
Sepanjang perjalanan Javir hanya diam tidak mengatakan apapun, meski sebenarnya dia tahu Gea duduk sangat mepet dengan pintu seakan tahut dengannya.
Meski sudah melampiaskan amarahnya dengan berkelahi, Gea kembali berhasil menyulutnya saat memilih pulang dengan Regan.
Perlahan mobil memasuki pekarangan An Angel, sekelebat Javir melihat sesuatu didalam kegelapan, tetapi dia diam tidak menyuarakannya.
Setelah mematikan mesin mobil, sengaja Javir tidak langsung turun dari dalam mobil Gea. Dia diam menatap lurus kedepan, bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
"Em ..."
"Loe ..."
Mereka berdua secara bersamaan mulai berniat membuka pembicaraan.
Tetapi tiba-tiba kembali diam hingga beberapa detik, dan pada akhirnya Gea memutuskan keluar dari dalam mobil terlebih dahulu.
"Apa ada karyawan loe yang menginap malam ini?" Tanya Javir.
Kepala Gea menggeleng pelan, "gak ada" jawabnya.
Kening Javir mengerut, "mau gue antar kerumah Ayah?."
"Gak usah" tolak Gea, "besok juga ada meeting pagi-pagi."
Javir mengangguk-ngaggukkan kepala pelan, sesekali melirik kedalam An Angel seakan memastikan seauatu.
Tangannya yang sedang memegang kunci mobil Gea terulur hendak mengembalikan kunci itu, Javir pikir Gea akan langsung mengambilnya, nyatanya perempuan itu malah menggenggam perbelangan tangannya erat.
"Ya Tuhan ..." seru Gea, "gue kira cuma bibir sama pipi doang yang luka" kali ini nada suara Gea seperti ibu-ibu yang sedang khawatir.
Javir mengetatkan rahangnya menahandiri agar tidak tersenyum.
Perlahan Javir menarik tangannya dari genggaman tangan Gea. "Ini gak papa kok" ucap Javir santai, "udah ... ini kunci mobil loe, gue mau balik."
"Balik ke hotel?" Tanya Gea seakan memastikan.
Kepala Javir meggangguk pelan.
"Enggak" larang Gea, "masuk dulu ... gue obatin luka-lukanya."
"Udah gak papa, ini udah ..."
"JE!" Bentak Gea.
Sejenak Javie merasa bahagia Gea mengkhawatirkannya, tetapi pembicaraan Gea dan seseorang yang dia dengar pelalui ponselnya membuatnya tersadar.
Javir memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. "Gak usah, gue bisa obatin sendiri" ucap Javir masih kekeh menolak.
Wajah Gea terlihat sedih menatapnya, "loe kenapa sih Je?."
"Gak ada apa-apa" ucap Javir memalingkan muka kelain arah.
"Bohong" ucap Gea lirih, "gak mungkin gak ada apa-apa. Loe bersikap kasar, marah-marah, dan ..." kalimat Gea mengambang, Gea tidak melanjutkan kalimatnya.
Javir kembali menatap Gea, perempuan itu menatapnya tajam mehunutut penjelasan.
"Jangan terlalu perhatian sama temen Abang loe" ucap Javir sarkas, "bagaimana kalau temen Abang loe ini semakin terjatug nantinya?."
Kening Gea mengerut mendengarnya.
Sekali lagi ekor mata Javir seakan melihat sesuatu, saat menoleh untuk memperjelas penglihatannya, tidak ada siapapun disana, memebuat dirinya tidak tenang.
Dia tidak bisa meninggalkan Gea saat ini, terlebih dia tidak bisa mengecek keamanan Gea dari cctv dan segala alat pengintai miliknya yang berada diseluruh An Angel, karena ponsel pengintainya tertinggal di jok belakang mobilnya yang masih terparkir di Blue Heaven Club.
"Tapi kalau loe mau bantu masakin makanan untuk temen Abang loe, yang lagi kelaperan ini ini gak papa juga" kali ini Javir menoleh kesamping menatap Gea.
__ADS_1
Kening Gea semakin mengerut dalam, "loe kenapa sih gak jelas banget?" Omel Gea dengan kesal.
Javir hanya menyengir.
^-^
Gea melirik kearah Javir yang tertidur di sofa, sedangkan dia masih mempersiapkan masakannya diatas meja tepat didepan Javir yang tertidur.
Pasti karena kelelahan, meski dia lapar, Javir langsung tertidur setelah beberapa saat duduk disofa sambil menonton film, padahal Gea memasak tidak sampai sepuluh menit.
Hanya menggoreng Ayam yang sudah dimari nasi, menggoreng telur dan menghangatkan sup yang tadi Yesi bawa dari rumahnya.
Gea menatap Javir dan dan makanan diatas meja bergantian, dia tidak tega untuk membangunkan Javir, tetapi kasihan jika makanannya tidak dimakan.
Jari telunjuk Gea menoel-nolek lutut Javir mencoba membangunkannya, tetapi Javir masih saja tidadak bangun.
Gea menghela nafas, berdiri hendak menepuk pipi Javir tetapi setelah tangannya menyentuh pipi Javir, Gea terdiam.
Panas ...
"Je" panggil Gea, tangannya menyentuh kening Javir hang terasa panas. "Je bangun makan dulu" ucap Gea lembut.
Perlahan Javir membuka matanya, menangkap tangan Gea yang menyentuh lehernya yang sedang memastikan suhu badannya.
Mata mereka bertautan, memancarkan perasaan yang berbeda. Gea yang menatap Javir dengan khawatir, dan Javir yang menatap Gea dengan tatapan sendunya.
"Apa teman Abang juga pegang-pegang pipi leher begini?" Tanya Javir serak.
Gea langsung saja gelagapan, "enggak gitu ... pipi loe anget jadi gue mastiin loe lagi demam atau enggaknya" jawab Gea, terlihat salah tingkah.
Javir melepas genggaman tangannya, duduk disofa, sebelum perlahan turun dan duduk diatas karpet.
"Gue ambil obat dulu"
Javir melirik Gea yang meletakkan selimut dan bantal disofa, lalu meletakkan kotak obat diatas meja.
"Nanti loe tidur dikamar aja, gue ..."
"Enggak" potong Javir.
"Tapi loe ..."
"Gue gak selemah itu An"
Javir kembali melanjutkan makannya.
Gea duduk disampingnya, menuangkan air ke gelas kosong dan meletakkannya di samping Javir.
Perasaan bahagia menyusup begitu saja, Javir tersenyum kecil melihat perhatian kecil yang diberikan Gea.
Selesai makan, Gea menjulurkan obat untuknya. Tampa banyak bicara Javir meminumnya.
Tangan Gea menarik pergelangan tangan Javir, mengambil kapas dan mulai mengobati luka ditangan Javir.
"Gue bisa sendiri An" ucap Javir lirih.
"Diem, emangnya apa salahnya gue bantu ngobatin luka loe" ucap Gea tampa mendongakkan kepalanya menatap Javir.
"Salah" ucap Javir lirih.
Tangan Gea seketika berhenti bergerak, perlahan mengangkat wajahnya menatap Javir yang sejak tadi menatapnya.
"Karna perhatian kecil dari loe buat gue semakin jatuh tenggelam" sangat amat lirih, terdengar sungguh-sungguh mengatakannya. "Ayo sama-sama jaga jarak, kalau loe masih mau menganggap gue temen Abang loe."
^-^
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara dari luar kamarnya, Gea perlahan berjalan mendekati pintu kamar hendka membukanya.
Tetapi dia mengurungkan niatnya kala mendengar suara Javir dari balik pintu kamarnya.
"Satu stel jas gue, kunci mobil putih gue dan kotak di rak sepatu deket gentukan kunci kendaraan kita ... iya ... kasih aja ke Dian gue udah kasih tahu dia harus nganter kemana ... enggak, gue di Angel ... gue lagi ngelindungin adik temen gue. Gue kan temen Abangnya ..."
Lagi-lagi kata Teman Abang kembali terucap dari Javir.
Entah kenapa sejak semalam Javir selalu mengatakan dua kata itu, dan Gea benar-benar tidak mengerti kenapa.
Setelah mandi dan berganti baju, Gea keluar dari kamarnya. Javir berada di dapur sedang menggoreng se suatu.
Perlahan Gea melangkah menghampirinya meski sebenarnya ragu. "Em ..." guman Gea, "udah baikan?."
Javir menoleh sejenak padanya dan menganggukkan kepala, "udah" jawabnya singkat.
"Em ... masak apa?"
"Omelet" lagi-lagi terdengar singkat dan datar, "duduk dulu bentar lagi selesai."
Gea menghela nafas, memilih untuk membawa gelas dan air ke depan tv san segelas susu strowberry untuknya.
Javir meletakkan dua piring omelet di atas meja, "makan aja duluan. Gue mau mandi, bolehkan numpang mandi?."
Gea mengangguk pelan, berdiri masuk kedalam kamar mengambil handuk baru dan menyerahkan pada Javir. "Pakek kamar mandi didalem aja, bentar lagi gue juga turun."
"Ya"
Terlalu singkat.
Gea keluar dari dalam kamarnya, menatap omelet buatan Javir sambil menghela nafas lemas.
Sebentat lagi kliennya akan datang, jadi Gea memutuskan untuk membawa makanannya kelantai dua keruang meeting.
Tring ...
Tiba-tiba ada pesan masuk.
Gea menghentikan makannya sejenak dan mengeceknya.
Pemberi tahuan jika video podcast yang dia lakukan dua hari lalu, sudah mereka upload di chennel mereka.
Sambil makan Gea menonton video itu, terkadang tersenyum dan tertawa sendiri. Ini pertama kali dia melakukan podcast, meski punya channel juga, video yang gea upload hanya berisi video cover lagu.
"Dia itu emen Abang gue"
Gea berhenti mengunyah, kembali memutar ulang aoa yang dia ucapkan dengan wajah serius mencoba mendengarkan lebih jelas lagi.
"Serius?"
"Iya ... dia temen Abang gue Kak."
Gea benar-benar mengatakan hal itu?. Gea ingat betul mereka sedang membahas tentang video yang beredar dengan Javir saat itu.
"Bukan pacar?"
"Bukan, bukan pacar."
Ya ... Gea juga mengingat menjawab apa setelahnya.
Lalu bagimana Javir bisa tahu?, padahal video ini baru di upload hari ini.
Apa mungkin Je mengenal salah satu editor mereka?
^-^
__ADS_1