
Reyhan berdiri di balkon yang ada dikamarnya setelah dia yakin Shinta yang sedang mandi baik-baik saja berada dikamar mandi. Dia sempat menempelkan telinganya dipintu kamar mandi khawatir kalau Shinta kembali muntah dan lemas, cukup lama dia melakukan itu tapi apa yang di khawatirkannya tidak terdengar. Setelah yakin Shinta baik-baik saja barulah dia melangkahkan kakinya ke balkon sambil memikirkan dugaannya dengan kesehatan Shinta pagi ini.
"Apa Shinta hanya masuk angin karena semalam aku memaksanya langsung pulang. Tapi aku berharap kalau ini seperti keinginanku. Apa aku salah?" gumamnya.
Ditengah kegalauannya tatapan Reyhan menerawang ke pintu gerbang halaman depan, karena balkon kamar utama ini menghadap langsung halaman depan dan jalanan. Pintu gerbang terbuka, Reyhan bisa melihat jelas mobil pajero milik Zein yang masuk kehalaman rumahnya.
Reyhan langsung berbalik hendak masuk kekamar untuk menemui Zein dan Mery. Saat Reyhan melangkah masuk kekamar, dia melihat Shinta sudah berdiri di pintu kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.
"Mau kemana bang? Sepertinya buru-buru" tanya Shinta saat melihat Reyhan yang berjalan cepat dari balkon masuk kekamar.
"Ada Zein dan Mery dibawah" jawab Reyhan. "Abang temui mereka dulu, teteh tunggu disini saja biar Mery yang abang suruh kesini" Shinta menyetujui permintaan Rryhan dengan wajah yang merona bahagia, sudah lama sekali suaminya tidak memanggilnya dengan panggilan teteh, panggilan yang sangat Shinta sukai.
Reyhan keluar dari kamarnya untuk menemui Zein dan Mery yang sudah duduk di sofa depan televisi menemani Ilham dan Zola yang sedang menyaksikan film Faw Patrol.
"Teteh kenapa bang?" Mery langsung bertanya begitu melihat Reyhan menghampiri mereka.
"Dia muntah-munta sejak subuh, mungkin masuk angin karena kelelahan tapi mungkin juga..." Reyhan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Mery mengerti" sahut Mery menyambung kata-kata Reyhan. "Teteh dikamar?" tanyanya. Reyhan mengangguk.
"Baiklah Mery periksa teteh dulu" begitu melihat Reyhan mengangguk.
"Abang Ilham sama kakak Zola mau ikut moeder apa disini?" tanya Mery pada kedua anak manis tersebut.
"Moeder mau kemana?" Zola yang bertanya.
"Ke kamar menemui mama " Reyhan yang menjawab.
"Disini aja" jawab keduanya kompak bersamaan.
Mery mengetuk pintu kamar dimana Shinta berada tapi tidak mendapat sahutan. Walau tanpa ijin dari yang punya kamar Mery tetap memegang handle pintu dan membukanya. Shinta tidak terlihat dikamar itu, dia masuk dan berjalan ke arah kamar mandi. Benar saja dia mendengar suara Shinta yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Teh" panggil Mery sambil membuka pintu kamar mandi. Dia melihat saudari suaminya itu tertunduk lemas di depam wastafel.
"Ayo teh, Mery bantu keluar" Mery merangkul bahu Shinta untuk menuntunya keluar dari kamar mandi.
Shinta sudah duduk ditempat tidur sambil bersandar di sandaran tempat tidur. Wajahnya pucat, basah oleh keringat dan lemas, rambutnya sedikit berantakan yang akhirnya dirapikan Mery dengan cara mengikatnya asal. Walau ikatan asal tapi itu membuat Shinta terlihat lebih cantik. 'Aura-auranya sih kayaknya dugaan Bang Rey benar' batin Mery.
"Sejak kapan teteh muntah-muntah" tanya Mery, kini saatnya dia memeriksa kesehatan tetehnya tersebut.
"Baru tadi pagi Mer, mungkin teteh masuk angin dan kelelahan. Karena Bang Rey semalam memaksa langsung pulang" jawab Shinta apa adanya.
"Teteh yakin hanya masuk angin?" tanya Mery. Shinta mengangguk yakin, kalau hamil dia tidak yakin karena jadwal tamu bulanannya adalah minggu depan, itu berarti dia belum terlambat datang bulan.
"Kita periksa saja ya teh" ucap Mery yang disetujui Shinta.
Mery mulai melakukan kegiatannya sebagai dokter, dia memeriksa denyut nadi Shinta. Wajah Mery melukiskan senyum, dari denyut nadi Shinta yang dia periksa dia sedikit yakin walau belum seratus persen.
"Teh, biar lebih jelas kita tes aja" Mery memberikan Shinta tes pact yang dia ambil dari tas kerjanya.
"Ya tidak ada salahnya kita tes, biar Mery bisa kasih obat yang tepat. Takutnya mengira teteh hanya masuk angin nanti Mery malah memberikan obat yang tidak baik untuk kehamilan. Kalau hasilnya sudah jelas, Mery bisa kasih obat yang sesuai kondisi teteh" Mery mencoba memberi pengertian.
Shinta memandangi test pack yang ada ditangannya, garis merah dua itulah yang dilihatnya sekarang. Setelah mendengar penjelasan Mery, Shinta akhirnya menyetujui untuk melakukan tes kehamilan. Dengan rasa tidak percaya dia berdiri terpaku tanpa berpaling dari benda kecil tersebut.
"Teh, bagaimana?" suara Mery menyadarkan Shinta dari keterpakuannya. Pelan tapi pasti dia membuka pintu kamar mandi lalu menyerahkan benda kecil yang ada ditangannya.
Mery bersorak riang dengan kencang membuat Reyhan dan Zein yang sedang berbincang di ruang keluarga dapat mendengarnya.
"Ada apa?" tanya Reyhan begitu dia masuk kedalam kamar, pintu kamar yang memang tidak tertutup membuatnya langsung masuk dan berdiri didekat Shinta yang sudah duduk disofa.
Mery menyerahkan test pack yang ada ditangannya, dengan cepat Reyhan meraih benda kecil tersebut lalu memeriksanya. Garis dua yang di lihatnya membuat Reyhan langsung memeluk Shinta. "Sayang" ucapnya sambil memeluk dengan erat.
"Mama kenapa?" Ilham yang ikut masuk bertanya, begitu melihat mamanya dipeluk erat oleh papanya.
__ADS_1
"Sini bang" Reyhan meminta Ilham untuk mendekat.
Reyhan meraih tangan kecil milik putranya lalu dia letakkan diperut Shinta. "Mama sakit perut ya?" tanya Ilham polos. Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Disini, diperut mama sekarang ada dedek bayi" ucapan Reyhan membuat mata bening milik Ilham bersinar.
"Mama perutnya nanti kayak Mommy Nay ya?" Shinta mengangguk.
"Horeee, abang punya adek sama kayak Aa' Raka" teriaknya.
"Kak Zola, abang mau punya adik" seru Ilham begitu Zola mendekatinya.
"Zola juga mau punya adik" ucapan Zola yang menjawab ungkapan bahagia Ilham sontak membuat tawa Shinta dan Reyhan pecah. Sementara Zein hanya garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sedangkan Mery tersenyum menangapi ucapan putranya.
"Kata mama, kalau mau punya adik harus pintar dan tidak boleh nakal" Ilham dengan polosnya memberitahu Zola. "Iyakan ma?" dia meminta batuan Shinta untuk meyakinkan Zola.
"Iya, sabar nanti Kak Zola juga punya adik, Kak Zolakan anak baik dan pintar" Shinta mengusap wajah Zola, menghibur keponakannya itu. "Abang Ilham juga lama nunggunya, baru sekarang bisa punya adik" lanjut Shinta kata-katanya. "Sini" Shinta meminta Zola mengusap perutnya. "Ini juga adik Kak Zola" ucap Shinta membuat mata Zola berbinar bahagia.
"Besok ketempat praktek Mery ya teh, biar kita lihat melalui USG" Shinta mengiyakan saran Mery.
Reyhan berjalan kenakas yang ada disamping tempat tidurnya, dia segera meraih bendah pipih itu hendak menghubungi seseorang.
"Mau hubungi siapa bang?" tany Shinta.
"Abang mau menyampaikan kabar bahagia ini pada Mama Diana dan Mama Syila" jawab Reyhan.
"Tunda dulu bang, besok lusa Mama Diana ulang tahun. Dia mengajak kita makan bersama dikediaman Papa Renaldi. Saat itu saja kita memberitahu Mama Diana dan yang lainnya" Shinta mengutarakan keinginannya.
"Itu akan jadi kado istimewah dihari bahagia Mama Diana" sambung Shinta.
"Besok kita periksa USG dulu, hasil print outnya kita jadikan kado" Shinta menjelaskan idenya.
__ADS_1
...◇◇◇...