Watching You

Watching You
Mereka Tahu


__ADS_3

Jam dua


Duk ...


Resa meletakkan kepala diatas meja hingga menimbulkan bunyi.


Lagi-lagi dia kebagian shif malam hari ini, tidak ada Mela dan Regan yanv bisa dia ajak bicara, jadi Resa memilih duduk di lobby menonton bola dengana beberapa perawat dan security rumah sakit.


"Gol"


Seruan para pria yang berada disana membangunkannya.


Resa kembali mengangkat kepala menatap kesekeliling lalu terpaku pada seorang anak yang berjalan sambil memegangi tiang infusnya.


"Mau kemana?" Tanya Resa menghalanginya yang akan keluar dari lobby rumah sakit.


"Enil mau ketemu Ayah"


Kening Resa mengerut mendengarnya.


"Nama kamu Enil?" Tanya Resa.


Kepala anak itu menggeleng kuat, "namaku Danil Air langga Ibu Dokter" ucapnya dengan suara serak.


Mungkin baru bangun tidur lalu berjalan tampa sadar mencari Ayahnya, pikir Resa.


Anak itu menjulurkan kertas kearah Resa, "liat Ayah enil gak?."


Resa tersenyum, mengambil kertas yang dia julurkan, yang ternyata selembar foto dan terdiam.


Itu foto Javir dulu dan seorang wanita yang tidak Resa kenal.


"Udah berhari-hari Ayah gak jenguk Enil" ucap Danil lirih.


Resa mengangkat wajahnya menatap Danil, "ini bener Ayah kamu?"


Kepala Danil mengangguk cepat, bibirnya tersenyum lebar, mengambil foto ditangan Resa dan mengelusnya menatap foto ditangannya dengan tatapan bahagia.


Tangan Resa langsung menyeka keringat yang muncul seketika dikeningnya, otaknya serasa penuh seketika.


"Danil!"


Suara bentakan membuat Resa ikut tersentak, bahkan beberapa orang disamping mereka juga menoleh kearah wanita itu.


Liza berjalan dengan cepat menghampiri mereka berdua.


Resa berdiri menatap Liza dalam.


"Maaf ya Dok ngerepotin" ucap Liza sambil menarik lengan Danil pergi dari sana.


"Enil mau ketemu Ayah Bu" ucap Danil.


Resa masih mendengar suara anak itu.


Tampa bisa dicegah, kaki Resa dengan sendirinya melangkah mengikuti mereka namaun masih menjaga jarak.


"Dia gak mau sama kamu, jadi gak usah mengharap dia" ucap Liza ketus.


"Tapi Ayah bilang mau jenguk Enil lagi Bu, Ayah bilang mau ..."


"BOHONG!" Liza melepas tangan Danil dari genggamannya.


Liza menghentikan langkahnya didepan lift, menatap Danil tajam dengan berkacak pinggang.


"Javir tidak mau mengakuimu jadi jangan pernah mengharap apapun dari dia, DENGAR!."


Air mata Resa menetes di pipinya seketika.


Buru-buru Resa melangkah pergi dari sana, sebelum ada orang yang melihatnya menangis.


Javir tidak akan melakukan hal itu.


Perkataan Pak Lutfi tidak akan menjadi kenyataan, Javir tidak seperti itu, Abangnya tidak Seperti itu.


Resa mengeluarkan ponselnya, mencari nama Abang Je dan menekan tomnol panggil.


"Danil Airlangga" ucap Resa dengan cepat, "apa itu anak Abang Je?" Tanya Resa dengan satu kali tarikan nafas.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Javir.


"Dia keliling dengan foto ditangannya bertanya apa pria didalam foto itu datanga tau tidak, dan foto yang dia tunjukkan itu foto Abang. Ibunya memarahinya dan menyebut nama Abang Javir."


Masih tidak ada sahutan dari Javir.


Tut ...


Javir memutuskan sambungan telepon mereka.


Resa menyeka rambutnya, menghela nafas berkali-kali mencoba menenangkan diri.


Dia anak di kamar yang sering dikunjungi Mela dan Regan, apa mereka berdua sudah tahu jika anak itu anak Javir?, bagaimana dengan Gea.


Kepala Resa mau pwcah rasanya.


^-^


Kepala Javir mendongak, karena Aslan mencengkram kerah bajunya.


Bisa saja Javir menepis tangan Aslan, tetapi dia tidak mau menyulut amarah Aslan, tenaganya memang lebih kuat dirinya, tetapi jika urusan teknik bela diri, Aslan tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dia pernah memenangka lomba karate beberapa kali.


Terlebih, emosinya sedang tidak stabil gara-gara permasalahan Zia dan Helen. Jika Javir menyulut amarahnya, yang ada dia bisa jadi pelampiasan amarah Aslan.


"Gea menghilang karena loe punya ANAK?"


Kata Anak diakhir kalimat dlaam pertanyaan Aslan penuh dnegan tekanan.


"What?" Tanya Alaric, "seriusly?."


Javir melirik pada Regan yang masih saja dengan tenang terlentang diatas tikar sambil memejamkan mata, dia tidak berniat membantu Javir kali ini.


Tangan Aslan semakin mengangkat kerah baju Javir tinggi-tinggi.


"Masih belum ada bukti jika anak itu anak gue" ucap Javir datar seakan pasrah.


"Dan Gea tahu tentang dia?" Tanya Aslan dengan suara msndesis.


"Apa loe gila?" Tanya Aslan menggelegar, "pantes aja Gea ngilang, ya shock lah dia tiba-tiba loe punya anak."


Buk ...


Meski sakit, Javir kembali berdiri dengan tegap didepan Aslan.


"Loe memperkenalkan anak itu sama Gea?" Tanya Aslan.


Kepala Javir menggeleng, "anak itu datang sendiri ke An Angel tampa sepengetahuan gue." Javir kembali duduk dikursi, "rencananya gue mau kasih tahu gea tentang anak itu setela tes DNA keluar. Tetapi entah kenapa anak itu tiba-tiba muncul begitu saja di An Angel."


"Mungkin dia lihat video kalian yang beredar" sahut Alaric.


"Bisa jadi" ucap Javir lirih.


Aslan mendengus, menatap Javir dengan tatapan kesal penuh amarah. "Kapan hasil tesnya keluar?" Tanya Aslan.


"Dua hari lagi."


"Kalau benar dia anak loe apa yang akan loe lakukan?"


Javir terdiam sejenak, sebelum membuka mulut menjawab pertanyaan Aslan, Regan lebih dulu mendahuluinya menjawab pertanyaan Aslan sekenanya.


"Tanggung jawablah"


Nada Regan terdengan datar namun benar-benar menusuk Javir.


"Menikah dengan Ibunya dan hidup dengan keluarga ..."


"Enggak dengan menikahi Ibunya juga Ar" bantah Javir tegas.


Javir menatap tajam pada Regan yang membalas tatapan amtanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Kening Aslan mengerut mendengarnya bantahan Javir barusan, "terus kalau gak gitu loe mau ngapain?."


Javir menyeka rambutnya asal, "bertanggung jawab bukan berarti menikahi Ibunya juga bukan?." Javir melontarkan pertanyaan sambil menatap Aslan, Alaric dan Regan bergantian satu persatu. "Gue bisa bertanggung jawab atas hidup Danil, tapi tidak dengan menikahi Ibunya. Lagi pula gue gak pernah merasa melakukan hubunga intim dengan perempuan itu, dia bilang saat itu gue mabuk, tetapi gue gak pernah mabuk kecuali saat Gea mengatakan alasan dia membatalkan pertunangan kami."


Setelah Javir mengeluarkan pendapatnya, suasana diruangan itu jadi sunyi seketika.


Javir harap-harap cemas menunggu respon dari Regan dan Aslan selaku saudara Gea.

__ADS_1


"Apa loe gak kasihan kalau Liza harus ngerawat Danil sendiri?" Tanya Regan tiba-tiba.


"Kenapa loe tahu nama anak Je" Tanya Alaric pada Regan, "loe udah tahu Javir punya anak?."


"Bukan anak gue Al" desis Javir, "belum ada bukti dia anak gue."


Alaric mengangkat kedua bahunya tidak perduli dengan ucapan Javir membuat Javir kesal melihatnya.


"Gue udah bilang berkali-kali lebih baik gue jomblo seumur hidup dari pada gue nikah dengan orang yang gak gue cintai."


"Kalau Gea nikah dengan orang lain loe mau apa?" Tantang Aslan.


"Mau nunggu dia janda."


"Kalau dia gak janda-jadan juga?" Kali ini Alaric yang bertanya.


"Gue kasih suaminya racun diem-diem."


Plak ...


"Astagfirullah ..."


Tangan Aslan lebih dulu bergerak mekul mulut Javir dari pada seruan istigfarnya.


Pukulan Aslan dimulutnya cukup keras hingga Javir memegangi mulutnya.


Regan duduk bersila diatas tikar menghadap Javir yang duduk diatas kursi bersama dengan Aslan, "jika memang Danil bukan anak loe, loe mau gak merawat dia?."


Pertanyaan Rehan membuat semua orang mengerutkan kening.


^-^


Baru saja selesai urusan dengan para saudara Gea, kali ini Javir harus menyelesaikan urusannya dengan keluarganya.


Tiba-tiba saja Malvin memintanya untuk datang kekantornya dengan nada tegas penuh perintah.


Selang beberapa menit Bela menghubunginya marah-marah dan tiba-tiba ditutup seketika.


"Dikantor Pamav ada siapa?" Tanya Javir pada sekretasis Malvin sebelum amsuk kedalam ruangan Malvin.


"Ada Ibu dan Resa."


Langsung saja Javir menghela nafas mendengarnya, sudah bisa Jabir tebak sepertinya semua tahu tentang Danil dan Liza kali ini.


Javir membuka pintu ruangan Malvin tampa mengetuk terlebih dahulu.


Tiga pasang mata menatap kearahnya secara beraamaan membuat Javir kembali menghela nafas.


"Hasil DNA belum keluar" ucap Javir sambil melangkahkan kakinya kearah sofa, "jadi bisa tidak jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu?, kepala Je mau pecah karena Gea menghilang."


"Gea tahu?" Tanya Malvin, "kenapa bisa?."


"Abang kasih tahu Kak Gea?."


"Kamu ini gak mikirin perasaan Gea apa?"


Tuk ...


Tangan Bela menjitak kepala Javir.


Mata Javir melotot tak percaya dengan respon semua orang didepannya.


"Kenapa Javir rasa kalian lebih perduli Gea dari pada Javir" ungkap Javir tak terima.


"Abang kan laki" sahut Resa.


"Terus emangnya laki gak bisa sakit hati, nagis atau galau gitu?" Gerutu Javir, "dada Abang sesak, kepala sakit, susah tidur, mau nagis rasa."


Bela yang emndengarnya menghela nafas, berdiri, berjalan mengahampirk Javir sambil merentangkan tangannya.


Javir meeluk Bela erat, "kepala Je amau pecah rasanya" adunya lirih.


"Mau Resa kasih obat penenang atau obat tidur gak?" Tawar Resa.


Kepala Javir menggeleng pelan, tangannya semakin erat memeluk Bela.


Malvin berdiri dari duduknya, sebelum berjalan kearah meja kerjanya dan melewati Javir, tangan Malvin menepuk pundak Javir beberapa kali.

__ADS_1


"Papa bantu cari Gea, tapi berani bayar berapa?."


^-^


__ADS_2