
Sebenarnya Javir sudah tahu siapa dirinya, bagaimana dia lagir dan siapa yang tidak menghendaki keberadaannya.
Tetapi saat mendengar langsung dari Malvin sang Papa, dada Jabir seketika sesak saat itu juga. Terlebih dia melihat Resa yang menangis karena sudah menuduh Malvin maupun Bela sembarangan.
Kavir menghentikan mobilnya di pinggir jalan, sesekali memejamkan mata untuk menenagkan diri.
Saat membuka mata dia melihat siswa SMA berjalan kaki melewati mobilnya, membuatnya teringat pada Gea.
Tangannya membuka ponselnya dan mulai melancarkan aksinya, kali ini dia ponselnya terhubung dengan pulpen yang dia masukkan di dalam tas Gea.
"Oh My God ... padahal sudah bilang kangan tanya masalah video itu."
Pulpen yang Javir masukkan kedalam tas Gea hanya bisa mendengarkan apa yang terjadi.
Mendengar suara Gea sudah cukup membuatnya tersenyum sendiri, seakan apa yang terjadi sebeljmnya menghilang entah kemana.
"Alah ... sebut aja kali dia siapa"
Javir tidak tahu itu suara siapa, tetapi pertanyaannya membuat Javir tidak sabar menunggu jawaban dari Gea.
"Temen Abang gue"
Wajah Javir langsung merengut mendengarnya.
"Serius?"
"Iya ... dia temen Abang gue Kak."
"Bukan pacar?"
"Bukan, bukan pacar."
"Tapi kalian kayak orang pacaran yang lagi berantem gitu ... lucu ... serius hanya temen Abang loe?."
Tangan Javir semakin mencengkrang ponsel yang dia genggam.
"Iya, gak lebih ... hanya sebatas kenal, karena dia temen Abang gie dan anak temen Ayah."
Brak ...
Javir langsung mematkan ponselnya dan melempar ponselnya ke jok belakang.
Sial ...
Padahal dia ingin mendengar suara Gea untuk menenangkan diri malah semakin membuat moodnya berantakan.
Tiba-tiba ponsel utamanya berdenting, ada pesan masuk dari Resa yang mengatakan akan kembali ke kosannya.
Otak Javir seakan penuh kali ini, antara Resa dan Gea.
^-^
Gea duduk dengan lemas dimeja bartender, kali ini Belda lagi-lagk tidak tampil di Club Blue Heavent. Padahal dia ingin bercerita banyak hal padanya.
Kenapa Gea lebih memilih Belda dsri pada Yesi atau Mela teman yang dia kenal jauh sebelum Belda?.
Alasannya hanya satu, mulut Belda tidak seember mulut mereka berdua.
"Tumben loe gak turun" tegur Rio sambil mendorong segelas air putih dalam Martini Glass.
"Males" jawab Gea, "kesini niatnya mau ketemu Quin, tapi dia malah gak ada."
"Kenapa gak loe hubungin langsung aja?."
Gea menegak airnyabdalam sekali tegakan, "kalau dia ngangkat panggilan gue, mana mau gue kesini Rio."
Tampa diduga tiba-tiba ada seorang pria duduk disampingnya. Pria itu tersenyum lebar, meletakkan segelas tepat didepan Gea membuat Gea melirik ke pria itu dan ke gelas didepannya.
Sampanye
Meaki Gea tidak pernah minum, tetapi dia sudah tahu cairan apa didalam gelas yang pria itu berikan.
__ADS_1
"Sepertinya loe peminum yang cukup handal" ucap Pria itu dengan senyum lebarnya, "bisa kita minum bersama?."
Tampa bicara, Gea menggelengkan kepalanya dan mendorongbakki gelas didwpannya kearah pria itu.
"Ayolah ... jangan menolak" bujuk pria itu, "niat gue hanya mau kenalan doang, jangan takut."
"Ma ..."
Baru saja Gea membuka mulut, kata yang akan diucapkan Gea melayang seketikan.
Javir berdiri diantara mereka, meraih gelas yang diberikan pria itu dan menegaknya sampai tandas.
"Jangan coba-coba ganggu dia" ucap Javir penuh peringatan menatap ria itu.
Javir berbalik badan menatap Gea dengan tatapan dalam dan mata memerahnya.
Dia kenapa?
Tatapan Javir berbeda dari biasanya, tetapi bukan tatapan marah seperti saat Javir menemuinya di tempat ini beberapa bulan lalu.
"Pulang" ucap Javir tegas.
"Hei bro ... jangan gitu dong" cegah Pria itu kala Javir menyentak tangan Gea untuk turjn dari kursi hang dia duduki. "Siapa loe dateng-dateng langsung mau ..."
"Suuttt ...."
Javir mendesis sambil mebgangkat telunjuknya menghentikan perkataan pria itu.
Tatapannya masih menatap Gea yang balas menatapnya dengan kening mengerut.
"Loe tanya gue siapa?" Tanya Javie, memutuskan tautan matanyandengan Gea karena menoleh kebelakang menatap pria itu tajam. "Gue hanya teman Anangnya dan anak teman Ayahnya, paham!."
Setwlah mebgucapkan itu, Javir menyentak tangan Gea dan menariknya keluar dari club.
Gidak memperdulikan keluhan Gea yang kesakitan, memintanya melepasakan tangannya.
"JAVIR!"
Langkah Javir seketika terhenti.
Gea mebyentak tangannya sekuat tenaga agar terlepas dari cengkraman tangan Javir.
Pergelangan tangannya memerah, Gea mengangkat wajahnya menatap Javir nyalang. Terlihat wajah datar Javir yang seakan tidak bersalah membuatnya kesakitan.
"Apa-apaan sih?" Tanya Gea marah.
"Menyelamatkan adik temen gue" ucap Javir dengan santainya.
Kening Gea mengerut mendengarnya.
"Kalau loe gak bisa jaga diri loe sendiri, jangan coba-coba menginjakkan kaki loe didunia malam begini."
"Gue bisa kok jaga diri, buktinya gue ..."
"JANGAN KERAS KEPALA" bentak Javir dengan suara menggelegar.
Seketika Gea tersentak mendengar bentakan Javir. Bukannya takut, Gea malah membalas tatapan Javir dengan tatapan marah seperti Javir menatapnya kali ini.
Mereka terdiam, saling tatapan satu sama lain. Gea tidak mengerti dengan tatapan Javir yang tiba-tiba datang, menyeretnya keluar dan membenyaknya seperti ini, padahal dia berbicara baik-baik.
Sebenarnya apa yang salah?.
Terakhir kali mereka bertemu Javir terlihat baik-baik saja, apa karena dia ke club malam?.
"Loe marah karena gue ke ..."
"Masuk gue anter pulang" potong Javir dingin.
Gea menghela nafas dan mendengus, "gue bisa pulang sendiri" ketusnya mengeluarkan kunci mobil dan berjalan pergi dari hadapan Javir.
Baru saja Gea akan masuk mobil, tangannya ada yang menarik.
__ADS_1
Javir menarik tangan Gea, membuka pintu mobil dan mendorong Gea duduk di kursi samping kemudi.
Gea ingin marah tetapo Jabir sudah menutup pintu dan memutari mobilnya duduk di belakang kemudi.
"Keluar, gue bisa pulang sendiri" usir Gea.
"Diamlah" desis Javir dengan suara rendahnya, tatapan matanya fokus pada layar ponsel ditangannya. "Pakai seatbelt, loe karena kita gak punya waktu berantem sekarag."
"Loe yang duluan datang, narik tangan gue keluar dari sana. Loe yang ngajak berantem dengan na ...."
"Gue sudah konfirmasi titik lokasi Emma"
Mata Gea membulat, saat mendengar Javir dengan santainya memasang earbug dan berbicara dengan orang disebrang hampa mendengarkannya.
"Tujuh menit ... ok siap"
Brum ...
"JAVIR!"
Kepala Gea hampir saja terbentur kesandaran kursi mobil dengan keras jika tangan Javir tidak memegang kepalanya.
Setelah menghidupkan mesin, Javir langsung menginjak pedal gas sehingga Gea yang masih belum siap duduk dengan benar dikursinya terlonjak kaget
"Loe beneran ngajak berantem kalau gini caranya!" Omel Gea dengan nada marah.
Sedangkan Javir hanya diam seakan tidak menghiraukannya, tatapannya begitu fokus pada jalan raya didepannya.
^-^
Javir menghentikan mobil Gea tidak jauh dari mobil Regan yang terparkir, dia tersenyum culas sebelum membuka pintu dan berlari kekerumunan orang yang sedang berkelahi.
Pukulan Javir membabi buta menghajar lawan, yang hampir saja mencwlakai Emma adik dari Alaric.
Bertepana dengan uasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, otaknya seakan mau pecah dengan semua permasalahan yang ada, Javir dengan senang hati berkelahi seperti ini, untuk melepas semuanya kepenatannya.
Didalam mobil, Gea menatap ngeri pada Jabir, Regan, Aslan, Alaric dan tiga perempuan yang tidak Gea sangka juga pandai berkelahi.
Gea menoleh kesamping, dia melihat Belda seperti dirinya, duduk didalam mobil melihat merela berkelahi.
Saat mereka bertujuh sudah berhasil mengalahkan orang-orang yang menakutkan versi Gea, mereka berjalan santai seakan tidak terjadi apapun, bahkan Gea melihat tertawa mereka.
"Udah berantem, mereka masih sempat tertawa begitu" batin Gea.
Melihat Belda keluar dari mobil Regan, Gea juga ikut turun dari mobilnya menghampir mereka.
"Loe disini juga?" Tanya Aslan.
Kepala Gea mengangguk sambil melirik Javir sejenak.
Terlihat Javir menyeka darah disudut bibirnya dan tersenyum lebar melihat punggung tangannya yang terdapat darah.
"Gue sama Belda pulang duluan" pamit Regan.
Mendengar itu, Gea ikut melangkah mengikuti mereka, berniat akan nebeng Regan.
"Mau kemana?"
Javir sudah berdiri didepannya, wajahnya kembali datar seperti tadi.
"Pulang lah" jawab Gea sewot.
"Loe mau ganggu mereka pacaran?" Tanya Javir, "Ar pasti menginap dirumah Belda malam ini."
Gea berbalik badan menghadap Aslan yang berjala pergi kearah motornya.
"As tidak mungkin pulang ke rumah Ganendra" ucap Javir, "dia tidak mungkin menunjukkan memar diwajahnya ke Bunda."
Tubuh Gea melemas seketika, dia akan kembali dengan Javir. Dan seperti tadi, Gea akan memili dia sepanjang perjalanan dari pada mereka berantem didalam mobil.
Tangan Javir menarik pergelangan tangan Gea dan menyeretnya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
^-^