Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
64. Baik Baik Saja


__ADS_3

Suasana seketika hening begitu mendengar Putri berteriak. Shinta mengelus dadanya, kabar yang Putri sampaikan cukup membuatnya syok. Ingatan Shinta kembali saat Cindy memohon meminta maaf padanya, saat itu Shinta bisa melihat kesungguhan dari seorang Cindy. Shinta berharap Cindy bertobat dan menjalani hidup dengan lebih baik lagi.


"Shinta, ini mungkin pertemuan terakhir kita. Aku akan pergi dari kehidupanmu dan Reyhan. Sekali lagi aku minta maaf padamu dan Reyhan. Maafkan semua kesalahanku padamu dan Reyhan. Aku sudah banyak membuat hidupmu terluka, maafkan aku Shinta"


Shinta menggelengkan kepalanya, tidak menyangka kalau itu adalah kata-kata perpisahan karena Cindy ingin mengakhiri hidupnya.


"Sayang" Shinta mendongakkan kepalanya. Reyhan sudah berdiri dihadapannya, dia lupa kalau sejak tadi Reyhan sudah ada disampingnya untuk melihat dengan siapa dia melakukan panggilan video.


"Bang, Cindy? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Shinta yang masih berharap kalau percobaan bunuh diri yang Cindy lakukan tidak berhasil.


Tidak jauh berbeda dengan Shinta, Nayla juga mengalami kesedihan. Cindy memang sering membuatnya malu dan kesal, tapi Nayla juga tahu kalau Cindy sesungguhnya orang yang baik. Kenal dan tahu kehidupannya sejak kecil dan termasuk saudara yang sering diajak berbagi cerita bahagia dan sedih, membuat Nayla mempunyai nilai kebaikan tersendiri pada sosok Cindy. Tapi bunuh diri? Nayla tidak pernah membayangkan kalau Cindy akan melakukannya. Dia wanita yang kuat, bagaimana bisa dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini.


Sandy sudah duduk disamping Nayla menenangkan istrinya, dia tidak ingin Nayla terlalu banyak berpikir, karena itu akan membuatnya stres dan berakibat buruk pada kandungannya.


"Sayang, istirahat dikamar ya" Sandy mengajak Nayla untuk istirahat. Nayla menolak, kalau dikamar dia tidak akan bisa istirahat karena dalam kesendiriannya ingatannya pasti akan memikirkan Cindy.


"Disini saja Hans, aku baik-baik saja" Nayla menyandarkan kepalanya dilengan Sandy.


Zein segera meraih ponselnya disaku, dia langsung menghubungi Banu yang dia yakin masih di Belanda.


Adam juga meraih ponselnya, dia langsung menghubungi kepala pelayan kediaman Harley untuk memeriksa Cindy di kediaman Sander.


Dewa dan Bob melanjutkan tugas mereka memanggang daging yang akan mereka santap malam ini. Walau ada berita buruk tentang Cindy, mereka tetap harus makan apa yang sudah disiapkan.


"Cindy sudah dibawa kerumah sakit" Adam memberitahu semua yang ada disana.


"Apa yang sebenarnya terjadi kak" Shinta yang bertanya.


"Dia minum obat untuk menggugurkan kandungannya dan menyilet nadi ditanganya" Suasan seketika kembali tegang mendengar penjelasan Adam yang terakhir.


"Tapi itu belum sempat terjadi, karena Oma Sander segerah menghentikannya. Cindy hanya mengalami pendarahan dan luka ditangan tapi belum memotong nadinya"


Semua menarik nafas lega, semua tidak seburuk yang mereka bayangkan.


"Siapa yang menghubungimu Put?" tanya Nayla pada keponakannya yang sudah seperti putrinya sendiri itu.


"Pelayan di kediaman Sander, dia pikir Putri ada di Belanda. Maksudnya mau minta bantuan" jelas Putri.


"Baiklah semua, karena Cindy baik-baik saja mari kita lanjutkan acara kita, Dagingnya sudah siap di santap" Bob yang bicara memecah kebisuan yang terjadi.


Semua menikmati daging BBQ walau tidak semeriah diawal. Sesekali mereka berbincang tapi kembali diam setelahnya.


Ponsel Zein berbunyi, Banu yang menghubungi. "Bagaimana mas?" tanya Zein begitu selesai mengeser logo hijau dilayar pipih yang ada digenggamannya.


"Aku dirumah sakit. Cindy mengalami pendarahan, bayinya tidak selamat" jawab Banu memberikan informasi pada Zein.


"Innalillahiwainnailahiroziun" ucap mereka yang ada disana hampir bersamaan. Zein sengaja mengatur loud speaker agar semua bisa mendengarkan penjelasan Banu.


"Bagaimana keadaan Cindy sekarang?" Mentari yang bertanya.


"Dia belum sadarkan diri" mendengar suara Mentari, membuat Banu diseberang sana tersenyum bahagia. Walau hanya suaranya entah mengapa Banu merasa janda yang masih perawan itu seakan berada didekatnya.


"Terima kasih informasinya mas" ucap Zein, karena sudah tidak ada lagi suara Banu dari seberang sana.

__ADS_1


"Akh iya, nanti akan saya kabari lagi kalau dia sudah sadarkan diri" jawab Banu begitu dia tersadar dari lamunan oleh suara Zein yang masih terhubung dengannya.


"Cindy baik-baik saja disana. Sekarang kita lanjutkan pesta kita malam ini" Reyhan sang tuan rumah yang bicara.


"Iya, kapan lagi kita bisa berkumpul seperti ini. Apalagi Kak Adam dan Putri akan segera kembali ke Belanda. Mari kita nikmati kebersamaan kita" Shinta menyambung ucapan Reyhan. Semua menjawab setuju dengan mengangguk dan mengacungkan ibu jari mereka.


"Ayo anak-anak, siapa yang mau tidur di tenda?" kali ini Citra yang bicara setelah melihat anak-anak telah menghabiskan makanan mereka.


Tanpa komando, anak-anak langsung berlari masuk kedalam tenda. Suasana kembali ceria. Zein kembali memainkan gitarnya menyanyikan lagu andalannya bila sedang berkumpul seperti saat ini.


Suatu hari


Dikala kita duduk ditepi pantai


Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi


Mendengar Zein menyanyikan lagu andalannya, Mery mendekati suaminya. Zola sudah terlelap ditenda, karena itu Mery keluar dari tenda dan ikut duduk disamping Zein.


Burung camar terbang


Bermain diderunya air


Suara alam ini


Hangatkan jiwa kita


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai

__ADS_1


Jiwa ku tentram


Bersamamu


Semua sudah duduk berkeliling ikut bernyanyi bersama. "Sayangnya tidak ada api ungun" keluh Arya berbisik pada Lola dan Putri yang duduk dikanan dan kirinya. Keduanya mengangguk setuju.


"Nikmati saja" Rhein yang bicara, walau Arya berbisik dia masih bisa mendengar apa yang diucapkan Arya.


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Mereka kembali bernyanyi bersama, masing-masing yang memiliki pasangan memeluk pasanganya. Reyhan memeluk erat Shinta yang duduk dihadapannya, sesekali pria itu mencium pipi istrinya. Semua tampak bahagia. Vina yang tidak membawa kekasihnya duduk disamping Adam kakak sepupu kesayangannya.


"Mbak Tari kemana kak?" tanyanya sambil bermanja dilengan Adam.


"Masih ditenda Dafa" Sejak tadi Adam juga menunggu Mentari keluar dari tenda, sedangkan yang ditunggu sengaja tidak keluar, dia masih betah membaringkan tubuhnya disamping Dafa. Entah mengapa begitu Azizah memintanya menjaga dan merawat Dafa, dia merasa sangat menyayangi anak laki-laki yang tidur dalam pelukannya ini.


"Kak Azizah aku janji akan menjaga dan merawat anakmu seperti anaku sendiri" ucapnya sambil membelai rambut Dafa.


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Bersamamu


Mereka bertepuk tangan untuk mereka sendiri, tawa dan canda kini kembali terdengar.


"Kamu bahagia sayang" bisik Reyhan yang masih setia memeluk Shinta.


Shinta mengangguk, memalingkan wajahnya untuk melihat Reyhan. "Teteh bahagia, sangat bahagia bang" jawabnya lalu mencium pipi Reyhan.

__ADS_1


"Terima kasih, teteh sudah mau jadi istri abang" balas Reyhan yang semakin erat memeluk Shinta. Keduanya tersenyum bahagia. Berdoa dalam hati mereka, dan berharap kebahagiaan ini selamanya.


...◇◇◇...


__ADS_2