Watching You

Watching You
Jauhi Dia


__ADS_3

Javir menatap kearah pijaran lampu kota yang terlihat dari balkon Raja Crown, dia duduk bersilah dibawah bersama Alaric, sedangkan Aslan duduk dikursi dengan Regan.


Sepertinya mereka sedang emmeikirkan masalah merrka masing-masing.


Untung saja mereka masih memiliki waktu empat jam sebelum penerbangan, sehingga masih sempat mengambil surat-surat di Raja Crown dan duduk bersama di balkon.


Perlahan Javir menyandarkan kepalanya kerolling balkon, memejamkan mata mengingat kembali pembicaraannya bersama Abra dan Malvin di ruang kerja Abra tadi.


Flash Back


"Regan juga seorang hecker Yah, kenapa aku jiga harus pergi?" Tanya Javir masih keberatan untuk pergi.


"Kamu tahu posisi kalian masing-masing dimana, apa perlu kami jelaskan lagi?" Nada suara Abra terdengar tenang.


Javir terduduk di sofa mendongakkan kepala sambil meraup wajahnya dengan kasar, dia selalu kalah jika berbicara dengan para tetua terlebih yang bergen Ganendra.


Plak ...


Malvin penjitak kening Javir cukup keras.


"Pa!" seru Javir kesakitan.


Kepalanya lagi pening, Malvin malah menggeplaknya dengan sengaja.


"Kamu benar-benar kebelet nikah ya?" Tanya Malvin to the poin.


"Bukan masalah kebeletnya Pa, Je sudah terlanjur cinta sama anak Ayah bertahun-tahun masak dia dikah sama orang lain, Je manah rela!. Apa lagi nih Pa, usia Je bentar lagi tiga puluh tahun."


"Tapi Gea gak mau buru-buru nikah" celetuk Abra.


"Setidaknya hubungan kami kembali kuat Ayah!"


Abra dan Malvin saling lirik.


Javir menghela nafas, krmbali duduk dengan tegap menatap Abra dan Malvin secara bergantian dengan tatapan serius.


Yang ditatap malah mengerutkan kening dan menatap aneh pada Javir.


"Sebastian" ucap Javir dengan nada seriusnya, "Je tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi tadi dia membawa Liza untuk bertemu dengan Danil. Dan ternyata dia sudah beberapa kali menemui si kembar dan Danil, Je mau menyelidiki apa sebenarnya motif Sebastian kenapa ..."


"Papamu bisa mengurusnya" potong Abra.


"Lalu Danil ikit Liza?" Tanya Malvin duduk disamping Javir.


Kepala Javir menggeleng, "ada Bilqis yang membantu tadi."


Ruangan itu sunyi seketika.


Semua sibuk dengan pikiran masing-masing memikirkan apa yang barus aja Javir bicarakan.


"Kenapa dia membawa Liza menemui Danil, apa dia mau Danil kembali ke Liza?. Jika memang begitu bukannya akan semakin membuka peluang unyukmu bersama Gea?" ucap Malvin lirih.


"Aku juga memikirkan hal itu, tetapi itu tidak mungkin Pa. Beberapa hari yang lalu dia terang-terangan menyatakan perang" bantah Javir sambil mendengus diakhir kalimat.


"Lalu apa yang kamu mau agar kamu bisa pergi malam ini juga membantu Daddy Enzo mu?" Tanya Abra tegaa.


Javir mengangkat wajahnya menatap Abra dengan tatapan memohon membuat Abra risih melihatnya.


"Aku berangkat kalau Ayah janji dua hal" ucap Javir dengan tegas dan sangat jelas.


Kepala Abra mengangguk mengiyakan.


"Jahui dia dari laki-laki manapun, terutama Sebastian. Dan Ayah harus janji ..." Javir menggantungkan kalimatnya sejenak, "akan menikahkanku dengan Gea sepulang dari sana."


"Kalau Gea gak mau?"


"Pokoknya harus mau Yah."

__ADS_1


"Memangnya Ayah harus apa agar dia mau?."


"Mana Je tahu, yang penting Je maunya Gea nikah dengan Je. Caranya bagaimana Je gak mau tahu, kalau Je pulang dan Gea tetep gak mau, Je tidak akan amu lagi melakukan apapun permintaan kalian" Kali ini Javir juga menoleh pada Malvin. "Kalau kalian amu menghancurkan Hotel Raja Throne terserah, Je bisa keluar dari hotel atau ASG, uang Je lebih dari cukup untuk menghidupi Je dan Danil selama sepuluh sampai lima belas tahun tampa Je harus bekerja."


Ya ... Dia harus menang dalam berdebat dengan tetua didepannya kali ini.


Mereka meminta bantuannya, kenapa pula mereka tidak mau membantunya?.


Flash End


"Kalian kenapa sih malah ikut-ikutan gue?"


Gerutu Aslan membuyarkan lamunan Javir.


Mata Javir melirik pada Aslan sinis, "pede baget sih loe, kita gak lagi ngikutin loe" bantah Javir lirih.


"Emangnya cuma loe apa yang lagi galau" sambung Alaric.


"Terus kenapa malah disini?, kalian kan bisa cari tempat lain dimana gitu."


"Ini tempat yang paling estetik tahu" sembur Alaric.


"As, loe tuh seharusnya merasa beruntung punya temen kayak kita yang mau nemenin loe yang lagi galau gini" sambung Regan.


"Elah ... Temen sih temen, tapi apa kalian gak merasa risih gitu kita berempat duduk bersama termenung gini?."


"Enggak"


"Gak ada yang lihat"


"Gak perduli"


Javir kembali menatap kearah bawah menatap pijaran lampu dibawah sana.


Suasana kembali terasa tenang.


Dua detik ...


Keadaan benar-benar kembali tenang seperti tadi, tetapi tidak dnegan otak Javir yang terus berputar memikirkan semuanya.


"Liburan yuk" celetuk Alaric.


"Kemana?" Tanya Javir.


Mungkin saja Alaric tidak berencana mengajak mereka kabur dan tidak membantu Daddy nya, kalau mereka kabur, Javir bisa diam-diam tetap disini mengawasi Gea.


"Pulang."


Yang memberi respon jawaban Alaric dengan semangat empat lima adalah Regan dan Aslan.


"Ayo ..."


Ucap mereka berdua dengan kompak duduk dengan tubuh tegak.


Javir memicingkan mata menatap mereka berdua, mereka sebenarnya belo**n atau bagaimana Javir tidak mengerti.


Rumah Alaric memang negara yang akan mereka datangi, tampa Alaric mengajak liburanpun mereka berempat tetap akan kesana bukan?.


"Apa masalah kalian berat banget ya?" Tanya Alaric


Akhirnya Alaric yang membuka suara untuk bertanya kebelo**nan mereka berdua.


Regan mengerutkan kening tidak mengerti, mencoba berfikir dan mencerna ucapan Alaric beberpa detik.


"Terima kasih Tuhan, ternyata ada yang mempunyai masalah lebih berat dari hambamu ini. Sampai-sampai otak genius mereka berubah o'on" ucap Javir dengan nada datar sambil berdiri. "PULANG KERUMAH AL BERARTI KENEGARA YANG EMANG KITA TUJU O'*N!" Seru Javir dengan kesal.


Javir melangkah pergi dari hadapan mereka semua, sepertinya yang memang tidak beruntung dalam perjalanan kali ini memang hanya dirinya.

__ADS_1


Belda dan Zia berada dinegara itu, jadi jangan ditanya seberapa senang dan girangnya Regan dan Aslan.


Alaric sendiri pasti senang kali ini dia bisa pulang keruamahnya.


Sedang kar Javir?, yang ada dia akan kembali tersiksa karena harus menjauhi dia.


^-^


Terdengar suara ramai dilantai bawah, lebih ramai dari biasanya.


Gea menuruni tangga perlahan, berjalan kearah meja makan sumber keramaian itu berasal.


Ternyata sudah ada Bilqis, Chaka dan Danil yang sudah rapi dengan baju seragam mereka duduk dimeja makan sambil tertawa bercanda bersama Abra.


"Danil menginap disini?" Tanya Gea setelah duduk disamping Ara.


"Iya" jawab Abra, "semalam dia tidur, Om Malvin dama Javir gak tega bangunin dia."


Kepala Gea mengabgguk lalu menghada Danil dan tersenyum melihat anak jtu terlihat ceria pagi ini.


"Ar, As sama Je ikut Al pulang kenegaranya" ucap Abra.


Tangan Gea yang semula hendak menyendok nasi berhenti bergerak seketika.


Terlihat Danil juga berhenti mengunyah dan menoleh menatap kearah Abra yang duduk di ujung meja makan.


"Ayah kamu jarang liburan jadi kali ini dia mau liburan dulu dengan teman-temannya" ucap Ara pada Danil dengan lembut, "kalau Danil mau tinggal disini selama Ayah Javir liburna gak papa kok, biar Chaka dan Bi ada temennya disini."


Danim tersenyum lebar, "Iya Bunda" ucapnya dengan riang.


Gea mengepalkan tangannya yang sedang memegang sendok dan garpu, Javir kembali pergi tampa mengatakan apapun lagi padanya.


Bukankah seharusnya dia yang pergi karena kejadian semalam, ini kenapa malah Javir yang pergi begini?.


Kenapa laki-laki itu selalu pergi disaat mereka mempunyai masalah?, Gea benar-benar kesal kali ini.


"Gea ikut Aya bentar"


Kepala Gea mendongak menatap Abra yang mulai melangkah pergi menjauh.


Cepat-cepat Gea meminum air digelasnya menghentikan sarapannya dan melangkah mengikuti Abra yang keluar dari rumah.


Abra duduk di teras rumah memperhatikan supirnya yang sedang mengelap mobil yang akan dia pakai untuk mengantar anak-anak sekolah hari ini.


"Mereka bukan libur" ucap Abra tampa menoleh kearah Gea yang duduk dikursi sebelahnya, "Om Enzo membutuhkan babtuan mereka disana. Javir mau bilang langsung kekamu malah kamu udah tidur" Abra kali ini menoleh pada Gea.


Kepala Gea mengangguk-angguk sembari menghela nafas berat.


Meski Gea sudah tidur setidaknya Javir mengirim pesan padanya, bukan malah meminta Abra yang menjelaskan.


"Sebastian" ucap Abra datar membuat Gea kembali menoleh melihat kearahnya, "jauhi dia."


Kening Gea mengerut mendengarya, "apa Ayah diminta Je untuk bilang itu juga?."


"Tidak juga" ucap Abra sambil menggeleng pelan, "Ayah hanya tidak suka orang yang sering mencampuri urusan orang lain."


"Darimana Ayah tahu Sebastian begitu?."


"Apa yang tidak Ayah tahu sayang?" Tanya Abra dengan senyum penuh artinya, "tolong jauhi dia bisa?."


Gea hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pela.


Meski tidak tahu kenapa bisa, Abra memang selalu mengetahui apapun itu, terkadang Gea sampai bingung sendiri, sebenarnya Ayahnya dukun atau apa?.


Abra melihat Gea yang hanya bisa pasrah tersenyum lebar dan mengelus rambutnya.


^-^

__ADS_1


__ADS_2