Watching You

Watching You
Pasrah


__ADS_3

"Loe beneran kebelet nikah ya?"


Pertanyaan itu dilontarkan oleh Regan saat pertama kali dia memasuki ruangan Javir.


Kepala Javir mengangguk pelan, tetapi tatapannya tetap fokus pada layar komputer didepannya.


Jika pintu ruangannya atau kamarnya tiba-tiba ada yang membuka tampa mengetuk pintu dulu, itu sudah hal biasa sehingga Javir tidak harus mengalihkan perhatiannya dari kerjaan yang harus segera dia selesaikan.


"Kayak loe yang enggak aja" Javir balik menyindir.


Regan tertawa kecil sambil berjalan menghampiri meja Javir.


Sebelum Belda memutuskan untuk keluar negeri karena mau menjadi seorang DJ profesional, Regan juga selalu mengajaknya untuk menikah. Jadi meski Javir melakukan hal yang seperti itu juga, Regan setidaknya jangan banyak komentar atau ikutan melarangnya karena Gea adalah saudaranya.


"Papa Malvin dan Mama Bela kerumah sama seorang perempuan, katanya perempuan itu Ibu kandung loe."


Tangan Javir seketika berhenti bergerak diatas keyboard komputer, kepalanya menoleh menoleh pada Regan.


Kaliamat Regan berhasil menarik perhatiannya seketika.


Baru saja kemarin sore dia meminta mereka bertiga melamar Gea, dan hari ini mereka benar-benar datang menemui Abra.


"Diskusinya berakhir dengan perdebatan diantara Ayah dan Papa" Regan mulai bercerita sambil duduk dikursi tepat didepan meja Javir, "Bunda dan perempuan itu malah ikutan berdebat, dan sebentar lagi Ayah akan sampai sini."


Kening Javir mengerut mendengarnya, "ngapain?" Tanya Javir karena merasa anaeh Abra akan menemuinya setelah bertengkar dengan Malvin.


"Mana gue tahu" jawab Regan dengan mengangkat kedua bahunya, "gue kesini saat mereka masih berdebat. Tiba-tiba dilobby tadi Ayah nelpon tanya loe dimana, ya gue jawab loe ada disini."


Otak Javir mulai berfikir keras, menerka-nerka apa yang akan Abra katakan padanya nanti.


Ting ...


lemari yang menjadi pintu lift penghubung ruangan javir dan Raja Crown bergeser perlahan, Aslan keluar dari sana lalu menoleh kekanan dan kekiri seakan mencari sesuatu.


"Loe belum berangkat kekantor?" Tanya Rehan pada Aslan.


Kepala Aslan menggeleng belan, "Ayah mana?" Aslan malah bertanya dimana Abra sambil menatap Regan dan Javir bergantian.


"Bentar lagi dateng" jawab Regan.


"Ngapain loe cari Ayah ?" Tanya Javir sambil menatap Aslan curiga akan sesuatu.


"Ayah minte gue nemuin dia diruangan loe" jawab Aslan dengan santai duduk di kursi samping Regan.


Sepertinya persoalannya bukan hanya masalah lamaran tiga orang itu yang datang pagi-pagi menemui Abra.


Karena jika memang ingin marah, tidak mingkin Abra malah meminta Aslan datang keruangannya. Abra lebih suka berbicara langsung pada orang yang bermasalah, dan tidak akan akan berbicara secara terbuka.


Sebenarnya apa yang ingin Abra bicarakan?, apa dia mau menikahkan Javir dan Aslan di waktu yang bersamaan?.


^-^


Pastinya mata Abra kali ini menatap nyalang pada Javir yang terdiam duduk tak berani menatapnya.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan Aslan yang duduk menatap Abra dengan mata berbinar, terlihat jelas jika dia sudah tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Abra.


Diam-diam Javir melirik pada Regan yang masih berada diruangan itu tetapi tidak duduk di sofa bersamanya dan Aslan menemani Abra, Regan dengan santainya duduk dikursi Javir sambil mengerjakan berkas yang sedang Javir kerjakan tampa Javir minta.


Javir tidak menghalangi bantuan Regan yang tidak dia harapkan, toh dibalik niat itu Regan mempunyai niat terselubung ingin mendengarkan apa yang akan Abra bicarakan padanya dan juga Aslan. Jika menyangkut hubungan keluarganya, Regan yang cuek dan masa bodoh dengan sekitarnya akan menjadi orang yang kepo seketika.


"Hemmm ..."


Terdengar helaan nafas Abra sehingga menarik perhatian Javir dan menoleh kearahnya.


Tatapan mata mereka secara tidak sengaja berbenturan, karena sejak masuk tadi pria paruh baya itu tidak melepaskan tatapan matanya dari Javir sedetikpun.


"Apa kamu tidak mau membicarakan sesuatu?" Tanya Abra dengan nada datarnya.


Kepala Javir menggeleng pelan dengan senyum kecil yang jelas terlihat sangat kaku.


Abra menyandarkan punggungnya kesandaran sofa, terlihat lebih tenang dari sebelum dia masuk kedalan ruangan Javir.


Perlahan Javir memutuskan tautan mata mereka dan memilih untuk menyandarkan punggungnya juga seperti Abra lalu menatap jemari tangannya yang saling bertautan.


"Menurutmu apa alasan Ayah tidak mau menikahkan Gea cepat-cepat?" Tanya Abra.


Javir kembali menatap Abra, "karena Ar varu menikah dan Ayah merasa berat harus melepas anak Ayah lagi" ucap Javir dengan penuh keyakinan, karena Ara yang mengatakannya waktu diruang ganti saat dipernikahan Regan.


Abra tersenyum kecil sebelum menggelengkan kepalanya pelan membuat Javir mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Karena kamu" ucap Abra pepan namun terdengar jelas ditelinga Javir.


Kening Javir semakin emngerut dalam, dia menoleh pada Aslan yang emngangkat bahunya tidak mengerti, menoleh pada Regan kepala Regan menggeleng pelan.


"Kamu terlalu mendesak Gea menikah sedangkan dia masih mencoba tidak takut melangkah kejenjang itu" Abra kembali duduk dengan tegak sambil membenarkan jasnya. "Ingin cepat-cepat menikah tetapi tidak langsung menghadap pada Mami Vira yang Ibu kandung Gea. Meski kamu tidak menghadap Ayah secara langsung setidaknya saat ada Mami Vira kamu menemuinya, karena jika Vira sudah menyetujui kalian menikah dan Gea juga mau lalu Ayah bisa apa?. Tetapi otak kamu malah berfikir licik dari itu, kamu memanfaatkan Ibu kandungmu yang ingin meminta maaf padamu dengan memberi syarat yang sangat tidak masuk akal dan tidak ada hubungannya dengan permasalahanmu dan Gea."


Kepala Javir seketika menunduk dalam.


"Jika ada seseorang yang melamar anaknya, dan orang itu baik, bibit bootnya jelas dan cukup mempuni untuk berumah tangga, bahkan sang anak sudah siap untuk menikah maka seorang Ayah tidak akan menghalangi Javir!."


Nama Javir yang terlontar dari mulut Abra penuh penekanan, sehingga kepala Javir semakin tertunduk dalam.


Kedua tangannya semakin mencenhkram satu sama lainnya.


Ruangan iti terasa dingin meski hawa panas yang terpancar dari Abra sangat terasa, bahkan diamnya Abra membuat Javir semakin gelisah seketika.


Salah, ya ... Sampai didetik ini Javir sadar atas kesalahannya, dan Abra memberinya waktu untuk berfikir maka dari itu dia diam tidak mengatakan apapun selama beberapa menit, dan Javir tahu itu.


Selama veberapa tahun mengenal Abra dan dekat dengannya, ternyata dia hanya bisa mengenali kebiasaan Abra, tidak dengan jalan fikiran dan sifat pria itu.


Regan dan Abra, Javir masih belum bisa mengenal mereka secara keseluruhan.


Javir tidak akan menyalahkan ide gila Alaric, bagaimanapun temannya itu pasti juga tidak tahu akan seperti ini.


"Kamu bisa berkaca pada Ar dan As" suara Abra terdengan mulai tenang, "saat mereka menghadap orang tua Belda dan Zia. Apa orang tua mereka langsung menolaknya?, tidak."


Perlahan Javir melirik Aslan yang duduk disampingnya, Aslan ternyata menatap Javir dengan senyum lebar bodohnya membuat Javir kesal ingin menonjok muka itu sekarang juga.

__ADS_1


"Meski terasa berat seorang Ayah melepas putrinya pada orang lain" ucap Abra terdengar lirih sehingga Javir kembali menatap kearahnya, "tapi kita orang tua biasa apa. Kamu akan merasakan bagaimana beratnya melepas putrimu untuk menikah dengan seorang pria yang belum tentu pasti pria itu bisa menjaga putrimu sebaik kamu menjaganya dari kecil."


Kalimat yang hampir sama seperti apa yang dikatakan Ara kembali teringat oleh Javir.


Abra berdiri dan berjalan menghampiri Regan, tangannya menyentuh pundak Regan dan emnatalnya dengan tatapan hangat.


"Orang tua berani mempertaruhkan nyawa demi anak-anak mereka, entah itu anak mereka laki-laki atau perempuan. Apa setelah anak itu menikah dengan ornag lain, orang lain itu akan berani mempertaruhkan nyawanya juga?."


Kalimat itu ...


Javir tertinduk, kali ini dia menahan senyumnya.


Yang megenak seorang Ganendar adalah Ara, semua perkataan Ara terbukti. Seharusnya dia menemui Ara dan meminta masukan dari wanita itu setelah Alaric mengusulkan ide gilanya, tetapi semua sudah terlanjur, Javir hanya bisa pasrah jika Abra mengatakan Tidak untuk sekarang untuk kesekian kalinya.


^-^


Beralih pada An Angel Caffee and Resto.


Ara menceritakan apa yang terjadi dirumah keluarga Ganendra sebelum dia menemui Gea, bagaimana Abra dan Malvin berdebat sengit, bagaimana kekeras kepalaan mereka mereka membuat kepala Aramau pecah, dan bagaimana Ara turun tangan berteriak nyaring dan mengomeli mereka berdua.


"Bahkan setelah Bunda marah dan ngomel, mereka masih saja saling sindir seperti anak kecil, buat Bunda kesal sampek menggulung majalah di meja tamu dna memukul kepala mereka" cerita Ara masih dengan emosi yang terlihat jelas.


"Lalu keputusannya gimana?" Tanya Gea lirih.


Perempuan itu hanya bisa diam mencermati keseluruhan cerita Ara tampa mengatakan sepatah katapun.


Ara menghela nafas mencoba menenangkan dirinya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa lalu menatap Gea dengan tatapan lelah, "Ayahmu pergi lalau Malvin pergi juga. Mereka pergi tampa mengatakan apapun, bahkan Malvin meninggalkan Mama bela dan Ibu kandung Javir begitu saja dirumah padahal mereka datang bertiga."


Kebiasaan yang Gea kenali pada Abra maupun Sam dan Malvin, mereka akan pergi entah kemana jika sedang marah atau emosi, Gea mengenal mereka sejak kecil jadi dia sudah tahu kebiasaan mereka.


Gea menghela nafas dan hanya bisa tersenyum kecil pada Ara.


"Bunda pasti bantu kok sayang" ucap Ara lembut dan mengelus pundak Gea.


"Gea hanya bisa pasrah Bun" kalimat itu terlontar begitu lirih.


Ara menghela nafas lalu tertawa kecil dan memeluk Gea dengan erat.


Kata Pasrah sangat cocok digunakan untuk situasi kali ini, karena Abra pasti akan mengomeli Javir.


"Melepas anak perempuan itu lebih sulit dari pada melepas anak laki-laki, jadi Bunda berharap kamu bisa memaklumi Ayah kamu."


^-^


.


*Maafkan Author yang mengilang dua puluh hari ini tampa kabar 🫣


Karena tiba-tiba sakit, dan saat sembuh langsung di kejar banyak dateline di dunia nyata jadi tidak sempat untuk selalu update novel keempat Author ini 😮‍💨


Terima kasih atas dukungannya dan masih stay di* Watching You 🙏


Love You 😘

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2