
Blank ...
Otak Javir langsung blank saat mendengar ucapan Liza.
Karena ingin menghindari Regan, dia memaksa untuk mengantar Liza pulang saat itu juga.
Otak Regan yang genius pastih bisa melihat perubahan dalam diri Javir, jadi Javir memilih untuk cepat-cepat pergi dari rumah sakit Regan saat itu juga.
Javir menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah kontrakan sederhana.
Liza turun twrlwbih dahulu, membuka pintu belakang hendak membangunkan Anak laki-laki itu.
"Biar gue yang gendong" ucap Javir.
Anak itu baru tertidur, dia tidak tega membangunkannya.
Liza membuka pintu rumah, berjalan terlebih dahulu memasuki rumah mereka menuju kamar anak itu sepertinya.
"Gue tunggu loe didepab" ucap Javir setelah merebahkan tubuh anak itu dikasur.
Untuk saat ini jangan tanya bagaimana kabar otak dan kepala Javir. Kepalanya serasa sakit sejak tadi, mencoba mengingat masa lalu apa yang pernah dia lupakan.
Liza keluar dari dalam rumah dan berdiri tidak jauh dari Javir.
"Apa loe yakin anak itu anak gue?" Tanya Javir to the poin, "karena gue gak ingat kapan, dimana dan kenapa bisa."
"Ingat saat loe demam sampai menggigil di BEM dulu?"
Kepa Javir mengangguk, dia ingat saat itu beberapa hari setelah pertunangannya dan Gea batal.
Dia demam tinggi dan Liza berada disana merawat dan menemaninya.
"Karena loe demam tinggi tetapi merasa dingin, gue buka baju loe dan meluk loe dan ..."
"Tapi gue inget dengan jelas" potong Javir, "loe masih pakek daleman, gue emang shirtless. Tapi saat gue bangun dan pergi gue masih inget gue masih pakek celana."
Terlihat mata Liza memerah dan berkaca-kaca, dia tersenyum pada Javir.
"Liza gue ..."
"Gue gak minta loe tanggung jawab kok" ucap Liza sebelum masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya.
Javir terdiam beberapa detik ditempatnya drbelum meremas rambutnya dan pergi dari sana.
Kepalanya benar-benar terasa berat.
Dret ...
Javir mengeluarkan ponsel dari saku celananya, nama My An muncul di layar ponselnya.
Setelah menghela nafas beberapa kali, barulah Javir mengangkat panggilan Gea.
"Hai Je" sapa Gea dengan siara riangnya.
Dada Javir serasa berdetak cepat, "Hai Angel" ucap Javir lirih.
"Loe sakit ya?" Tanya Gea dengan nada khawatirnya.
"Hem" Javir hanya bergumam.
"Sekarang dimana?"
"Gue ke An Angel ya?"
__ADS_1
Terdengar kekehan Gea disebrang, "ya udah gue tunggu disini."
^-^
Hari ini An Angel kembali dibuka dengan penampilan Eric dan seorang personil baru mereka.
Meski perasaan khawatir pada Javir menghantuinya, Gea masih mencoba profesional bernyanyi menghibur para fans dan pelanggan Caffe and Resto An Angel.
Saat dia melihat mobil Javir berhenti di depan An Angel, Gea masih lanjut bernyanyi, menunjuk kearah meja VVIP dimana ada Mela disana.
Setelah semyelesaikan lagunya barulah dia menghampiri Javir yang meletakkan kepalanya dimeja dengan mata terpejam.
"Dia kenapa?" Tanya Mela.
"Sakit" jawab Gea lirih, tangan Gea menyentuh kening Javir membuat Javir terjaga membuka matanya. "Kalau mau tidur , tidur diatas aja ya. Disini rame, tapi makan, minum obat baru tidur."
Perlahan Javir mengangkat kepalanya, berdiri dan memeluk Gea dengan erat.
Meaki sadar jika beberapa orang ada yang mengambil foto merek berdua, Gea seakan tidak perduli, hangat kening Javir dipundaknya lebih membuatnya khawatir.
"Ayo keatas" ajak Gea, melepas pelukan Javir.
Tampa membantah, Javir menggenggam tangan Gea dan ikut menaiki tangga.
Javir merebahkan tubuhnya di bed sofa depan Tv.
Gea duduk disampingnya dengan baskom dan handuk kecil, mengompres kening Javir dan memijat-mijatnya.
"Kalau loe gak mampu nyelesaian kerjaan loe, gak usah dipaksa" ucap Gea. "Kalau udah tahu loe gak bisa banyak pikiran, ya gak usah banyak kerja."
Tangan Jabir menangkap pergelangan tangan Gea dan menautkan tangan mereka berdua.
Javir tersenyum segaris, "tahu dari maka gue lagi banyak pikiran."
Javir tertawa kecil, matanya menatap Gea dengan tatapan dalam.
Perlahan Gea membuang muka memjtuskan tautan mata mereka, jadi salah tingkan mendapat tatapan begitu dari Javir dalam jarak dekat.
"Aku cinta kamu Angela"
Kembali Gea menatap Javir, menautkan tatapan mereka kembali.
Terada Javir semakin erat menggengham tangannya, "aku cinta kamu Angela Lovita. Sangat!"
Dada Gea bergemuruh seketika, ini pertama kali Javir mengatakanya dengan nada tulus dan menyentuh rekung hati Gea yang terdalam.
Gea mengulum bibir menahan diri agar tidak tersenyum lebar tetapi tidak bisa, dia tersenykm lebar dengan mata berkaca-kaca.
"Aku cinta kamu Je, dsri duli sampai sekarang" cicitnya.
Javir mearik Gea mendekat, hingga Gea merebahkan tubuhnya disamping Javir.
Tangan Javir memeluk Gea, menghujani kening Gea dengan ciumannya.
"Aku terlalu mencintaimu sampai gak mungkin melakukan apapun tampa ada kmu didalamnya" bisiknya, "percaya atau tidak ... ketiga curut dan Pamav adalah saksinya."
Gea tertawa kecil dalam dekapan Javir mendengar Javir emamnggil Regan, Aslan dan Alaric tiga curut.
"Selalu percaya padaku ya An, selalu percaya kalau aku selalu berakhir disini denganmu."
Kepala Gea mengangguk pelan.
"Ingatkan, aku pernah mengatakan meski apapun yang terjadi, aku gak akan ngelepas kamu."
__ADS_1
Kepala Gea kembali mengangguk.
"Kenapa hanya mengangguk terus?" Tanya Javir megurai pelukannya.
Gea semakin menyembunyikan wajahnya dalam dada Javir.
Terdengar isak tangis Gea yang membuat Javir terkekeh kecil.
"Ah ... sakit kepalaku hilang rasanya."
Disela-sela tangisnya, Gea tertawa kecil mendengar perkataan Javir.
Serasa nafas Javir perlahan mulai teratur, setelah mengungkapkan perasaannya Javir malah tertidur dengan Gea dalam pelukannya.
^-^
"Emangnya toilet rumah sakit ini pindah ke An Angel ya?" Tanya Aslan melirik Regan.
"Kenapa emang?" Regan yang sedang memeriksa Ibu Aslan malah balik tanya.
"Je tadi bilang mau ke toilet tapi gak dateng-dateng" ucap Aslan, "tapi dia sekarang malah ada d An Angel. Apa tuh anak minta di geplok?, udah tahu masalah Faris belum kelar malah muncul disana, jadi rame aja sosmed."
Aslan mengomel sambil terus menscroll layar ponselnya.
Javir dan Gea ada di FYP sosial mesia Asalan sejak pertama Aslan membukanya, sampai-sampai Aslan bosan melihat potongan video mereka yang terus bermunculan.
Dret ...
Ponsel Regan bergetar.
Regan mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan kening melirik Aslan yang mengangkat sebelah alisnya.
"Apa Ge?" Tanya Regan setelah mengangkat panggilan Gea.
"Badan Je tambah panas, gue udah kasih obat dan ngomprea tapi belum juga turun panasnya, gimana?."
Terdengar suara Gea penuh dengan kekhawatiran disebrang sana.
Regan yang sudah tahu tabiat Javir kenapa bisa tiba-tiba sakit menghela nafasnya.
Aslan sudah berdiri disampingnya sejak pertama kali Regan menyebjt nama Gea, karena sekarang hampir jam dua belas, jadi sangat jarang Gea akan menghubungi mereka malam-malam.
"Loe tenang dulu, gue hubungi Nanda yang sekarang dekat dari An Angel untul bawa dia kerumah sakit, gue lagi shif malam jadi gue gak bisa kesana" Sangat tenang Regan menjelaskannya.
"Cepetan" cicit Gea.
"Iya, loe tenang aja dulu."
Regan memutuskan komunikasi dan langsung menghubungi Nanda yang memang ditugaskan untu selalu berada disekirat Gea.
Selesai menghubungi Nanda, Regan kembali berbalik menatap Aslan yang masih menatapnya memunggu Regan mengatakan sesuatu.
"Je sakit" ucap Regan.
"Secara tiba-tiba?"
"Ya"
Regan dan Aslan saling tatapan.
Mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya difikirkan Javir, padahal tadi sore dia masih baik-baik saja dan tidak terlihat mempunyai masalah sedikitpun.
^-^
__ADS_1