
"Pa, waktu papa kuliah disini papa sudah pacaran sama mama?" Ilham bertanya pada Reyhan. Mereka baru saja selesai menghubungi Shinta, Ihsan dan sibungsu Khaira di kamar yang akan ditempati Ilham.
"Mengapa bertanya seperti itu?" Reyhan balik bertanya.
"Hanya ingin tahu saja, bagaimana papa bisa pacaran jarak jauh dengan mama" Reyhan terkekeh.
"Papa tidak boleh pacaran sama Oma Diana kalau belum kerja" jawab Reyhan sedikit berbohong, padahal kenyataannya saat sekolahpun dia sudah berpacaran dengan Cindy.
Bukan tanpa sebab Reyhan bicara seperti itu, dia hanya tidak ingin putranya bermasalah dengan pendidikannya bila sudah memiliki kekasih. Dia dulu bisa cepat selesai kuliahnya dan melanjutkan jenjang selanjutnya tanpa pusing dengan urusan wanita. Walau saat ditengah-tengah kuliah dia harus sibuk mencari keberadaan Cindy yang menghilang.
Setelah kepergian Cindy Reyhan memang tidak memiliki lagi kekasih setelahnya, walau tidak sedikit yang menyukainya dan menyatakan cinta secara terbuka padanya. Tapi dia tidak pernah memperdulilan semua itu. Apalagi dia tidak sendiri, sahabatnya Sandy juga sama sepertinya tidak ingin pusing dengan urusan wanita. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya cepat selesai dan kembali ke Indonesia.
"Tapi mama tidak melarang abang untuk pacaran pa" jawab Ilham yang sebenarnya meminta ijin pada Reyhan agar boleh menjalin hubungan dengan lawan jenis.
"Mama tidak melarang selagi itu tidak membuat kuliahmu berantakan" Ilham mengangguk mengerti.
Shinta memang pernah berpesan pada Reyhan untuk memberikan kebebasan pada putra mereka, namun tetap dalam pantauan. Mereka berdua sudah membuat kesepakatan apa yang akan mereka lakukan jika Ilham sudah memiliki kekasih. Namun sampai saat ini keduanya belum mendapatkan berita itu, baik dari empat putranya yang lain maupun orang-orang kepercayaan mereka yang diminta memantau kegiatan peutra-putri mereka.
"Tapi mama berpesan pada abang, kalau mencari istri sebaiknya orang Indonesia" putranya mengadu apa yang menjadi keinginan sang mama.
"Bukankah itu lebih baik?" Reyhan menatap lekat putranya.
"Abang sekarang diluar negeri pa, bagaimana bisa bertemu gadis Indonesia?" Reyhan terkekeh mendengar pertanyaan yang diajukan putranya.
"Apa kamu pikir tidak ada gadis dari Indonesia yang kuliah disini?" Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apa yang dikatakan papanya tidak salah.
"Ayo kita berkumpul dengan daddy dan yang lain" Reyhan segera berdiri dan membuka pintu kamar untuk keluar, Ilham mengikuti sang papa dari belakang.
Reyhan mengambil posisi duduk disamping Sandy, sedangkan Ilham ikut duduk bersama ketiga sahabat yang juga saudaranya.
"Mana Zola?" tanya Reyhan saat dia tidak menemukan putra Zein tersebut duduk disana.
"Sedang menerima telepon dari Moeder" Raka yang menjawab.
__ADS_1
Mereka berbincang sambil bersenda gurau dikediaman yang disewa lima keluarga untuk kelima putra mereka. Sebelum berangkat ke Inggris, Sandy sudah menghubungi Mike teman kuliahnya dulu yang menetap di Inggris dan meminta tolong untuk mencarikan kediaman yang memiliki kamar tidur sedikitnya lima kamar dan tidak jauh dari kampus tempat putranya menuntut ilmu.
Disinilah mereka berada, di kediaman yang mereka sewa bersama untuk tempat tinggal putra-putra mereka. Zola datang ikut bergabung sambil menyerahkan ponselnya pada Sandy.
"Vader ingin bicara dad" ucapnya saat mengulurkan tangganya memberikan ponsel pada Sandy.
Sandy menjauh saat akan mulai bicara dengan Zein, karena sepupu istrinya itu yang memintanya.
"Baiklah akan kakak usahakan Zein" jawab Sandy lalu dia mengakhiri panggilan tersebut.
"Besok kita akan berkunjung ke kediaman saudara daddy"
"Kalian pernah berkunjung kesana saat masih kanak-kanak. Mereka pasti sudah tidak mengenali kalian yang sudah dewasa sekarang" Sandy sedikit terkekeh, dia mengingat saat anak-anak itu tidak ingin pulang ke Indonesia karena sangat senang saat bersama saudara kakeknya Sandy. Sayangnya saat ini saudara kakeknya sudah berpulang.
"Kami ingat dad" jawab kelima pemuda tampan itu hampir bersamaan.
"Besok kita akan mengunjungi mahkam kakek Ben" Sandy memberitahu mereka. Semua menyetujuinya.
"Besok juga kebetulan sekali ada acara tahunan di KBRI, daddy dan papa akan mengenalkan kalian bagaimana kalian bisa merasa seperti dinegara sendiri saat acara berlangsung. Semua yang hadir hampir sembilan puluh persen WNI dan sepuluh persennya keteurunan" Sandy menjelaskan pada kelima pemuda yang ketampanannya tidak kalah dengan ayah-ayah mereka.
Saat Sandy sedang menghubungi Mike, pria itu sedang kedatangan tamu Ibu Rahayu yang dia kenal dengan sangat baik. Ibu Rahayu saat itu sedang mencari pekerjaan setelah majikan sebelumnya pulang ke Indonesia dan tidak bisa membawanya kembali. Mike langsung menawarkan pada Sandy, dengan senang hati Sandy menerima Ibu Rahayu untuk menjaga kelima putranya.
"Selamat malam anak-anak" sapa Ibu Rahayu pada kelima pemuda tersebut.
"Malam Oma" jawab mereka. Ibu Rahayu memang meminta kelima anak itu untuk memanggilnya oma, karena Sandy dan Reyhan sudah seperti anaknya sendiri.
"Selamat malam bu" sapa Reyhan dan Sandy bersamaan.
"Malam Nak Andy, Nak Rey" balas bu Rahayu.
"Ayo silakan makan" lanjut Ibu Rahayu ucapannya.
"Oma mau kemana?" tanya Revan begitu melihat Ibu Rahayu akan meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Oma duduk dan makanlah bersama kami, kitakan keluarga" Raka yang bicara.
"Benar itu oma, sini duduk disampingku" tambah Ilham sambil menepuk kursi yang ada disampingnya.
"Ayolah bu" Sandy ikut merayu.
"Anak-anak ini sama seperti kalian dulu" Ibu Rahayu terharu.
Majikan sebelumnya baik tapi tidak pernah menganggapnya seperti keluarga. Dia bersyukur bisa bertemu kembali dengan Sandy dan Reyhan, dan tidak menyangka diberi kepercayaan untuk menjaga putra-putra mereka.
Semua makan dalam diam, dengan pikiran masing-masing sampai selesai. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, mereka menyempatkan diri untuk kembali berbincang dan mengatur jadwal untuk kegiatan mereka besok.
Reyhan dan Ilham kembali kekamar, Reyhan sudah membaringkan tubuhnya dan bersiap memejamkan matanya. Namun niatnya dia urungkan karena Ilham mengajaknya bicara.
"Pa, abang ingin buka usaha sendiri" ucap Ilham membuat Reyhan membalikkam badanya menghadap sang putra.
"Perusahaan papa biar Ihsan yang meneruskannya" putranya kembali bicara.
Reyhan menarik nafas panjang, mengapa dia seakan dejavu. Dulu dia juga menolak keinginan Papa Renaldy untuk melanjutkan usaha keluarga mereka, sampai dia merantau ke Paris dan bekerja disana. Namun sebagai anak tunggal mau tidak mau Reyhan akhirnya kembali ke Indonesia yang membuatnya bertemu dengan Shinta.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan, kamu baru akan memulai pendidikan disini jadi manfaatkan apa yang papa fasilitasi saat ini sebaik mungkin, jangan sampai terbuang sia-sia"
"Selesaikan pendidikanmu sebaik mungkin dan secepat mungkin, baru setelahnya kamu memikirkan akan membuka usaha sendiri atau meneruskan usaha papa atau keduanya" Reyhan mencoba memberi pengertian pada putranya.
"Kamu mengerti maksud papa?"
"Iya pa" jawab Ilham cepat. Reyhan mengacak-acak rambut putranya.
"Pa, abang bukan anak kecil lagi"
"Bagi papa kamu tetap anak-anak" Reyhan kembali mengacak rambut Ilham.
"Kamu menginggatkan papa saat muda" Ilham menatap lekat wajah papanya, dia ingin tahu bahkan sangat ingin tahu bagaimana kehidupan papanya saat seumuran dengannya saat ini.
__ADS_1
...◇◇◇...