Un-Break My Heart

Un-Break My Heart
46. Keracunan


__ADS_3

Shinta tidak pernah bosan menatap wajah Reyhan yang tidak bergerak sama sekali, dia berharap kedua mata suaminya terbuka. Sudah tiga hari sejak Shinta menemukan Reyhan tidak sadarkan diri. Suaminya tergeletak di lantai di dalam ruangannya, mulutnya mengeluarkan busa. Menurut dokter, Reyhan keracunan. Untung saja nyawanya masih dapat diselamatkan walau sampai saat ini pria itu tidak pernah membuka matanya.


Shinta menyesal terlambat menemui Reyhan, semua tidak akan terjadi jika dia datang lebih awal dan tidak berbincang dengan Melly. Mama Diana dan yang lain sudah menasehati Shinta untuk tidak menyalahkan dirinya, bagi mereka Shinta sudah bertindak cepat bahkan rela meninggalkan Mama Syila yang sedang sakit untuk melihat langsung keadaan Reyhan karena sudah khawatir pada suaminya.


"Belum sadar ya Teh?" Shinta hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mery.


Setiap sebelum dan sesudah praktek dirumah sakit Merry akan mampir di kamar rawat inap Reyhan. Untuk melihat kondisinya dan juga memberikan semangat pada Shinta untuk sabar dan kuat.


"Sabar ya Teh, Zein dan Kak Sandy sekarang di kantor polisi, sepertinya pelakunya sudah tertangkap"


Mendengar ucapan Mery, Shinta mengalihkan pandangannya menatap Mery untuk meyakinkan apa yang diucapkan Mery adalah benar seperti yang dia dengar. Tanpa menunggu lama Shinta mengambil tasnya hendak menyusul Zein dan Sandy ke kantor polisi, dia sangat ingin menemui pelaku yang memberikan racun pada suaminya.


Mery yang melihat reaksi Shinta mencegahnya, "Biarkan Zein dan Kak Sandy yang mengurusnya Teh"


"Aku hanya ingin tahu mengapa dia tega melakukan semua ini, apa salah Bang Rey sampai dia tega ingin membunuh abang dengan cara seperti ini" Shinta mengungkapkan perasaannya, dia kembali terisak melihat Reyhan seperti saat ini sungguh membuat Shinta tersiksa dengan perasaannya.


Hilang sudah rasa cemburunya pada wanita yang ingin menggoda suaminya begitu melihat suaminya yang tidak berdaya diruangannya. Yang membuat Shinta heran, menurut Melly kalau perempuan itu tidak hadir untuk pertemuan selanjutnya yang sudah disepakati sebelumnya.


Mama Diana datang mebawa makanan dan pakaian ganti untuk Shinta. "Bagaimana?" tanya Mama Diana melihat putranya.


"Belum ada perkembangan apapun Ma" jawab Shinta sedih.

__ADS_1


"Papamu sekarang di kantor polisi bersama Sandy dan Zein. Pelakunya tertangkap, dia OB dikantor, tapi ternyata OB gadungan yang diperintah oleh orang lain untuk memberikan racun pada minuman Rey" Mama Diana memberitahu Shinta seperti yang dijelaskan papa Renaldi sebelum kekantor polisi.


"Mery tadi juga memberitahu, tapi Shinta kira hanya Zein dan Kak Sandy yang datang, ternyata papa juga ikut ya ma. Kasihan papa jadi repot seperti ini"


"Papa ingin mendengar langsung apa yang dikatakan orang itu"


Mery melirik jam ditangannya "Mery keruangan dulu ya Ma, Teh. Kasihan pasien yang sudah menunggu" pamit Mery lalu meninggalkan kamar inap yang ditempati Reyhan setelah mendapat jawaban dari Shinta dan Mama Diana.


"Apa ada seseorang yang kamu curigai?" tanya Mama Diana.


Pertanyaan Mama Diana membuat Shinta untuk berpikir. Siapa yang harus dia curigai? Rekan bisnis Reyhan? Sayangnya Shinta tidak begitu tahu siapa saja rekan bisnis Reyhan, untuk ini dia akan menanyakannya pada Melly. Sepupu suaminya itu pasti tahu siapa rekan bisnis Reyhan yang baik dan yang berlawanan dengan Reyhan. Lalu bagaimana dengan kecurigaan Shinta pada rekan bisnis Reyhan yang baru, tapi untuk apa wanita itu meracuni Reyhan?


Pada akhirnya Shinta menganggukkan kepalanya pada Mama Diana, dia memutuskan untuk memberitahu mertuanya apa yang terjadi sebelum Reyhan ditemukan tidak sadarkan diri.


Shinta menceritakan sama persis seperti penjelasan Melly padanya, sepupu suaminya itu yang lebih tahu urusan pekerjaan Reyhan dibandingkan dia. Shinta juga memberitahu kecurigaanya disebabkan rekan bisnis Reyhan itu seakan menghilang dan tidak hadir di pertemuan yang sudah dijadwalkan serta tidak dapat dihubungi lagi sampai saat ini.


"Ya sudah, sebaiknya kamu sarapan lalu istirahat" Shinta menuruti ucapan Mama Diana. Dia mengambil bungkusan yang berisi makanan membawanya ke sofa.


Shinta sebenarnya tidak ada nafsu untuk makan melihat keadaan Reyhan seperti saat ini, tapi akal sehatnya memaksanya untuk memakan makanannya. Dia harus sehat agar bisa merawat Reyhan, bukan hanya Reyhan tapi dia juga harus sehat untuk putranya dan Mama Syila yang juga butuh perhatiannya.


Sementara itu di Amerika tepatnya di NY Jonathan memperhatikan sikap dan gerak Jessyca yang cukup mencurigakan beberapa hari ini. Bahkan saat tidurpun Jessyca tampak gelisah. Untuk mengusir rasa penasarannya, akhirnya Jonathan mengajak Jessyca makan malam sebelum bertanya ada apa dengannya beberapa hari ini.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, Jonathan penasaran dengan sikap Jessyca, karena sikapnya ini sama seperti saat baru kembali dari Indonesia yang ternyata Jessyca gelisah dengan ancamam Farrel yang Jonathan tidak tahu sampai saat ini apa ancaman Farrel yang membuat Jessyca gelisah. Yang dia tahu Jessyca menyebutkan kalau ini ada hubungannya dengan Shinta.


Jessyca menatap Jonathan, tidak ada acara apapun hari ini tapi suminya mengajaknya makan malam yang bisa dihitung dengan jari dan itu juga karena acara atau undangan rekan bisnis Jonathan.


"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Jonathan yang tahu kalau Jessyca memperhatikannya.


Jessyca yang mendengar pertanyaan Jonathan mengumpat, menyesali pandangannya dari tadir menatap Jonathan dengan pikirannya yang penuh dengan banyak pertanyaan.


"Tidak ada" Bohong Jessyca pada akhirnya.


Jonathan tersenyum sinis. Dia tidak suka dijawab dengan kebohongan "Jangan berbohong, aku tahu kamu memikirkan sesuatu, satu orang yang bisa membuatmu seperti ini adalah sepupumu. Jadi katakan apa yang sudah dilakukan sepupumu itu"


Jessyca menghela nafas, dia memang gelisah setelah Farrel memberitahunya kalau Reyhan tidak sadarkan diri sampai saat ini tapi Farrel tidak memberi tahu penyebabnya. Dengan terpaksa Jessyca memberitahu Jonathan apa yang disampaikan Farrel.


Mendengar itu, Jonathan langsung menghubungi Shinta. Panggilannya terhubung tapi tidak dijawab oleh Shinta. Dia melirik jam tangannya, saat ini di Indonesia sudah pagi tepatnya pukul delapan pagi, tentu tidak menganggu Shinta.


Jonathan kembali menghubungi Shinta, dia ingi mendapatkan kebenaran dan apa yang terjadi.


"Halo" suara Shinta terdengar dari seberang.


"Shinta" panggil Jonathan "Apa yang terjadi dengan Reyhan?" tanpa basa-basi Jonathan langsung bertanya.

__ADS_1


Shinta menceritakan semua apa yang terjadi pada Jonathan. Kakak angkat yang mencintainya ini berpesan untuk selalu memberitahunya tentang apapun yang terjadi sebagai sarat dia melepaskan Shinta bahagia bersama Reyhan.


...◇◇◇...


__ADS_2