
"Hai sayang"
Tubuh Gea tersentak mendapatkan pelukan dari seorang pria.
Padahal saat menghampirinya, pria itu sudah berjalan tepat didepan Gea, tetap saja Gea terkejut karena Gea sejak tadi termenung menatap kosong kedepan.
Tangan Gea membalas pelukan pria itu, tersenyum saat pelukan mereka terurai. Tangan pria itu mengelus rambutnya dengan lembut dan menatapnya dengan pancaran mata penuh kebahagiaan.
"Papi langsung kesini saat kamu telepon, untung Papi diluar kantor dan jam segini jalanan gak macet."
Didepannya, Prabu Suwardana, suami Mami kandung Gea.
Mami Vira, Ibu kandung Gea, menikah kembali dengan Prabu dan memutuskan untuk tinggal di Surabaya.
Semenjak mereka memutuskan menikah sembilan tahun lalu, Gea tidak pernah mengunjungi mereka, yang ada Vira, Prabu dan anak-anak mereka yang mengunjunginya di Jakarta.
Bukan karena tidak suka dengan keluarga baru Ibu kandungnya, tetapi pekerjaan Gea yang bejibun membuatnya tidak bisa mengunjungi mereka.
"Mami dan adik-adik kamu pasti senang kamu kesini" ucap Prabu.
Gea hanya tersenyum simpul.
Prabu menggenggam tangan Gea untuk menyebrang dan berjalan ketempat parkir mobil Prabu.
"Maaf kalau datang mendadak" ucap Gea lirih.
"Kapanpun sayang, kapanpun kamu mau dateng gak masalah buat kami."
Dalam setahun hanya sesekali mereka bertemu, jadi Gea masih sedikit canggung pada Prabu dan adik-adiknya.
Jika dengan Vira, Gea memang memilih membuat jarak dengannya, sejak dia tahu apa yang sudah Maminya lakukan pada Abra dan Ara dulu.
"Ayah dan Bundamu juga tidak memberi tahu Papi jika kamu mau kesini" ucap Prabu sambil menghidupkan mesin mobilnya, "apa kamu tidak memberi tahu mereka?."
Gea menghela nafas, menatap keluar jendela mobil. "Enggak, hanya izin mau liburan."
Bukan tidak mau memberi tahu, ide untuk mengunjungi keluarga Maminya terlintas saat dia bingung mau pergi kemana.
Suasana didalam mobil sunyi beberapa saat hingga Prabu kembali bertanya.
"An Angel bagaimana?, siapa yang ngurus?."
"Ada Yesi dan anak-anak yang lain yang menghendel."
Kepala Prabu manggut-manggut paham, "apa kami tidak boleh memberitahu Abra atau siapapun?" Tanya Prabu.
Gea terkekeh, menoleh pada Prabu. "Apa bisa Papi membujuk Mami?."
"Itu hal yang gampang" ucap Prabu.
Tangan Prabu mengelus rambut Gea lembut.
Meski Prabu hanya sekedar Ayah tiri, tetapi Prabu sama dengan Abra yang mengerti dirinya dari pada Vira Ibu kandungnya.
^-^
"Pamav"
Seperti biasa ...
Kebiasaan seorang Javir Erlangga
Masuk tampa mengetuk pintu ruangan Malvin, langsung duduk disofa dengan santai tampa menunggu dipersilahkan terlebih dulu.
Bahkan kali ini diawali dengan teriakan melengkingnya sebelum membuka pintu.
Malvin yang berada di dalam ruangannya hanya bisa mendengus dengan kelakuan Javir yang terkadang ingin membuatbya marah, tetapi mau bagaimana juga dia anak sulungnya.
"Pa ini sudah satu minggu lebih loh Pa" rengek Javir.
Malvin tidak menghiraukan rengekannya tetap saja memeriksa berkas didepannya.
"Pamav" panggil Javir lagi-lagi dnegan nada rengekannya.
"Apa kamu minta Papa tendang?" Ancam Malvin.
Javir menyengir berjalan perlahan duduk dikursi depan meja Malvin. "Papa udah nemuin Gea dimana gak?, ini udah seminggu loh Pap. Jangan bilang kalau Papa gak bisa nemuin dia juga."
"Sebelum kita nentuin bayarannya Papa ogah" tolak Malvin.
"Ih ... sama anak sendiri" gerutu Javir.
"Cukup satu kali Papa bantu kamu tampa dengan tes DNA itu, selebihnya harus bayar."
Jabir berdecak, mengeluarkan dompetnya meletakkannya tepat didepan Malvin.
Sebelah alis Malvin terangkat, "ini maksudnya apa?, semua isi dompet kamu kasih ke Papa."
__ADS_1
"Enak aja" elak Javir, "Je punya tiga kartu bank. Satu untuk gaji Je dari ASG, satu untuk gaji Je dari Raja Throne, satu uang simpenan Je saat kerja di LN."
"Yg untuk saham mana?"
Malvin mengeluarkan semua kartu dari dalam dompet Javir.
Kening Javir langaung mengerut tidak suka melihat Malvin yang mengeluarkan semua isi dompetnya.
"Je gak pernah bawa dan gak pernah Je sentuh, udah ... Papa pilih itu aja itu satu yang mana terserah."
"Enggak"
Malvin meletakkan dompet Javir beserta kartunya diatas meja kembali.
Kening Javir mengerut tak mengerti, Malvin tadi terlihat begitu excited mengacak-acak dompetnya.
"Kalau kamu mencari Gea selama ini gak berhasil, berarti Gea cukup cerdik. Dan itu pasti ..."
"Apapun alasannya Je tidak akan mengeluarkan uang hasil permainan saham Je" potong Javir dengan tegas.
Meski Malvin mencoba untuk mempengaruhinya agar membarter simpanan hasil permainan sahamnya dengan informasi Gea dimana, Javir sampai kapanpun tidak akan memberikannya.
Sejak memulai permainan itu, Javir tidak pernah mengecek saldo rekeningnya.
Susana ruangan terasa dingin seketika.
Tatapan Malvin begitu jam menatap Javir, membuat Javir mengerutkan kening menatap Malvin aneh.
"Tukar informasi Gea dengan seluruh saham PT Mega Yasa yang kamu punya" ucap Malvin dengan tatapan tajam dan serius.
Tidak ada senyum segarispun.
Tidak tersirat sedang bercanda di mata Malvin.
Javir sadar akan satu hal ...
Transakai kali ini bukan hanya sekedar menemukan sosok Gea, tetapi tentang saham milik PT Mega Yasa yang hampir keseluruhan sahamnya berhasil Javir miliki.
"Kenapa?" Tanya Javir singkat.
"Karena Papa tahu kamu membelinya untuk Papa" Malvin menautkan jemarinya diatas mejanya, "tetapi Papa tidak membutuhkannya."
"Lalu kalau tidak butuh, kenapa Papa memintanya?."
"Untuk Papa kembalikan pada mereka."
"Ya."
Javir menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dengan lemas, usahanya untuk membuat Malvin sebagai pemegang saham terbesar serasa sia-sia.
Kedua tangan Javir saling bertautan, dia tidak membalas tatapan mata Malvin yang menatap tajam padanya, Javir memilih menatak kelain arah.
"Yang lain" ucap Javir.
Dengan santainya Malvin menyingkirkan dompet Javir dari atas berkas yang tadi dia baca, dan kembali membolak balikkan kertas didepannya.
Perlahan Javir melirik pada Malvin dna mendengus kesal.
Tangan Javir perlahan meminit keningnya yang mulai mendenyut, "ok Je kasih" ucap Javir pasrah, "sekarang dimana Gea?."
Senyum Malvil langsung terukir lebar.
Tangannya beralih dari berkas didepannya pada keyboard komputer disampingnya dan mulai memencet tombol keyboard komputernya dengan cepat.
"Di Surabaya dengan Mami dan Papinya."
"Serius?"
"Iya" jawab Malvin penuh keyakinan.
Javir yang tidak percaya berdiri dari duduknya melihat langsung kelayar komputer Malvin.
Belum juga lima menit, Malvin sudah menemukan keberadaan Gea.
"Ada chip disetiap benda yang selalu dipakai atau dibawa oleh anggota keluarga Ganenda."
Mata Javir mengerjab tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kecuali Regan" ucap Malvin dengan santainya, tidak mengubris reaksi terkejut Javir. "Dia selalu bisa mengacaukan segalanya."
"Jangan bilang Ar juga tahu keberadaan Gea?"
"Semua keluarga Ganendra sudah tahu."
"What?" Seru Javir terkejut, "kalau mereka tahu ngapain juga Je barter info Gea dimana sama saham ratusan juta?."
"Perjanjian tidak bisa dirubah" ucap Malvin dengan senyum lebar penuh kemenangan
__ADS_1
Javir mendengus kesal.
Sial ...
Gara-gara rindunya pada Gea sudah berada diujung tanduk dia tidak berfikir dua kali.
Tampa sengaja mata Javir melihat ponsel Malvin yang tergeletak didepannya, sehingga dengan cepat dia mengambilnya dan berjalan menjauh dari Malvin.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Malvin.
"Minta pulsa" ucapnya asal dengan jengkel.
^-^
Sudah seminggu Gea bersama mereka di Surabaya, banyak hal yang membuat Gea tercengang dengan sifat Maminya yang ternyata penuh ke Ibuan pada kedua adiknya.
Bahkan Vira kali ini sudah bisa memasak didapur, pada hal dulu Vira tidak tahu memasak apapun.
"Angel" panggil Vira tampa menoleh pada Gea yang membantunya memotong sayur didapur.
Gea sendiri hanya melirik Vira sejenak dan bergumam untuk meresponnya.
Entah kenapa, meski Vira mencoba bersikap baik dan perhatian padanya, Gea tetap saja tidak menghilangkan pembatas diantara mereka.
"Mami bahagia kamu kesini, begitupun dengan adik-adik dan Papi Prabu, tetapi bagaimana dengan restaurant dan EO kamu?" Tanya Vira.
"Udah ada yang ngurus kok Mi" jawab Gea sekenanya.
"Inget ya ... Ayah kamu gak suka orang yang gak bertanggung jawab" ucap Vira mengingatkan. "Selama kamu belum bisa mengembalikan modal yang dia berikan jangan ..."
"I know" potong Gea.
"Terus kenapa malah ..."
"Mami" keluh Gea, tangan Gea berhenti memotong sayur dan menghadap Vira. "Apa sudah bosan ada Gea disini?" Tanya Gea dingin.
Vira mematikan kompor didepannya dan berjalan menghampiri Gea, tangannya mengelus rambut Gea dengan lembut.
"A ..."
"Sudah Mami katakan kalau Mami bahagia kamu disini" potong Vira lembut, "sebenarnya Papi melarang Mami bertanya apapun terutama alasan kamu tiba-tiba kesini. Tapi sebagai Ibu, Mami tidak bisa menahan diri untuk bertanya kenapa. Melihat kamu yang sering termenung dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur itu mengganggu sayang."
Kepala Gea menunduk dalam.
"Meski kita tidak cukup detak, meski sejak kamu lahir Mami tidak merawatmu, tetapi ikatan batin seorang ibu dan anaknya selalu ada."
Gea melangkah mendekati Vira dan memluknya erat.
Perlahan air matanya menetes, tangis Gea pecah dalam pelukan Vira.
Setelah hampir setangah bulan dia menahan diri agar tidak menangis, akhirnya Gea menangis juga dalam pelukan Vira.
Tring ting ting ting ....
Ponsel Vira yang berada tifak jauh dari mereka berbunyi.
Gea melepaskan pelukannya, berbalik badan memunggungi Vira dan menghapus air matanya.
Vira hanya menghela nafas dan berjalan mengambil ponselnya.
Tangan Gea kembali memotong sayur didepannya, sebentar lagi adik-adiknya datang dan Prabu juga datang untuk makan siang.
"Hai My Angel"
Suara itu ...
Gea kembali berhenti memotong sayur.
Berbalik badan untuk mencari sumber suara itu. Suara Javir, suara yang tidak bisa dia pungkiri jika dia rindukannya.
"I you there"
Dia menemukan Vira yang berdiri dibelakangnya dengan ponsel terjulur padanya.
Suara Javir yang keluar dari ponsel itu.
Mata Gea bertautan dengan tatapan lembut Vira, wanita itu bahkan retaenyum dan mengulurkan tangan menggenghamnya.
"Gue tahu loe dimana" ucap Javir terdengar lirih, "tetapi gue gak mau menemui loe langsung, karena loe sekarang pasti gak mau menemui gue."
Gea menggigit bibir bawah bagian dalamnya.
"Gue hanya mau bilang, gue kangen An"
Nafas Gea tertahan sejenak.
"Dan ..." kalimat Javir menggantung, "Danil terbukti bukan anak gue. Tetapi gue tetep akan merawat dia."
__ADS_1
^-^