Watching You

Watching You
Gangguan


__ADS_3

Resa menguap beberapa kali, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke pantry untuk membuat kopi.


Hari ini dia mempunyai shif malam, sehingga mau tidak mau dia harus selalu terjaga dan siap siaga untuk pasien yang datang secara tidak terduga.


"Mereka serasi kalau dilihat secara langsung"


Tiba-tiba saja beberpaa orang perawat memasuki pantry.


Mereka tidak begitu menghiraukan keberadaan Resa, karena Resa hanya dokter koas yang terbilang cukup baru di rumah sakit ini.


"Iya, gue kira si Angel itu biasa-biasa aja, tahunya waw ..."


Saat nama Angel di sebut, Resa langsung pasang telinga.


Nama Angel membuatnya sedikit sensitif sejak beberapa tahun lalu, karena terkadang kegilaan Javir juga berimbas kepadanya.


"Masak sih loe gak tahu?, dia kan saudara dokter Adam Regan."


Saudara Dokter Adam Regan?


Mata Resa langsung membualat, ternyata mereka berdua sedang membicarakan Angel yang dia kenal.


Sehingga Resa semakin menajamkan indra pendengarannya, sifat keponya muncul.


"Cowok yang sakit itu kan temen Dokter Adam Regan, beberapa kali dia kesini."


"Jadi cowok yang virl versama dia itu Je temen Dokter, i ..."


Byur ...


Gelas kertas yang dipegang Resa terjatuh seketika kelantai.


Buru-buru Resa berlari dengan kencang keluar dari pantry.


Cowok yang sedang viral dengan Gea adalah Javir dan Faris. Faris sedang di penjara, meski dia sakit tidak mungkin dibawa kerumah sakit ini, dan teman Regan bukan Faris melainkan Javir, jadi sudah pasti yang sakit itu adalah Abangnya.


Sesampai di UGD, dimana tempat pertama kali pasien datang dibawa, tidak ada tanda-tanda keberadaan Javir ataupun Gea disana.


Sehingga Resa meremas rambutnya mencoba tenang dan berfikir sejenak.


"Dokter Manda"


Kala melihat Domter jaga yang baru saja masuk, sontak saja Resa dengan spontan memanggil namanya dengan suara menggelegar.


Merasa namanya dipanggil, Dokter Manda berbalik badan dan melotot pada Resa setelah mengetahui jika Resa yang berteriak memanggilnya.


Resa kembali berlari, dia menghampiri Dojter Manda. "Ada pasien yang dianter perempuan, dan yang nanganin Dokter Adam Regan gak?."


"Ditangani Dokter Regan?" Tanya Dokter Manda.


Kepala Resa mengangguk cepat, "iya pasti Dokter Regan yang nanganin karena mereka bsrteman. Dokter tau dia dibawa kemana gak Dok?. Karena pasien itu Abang saya."


Plak ...


Dokter Manda memukul kepala Resa dengan gulungan kertas ditangannya. "Saya kira ada hal penting apa, manggil sampek teriak dan lari-lari segala."


"Penting Dok, ini Abang saya yang sakit."

__ADS_1


"Kalau Dokter Regan yang nanganin ya tenang aja, coba ke lantai dua nomer dua kosong dua."


"Ok Dok, terima kasih."


"Jangan lari atau nilaimu saya kurangi."


Belum juga Resa melangkah, Dokter Manda sudah lebih dulu mengancamnya.


Rese menyengir kuda.


Memang benar jika dia tidak lari, tetapi langkahnya cukup lebar dan cepat.


Hanya ada tiga hal kenapa Javir sakit sampai masuk rumah sakit. Pertama, drop karena kelelahan. Kedua, karena terluka parah dan tidak bisa di tangani Regan diluar rumah sakit, atau yang sering terjadi ... karena banyak pikiran sehingga stres dan sakit kepala yang berlebihan.


Didalam ruangan itu sudah ada Regan, Aslan, Nanda dan Gea.


Resa masuk setelah mengetuk pintu kamar inap Javir. "Dia kenapa Dok?" Tanya Resa pada Regan tampa menatap kearah Regan, dia terus melangkah mendekati Javir yang terbaring.


"Seperti biasa" jawab Regan santai, "terlalu banyak pikiran hingga kepalanya sakit, tekanan darah meningkat, dan panasnya tinggi. Ganguan stresnya kambuh, dan sepertinya akhir-akhir ini ada sesuatu yang sering memicu ganguan stresnya hingga sampai ketahap ini."


Tangan Resa menggenggam tangan Javir erat, "pasti karena gue yang sering diganggu orang tua itu" gumam Resa, "mangkanya dia kepikiran sampai sakit gini."


Regan dan Aslan yang mengerti siapa orang tua yang dimaksud Resa hanya menghela nafas.


Hal itu bisa saja terjadi, mengingat apa yang sudah dikatakan Pak Lutfi cukup keterlaluan diruang meeting beberapa minggu yang lalu.


Meski Javir tidak berada disana, melihat dari raut wajah Javir saja mereka sebagai teman sudah tahu jika Javir sangat marah atas perkataan Pak Lutfi saat itu.


^-^


Sepertinya dia sudah terlalu banyak berfikir masalah Liza dan anak itu hingga memicu stresnya.


"Ab ..."


Telunjuk Javir langsung membuat isyarat agar Resa diam tidak berisik, dia tidak mau membuat Gea terbangun.


Tangan Javir yang sedang di infus berada dalam genggaman tangan Gea, yang terasa begitu hangat.


Keningnya tiba-tiba ada yang menyentuh dan itu pasti tangan Resa. Sehingga Javir mengalihkan perhatiaannya pada Gea yang yang tertidur.


"Hem ... untug turun" ucap Resa lirih.


Tangan Javir yang bebas menggengham tangan Resa, mencoba menenangkannya dengan menunjukkan senyum lebarnya meski terlihat lemah.


Mata Resa malah berkaca-kaca.


"I'm ok" ucap Javir lirih.


"Abang buat aku ketakutan, aku sudah memikirkan yang aneh-aneh tadi" cicit Resa.


"Hanya terlalu banyak pikiran seperti biasa."


"Jangan terlalu dibawa ruwet Abang" ucap Resa, "kepalanya masih sakit?."


Javir menggeleng pelan.


"Merasa panas atau dingin gak?."

__ADS_1


Javir terkekeh kecil, "Abang ok sayang."


Resa menghela nafas, "kalau ada apa-apa langsung hubungi Abang Ar atau Resa ya."


"Ok Dokter."


Resa terdiam sejenak menatap Javir, "kalau gitu Resa keluar dulu. Dokter Regan hanya meminta Resa menunggu disini sampai Abang bangun, lalu harus kembali standby lagi."


"Ya udah sana kerja gih."


Resa melihat kearah jam dindin, "tinggal tiga jaman lagi Resa selesai. Resa nanti langsung kesini ya, Abang tidur aja."


Javir hanya menganggukkan kepala.


Resa keluar dari kamar inap Javir.


Perhatian Javir langsung tertuju pada Gea yang tertidur.


Saat Nanda menggendongnya tadi, Javir sempat bangun tetapi tidak kuat untuk bertanya dia mau dibawa kemana, kepalanya terasa pening hingga tidak sanggup membuka mata.


Perkataan Liza benar-benar membuatnya terganggu hingga mengakibatkan kepalanya kesakitan.


Tidur dengan wanita diluar nikah adalah salah satu hal yang selalu dia hindari, karena dia sadar akan siapa dirinya. Jadi sangat amat tidak mungkin dia melakuakn itu.


Tetapi, jika Gea sampai mendengar apa yang dikatakan Liza, Javir tidak bisa mengetahui apa yang akan Gea lakukan, karena Gea juga membenci orang tua yang tidak bertanggung jawab, seperti Maminya yang meninggalkannya begitu saja setelah emlahirkannya.


Dia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Gea sebelum wanita itu mendengarnya dari orang lain.


Javir tidak memikirkan reaksi Papa atau Mamanya nanti, karena dia percaya, jika mereka pasti mempercayai Javir.


^-^


Baru bangun tidur, Malvin langsung membuka ponselnya dna menemukan peaan yang baru saja dikirim Resa.


Abang masuk Rumah sakit


Ganguan Stres


Malvin menghela nafas membacanya.


"Kenapa?" Tanya Bela yang sudah duduk disampingnya.


"Je sakit" jawab Malvin, "sepertinya gangguan stres seperti biasa."


Kali ini giliran Bela yang menghela nafas berat, "dia pasti banyak pikiran sekarang."


Malvin merangkul pundak Bela, "meski dia sudah dewasa. Tetap saja kebenaran akan masa laluku membuatnya terganggu."


"Terlebih perkataan Papamu yang keterlaluan."


"Dia bukan Papaku" bantah Malvi.


Sampai disini, tidak ada yang mengetahui apa yang benar-benar mengganggu pikiran Jabir hingga jatuh sakit.


Bahkan Malvin yang mengetahui kemana Javir pergi pun tidak sampai berfikir kearah sana.


^-^

__ADS_1


__ADS_2