
Tangan Javir dengan santai merangkul pundak Gea tampa memperdulikan tatapan tajam Javir pada tangannya.
Gea sendiri dengan santai bersandar pada dada Javir sambil menunjuk tempat wisata mana yang kira-kira bisa mereka kunjungi selama di Malang.
"Apa tidak ada satupun diantara kalian yang mau memisahkan mereka?" Tanya Abra pada Regan dan Alaric.
Kepala Regan menggeleng, tetap memejamkan matanya.
Sedangkan Alaric kembali melihat layat ponselnya cuek.
Kali ini mereka verada didepan lobby hotel tempat mereka menginap, cukup dekat dengan rumah sakit, dan menunggu Aslan untuk turun setelah Ara menelponnya barusan.
"Hai"
Bukan hanya Abra, tetapi semua perhatian mereka tertuju pada oranv yang baru saja menyama Abra berdiri didekatnya dwngan tangan terulur hendak bersalaman.
Zia Valery, model dan aktis internasional seperti Alaric, dan perempuan yang benar-benar dicintai Aslan (bukan Helen tunangannya).
"Mau jemput As juga loe?" Tanya Alaric.
Zia tersenyum simpul, "lebih tepatnya mau kasih ini" ucap Zia mengangkat paperbag ditangannya.
"Wih ...."
"Wiz ..."
Javir dan Alatic langsung heboh sendiri mendengarnya.
"There is somthing bet ..."
"He is my uncle" pontong Zia sebelum Regan menyelesaikan pertanyaannya.
Alaric berdiri hendak memeluk Zia tetapi tiba-tiba melangkah mundur setelah jarak mereka cukup dekat.
Javir terkekeh melihat Aslan yang berjalan kearah mereka dengan mata memelototi Alaric.
"Sok protective" ledek Javir lihir, hanya Gea yang mendengarnya. "Kalau udah jadian kayak kita baru boleh" tangan Javir mengelus rambut Gea lembut.
Tidak sengaja, Kabir melihat Regan memutar bola matanya malas melihat tingkahnya pada Gea.
"Kalau gitu kita langsung berangkat atau nunggu As selesai makan sarapan yang dibawa Zia?" Tanya Ara.
"As makan dimobil aja" icap Aslan melempar kunci pada Alaric, "loe yang nyetir gue mau makan."
"Kalian cowok-cowk satu mobil aja, cewek-cewek somobil sama Ayah" usul Abra. "Terutama kalian" Abra menatap Javir dan Gea yang masih saja duduk nempel seperti perangko sejak tadi, "Ayah enek liatnya."
Secepat kilat, Jabir melingkarkan kedua tangannya di pundak Gea dan menggeleng kan kepala cepat.
Gea malah tertawa dan memabalas pelukan Javir.
"Enggak" bantah Javir, "kenapa gak Ayah aja yang pisah sama Bunda biar cewek-cewek sama Je?."
"Kamu ini ..."
"Ayah" panggil Ara lembut, "udah lah ... biarin aja. Lagian mereka tahu batasan kok."
"Tapi enek yang liat Bun "
"Ya jagan liat kalau gitu" sahut Javir.
Abra berbalik badan memelototi Javir.
Wajah Javir berubah sok sedih menatap Abra, "jangan pisahkan kami Yah."
"Se***an."
"An***g."
"Bang***"
__ADS_1
Caci maki dari Aslan, Alaric dan Abra langsung keluar seketika mendengar lalimat yang di ucapkan Javir dengan nada sok sedihnya.
Sebelumnya Javir terlihat cool dan pendiam jika berada dekar Gea, tapi sekarang berubah menjadi sosok yang men jijikan didepan mereka.
"Gue mau muntah" gumam Regan menatap jijik pada Javir.
Puk ... puk ... puk ...
Ara memukul kepala tiga orang yang melontarkan kata cacian tadi dengan tas selempangnya.
Javir tertawa terkekeh melihatnya.
^-^
"Kita jalan-jalan yuk sayang berdua" ajak Javir.
Sontak semua mata melirik padanya, kecuali Ara yang masih melanjutkan makannya.
Mata Gea langsuk melirik kekanan dan kekiri menatap semua orang sebelum mengangkat sendok ditangannya dan menyuapi Javir agar tidak terus membuat keributan dengan omongan dan tidakannya.
"Makan, jangan banyak omong."
Mereka baru saja menyelesaikan pembicaraan jika Ibu Aslan akan dipinda ke Jakarta, tiba-tiba saja Javir sudah mengatakan sesuatu yang membuat mood semua orang berantakan lagi.
"Serius, ayo kita jalan bareng berdua aja sebelum kita balik ke Jakarta" rengek Javir lagi.
Belum juga Gea membuka mulutnya, terdengar dengusan Abra.
Mata Abra menatap tajam pada Javir lalu beralih pada Alari, Aslan dan Regan secara bergantian.
"Kenapa teman kalian yang tampak pendiam berubah menjijikan seperti sekarang?" Tanya Abra dengan suara mendesis.
"Kelebihan minum obat" jawab Regan asal.
"Iya obat cinta My An"
Tring ...
Brak ...
"Uhuk uhuk ..."
Garpu dan sendok terlepas begith saja dari tangan Aslan dan Regan, Alaric tersedak sedangkan Abra yang sudah kehilangan kesabaran menggeprak meja.
Zia dan Ara malah tertawa kecil.
Lain halnya dengan Sean kembaran Zia yang hanya bisa tercengang.
^-^
Sejak masuk mobil Gea sudah tertidur, karena hari ini hari terakhir mereka di Malang, dan Abra bahkan semua orang tidak mau bersama Javir dan Gea, alhasil mereka hanya berdua menggunakan mobil Aslan.
Javir menghentikan mobil mereka, menoleh kesamping menatap Gea yang masih tertidur pulas.
Tangan Javir terulur, mengelus pipinya untuk membangunkan Gea tetapi tidak membuatnya kaget. "Hei bangun" ucapnya begitu lirih dan lembut, "sayang" panggilnya.
Pelahan senyim Gea terbit dibibirnya, membuat Javir ikut tersenyum melihatnya.
"Bisa gak sih sehari aja gak gombal" ucap Gea dengan suara serak khas bangun tidur.
"Gue gak pernah gombal loh" bantah Jabir, "ayo bangun ... Kita udah sampai ini."
Gea membuka mata, sedetik kemudian matanya terbelalak melihat pemandangan dibelakang Javir bukan parkiran RS tempat Ibu Aslan dirawat.
Kepala Gea langsung menatap kesekeliling memastikan jika merwka benar-benar bukan di RS.
"Loe bawa gue kemana?" Tanya Gea dengan nada berang.
Javir hanya tertawa kecil dan mengelus rambutnya, "jalan-jalan" jawabnya tampa rasa bersalah.
__ADS_1
Gea menatap Javir dengan tatapan sengit.
"Kenapa?, gue kan udah bilang kemarin maj ngajak loe jalan berdua."
"Tapi Je ..."
"Gak ada tapi-tapian ayo turun."
"Ya Tuhan ... Gue serasa diculik" keluh Gea sambil membuka pibtu keluar.
Gea menatap kesekeliling dengan mata berbinar.
Javir yang menatapnya hanya tertawa kecil mengikutinya dari belakang, jika seperti ini Gea tidak akan bertanya diamana mereka sekarang, Gea suka dengan pemandanban asri dan hijau, maka dari itu Javir membawanya kesini.
Javir memperlebah langkah kakinya dan menyelaraskan langlah mereka berdua, tangannya meraih tangan Gea dna menutkan jemari mereka,
"Salah satu alasan gue mau ikut ke Mlaang karena ini" ucap Javir, membuat Gea menoleh padanya. "Gue ingin healing dan nenangin pikiran, and ofcouse with you."
"Iz ..." desis Gea, "kita kesini mau jenguk Ibu angkat Aslan, bukan jalan-jalan Je."
"Tapi setidaknya kita ..."
"Loe selalu aja ngeles" gerutu Gea.
Gea melepas Genggaman tangannya dan berlari kecil untuh duduk digazebo ditengah-tengah taman.
Javir mengeluarkan dompetnya, berjalan mendekati Gea sambil membuka sesuatu yang terselip didalam dompetnya.
Sebuah cincin dia sodorkan pada Gea setelah duduk disamping perempuan itu.
Cincin pertunangan mereka dulu, tangan Gea mengambil dua cincin itu, menoleh pada Jabir dengan mata berkaca-kaca.
"Cincin itu yang selalu ngingeyin gue kalau gue udah nyakitin loe" ucapnya mengelus puncak kepala Gea lembut. "Dan cincin itu salah satu alasan gue bisa tetep jaga kesadarn gue."
Gea memituskan tatapan mereka berdua dan beralih menatap cincin ditangannya.
"Gue gak mau kita pisah lagi" ucap Jabir lirih.
Wajah Gea berubah, bahkan kakinya yang sejak tadi bergerak berhenyi seketikan.
Javir menangkap perubahan itu.
Diam-diam Jabir menghela nafas, mengambil cincin ditangan Gea dan kembali memasukkannya kedalam dompet.
"Gue hanya nunjukin kok, gak ada maksud lain" kilahnya.
Gea masih terdiam.
"Gue hanya gak mau pisah sama loe" ucap Javir, "dan kalau tampa ikatan yang jelas terlihat dan diketahui oleh semua orang loe ngejamin kita selalu bersama ..." kali ini Javir mengambangkan kalimatnya.
Perlahan Gea menoleh membalas tatapan Javir.
"Dan gak ada hang ngerebut loe dari gue" lanjut Javir, "it's ok. Pacaran udah uvup buat gue, dan gue selalu nunggu kesiapan loe."
Sebelah tangan Javir kembali menyusup dalam jemari Gea dan menggenggamnya.
"Kita harus sama-sama ngejaga hubungan ini" ucap Gea lirih, perlahan senyumnya terukir dibibirnya. "Kita harus sama-sama melakukannya, gue janji ... Setelah gue siap gue pasti bilang kok. Jadi cincinnya simpen aja dulu ya?."
Meski serasa ada yang mengganjal didadanya, Jabir tetap tersenyum. Menarik Gea dalam pelukannya dan mencium keningnya.
Dret ....
Ponsel disaku celana Jabir bergetar.
Saat mebgeluarkan ponselnya, nama Abra muncul dilayar ponselnya.
Gea terkikik membacanya, menatap Javir dengan tatapan gelinya. "Mau gue yang ngangkat?" Tawar Gea.
Meski rahu Abra tidak akan marah sampai kalap pada Gea, Javir tetap menggelengkan kepala menolak tawarannya.
__ADS_1
Dia sudah membawa Gea pergi tampa izin, jadi dia harus menghadapinya.
^-^