Watching You

Watching You
Papa Malvin


__ADS_3

"Tumben loe ngerokok"


Javir menoleh kesamping, ternyata Alaric sudah berdiri disampingnya.


Malam ini Javir duduk dikursi balkon dengan rokok yang terselip di jemari tangannya dan memperhatikan Gea dari layar ponselnya.


Sudah berhari-hari dia tidak menemui perempuan itu, entah kenapa setiap kali ingin bertemu dengan Gea dirinya ketakutan tampa sebab.


"Lagi suntuk aja gue" jawab Javir sekenanga.


"Yang lain ada di An Angel, kenapa loe gak kesana?, tumben."


Javir hanya tersenyum sekilas.


"Barusan Gea ngechat gue, nanya gue ada dimana" Alaric duduk dikursi sebelah Javir. "Kalau ada di Crown dan loe juga disini, dia minta gue untuk kabarin dia."


Kepala Javir mendongak menatap kearah langit malam.


"Gue mau jawab apa?"


"Terserah"


Alaric berdecak mendengarnya, dia tidak suka sifat badboy Javir, kenapa sivat badboy Javir keluar disaat Alaric lagi badmood?. "Jangan bilang kalau loe mainin dia lagi."


Mata Javir langsung melirik sengit pada Alaric yang menatapnya dengan tatapan tajam penuh selidik.


"Ancaman As waktu itu gak main-main, jadi jangan coba mainin dia."


"Dari sisi mana gue kelihatan mainin dia?" Tanya Javir dengan nada rendahnya.


"Dari loe yang udah beberapa hari ini gak nemin dia" jawab Alaric.


Meletakkan ponselnya tepat disamping Javir dengan layar ponsel menyala memperlihatkan isi chat Alaric dan Gea.


Javir melirik layar ponsel Alaric, ternyata Gea benar-benar bertanya dimana dia pada Alaric. Perempuan itu tidak akan bertanya pada Aslan ataupun Regan.


"Loe hanya ngechat dia tanya apa kabar doang, itu hanya formalitas bukan?" Alaric mengambil sebatang rokok Javir dan menyala kannya. "Kalau loe gini terus, Gea gak mungkin minta putus. Yang ada loe yang harus ngambil langkah kalau gak mau lanjut tinggal bilang, kasian dia."


"Apa loe gila?" Tanya Javir dengan suara mendesis.


Alaric menoleh kesamping lalu tersenyum sinis, "kenapa gak terima?. Tapi itu kenyataannya, loe cuma nge chat dia tapi gak nelpon. Gak ada kerjaan gini, tapi loe masih gak nemuin dia. What wrong with you?."


Javir kembali mengisap rokoknya, dari mereka berempat Alaric memang lebih frontal jika berbicara, lain halnya dengan Regan yang irit bicara, tetapi akan berbicara seenak jidat jika sedang benar-benar marah.


Dret ...


Ponsel Javir tiba-tiba bergetar, nama Pamav mincul dilayar ponselnya.


"Turun kelobby sekarang sebelum Papa bobol sistemmu dan naik ke crown"


Setelah mengatakan itu Malvin memutuskan sambungan begitu saja.


Javir meghela nafas, Malvin pasti akan membahas masalah beberapa hari lalu malam ini.


"Gue turun nemuin Pap" ucap Javir berdiri dan berjalan pelan.


Tangannya mengirim pesan pada salah satu security untuk membawa Papanya ke ruang meeting dilantai satu.


Dia tidak mungkin membiarkan Papanya meluapkan emosi didepan umum dan membuat semua orang tahu siapa mereka berdua sebenarnya.


Javir menyesap rokoknya sebelum keluar lift dan membuangnya.


Tangannya menyeka rambutnya sambilbil menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam ruang meeting.


Malvin sudah berdiri menatapnya dengan tatapan nyalang.


"Nice trick Javir Erlangga" desis Malvin.


Tangannya melempas setumpuk kertas keatas meja didekat Javir berdiri sekarang.


Javir hanya melirik berkas itu tampa berniat mengambilnya.


"Meminta bantuan Abra dan yang lainnya untuk datang, sedangkan kamu mengawasi mereka dari jauh agar Papa tidak mengetahui perbuatanmu begitu?."


Javir diam tetap berdiri dengan tenang.


"Apa kamu gila?, apa kamu tahu dampak yang kamu perbuat?" Tanya Malvin mulai lost kontrol. "JAWAB JANGAN HANYA DIAM!."


Bentakan Malvin yang menggelegar membuat Javir menunduk. "Maaf" ucapnya lirih.


"Maaf?" Beo Malvin, "jual semua saham Mega Yasa yang kamu punya sekarang juga. Jangan pernah mencoba mendekati perusahaan itu, paham!."


"Ya"


Terdengar Malvin menghela nafas.

__ADS_1


Tiba-tiba Malvin menendang slaah satu kursi untuk melampiaskan amarahnya sebelum duduk.


Sedangkan Javir masih berdiri menatap Malvin dalam diam.


"Papa tidak tahu tujuanmu apa, tapi tolong jangan mencoba mendwkati perusahaan itu."


"Apa karena aku tidak pantas?, tidak pantas menyentuh perusahaan keluatga Papa?."


Malvin memutar kursinya menghadap Javir, kepala menggeleng pelan. "Bukan" ucapnya menahap Javir sendu, "he hates me and you. Papa kenal dia seperti apa, Papa tidak ingin kamu mendengar satu katapun darinya yang akan menyakitimu."


Javir tersenyum kecil.


Sudah ...


Dia ingin mengatakan itu, tetapi Javir memilih untuk tidak mengatakannya agar tidak menyulut amarah Malvin.


"Je membeli saham-saham itu intuk Papa" ucap Javir, "dan tujuan yang sebenarnya agar Papa bisa mengambil alih perusahaan itu, sehingga dia tidak lagi kebingunan sampai memaksa Resa untuk keluar dari kedokteran dan bekerja disana."


"Papa bisa menghentikan dia, meski tampa saham-saham itu."


Javir tersenyum segaris, mengangkat wajahnya untuk menatap balik Malvin yang sejak tadi menatapnya.


"Dan untuk mengembalikan hak Papa sebagai pewaris."


Tampak Malvin mengerutkan kenjng mendengarnya.


"Sebelum ada Je dan Papa dikeluarkan dari kartu keluarga, Papa adalah pewaris Mega Yasa. Je hanya berusaha untuk mengembalikannya pada Papa."


"Untuk apa?."


"Untuk ..."


Tenggerokan Javir seakan tercekat seketika.


Malvin berdiri, mendekati Javir dan menepuk pundaknya pelan. "Papa tidak butuh perusahaan itu, jika Papa disuruh memilih kembali. Papa tidak akan takut untuk tetap mempertahankan kamu dan diuair dari keluarga. Karena kamu bayi tidak berdosa, yang berdosa adalah Papa."


"Pa"


Malvin mengacak-acak rambut Javir dan menjitak keningnya. "Jangan melakukan apapun, Papa yang akan ambil alih dari sini dan menyelesaikan kekacauan yang kamu buat, paham!."


Kepala Javir mengangguk pelan.


^-^


Gea duduk diluar An Angel, menatap layar ponselnya laluenghela nafas mendongakkan kepala menatap langit malam.


"Apa dia begitu sibuk?" Tanyanya lirih.


"Siapa?, Abang Je?"


Gea mencari sumbersuara dan tatapnnya terhenti pada Resa yang berdiri tidak jauh darinya.


"Apa Bang Je menghilang?" Tabya Resa sambil berjalan duduk dikursi samping Gea.


Kepala Gea menggeleng pelan, "enggak ... hanya saja lama tidak bertemu."


Resa tertawa kecil mendengarnya, "Kak Gea masih belum bisa mengalahkan kedudukan Raja Throne."


Sebelah alis Gea terangkat mendengaenya.


"Dia selalu memproritaskan Raja sejak dulu" terang Resa.


Gea tertawa mendengarnya, "mereka berempat memang satu pemikiran jika mengenai bisnis."


Regan terkekeh membenarkan.


Gea memperhatikan Resa sejenak, dia membawa tas ransel yang cukup besar. Dan tangannya memukul-mukul betisnya, seakan dia melemaskan otot karwna berjalan jauh.


"Dari mana?" Tanya Gea.


"Dari rumah temen" jawab Resa singkat.


"Kenapa pulang malem?, ini sudah hampir jam sebelas loh."


Resa tersenyum segaris. "Iya, mangkanya kesini karena takut mau pulang. Bolohkan menginap disini semalam?."


Gea tertawa kecil, "ok ... tapi malam ini saja."


"Terima kasih"


Gea berdiri dan berjalan masuk ke An Angel.


Resa menghela nafas dan membuntutinya dari belakang.


Setidaknya untuk malam ini dia bisa menginap tampa harus mengeluarkan uang seperti beberapa hari sebelumnya.

__ADS_1


^-^


Malvin menatap titik lokasi Resa saat ini, setelah berada di hotel selama beberapa hari kali ini Resa ke An Angel malam-malam.


Resa bahkan tidak ke kampus selama beberapa hari terakhir ini, pasti ada yang tidak beres.


Bukan hanya mengawasi pergerakan Javir, Malvin juga melakukan hal yang sama pada Resa. Jadi setiap kali mereka tidak memberi kabar, Malvin akan langsung mengecek keberadaan mereka dimana.


Malvin menghentikan mobilnya didepan An Angel Caffe and Resto.


Gea yang hendak menutup pintu menghentikan niatnya, dan berjalan menghampiri Malvin.


"Hai Om" sapa Gea.


"Assalamu'alaikum Gea"


Gea menyengis mendapat sindiran halus Malvin, "hehehee ... wa'alaikumsalam."


"Resa ada didalam?"


Kening Gea mengerut mendengarnya, "ada" jawabnya.


"Boleh Om masuk?."


"Iya silahkan"


Gea mempersilahkan Malvin masuk terlebih dahulu, barulah Gea mengikutinya dari belakang.


"Jea gak kesini?" Tanya Malvin.


Meski dia tahu jika Javir tidak ke An Angel, Malvin masih saja bertanya untuk sekedar basa basi.


Gea berjalan kearah kulkas setelah Malbin duduk sambil menjawab. "Enggak, udah beberapa hari gak ketemu Je. Mungkin dia sibuk ngurus hotel, tadi aja anak-anak kesini Je gak ikut."


Kening Malvin mengerut mendengarnya. "Sepertinya dia tidak sesibuk itu" ucap Malvin.


Terlihat gerakan Gea terhenti sejenak, sebelum berbalik badan dan berjalan dengan segelas minuman diatas nampan.


Malvin juga sempat terheran Javir selama beberapa hari tidak keluar dari hotel. Padahal biasanya tiada hari tampa ke An Angel atau kerumah keluarga Ganendra.


"Apa dia tidak pernah mengatakan sesuatu?" Tanyanya penasaran akan sesuatu.


"Contohnya?"


"Sesuatu seperti, keluarga atau semacamnya."


Kepala Gea menggeleng pelan, "hubungan kami masih belum sedalam itu untuk terbuka masalah keluarga."


"Jika Je macam-macam, kamu bisa melapor ke Om. Meski Mami dan Om seperti kucing dan tikus, tapi tidak ada hubungannya dengan kamu. Mamimu menjengkelkan, tetapi kamu cukup baik."


Gea tertawa mendengarnya.


Mami yang Malvin maksud bukan Ara, melainkan ibu kandung Gea, Vera.


"Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa Om malam-malam datang kesini dan tahu jika Resa disini."


Kepala Gea mengangguk membenarkan.


"Karena Om memantau pergerakan mereka, tetapi tidak tahu apa yang terjadi karena tidak mau melewati batas privasi mereka" jelas Malvin. "Jadi kalau Javir mengatakan sesuatunyang menyinggung atau meyakitimu, laporkan saja Om akan menghukumnya."


Gea tertawa mendengarnya, "jangan menjadikanku anak pengadu Om."


Malvin terkekeh kecil, "Abra dan Arasudah menganggap Javir sebagai anak mereka. Begitupun dengan kamu, diluar konteks kamu pacar Javir pastinya."


Dret ....


Ponsel Malvin tiba-tiba bergetar.


Malvin mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ternyata Javir uang sedang menghubunginya.


Kepala Malvin terangkat, melihat sekeliling dan tersenyum pada cctv yang terpasang di setiap pojok cafe and resto An Angel.


Malvin mengangkat panggilan Javir sambil menatap kearah cctv, "jangan ganggu. Papa lagi mengumbar aibmu pada pacarmu" ucap Malvin dan mematikan sambungan ponselnya begitu saja.


Kembali Malvin menatap Gea yang duduk didepannya, "sebentar lagi dia akan kesini" ucap Malvin penuh keyakinan.


"Yang benar saja, ini sudah malam Om."


"Om tahu wataknya" ucap Malvin sambil berdiri dari duduknya, "sepertinya malam ini Om akan membawa kedua anak Om pulanh. Om tidak akan membiarkan dia menginap disini lagi."


Gea terperanga sebelum mengulum bibirnya menahan malu, "tapi tidak melakukan apapun kok Om, sumpah."


"I know" ucap Malvin tersenyum lebar.


^-^

__ADS_1


__ADS_2