Watching You

Watching You
Kebetulan


__ADS_3

Sabtu yang membosankan, Javir bahkan menguap masih mengantuk.


Semalam dia tidur crown, tidak pulang seperti yang lainnya jika sudah menyelesaikan tugas mereka. Gara-gara sehari sakit pekerjaannya sudah menumpuk, jadi sesuai kesepakatan bersama, jika pekerjaan belum selesai tidak boleh meninggalkan crown.


Dret ...


Ponselnya diatas dashbord bergetar.


Ar


Javir berdecak, menerima panggilan Regan setelah menyambungnya dengan audio cennectivity mobilnya.


"Apaan dah nelponin gue pagi-pagi" gerutu Javir.


"Coba liatin Gea ada di An Angel apa enggak?, because ... dia gak ada dirumah" bukannnya memjawab pertanyaan Javir, Regan malah langsung to the poin apa tujuannya menelphone Jaivir.


Javir menghelaan nafas menahan kekesalan, kenapa semua para anak Ganendra selalu menanyakan dimana Gea padanya?.


Lama-kelamaan dia akan mengamuk, "heh ... Pagi-pagi kenapa loe malah tanya keberadaan Gea dimana sama gue?, loe pikir gue sama Gea tinggal serumah kayak suami istri gitu?."


Terdengar Regan berdecak disebrang, "sekarang loe milih, mau cek seluruh cctv An Angel yang loe retes, atau gue kasih tahu Gea kalu loe udah ..."


"Iya bentar bro... gue masih jalan" potong Javir.


Dan Ancaman para anak Ganendra itu kenapa sama?, Aslan dulu juga mengatakan hal yang sama, sekarang Regan juga.


Hemz ... meski bukan saudara kandung, kenapa otak mereka sama liciknya.


Dengan wajah terpaksa Javir menepikan mobilnya, mengambil ponsel yang biasa dia gunakan untuk mengintai Gea.


Tidak ada mobil Gea di garasi, mencoba memundurkan waktu sampai kemarin malam, tidak ada tanda-tanda Gea disana. Di ruang tv lantai tiga juga tidak ada keberadaan Gea.


"Dia tidak ada di An Angel" ucap Javir, "dikamarnya juga gak ada."


Tidak ada infra merah yang menandakan keberadaan seseorang disana.


"Loe masang kamera pengawas di kamarnya?" Tanya Aslan berteriak nyaring.


Javir meringis tersadar jika sudah keceploasan berbicara, "gue hanya naruh kamera thermal, yang muncul di gue hanya berbentuk infra merah."


Terdengar omelan tidak jelas Aslan disebrang, tetapi Javir tidak menghiraukannya.


Javir memcoba mengecek Gea di cctv rumah keluarga Ganendra juga. "Semalam Gea pulang kerumah Ganendra, tapi ... dia pergi sekitar jam sebelas."


"Ya, gue ketemu di tangga semalem" itu suara Aslan. "Dia bilang mau pulang ke An Angel ngambil baju, tapi dia bawa koper."


"Ponselnya tidak aktif" itu suara panik Ara.


Javir semakin tidak tenang mendengarnya, membuka aplikasi lain di ponselnya untuk melacak keberadaan Gea.


Jemari Javir dengan lincah langsung mengecek posisi keberadaan ponsel yang sering Gea bawa.


"Coba loe lacak dia dimana" pinta Regan.


Jemari Javir yang sejak tadi bergerak diatas layar ponselnya terdiam mengambang diudara begitu saja.


"Ponselnya ada dirumah Ganendra" jawab Javir lirih, "apa dia tahu jika ponselnya gue retes mangkanya ponselnya tidak dia bawa?."


Tidak ... Gea tidak mungkin mengetahuinya.


Terlebih, Gea tidak mengerti urusan hecker apa lagi urusan retes meretes. Bukan hanya Javir yang meretes ponsel Gea, tetapi ASG juga melakukan hal yang sama pada seluruh keluarga Ganendra.


"Apa mungkin kalian ada masalah?" Tanya Abra.


"Tidak!"


Secara bersamaan mereka bertiga Regan, Aslan bahkan Javir yang jauh menjawab pertanyaan Abra kompak.


Leptopnya.


Jika Gea meninggalkan ponselnya, Gea tidak akan meninggalkan leptonya, karena dia pasti akan mengedit video yang dia buat nanti dengan leptopnya.


"Gea menghilang ... tidak ... Javir bahkan tidak bisa mendeteksi dia dimana ... ok gue tunggu."

__ADS_1


Pasti Abra sedang menghubungi Papanya, jika Papanya jangan ditanyakan lagi, selain dia adalah hecker yang sudah profwsional, dia juga mempunyai kenalan yang luas.


^-^


"Berbeda"


Gea mengucapkannya sambil menatap kearah lautan lepas.


Yesi yang sayup-sayup mendengarnya melangkahkan kaki mendekati Gea. "Apanya yang berbeda?" Tanya Yesi, "konsepnya sesuai reques loe kok."


Gea menoleh pada Yesi dan tersenyum segaris, "berbeda dari apa yang gue dan loe pikirkan" ucap Gea lirih.


"Emangnya apanya yang berbeda?, kalau gak cocok komsepnya ya udah ubah. Partynya kan masih nanti, kita bisa rubah sekarang, loe sih suruh berangkat pagi malah terbang dini hari."


"Malam itu dia bukan minta gue balikan untuk menjalin hubungan, Yesi."


Yesi yang hendak balik badan dan masuk kedalam hotel menghentikan langkahnya seketika.


Gea masih menatap padanya dengan senyum, namun tatapannya terlihat kosong tidak menggambarkan apapun.


Paham kemana arah bicara Gea, Yesi diam menatap Gea sendu.


"Jadi loe harus minta maaf sudah marah-marah sama gue malam itu."


Bahu Yesi langsung merosot, "dari mana loe tahu."


"Dia pernah meminta gue bersikap seperti seorang saudara atau teman, dan ... kemarin malam dia mengatakan ingin kita sama-sama seperti dulu, kita ... Kita yang dia maksud Ar, As dan Al didalamnga bukan gue dan dia."


"Gea"


"Dan perkataan loe benar, sepuluh tahun ini perasaan itu didalam sini belum hilang" Gea menyentuh dadanya.


Mata Gea mulai memerah namun tidak berkaca-kaca seperti orang yang akan menangis.


Yesi langkah mendekati Gea dan memeluknya erat.


"Gue harus apa?, gue harus gimana?, gue udah jatuh kejurang yang sama."


Semua berawal dari kerja sama itu, berawal dari sana.


Jika saja dia lebih awal menemui Abra untuk menggani tempat acara.


Javir masih akan menjaga jarak diantara mereka.


Javir pasti masih merasa bersalah dan berfikir Gea masih belum memaafkannya.


Semua hal terasa gampang menurut Javir, tetapi tidak untuk dirinya yang masih saja terbelenggu.


^-^


Javir mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor ASG, setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Regan Javir langsung kerumahnya mencari Papanya, tetapi Papanya sudah berangkat ke ASG.


Kemana sebenarnya perempuan itu?.


Ponsel dan leptopnya dia tinggal di rumah Ganendra, sangat jarang Gea pergi tampa membawa dua teknologi itu.


Dret ....


Ponsel Javir kembali bergetar, nama Pavin muncul dilayar ponselnya. Javir langsung mengangkat panggilan itu sambil tetap mengendarai mobilnya.


"Ya Pap"


"Dimana?" tanya Malvin disebarang dengan tenang.


"Dijalan mau ke ASG"


"Ok Papa tunggu"


Malvin memutus sambungan komunikasi mereka secara sepihak.


Javir kembali menginjak pedal gas mobilnya, secepatnya dia harus sampai di ASG.


Turun dari mobil, Javir melempar kunci mobilnya pada security dan berlari masuk kedalam lobby perusahaan.

__ADS_1


Didepan lift sudah ada Regan yang menatap tajam pada Haikal, Vito dan Nanda yang berdiri didepannya dengan tubuh tegap.


Dilihat dari tatapannya, Regan pasti akan memarahi mereka. Secara Haikal dan Vito seharusnya mengawasi Belda, dan ... Nanda mengawasi Gea, kenapa Nanda juga disana?.


Sebelum amarah Regan meledak dan dilihat babyak orang, Javir memukul pelan pundak Regan sebelum merangkul Regan dan menyeretnya untuk masuk bersama kedalam lift.


"Udahlah ... Kita bahas didalam aja sama Papa" larang Regan semakin menarik Regan masuk kedalam lift.


Setelah pintu lift tertutup, barulah Javir melepas rangkulannya. Tatapan matanya bahkan berubah, Javir terdiam menatap lurus kedepan tidak memperdulikan tatapan Regan yang menatapnya, menuntut penjelasan darinya.


Pintu lift terbuka, Javir yang terlebih dulu melangkahkan kaki keluar dari dalam lift berjalan menuju ruangan Malvin, di ikuti Regan dibelakangnya.


Saat mereka masuk kedalam ruangan Malvin seorang pria yang tidak mereka berdua kenal keluar begitu saja.


"Nama mereka ..." kalimat Malfin mengambang, "Gea dan Belda, nama mereka tercatat dalam daftar penumpang pesawat i***a penerbangan Jakarta menuju Bali."


Sudah tahu apa yang akan dikatakan Ayahnya, Javir memilih duduk dikursi tepat depan meja Malvin, menyandarkan punggungnya dengan pasrah kesandaran kursi.


Pantas saja Haikal, Nanda dan Vito verada disini, ternyata secara bersamaan mereka kehilangan orang yang seharusnya mereka awasi.


"Calm down son" seru Malvin.


Javir menoleh kesamping, ternyata Regan sudah berjalan kearah pintu. Pastinya dia akan memarahi mereka bertiga.


Regan berbalik badan menatap Malvin dengan tatapan marah, "Pap ... they are has gone, and Ha ..."


"I know Ar" potong Javir penuh penekanan.


Wajah Javir begitu datar menatap Regan, meski sebenarnya dia juga ingin marah pada Nanda sudah lalai mengawasi Gea, tapi dia harus tenang untuk saat ini.


Seperti Malvin yang masih saja duduk di kursinya dengan tenang, "Gea berangkat semalam sendirian, sedangkan Belda berangkat tadi subuh dengan kedua temannya."


Javir memutar kursinya kembali menghadap kearah Malvin.


Tangan Malvin meletakkan dua kertas ditangannya tepat didepan Javir yang duduk dan menjulurkan kertas yang lainnya pada Regan yang masih berdiri.


"Sebenarnya mereka berdua sudah janjian atau gimana?" tanya Javir menggerutu setelah melihat nama Gea benar-benar tertulis jelas disana.


Regan mengambil kertas yang Malvin julurkan sambil duduk dikursi disamping Javir.


Javir menoleh kesamping memperhatikan Regan sejenak yang tampak begitu serius menatap layar ponselnya.


"Bukannya biasanya dimana ada Gea disitu ada Yesi, kenapa Gea malah pergi sendiri ke Bali?" Tanya Javir sambil kembali memperhatikan nama Gea di kertas yang dipegangnya.


"Sudah Papa tanyakan ke Om Sam, dia bilang sudah seminggu Yesi di Bali."


Secara bersamaan Regan dan Javir mengangkat kepala mereka kembali menatap Malvin dengan tatapan tak percaya.


"Pasti ada sesuatu" ucap Javir dengan curiga.


"Lokasi ponsel Belda saat ini berada di Miracel Hotel, di Bali" ucap Regan.


Javir kembali memutar kursinya menghadap kesamping menatap Regan dengan mata melotot.


Sedangkan Malvin menatap Regan dengan senyum misteriusnya.


"Loe udah nyadap ponsel Belda?" Tuduh Javir.


Regan tidak menjawab apalagi membantah, bola matanya malah melirik pada Malvin dan Javir bergantian.


Perlahan kepalanya menggeleng, "enggak kok ... kebetulan aja gue tahu email dan password yangbdia gunakanndi ponselnya" jelas Regan dengan nada datarnya.


Malvin mengulum bibirya menahan senyum.


Sedangakn tangan Javir langsung memukul lengan Regan, "heh bro ... loe pikir orang gila mana yang sembarangan ngasih email dan passwordnya gitu aja. Loe kecantol ya sama DJ?" seru Javir.


Regan menoleh kesamping, menatap Javir kesal dan langsung menendang kursi yang diduduki Javir, karena kaki kursi yang diduduki Javir beroda, tendangan Regan berhasil membuat kepala Javir terantuk pada tembok.


"Lo mau mati hah!" bentak Javir kesal.


Mereka bertiga adalah hecker, jadi alasan lebetulan tahu email dan password milik orang lain itu adalah dusta.


Mengetahui email dan password yang digunakan di ponsel orang lain itu adalah trik kecil seorang hecker.

__ADS_1


^-^


__ADS_2