
Javir menatap kearah Aslan dan Helan yang sedang bertukar cincin dengan tatapan kesal.
Dia bahkan meneguk minumannya dalam satu kali tegukan, tampa mengalihkan tatapannya dari mereka berdua.
"Kenapa gue malah kesel ngeliat dia tersenyum begitu" gerutu Javir.
"Kesel apa iri?" Tanya Alaric, "kalau iri bilang bos" ledeknya.
Gea yang berada disamping Alaric terkekeh kecil.
"Gue bener-bener kesel Al, ya gak Yah?" Tanya Javir pada Abra yang menatap Aslan dan Helen dengan tatapan tidak suka, "liat tuh ... Ayah pasti kesel juga liat As senyam-senyum sok bahagia gitu."
Ara dan Abra tahu jika Aslan akan bertunangan tiga hari sebelum hari H seperti yang lainnya.
Jangan ditanya seberapah marah Abra dan Ara karena kelakuan Aslan yang gila akan balas budi.
"Dia akan tahu gimana rasanya hidup dengan orang yang tidak dia cintai" guman Abra.
"Kalau Je lebih baik jomblo Yah" sahut Javir, "dari pada seumur hidup tinggal dengan orang yang gak Je cintai."
"Loe udah ngulang kalimat itu berkali-kali Je" gerutu Alaric.
Abra menoleh pada Javir lalu pada Gea secara bergantian, "kalau begitu ... Gea jangan terima dia" ucap Abra tegas.
Mata Javir langsung terbelalak, "AYAH ..." tegur Javir.
"Mantan ladykiller seperti dia tidak akan sanggup menahan diri untuk tidak tebar pesona" celetuk Malvin yang duduk tidak jauh dari kursi mereka.
"Pap jangan ikutan deh" tegur Javir, "seharusnya orang tua iti harus dukung."
Kepala Javir melirik pada Gea.
Ternyata perempuan itu tersenyum simpul menatap kearahnya, Javir jadi merasa salting sendiri.
"Bunda" tiba-tiba saja Regan berdiri disamping Ara dan mengadahkan tangan kearah Ara, aku mau mengumumkan Belda milikku."
Semua orang yang berada di meja bundar itu saling adu tatap keheranan mendengar ucapan Regan.
"Terus?" Tanya Ara tidak mengerti.
"Kelamaan"
Regan meraih tangan Kanan Ara dan mengeluarkan cincin pernikahan Ara dari jari Ara sebelum berjalan dengan langkah tegapnya menaiki panggung.
Javir menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan menatap Regan dengan geli, "dia pasti akan melakukan hal gila" gumamnya.
Dan benar saja, Regan naik keatas podiun untuk melamar Belda didepa banyak orang.
Javir yang sudah menyangkan jika Regan akan melakukan hal gila, tertawa ngakak dengan Alaric yang bertepuk tangan heboh.
"Wah ... Ar mah gak mau kalah" seru Alaric.
Meski mereka berteman rasa saudara, didalam kehidupan mereka juga selalu ada istilah kompetisi. Urusan berkelahi, urusan kerja otak, bahkan mungkin urusan percintaan juga.
Selesai dengan kelakuan Regan yang menggelikan, Javir berdiri untuk mengambil minuman dan beberapa kue. Tiba-tiba dua orang perempuan menghampirinya.
^-^
Mata Gea menatap tajam kearah Javir, tangannya mengepal melihat Javir yang tertawa dengan dua perempuan yang berdiri dikanan dan kirinya.
Sudah lebih dari lima menit Javir bercengkramah dengan perempuan-perempuan itu, dan selama itu juga mata Gea menatap tampa henti pada mereka.
"Apa penyakitnya kumat lagi?" Tanya Alaric lirih.
Mata Gea semakin menyipit menatap Javir.
Diam-diam Alaric melirik Gea yang duduk disampingnya, senyumnya tiba-tiba terukir lebar, tanda sifat jahilnya muncul.
"Pesona ladykillernya ternyata gak pernah mati" ucap Alaric lirih namun bisa dipastikan Gea mendengarnya, "ini mah gugur satu tumbuh seribu ... lah tuh ... ada yang dateng lahi gie mah kalah. Beruntung ba ..."
"Mulut loe bisa gak berigak gak sih?" Potong Gea dengan nada judesnya.
Alaric mengulum bibirnya sambil menahan tawa, "kalau jealous bilang bos ... berani gak loe kayak Regan yang ...."
Mata Gea berubah haluan, dia menoleh kesamping dan menatap tajam kearah Alaric yang langsung diam mendapat tatapan maut darinya.
"Kenapa sih loe jadi cowok cerewet banget?" Gerutu Gea.
__ADS_1
Tidak tahan lagi mendengar celotehan Alaric, Gea berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Javir yang semakin banyak dikerubuti oleh perempuan-perempuan yang tidak Gea kenal.
Ditempat duduknya, Alaric tertawa kecil melihat Gea yang terlihat benar-benar terpancing oleh provokasinya.
"Alaric..."
Desisan dengan suara bariton membuat Alaric menyengir.
Abra yang sedang memangku Bilqis menatapnya dengan tatapan tajam mematikan andalannya.
^-^
Mulut masih berbicara, senyum masih terukir untuk para perempuan yang mendekatinya.
Tetapi tatapan mata Javir tertuju pada Gea yang berjalan dengan anggun dan dagu terangkat, tampak cantik dan elegan dimata Javir malam ini.
"Sorry to disturb your happiness guys" ucap Gea dengan suara lembutnya.
Suara lembut, tetapi tatapan matanya begitu tajam menatap Javir.
Paham dengan tatapan itu, Javir tersenyum sambil memiringkan kepalanya menatap Gea dengan tatapan gemasnya.
"Oh hai ... Angel"
"Angel beneran disini"
"Oh My God ... I'm Your Biggest fan"
Gea hanya menanggapi seruan mereka dengan anggukan kepala sopan, menunjukkan penghargaannya.
Dengan usil, Javir merangkul pundak salah satu dari mereka, menyesap minumannya sembari menikmati mata melotot Gea padanya.
"Terima kasih" ucap Gea lembut, "kalau gak keberatan ... Boleh gue pinjek Javir sebentar?."
Satu persatu perempuan itu mulai mundur selangkah menjauh dari Javir.
"Gak papa silahkan"
"Bawa aja dianya."
"Lagian loe kan pacarnya, kenapa malah mibta izin segala."
Gea kembali hanya menunjukkan senyum manisnya, menjulurkan tangan menarik lengan Javir dan mengapitnya sebelum melangkah pergi.
Javir masih menoleh kebelakang melambaikan tangan pada mereka semua, membuat tangan Gea semakin erat mencengkram lengan Javir.
"Jangan harap tangan loe bisa berdiri tegak bentar lagi" desis Gea dengan nada mengancam.
Javir menghentikan langkahnya diikuui Gea, kali ini dia tidak bisa menahan tawanya lagi.
Gea yang melihatnya semakin kesal berniat menendang tulang kering Javir, tetapi dengan cepat Javir menghindar.
"Kenapa sih loe judes banget?" Tanya Javir disela-sela tawanya sok tidak mengerti kenapa Gea marah kali ini.
"Jagan kegatelan deh Je" desis Gea.
"Gue gak gatel kok" sanggah Javir, "emangnya loe ngeliat gue garuk-garuk?."
Gea memejamkan mata, menghela nafas seakan menenangkan diri untuk tidak meledakkan amarahnya kali ini. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah tenang setelah membuak mata.
Mereka berdua saling tatap cukup lama, bahkan Gea tidak menghindar saat Javir menggenggam sebelah tangannya erat.
"Loe bilang kalau udah siap gue bisa katakan kapanpun gue mau" ucap Gea lirih.
Sebelah alis Javir terangkat, "jangan bilang loe gak mau kalah dengan Aslan dan Regan?."
Gea menganhkat kedua bahunya,"bisa dibilang begitu" jawab Gea tampa memungkirinya, membuat Javir tercengang.
"Seriusly?" Tanya Javir.
Kepala Gea mengangguk dengan perlahan memalingkan muka menatap kelain arah, memutuskan tautan mata mereka.
"Angel liat gue" pinta Javir, "loe serius enggak sih?" tanyanya lagi.
"Iya, tapi pacaran aja" ucap Gea lirih. "Coz gue gak siap terikat apalagi sampek nikah."
"Katanya loe gak mau kalah, kalau jak mau kalah ya tunangan juga atau nikah sekalian biar menang dari mereka."
__ADS_1
Gea kembali menatap Javir, kali ini matanya mendelik dengan pipi bersemu merah.
Javir tertawa kecil.
Tangan Gea sepontan memukul mulut Javir pelan, "jangan ketawa" larang Gea.
Pipi Gea semakin memerah.
Javir mengulurkan tangannya dan mengelus kedua pipi Gea dengan lembut.
Pasti butuh keberanian besar untuk Gea mengatakan kalimat-kalimat barusan, secara selama ini Gea cukup gengsian.
"I don't know what to say" ungkap Javir.
Javir melangkah semakin mendekati Gea, mengikis jarak diantara mereka, hangannya melingakri pinggang Gea hendaknmemeluk Gea erat, tetapi ....
Plak ...
"Aw"
Kepala Javir dipukul dari belakang.
Sontak saja Javir kesal hendak marah, saat berbalik badan tenggorokan Javir seperti ada yang mencekek seketika.
Dibelakangnya, Bela dan Malvin menatap tajam pada Javir lalu melirik kearah Abra yang duduk dengan Bilqis dipangkuannya menatapnya dengan tatapan marah kearahnya membuat Javir meringis.
Yakinlah kalian semua, jika sekarang Bilqis sedang tidak dalam pangkuan Abra, detik ini juga bukan pukulan ditengkuk dari Malvin yang akan Javir terima, melainkan bisa kepalan tangan Abra yang melayang. Pria itu terlalu posesive jika menyangkut Ara, Gea dan Bilqis.
"Kenapa kalian disini?"
Suara seseorang yang begitu asing di telinga Javir berhasil menarik perhatian Javir dari Abra.
Pak Lutfi menatap mereka berempat bergantian.
Tangan Javir langsung menarik pergelangan Gea kebelakang, "kembalilah kemeja Ayah" perintahnya dengan suara baritonnya.
Tampa banyak bantahan, Gea berjalan menjauh meninggalkan Javir dengan Malvin, Bela dan ... Pak Lutfi, pria tua yang tidak Gea kenal.
"Mana cucuku?, kalian tidak membawanya?" tanya Lutfi, masih menatap kesegala arah mencari seseorang.
"Cucu?" Beo Javi, "dia emangnya kakek siapa?" Tanya Javir, "Ayah Papa bukan?."
Kepala Malvin menggeleng, "bukan."
"Ayah Mama?."
"Ya gak mungkin lah Je, Kakekmu kan ada di Surabaya" jawab Bela.
Javir kembali menoleh pada Pak Lutfi yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Tongkatnya terangkat dan menunjuk kedada Javir, "yang pasti saya bukan Kakek kamu."
"Oh ... Syukurlah kalau begitu, saya juga tidak mau."
Tongkat itu semakin terangkat tinggi hendak memukul kepala Javir, tetapi dengan cepat Javir menangkap tongkat Pak Lutfi sebelum mengenainya.
Tatapan Javir yang semula biasa saja berubah menjadi tatapan tajam mengintimidasi. "Bahkan saya yakin adik saya juga tidak mau mengakui anda" ucap Javir dengan suara rendannya.
"Kamu berani pada ..."
"Sangat" potong Javir, "jangan tanyakan keberanian saya, jadi saya harap anda jangan pernah ganggu adik saya. Dia merasa sangat amat terganggu dengan kehadiran anda, jangan coba-coba lagi muncul didepannya atau didepan kami."
"Kamu masih anak bau kencur, beraninya kamu me..."
"YA!"
Suara Javir mulai meninggi memotong kalimat penuh amarah Pak Lutfi, bahkan beberapa orang menatap kearah mereka.
"Jangan paksa saya menunjukkan keberanian saya melawan anda lebih dari ini."
Javir menepis tongkat Pak Lutfi.
Sebelum berbalik pergi, Javir menghadap Malvin dan menatapnya sendu, "maaf" ucapnya sebelum melangkah pergi.
Ini pertama kali Pak Lutfi muncul dihadapannya, Javir pikir selama ini dia bisa mengontrol amarahnya jika nanti bertemu beliau. Nyatanya, perasaan marah karena dirinya hendak dibuang oleh Kakeknya sendiri, perasaan marah karena Malvin diusir dari rumah dan dikeluarkan dari keluarga Yasa tidak bisa Javir bendung.
Bahkan, kebahagiaan yang diberikan Gea beberapa menit lalu seakan hilang menguap entah kemana.
__ADS_1
^-^