Watching You

Watching You
Ketakutan Terbesar


__ADS_3

"Kalau gue mau kita lanjut gimana?"


.


.


.


Diluar dugaan Gea.


Ekspresi Javir duluan dugaan.


Gea kira Javir akan tersenyum bahagia, nyatanya ... Javir hanya diam menatapnya dengan tatapan tajam tampa ekpresi.


Perlahan Gea menghela nafas dan mencoba tersenyum, kakinya bahkan mencoba untuk melangkah pergi dari ruangan itu setelah tidak mendapatkan reaksi apapun dari Javir.


"Kita akan menikah sekarang juga."


Kalimat itu menghentikan langkah Gea, tubuhnya sekana membeku.


Tak ...


Tak ...


Tak ...


Bahkan langkah kaki Javir membuatnya mengepalkan tangan menahan diri agar tidak berbalik dan meluapkan semua yang dia rasakan saat ini.


"Loe mau atau enggak gue gak perdulu" ucap Javir setelah berdiri tepat didepan Gea, "sekali loe bilang mau lanjut. Gue pastikan malam ini juga kita menikah, jadi pikir dulu."


"Tapi Je, menikah tidak se ..."


"I know" potong Javir, "tapi melanjutkan hubungan kita berarti loe siap untuk kejenjang berikutnya. Kalau loe gak siap, ya ... Buat apa juga?."


"Gapi setidaknya bukan menikah sekarang juga Je!."


"Lalu kapan?" Tanya Javir lirih, "apa sih yang loe tunggu An?. Gue bingung sebenarnya apa yang loe cari dari hubungan kita, kenapa loe susah banget diajak nikah?. Apa sebenarnya loe hanya ingin balas dendam karena kejadian sepuluh tahun lalu?, loe ingin gue tergila-gila keloe seperti loe yang gile kegud dulu?. Kalau iya, loe udah berhasil. Loe sudah berhasil sejak loe menolak untuk tunangan, loe udah berhasil buat gue gila sampai terobsesi sama loe, loe sudah berhasil buat gue te ..."


"GUE GAK GITU!" Teriak Gea menggelegar.


Mata Gea menatap Javir dengan tajam, matanya memerah bahkan berkaca-kaca.


Dan kelemahan Jabir adalah tangisan Gea, sehingga dia berbalik badan memunggungi Gea yang akan segera menangis.


"Alasan kenapa gue gak pacaran bukan hanya karena loe yang menjauhi semua pria dari gua, tapi karena gue takut ... Gue takut seperti Mami, gue takut karma dari apa yang dilakukan Mami terjadi ke gue. Dan kenapa karma itu selalu bersangkutan dengan loe Je" sangat lirih pengucapan kalimat terakhir.


Javir kembali berbalik menghadap Gea yang sudah menangis.


Air mata membasahi pipinya, tanggan Gea menghapus kasar air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.


"Pertama" ucap Gea lirih, "sepuluh tahun lalu loe menempatkan gue layaknya sampah yang siap menerima loe setelah loe hidup bebas diluar sana, seperti Mami yang melakukan hal sama pada Ayah. Kedua, Danil datang ditengah-tengah hubungan kita yang baik-baik aja, seperti Mami yang tiba-tiba datang dengan keadan hamil disaat Ayah dan Bunda sudah menikah. Lalu apa lagi Je?, gue ... Gue cinta sama loe, gue juga ingin hidup dengan orang yang gue cintai. Tapi gue takut, gimana kalau semua karma Mami ja ..."


Kalimat Gea terhenti, matanya bahkan terbelalak, tubuhnya seakan kembali membeku tidak bisa dia gerakkan untuk mendorong Javir menjauh.


Ini pertama kali untuknya


Ini pertama kali Javir melakukan hal ini padanya.


Ini pertama kali ... Javir menciumnya.


Gea memejamkan mata saat melihat kelopak mata Javir akan terbuka.


Jantungnya berdebar kencang meski Gea menahan nafas, ini pertama kali untuknya, dan Gea seakan blank seketika.


"Apapun yang akan terjadi, jika loe menguzinkan gue tetep stay disamping loe, gue pasti akan tetap stay" bisik Javir lirih setelah memberi sedikit jarak diantara mereka.

__ADS_1


Gea masih saja diam dengan mata terpejam.


Terasa kedua tangan Javir menangkup pipinya, "An breathe."


Mata Gea langsung terbuka dan menghembuskan nafas berkali-kali seperti orang baru saja lari maraton.


Dengan oleng Gea melangkah mundur menjauhi Javir, tetapi tangan Javir yang sigap memegangi Gea agar tidak jatuh terduduk dilantai.


"I'm so lucky to always be the first"


Kepala Gea langsung terangkat menatap Javir dengan tajam, penuh amarah, kesal dan semua hal yang berkecamuk menjadi satu didalam dadanya.


"Kata siapa?" Tanya Gea membantah.


Javir tertawa kecil, melangkah mendekati Gea, kembali mengikis jarak diantara mereka membuaf Gea kembali berdiri tegap dan hendak mundur namun pingganggnya sudah menyentuh meja kerja Javir sehingga dia mencoba melangkah kesamping tetappli Javir mengurungnya dengan kesua tangan Javir yang menyentuh pinggiran meja tepat dikedua sisi Gea.


Kepala Gea hebdak menatap kedepan untuk menatap Javir dan memarahinya tetapi dia mengurungkan niatnya, seketika Gea kembali membuang muka saat wajah Javir berada tepat didepannya.


"Apa loe lupa gue selalu mengawasi loe dari dulu?" Ucap Javir lirih tepat ditelinga Gea, "I was your first love, and earlier... was your first kiss, and I will make sure... you will end up with me too."


Lagi-lagi Gea tidak bisa berkutik.


Sebelah tangan Javir mengelus puncak kepalanya lembut.


"Selamat malam"ucap Javir lembut, "dibawah akan ada orang yang mengantar loe pulang. Maaf gue gak bisa nganter loe pulang, karena kerjaan gue masih belum selesai. Besok ... Tunggu gue, love you."


Cup ...


Mata Gea melebar seketika.


Javir mencium pipinya sebelum melangkah pergi masuk kedalam lift yang akan membawanya pergi menuju Raja Crown meninggalkan Gea yang masih mematung di mejanya.


Setelah terdengar dentingan pintu lift yang tertutup, perlahan tubuh Gea melemas.


"Dia tetap saja menjengkelkan" keluhnya lirih.


^-^


Bukan karena kerjaan Javir banyak, tetapi dia takut tidak bisa mengendalikan diri lagi.


Sstelah menghubungi salah satu valet kepercayaannya untuk mengantar Gea, Javir menghela nafas dan bersandar pada dinding lift, dia tersenyum lebar penuh bahagia.


Meski hubungan mereka tidak seratus persen jelas, perlahan dia akan membuat Gea percaya padanya, membuat Gea berani untuk melangkah bersamanya kejenjang berikutnya. Sebentat lagi ... Javir tidak akan menunda hal itu lebih lama lagi.


Baru saja keluar dari lift, bantal sofa sudah melayang kearahnya, seruan bahkan makian menyambut Javir yang melangkahkan kaki memasuki Raja Crown.


"Wah ... Gila!."


"Anj*r!."


"Mulut loe mau gue gunting?."


Dengan wajah bodohnya Javir menyengir.


Terus saja melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya seakan tidak mau mendengar seruan dan cacian dari ketiga temannya.


Hingga satu kalimat dari mulut Regan berhasil membuatnya menghetikan langkah, berbalik badan dan berlalu menghampirinya dengan wajah pias.


"Gue akan kasih video tadi sama Bunda."


Seandainya Regan mengatakan pada Abra, Javir tidak akan sepias ini.


Amarah Ara lebih menakutkan dari pada amarah Abra yang akan memukulnya.


Jika Ara tahu, satu kalimatnya bisa menggerakkan Malvin bahkan Prabu juga, yang akan dipastikan Javir akan masuk keruang operasi nantinya.

__ADS_1


"Gur akan lakuin apapun" seru Javir dengan semangat empat lima setelah berdiri didepan Regan dna yang lainnya.


Yang pertama membuat Javir menghela nafas pasrah adalah senyum culas dari Regan.


Meski Alaric juga susah untuk ditebak, tetapi otak Regan melebihi kelicikan siapapun yang Javir kenal selama ini.


^-^


Dua sepasang suami istri itu masih berada di An Angel membuat pundak Gea langsung merosot melihatnya.


Gara-gara kejadian tadi otaknya blank, bahkan dia tidak bisa menolak valet yang akan mengantarnya.


"Udah?" Tanya Abra.


Kepala Gea mengangguk sambil duduk disamping Vira.


Gea menatap makanan didepannya, sepertinya mereka berempat baru saja selesai makan malam di An Angel sambik menunggunya pulang.


Tiba-tiba saja Vira menjulurkan berger padanya, sehingga Gea mengambilnya dan mulai memakannya dengan tenang.


Suasana dimeja itu serasa sepi, perlahan Gea menoleh kekanan dan kekiri, semua sedang menatap kearahnya. Mereka sedang menunggu apa yanv akan Gea katakan, membuat Gea menghela nafas melihatnya.


"Gea udah menolek lamaran Sebastian" ucap Gea lirih.


"Jadi kamu balikan sama Je?" Tanya Vira.


Kepala Gea memggeleng pelan.


"Lalu?" Kali Ara yang bertanya.


"Yang mengantar kamu kalau tidak salah salah satj valet di hotel Raja Throne" ucap Abra dengan tenang, "kamu kesana buat nemuin Javir untuk membahas masalah kamera atau hubungan kalian."


Seperti biasa Abra selalu to the pont.


Gea meraih gelas Ara dan minum sebelum menjawab pertanyaan Abra barusan, "buat keduanya" jawab Gea santai.


"Terus?" Tanya Ara.


"Terus gimana lagi Bun ... Ya udah"


"Akhir dari pembicaraan kalian bagaimana sayang?" Tanya Ara mulai tidak sabar.


Gea menghela nafas, "dia apa yang dikatakan Ayah benar" Gea melirik Abra sejenak. "Dan untuk kelanjutan hubungan kita ..." kalimat Gea menggantung.


"Berakhirkah?" Tanya Virih.


Tangan Vira menyentuh lengan Gea lembut.


Perlahan Gea tersenyum kecil pada Vira, "Gea bertanya kalau Gea mau lanjut bagaimana, dan jawaban Javir buat Gea ... Gak tahu mau mengambil langkah yang mana Mi."


"Kenapa?."


"Gak tahu" ucap Gea sangat lirih.


Kepalanya menggeleng pelan.


"Apa dia mengajakmu menikah?"


Sontak saja semua menoleh pada Abra dan menatapnya dengan tatapan gak percaya.


Bahakn Gea juga terperanjat mendengarnya, dia belum mengatakan apapun barusan, mengapa bisa Abra tahu.


"Dan kamu ..."


"Aku tidak menolaknya dan tidak juga mengiyakan Ayah" potong Gea, "karena Ayah pasti tahu ketakutan terbesarku."

__ADS_1


^-^


__ADS_2