Watching You

Watching You
Kegilaan Javir


__ADS_3

Dian menatap Javir yang sejak tadi menatap layar ponselnya ditengah-tengah rapat mereka dengan para sekretaris manager.


Sesekali Javir tersenyum bahkan kerkekeh kecil, membuat Dian penasara sebenarnya Javir ngapain.


"Ok selesai"


Mata Dian langsung melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan Javir barusan.


Tidak ... bukan Dian saja, tetapi seluruh orang disana menatap Javir dengan tidak percaya karena mereka juga memperhatikan apa yang Javir lakukan sejak tadi.


"Jangan lupa setelah pembelanjaan untuk ballroom selesai, saya minta untuk secepatnya laporan keuangan berada diatas meja saya." Javir menoleh kekiri metap asisten manager marketing, "ballroom masih atas tanggung jawab saya, jangan pernah ikut campur atau menginjakkan kaki disana tampa saya. Untuk pemasangan banner, saya tidak suka tulisan warna kuning dibagian atas pojok kiri, refisi kan ajukan lagi." Kali ini Javir menoleh pada HDR, "untuk keteledoran saudara Susanti secepatnya selesaikan dan pecat dia, saya mau minggu depan sudah ada penggantinya."


Mata Dian mengerjap beberapa kali mendengarnya, Javir mendengar apa yang dikatakan para manager, bahkan tulisan kuning yang mana Dian tidak tahu.


Tangan Dian membuka kertas didepannya mencari gambar benner yang dimaksud dan tulisan kuning yang Javir maksud ... kecil dipojok kiri.


"Dasar gila" guman Dian.


"I hear you ..." seru Javir sebelum berdiri dan berjalan keluar.


Dian sontak kelagapan, antara takut dan mau mengikuti Javir yang keluar dari ruang meeting.


Tetapi karena dirinya adalah asisten plus sekretaris Javir, Dian berdiri dan berlari kecil menyusul Javir keluar ruangan.


"Setela ini ada meeting lagi gak?" Tanya Javir sambil terus melangkahkan kakinya kearah lift.


"Tidak ada Pak"


"Kalau begitu gue keluar dulu, kalau ada sesuatu yang tidak begitu urgent loe dilarang keras nelpon gue."


"Memangnya anda mau kemana Pak?"


Javir menghentikan langkahnya didepan lift, memencet tombok panah kebawah. Beberapa detik kemudian pintu terbuka, Javir masuk kedalam lift, tersenykm lebar kearah Dian.


"Gue mau melakukan kegilaan lainnya" ucap Javir sebelum pintu tertutup.


Tangan Javir bahkan masih sempat memberikan lambaian tangan sebelum pintu lift tertutup.


Ini pertama kali Javir tersenyum, pertama kali Javir berbicara loe gue saat bersamanya di hotel, dan pertama kali Javir benar-benar terlihat seperti orang gila.


^-^


"Enak enggak?, gue pakai resp baru"


Gea menatap kedua karyawannya Nindi dan Vio yang sedang mencicipi hasil makanannya.


"Enak kok mbak, tapi agak manis" komentar Vio.


"Kalau gue sih enak mbak" sahut Nindi.


"Menurutku untuk rasa si pas"


Kepala ketiganya langsung berputar kesamping, menoleh kearah sumber suara barusan.


Javir sudah berdiri disamping Gea sambil mengunyah makan yang Gea buat.


"Dagingnya kurang empuk sedikit, tapi loe biasa siasatin dengan bawang bombai agar empuk."


Javir menoleh kesamping menatap Gea secara langsung, wajah mereka yang berdekatan hanya berjarak sejengkal sehingga Gea menahan nafas sejenak sebelum menjauhkan wajahnya perlahan.


Javir tersenyum lebar melihat reaksi Gea, "jika loe marinasi dengan bombai dan cara masaknya tepat pasti akan kranci, soft, melt maka rasanya akan semakin boom."


Wajah Gea berubah dingin, mengambil garpu dari tangan Javir dan melangkah mundur menjauh.


"Tau dari mana?" Tanya Vio dengan sinis.


Javir hanya terseyum simpul dan kembali menatap Gea yang mengunyah hasil masakannya dengan wajah dingin.


Ditatap begitu dalam oleh Javir, Gea mengambil hasil masakannya dan berjalan pergi hendak kembali kedapur pribadinya dilantai tiga.


"Loe gak mau tahu kenapa gue kesini?" Tanya Javir.


Gea tidak mengindahkannya terus saja berjalan menaiki tangga.


Javir tertawa kecil, "ah ... dia menggemaskan" ucapnya sebelum berjalan menaiki tangga mengikuti Gea.

__ADS_1


"Dia siapa?" Tanya Vio pada Nindi.


"Mana gue tahu"


"Kenapa gak loe usir?"


"Mbak Gea aja gak ngusir dia yang udah lancang makan masakannya dan ngomentarin, masak kita pelayan caffe aja berani."


Kepala Vio manggut-manggut, "iya sih ... dia aja pakai js bagus gitu, orang gila gak mungkin punya jas armani."


"Serius itu jas armani?."


Dan jadilah mereka berdua malah menggosipkan Javir dan Gea.


^-^


Sudah lebih dari satu jam Javir memperhatikan Gea yang memasak.


Mencoba masakan Gea tampa Gea suruh.


Mengomentari masakan Gea tampa Gea suruh juga.


Tapi Javir masib betah disana, karena meski Gea tidak mengatakan apapun, Gea mengikuti semua masukannya.


Sampai saat mengambil ponselnya yang bergetar didalam saku celananya, barulah Javir tersadar apa tujuan sebenarnya menemui Gea di Caffe nya.


"Ge" panggilnya.


Gea masih tidak mengindahkan, sibuk dengan mencuci piring.


Tangan Javir menangkap tangan Gea yang baru saja meletakkan piring bersih dirah sebelah Javir.


"Gue udah gak tahan" ucap Javir lirih.


Gea langsung saja melangkah kesamping menjauhi Javir.


"Gue mau pipis" ucap Javir.


Rahang Gea langsung mengetat, menarik tangannya dari genggaman tangan Javir.


"Enggak" larang Gea tegas, "pipis dibawah."


"Loe kan tahu gue gak biasa pipis di toilet umum."


"Kalau mau yang pribadi pipis aja gih di botol"


Javir tersenyum lebar, lalu menoel-noel pundak Gea "ih ... nakal ..."


"Apaan sih ... loe gila ya?" Gea melangkah mundur menjauh.


"Pokokya gue mau pipis dikamar mandi dikamar loe" putus Javir sambil berjalan pergi, "pintu gue kunci dari dalem takut loe ngintip."


Sebelum menutup pintu kamar, Javir mengerlingkan sebelah matanya pada Gea membuat Gea bergidik ngeri.


Javir benar-benar mengunci pintu kamar dari dalam, menatap sekitar sambil meghela nafas lega.


"Dia masih menyikai anime" uvap Javir setelah melihat beberapa gambar anime di kamar Gea.


Buru-buru tangan Javir mengeluarkan peralatan yang sejak tadi dia sembunyikan di beberapa saku jas, kemeja dan celananya setelah menemukan tempat untuk menyembunyikan kamera thermal kecil yang hanya sebesar jari jempol.


Kamera thermal atau kamera inframerah, perangkat yang menangkap membentuk melalui gambar dengan menggunakan radiasi infra merah.


Hanya infra merah yang nanti akan muncul dilayar ponsel Javir, bukan gambar Gea secara nyata. Jadi jangan pernah berfikir Javir bisa mengintip jika Gea tidak memakai baju dan lainnya.


Javir tidak segila itu, meski tampa dipungkiri perasaannya mulai menggila melebihi sebelumnya.


Dia hanya tidak mau kecolongan lagi Gea pergi ke club malam-malam sendirian, meski sudah dewasa, tetap saja Gea masih polos urusan dunia mala.


Tok tok tok ...


"Loe pipis apa boker?" Teriak Gea dari luar.


Javir mengepalkan tangan, dia benar-benar gamas dengan suara Gea yang seperti itu.


Setelah membasahi tangannya dikamar mandi, agar Gea tidak curiga, Javir baru membuka pintu kamaf dan keluar dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Kenapa kangen ya?" Goda Javir.


Wajah Gea langsung berubah dingin, menatap Javir dengan tatapan tajamnya. Kali ini dia tidak menyembunyikan perasaan tidak sukanya pada Javir.


Seakan sudah biasa menerima tatapan itu, Javir masih saja tersenyum menatap lembut pada Gea.


"Apa maksud kedatangan loe kesini?" Tanya Gea tode poin dan terdengar dingin.


"Em ... sebenarnya gue mau membahas tentang event perusahaan Ganendra" jawab Javir masih dengan senyum lebarnya.


"Gak mungkin, I know you."


Senyum Javir perlahan memudar, "emangnya apa yang loe ketahui?" Tanya Javir tenang.


Gea tidak mungkin mengetahui jika dia sudah meletakkan kamera tersembunyi dikamarnya bukan?.


"Loe gak mungkin membuang-buang waktu" ucap Gea masih terdengar datar, "jika urusan pekerjaan loe pasti udah bilang dari awal."


Mata Javir menatap Gea begitu dalam, mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


Buk buk ...


Javir memukul pelan dadanya sendiri, tetap dengan tatapan mata mereka yang masih bertautan.


"Gue gak bisa lagi nahan kegilaan disini" ucap Javir lirih, "disini semakin menggila. Padahal dua tahun lebih gue bisa nahan, tapi saat loe ngubungin gue, dan kita bicara secara langsung ... gue sulit gendaliin dia."


Gea terdiam, tampa Javir ketahui kedua tangan tangan Gea mengepal erat hingga buku tangannya memutih.


"Terusuh loe nyalahin gue?"


Kapala Javir menggeleng.


Mereka berdua terdiam beberapa saat, sibuk mengendalikan perasaan masing-masing, sibuk menyelami pancara mata yang mereka tatap.


"Mau loe apa?"


Javir tersenyum, perlahan melangkah mundur dan mengangkat bahunya lalu membuang muka menatap kelain arah. "Tidak butuh apapun" ucapnya santai.


Gea menatap kearah lantai, "kita tidak bisa seperti dulu" ungkap Gea lirih namun terdengar tegas.


"I know" ucap Javir tersenyum lebar.


Dia sudah menyangka itu dari awal, mangkanya Javir mengatakan tidak butuh apapun dari Gea.


"Tidak" bantah Gea, "taoi gue yang tidak bisa."


"I know."


Mereka terdiam lagi.


Gea tiba-tiba memalingkan muka, mendongakkan kepala sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.


Dia menahan batin Javir.


Perlahan senyim Javir kembali terbit, pasti masih ada sisa kan Angel?, suatu saat kita pasti bisa. Aku yang akan membuat itu bisa, kamu tidak usah melakukan apapu.


Tangan Javir terangkat, ragu ingin menyentuh pundak Gea, tetapi pada akhirnya dia memili melangkah menjauh sambil menghela nafas.


"Cukup menganggapku seperti saudara atau teman seperti Al" ucap Javir, "it's more than enough."


Javir kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga meninggalkan Gea yang masih berdiri terpaku ditempatnya.


Akhirnya ...


Javir tersenyum lebar, perasaannya serasa lega tidak lagi sesak seperti sebelumnya.


Niat gilanya ingin meletakkan kamera thermal dikamar Gea, membawa kegilaan lainnya untuk berbicara secara terbuka pada Gea.


Gila?, memang ...


Tapi jantung, perasaan dan otaknya memang menggila sejak Gea menghubunginya.


Dia tidak berbohong saat mengatakannya.


^-^

__ADS_1


__ADS_2