhan yang masih setia memandang wajah putri kecilnya.


"Iya sayang" Reyhan berjalan mendekati Shinta.


"Apa yang abang pikirkan?" tanya Shinta. Reyhan tersenyum sambil menangkup wajah Shinta dengan kedua tangannya.


"Memikirkan kebahagiaan kita, semoga saja setelah ini tidak ada lagi orang-orang yang berniat merusak rumah tangga kita"


Shinta segera mengaminkan doa suaminya, itu adalah harapannya sejak dulu.


"Besok sidang putusan mereka?" Reyhan mengangguk mengiyakan.


"Besok papa harus kepengadilan, mama tidak apa-apakan papa tinggal sendiri dirumah sakit"


"Tidak apa-apa, besok Nayla dan yang lain akan datang" jawab shinta memberi tahu.


Reyhan menangkup wajah Shinta lalu mengecup bibirnya, hal yang bisa memuat mood boosternya menjadi baik.


"Bang anakmu baru lahir kemarin" Reyhan terkekeh mendengar ucapan Shinta.


"Hanya bibir sayang, tidak lebih" Reyhan kembali mengecup bibir istrinya.


Sang putri sepertinya tidak mendukung apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Reyhan mengambil Khaira yang terus menanggis lalu menyerahkan pada Shinta untuk disusui, putrinya langsung diam membuat suasan dikamar terdebut menjadi hening.


"Bang"


"Apa sayang, Reyhan merapikan rambut Shinta yang tidak memakai kerudung saat ini karena hanya ada mereka bertiga.


"Masih belum tahu siapa yang mengirim bukti tersebut?"


"Belum, abang juga penasaran. Kenapa dia tidak ingin bertemu kita. Setidaknya biarkan kita berterima kasih padanya"


Tok..tok.. Reyhan segera memasangkan kerundung Shinta, dia sengaja mengunci pintu agar tidak ada yang menyelonong masuk.


"Mana keponakanku yang cantik" ucap Jessyca begitu Reyhan membukakan pintu, Jonathan yang berdiri dibelakang Jessyca sambil menggendong Maura hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


"Besok sidang?" Jonathan bertanya. Reyhan hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Jonathan.

__ADS_1


"Udah dong nyusunya cantik, aunty mau lihat dan gendong kamu. Ini Mbak Maura mau cium" Jessyca mengganggu Khaira yang sedang menyusu.


"Jessy, jangan membuat putriku menangis" Reyhan menegur Jessyca yang usil.


"Duh yang punya anak protes aja" Jessyca mencibirkan bibirnya.


"Betah kak punya istri seperti Jessy" tanya Reyhan pada Jonathan begitu melihat tingkah sahabatnya tersebut.


"Aku mendengarnya ya" seru Jessyca. Shinta tertawa melihat Jessyca dan Reyhan yang akhir-akhir ini sering berdebat.


"Besok sidang?" kali ini Jessyca yang bertanya pada Shinta.


"Iya, semoga putusan hakim sesuai tuntutan jaksa. Sayangnya sampai saat ini yang memberikan barang bukti belum mau menunjukkan siapa dirinya" keluh Shinta.


Jessyca diam dan memperhatikan Shinta, ada persaan bersalah merahasiakan siapa yang membantu Reyhan. Tapi dia sudah berjanji merahasiakan jati diri orang tersebut.


"Mungkin ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa menemui kalian" jawab Jessyca akhirnya.


Orang yang memberikan barang bukti tersebut bukan tidak ingin menampakkan diri pada Reyhan dan Shinta, tapi sang penolong harus menepati janji yang pernah dia ucapkan untuk tidak lagi menemui keduanya tepatnya menemui Shinta.


"Walau untuk mendengar ucapan terima kasih dari kami?"


Jessyca tidak menjawab apa yang di ucapkan Shinta. Diam dan pura-pura tidak mendengar lebih baik dari pada bicara dan bisa saja tidak sengaja dia mengungkapkan siapa orang yang membantu Reyhan.


"Mbak Jes" panggil Shinta sambil menyerahkan Khaira untuk di gendong Jessyca.


"Bisa bantu letakkan di box" lanjut Shinta.


"Tentu, sini" Jessyca mengambil Khaira dan menggendongnya.


Reyhan dan Jonathan sedang membahas persidangan besok dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sama Seperti Shinta, Reyhan juga mengeluhkan belum bisa menemukan orang yang membantunya.


"Sampai sidang putusan besok, orang yang membantu saya belum bisa saya temukan" keluh Reyhan pada Jonathan.


"Kita tunggu sampai besok, mungkin dia sengaja sampai sidang ini selesai dan baru akan memperkenalkan diri setelahnya" Jonathan mencoba mengemukakan pendapatnya.


Reyhan menyetujui pendapat Jonathan, berharap besok orang yang sudah membantunya benar-benar ikut hadir dalam pesidangan.

__ADS_1


...◇◇◇...


__ADS_2