
Gea menatap keseluaruh ruangan seakan mencari sesuatu.
Tatapannya begitu frustasi, bahkan beberapa kali Gea mendengus membuat Abra, Ara, Vira dan Prabu saling tatap bingung dengan dengan kelakuannya.
Tiba-tiba saja jari telunjuk Gea menunjuk kesembarang arah dan berputar, "Gue gak tahu loe liat gue dari mana, loe dengerin gue atau enggak" desis Gea. "Hari ini hari jum'at, loe pasti ada di Raja Crown sama yang lainnya. Kalau gue sampek lobby hotel Raja loe gak ada disana gue akan buat keributan, paham loe!. Silahkan loe sembunyi di Raja Crown, tapi gue akaan buat keributan di Raja Throne" anacamnya.
Setelah mengucapkannya, Gea berjalan masuk kedalam kamar mengambil jaket dan mengikat rambutnya cepol.
Vira yang tadinya duduk di sofa langsung berdiri menghampiri Gea, "Mau kemana?" Tanyanya.
"Mau buat perhitungan samantuh orang" ucap Gea dengan nada tinggi.
"Kita kesini mau bicara masal ..."
"Gea gak pinya waktu Bunda" potong Gea, "lain kali aja ok."
"Lain kali kapan?, Papi sama Mami udah seminggu disini" Prabu menghadang langkah Gea.
"Ih ..." kaki Gea mencak-mencak, "iya iya ... Besok Gea janji besok. Kita bicara besok masalah apapun itu kita bicarain besok, Gea mau buat perhitungan dulu sama Javir."
Baru saja Gea bisa lepas dari Prabu, tudung hoodie jaketnya sudah Abra tarik sehingga dia munduk kebelakang.
Mata Abra menatapnya taja.
Mata Gea malah menatap Abra dengan tatapan memelas.
"Ngomong pakek kepala dingin, jangan emosi dan nambah masalah. Nanti yang ada hubungan kalian tambah rumit, dan menambahi beban otak kami."
Wajah Gea langsung merengut, "ih ... Kok bean sih ..." keluhnya.
"Kalau kamu sampai kapanpun bukan beban, tapi masalah percintaanmu yang selalu menjadi beban"
Plak ...
Abra menjitak kening Gea dengan tangannya.
Gea menyengir kuda dan memeluk Abra dengan erat.
Ada seseorang yang mempunyai perasaan sesak melihat kedekatan mereka berdua. Vira menarik nafas dalam-dalam dan menatahnya mencoba untuk menekan dalam-dalam perasaan cemburu akan kedekatan mereka.
Prabu yang melihat dan sangatbmengerti akan istrinya itu mendekati Vira dan merangkul pundaknya, perlahan jemarinya menepuk pundak Vira menenangkannya.
Abra diam-diam berbisik ditelinga Gea, membuat Gea tertawa ngakak.
Perlahan Gea melepas lelukannya dan berjalan menghampiri Vira mememeluk wanita itu dengan erat, "kata Ayah kalau Mami minta peluk bilang aja jangan malu-maluin cemburu udah tua" ucapnya diakhiri dengan tawa kecil Gea.
"Ih ... Mami gak cemburu" Vira hendak melepaskan peluakn Gea tetapi Gea semakin erat memeluknya.
"Tunggu Gea bentar" ucap Gea lirih, "love you umuaaa ..."
Gea mencium pipi Vira dan berlari kecil menuruni tangga.
Plak ...
Pulukan keran dari Ara berhasil mendarat dengan manis di ounggung Abra.
"Aw ..." rintih Abra kesakitan.
^-^
Jika sebelumnya semua mendukung Javir, kali ini mereka berbalik seratus delapan puluh derajat setelah mendengar ancaman Gea.
__ADS_1
Semua berlari kekamar Javir dan menggedor pintunya sambil berterik-teriak heboh.
Kepala Javir yang sudah penih semakin merasa pusing dengan teriakan heboh mereka didepan pintu kamarnya.
Tangan Javir baru membuka pintu dan mereka sudah memberondongi Javir dengan berbagai ocehan yang membuatnya naik pitam.
"Loe harus kebawah."
"An bentar lagi ke sini."
"Gur gak mau dia tiba-tiba merobos masuk."
"Bukan masalah menerobos masuk As, tapi kalau dia buat story di Instanya dan semua tahu masalah Raja Crown gimana?."
Semua berceloteh dengan heboh seakan tidak memperdulikan Javir yang berdiri didepan mereka, kalau mereka mau berbicara sendiri kenapa malah mengetuk pintu kamarnya?."
Javir yang sudah malas mendengan mereka hendak masuk dan meneutup pintu tetapi Regan menarik tangannya kasar.
"Loe ya , udah kita bilangan Gea mau kesini dan loe haris nunggu dibawah" ucapnya dengan nada tinggi.
"Kalian gak bilang apapun" ucap Javir tegar, "yang ada kalian hanya ngoceh sendiri buat telingan gue berdengung, kepala gue serasa mau pecah jadinya."
Dan mereka bertiga saling adu pandang sebelum menghela nafas bersama seakan mencoba untuk tenang.
Tangan Javir bersedekap menatap mereka satu persatu.
"Pakoknya loe keluar aja deh gak usah banyak omong, kalau kegilaan tuh anak muncul kita yang rugi."
Regan langsung melingkarkan tangannya di leher Jabir, Aslan mendorong Javir sedangkan Alaric terus saja mengoceh.
"Pokonya loe harus stay cool jangan buat dia ngamuk" ucap Alaric menasehati, "jangan coba-coba buat dia semakin meledak. Gue jamin dibawa saat loe ketemu dia akan banyak kamera yang ngerekam, loe harus bisa nenangin dia dan bawa dia masuk ke kantor loe secepatnya."
"Gak bisa" potong Aslan, "apa loe masih gak tahi gilanya tub anak kalau marah gimana?."
Mereka bertiga masuk kedalam lift secara bersamaa.
Alaric tiba-yiba berdiri didepan Javir, mengeluarkan sisir dari dalam dompetnya dan mengangkat tangannya hendak menyisir rambut Javir.
Kepala Javir langsung menjauh, tetapi tangan Regan hang memegang leher Javir kembali memasukan kepala Javir.
""Setidaknya loe ketemu dia harus rapi" ucap Alaric.
"Meski gak ganteng yang penting rapi" sambung Regan.
"Tenang ... seakan loe gak tahu kalau Gea mau kesini, pura-pura aja loe lagi jalan mau ke resepsionis mau ngambil paketan atau apa gitu" usul Aslan.
"Bener, paketan gue masih belum gue ambil di resepsionis, loe biasa buat itu jadi alas ..."
"Hei!" Seru Javir mencoba menenagkan mereka semua. "Ini kenapa malah kalian sih yang gugup?" Tanyanya keheranan.
Mereka bertiga saling tatap sejenak lalu menggelengkan kepala cepat.
"Enggak kok ..." bantah Alaric.
"Jangan lebai deh" seruh Aslan.
Regan langsung melepas belitannya dileher Javir dan melangkah kesamping menjauh dari Javir.
"Ah ... aku sayang kalain"
Tangan Javir hendak mengapai semuanya intu berpelukan tetapi mereka bertiga langsung menepis dan memukul tangan Javir.
__ADS_1
"Idih ..."
"Gue amputasi tangan loe!."
"Jauh-jauh hus ..."
^-^
Gea turun dari mobilnya, melempar kunci pada valetbdan berjalan dennanlanhkah lebar masuk ke hotel Raja Throne.
Kepalanya menoleh kekanan kekiri lalu ...
"JAVIR ERLANGGA"
Teriakan Gea menggema hingga semua orang yang berada di lobbi tu menoleh padanya.
Di balik tembok tidak jauh dari Gea berdiri, Regan Aslan dan Alaric meringis mendnegar teriakan melengking Gea.
Tangan Javir yang baru saja menerima paketan milik Alaric hampir menjatuhkan paketan itu dari tangannya.
Gea melangkah dengan lebar menghampiri Javir, menghentikan langkah tetap did epan Jabir membuat Javir melangkah mundur hingga pinggulnya terbentur pada meja resepsiaonis.
"Aa ... Apa?" Tanya Javir gelagapan karena jarak yang begitu dekat diantara mereka.
Tangan Gea berkacak pinggang menatap Javir dengan tajam, " Oh ... Ternyata loe beneran nyadap An Angel" ucap Gea dengan senyum segaris yang membuat Javir menggidik.
"Menyadap apa?" Tanyanya sok polos.
"Jangan sok gak tahu" bentak Gea, "buktinya loe ada dilobby sebelum gue buat keributan disini."
"Gue turun karena Alaric minta tolong ambilin paketan dia."
"I don't beliave it" tegas Gea, "loe mau gue ..."
"Jangan ngancem-ngancem deh An" desis Javir meletakkan paket ditangannya di meja resepsionis dan melangkah selangkah kedepan semakin mengikis jarak diantara mereka berdua. "Dan turunkan nada bicara loe" desisnya, "kita ditempat umum dan gue gak suka loe bicara dengan nada tinggi kegue."
"Kenapa?, loe malu atau loe gak mau gue menggila disini karena kelakuan loe yang gak masuk ... Em ..."
Javir membekap mulut Gea.
Kepala Gea hendak mundur kebelakang tetapi sebelah tangan Javir memegangi belakang lehernya sehingga tangan Javir yang tadi membekap mulut Gea tidak lepas.
"Kalau loe berani menggila disini, maka jangan salahin gue yang ikutan menggila dengan mencium loe didepan umum seperti di film-film yang biasa loe tonton jika pemeran wanitanya cerewet dan gak mau diam."
Mata Gea terbelalak mendengar kaliamat Javir.
Regan melambaikan kedua tangannya agar Javir melihatnya, dia memberi isyarat jika pintu lift akan terbuka dan meminta Javir membawa Gea keatas, bukan ke Raja Crown tetapi keruangan Javir.l secepatnya karena semua orang sidah memperhatikan mereka berdua.
"Gue udah bilang jangan sampai Gea lost control, semua orang jadi ngevidioin mereka meski Gea gak live di Instanya" ucap Alaric menatap Javir dan Gea dengan tatapan lesu.
"Biarin aja lagi mereka berdua menggila, kan seru kalau semua orang jadi menggila gitu" ucap Aslan sambil terkekeh kecil.
"Kalau bisa mengangkat nama hotel kita mah enak, tapi kalau kerja sambilan Jabir terungkap mah akan jadi masalah besar" ucap Regan lirih.
Terlihat Javir dengan kesusahan menyeret Gea yang meronta memintanya untuk melepaskan bekapan tangan Javir dimulutnya.
Bahkan setelah pintu lift tertitup orang-orang masih saja mengarahkan kamera ponsel mereka pada angka lantai yang terus naik.
"Sosmed akan menggila sebentat lagi"
^-^
__ADS_1