Watching You

Watching You
Bersama


__ADS_3

Ini pertama kali Javir bersama Danil jalan-jalan berdua setelah Danil hidup bersamanya dan keluarganya.


"Ayah kenapa Kak Resa gak ikut?" Tanyanya.


"Karena Ayah mau kita jalan-jalan berdua" jawabnya.


Danil mendengus mendengar jawaban singkat Javir, "jalan-jalan itu gak ke mall Ayah. Jalan-jalan itu kepantai, kekebun binatang, ketempat wisata gitu."


"Oh ya?, Ayah kira ke mall juga jalan-jalan" Javir terkekeh kecil, "apa beli mainan dan nonton bukan termasuk daftar jalan-jalan?."


"Beli mainan ya gak masuk Ayah, tapi kalu nonton itu nonton film ya?, kenapa gak dirumah aja?. Tv Akung besar diruamah, gak usah kesini."


Javir tertawa lepas mendengar celotehan Danil.


Sepertinya Danil bukan Chaka yang senang menontong film dibioskop dengan layar lebar, atau seperti Bilqis hang senang membeli mainan.


Harusnya dia bertanya dulu pada anak ini mau kemana sebelum membawanya ke mall.


"Itu si kembar"


Danil emnunjuk kedepan, menghentikan langkahnya, membuat Javir ikut menghentikan langkahnya.


Kepala Javir langsung mendongak menatap kearah tunjuk Danil.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, memang ada si kembar dan ... Gea.


Ini diluar dugaan Javir, dia tidak tahu akan bertemu dengan Gea dan si kembar di mall. Javir tahu jika Gea serjng membawa si kembar unyuk menonton, tetapi dia tidak tahu jika Gea akan membawa mereka berdua ke mall ini.


"Danil" teriak Chaka.


Terlihat Chaka melepaskan genggaman tangannya dari tangan Gea dan berjalan menghampiri Danil dan Javir.


Tampa Javir ketahui, Danil menatap Javir yang sejak tadi tidak memutuskan tatapannya pada Gea yang berjalan pelan kearah mereka berdua.


"Kamu mau nonton?" Tanya Chaka.


Kepala Danil mengangguk pelan dan mengalihkan tatapannya pada Chaka.


Terlihat jika Chaka tersenyum padanya, padahal sebelumnya disekolah mereka tidak pernah bertegur sapa setelah kejadian di delan toilet waktu itu, bahkan Chaka hampir yidak pernah tersenyum.


"Kita nonton rame-rame boleh?" Chaka mendongak memjnta persetujuan Gea.


Kepala ge mengangguk, berjongkok mensejajarkan tinghi badannya dan tiga anak disekelilingnya.


"kalian mau nonton apa?" Tanya Gea dengan senyum lebar.


Javir masih saja menatap Gea.


Saat Gea tersenyum Javir ikut tersenyum, saat Gea tertawa Javir ikut tertawa kecil melihatnya, semua yang terlihat diwajah Gea seakan menular pada Javir.


"Kalau begitu ayo beli tiket" ajak Gea.


Tampa menoleh padanya Gea dan ketiga anak kecil itu berjalan terlebih dahulu, Danil meggenggam tangan kiri Gea, Chaka sebelah kanan dan Bilqis yang memimpin jalan dengan terus berceloteh.


Dada Javir serasa bahagia melihatnya, membayangkan itu Gea dan anak-anak mereka berdua nanti, dikemudian hari.


Javir mengikuti mereka bertiga dari belakang.


Mereka berempat masih saja berdiskusi tentang apa yang mau mereka tonton hingga Gea beberpaa kali terlihat menahanndiri agar tidak memarahi mereka agar tenang, membut Javir terkekeh melihatnya.


Dret ...


Ponsek Javir bergetar, ada pesan dari Dian yang mengingatkannya tentang meeting besok pagi.


"Ayah"


Javie menunduk, menatap Danil yang meringis sambil memegangi celananya.


"Kenapa burungmu?" Tanya Javir tak mengeri.


"Enil mau pipis, toiletnya dimana?"


Javir malah ikut meringis mendengarnya, "mau Ayah temenin?".

__ADS_1


Kepala Danil menggeleng, "anterin aja."


"yang mau buka ce ..."


"Sama Kak Gea mau?" Tiba-tiba saja Gea datang menghampiri mereka.


Kepala Danil mengangguk cepat.


Dan setelah sejak lama Javir berada didekatnya sejak tadi, ini pertama kali Gea mengangkat wajahnya menatap Javir.


Tangan Gea menjulurkan tiga tiket yang sudah dia beli pada Javir. "Kita langsung masuk aja, bentar lagj filmnya juga mulai. Danil pipis di dalam aja, biar gue yang nganter" ucapnya.


"Oh ya"


Hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulut Javir.


Karena Javir belum juga mengambil tiket dari Gea dan Danil sudah kebeleg pipis, Chaka mengambil tiketnya dan memberi isyarat pada Gea untuk membawa Danil pergi.


Tatapan mata Javir masih saja menatap kearah mereka berdua.


Buk ...


"Au ..."


Perut Javir mendapat tinjuk kecil dari Chaka. Meski tidak begitu sakit, dia terkejut mendapat pukulan itu.


Mata Chaka menatap Javir dengan mata memicing, sedangkan Bilqis menatapnya dengan tatapan kesal dan bibir kerucutnya.


"Apa?" Tanya tidan mebgerti kenapa dua ank didepannya ini menatpnya seperti tidak suka.


"Apa Abang lupa ada kami disini?" Tanya Bilqis sewot, "kalau Kak Gea sama Danil ya Abang harus perhayiin kita dong."


Javir hanya bisa menghela nafas mendapat celotehan Bilqis, setelah sekian lama ... Hampir satu bulan akhirnya dia kembali mendengar celoteha si Bilqis.


Lengan kaos Jabir ada yang menarik, sehingga Jabir menunduk dan ternyata pelakunya adalah Chaka.


"Abang beneran Ayah Danil?" Tanya Chaka yo the poin langsung.


Javir yang mendengarnya jadi terperangah.


Tangan Javir langsung meraup wajahnya kasar mendnegar rentetan pertanyaan Bilqis.


Bilqis dan Chaka memang selalu terbanding terbalik, Chaka yang irit bicara dan Bilqis hang selalu nyerecos.


"Bi" tegur Chaka dengan suara lantangnya, "bisa tidak tanyanya satu persatu?."


Mulut Bilqis langsung mengatup dan menganggukkan kepala beberapa kali.


Sebelah alis Javir langsung terangkat melihatnya, selain Aslan dan Abra ternyata Bilqis cukup penurut pada Chaka.


"Begini" Javir berjalan kearah kursi diikuti si kembar, "apa kalian bisa menjaga rahasia?."


Kepala keduanya secara bersamaan mengangguk.


"Ayah Danil pergi entah kemana, lalu saat Danil bertemu Abang dia mengira Abang Ayahnya, dan Ibu Danil lahi pergi entah kemana dan meniyipkan Danil ke Abang." Javir menoleh kekanan dan kekiri memastikan jika mereka memahami perkataannya, "apa sampai sekarang paham?."


Kepala Chaka mengangguk cepat.


"Oh ... Jadi Abang sebenarnya bukan Ayah Danil?."


Kepala Javir mengangguk.


"Jadi kita tidak boleh bercerita masalah ini ke Danil?"


Kepala Javir kembali mengangguk membenarkan.


"Ok" ucap Bilqis dengan senyum lebarnya namun menatap Javir tajam.


"Jangan meminta apapun karena Abang Je tidak sekaya Abang Ar kalian" tolak Javir sebelum Bilqis mengajukan permintaan.


Dari tayapan Bilqis saja, Javir sudah tahu apa yang ada diotak kecil putri Ganendra itu.


^-^

__ADS_1


Danil keluar dari kamarmandi peria dengan resliting jelana yang terbuja.


Gea yang sejak tadi berada didepan kamar mandi terssnyum simpul melihatnya, sehingga Gea berjongkok dan membenarkar celana Danil bahkan merapikan bajunya juga.


"Danil lama tidak lihat Kak Gea" ucap Danil, "apa Kak Gea baik-baik saja?."


Kening Gea mengerut medengarnya, "baik" jawabnya singkat.


Danil menghela nafas, menraih tangan Gea saat peremouan itu hendak berdiri, sehingga Gea kembali berjongkok dan mensejajarkan tinggi mereka.


"Apa Kak Gea benar baik-baik saja" ucap Danil, kali ini suaranya terdengar lebih lirih dari yang tadi.


Gea tertawa kecil mengelus rambut Danil seakan memberi tahu jika tidak ada apalun yang terjadi.


"Apa kalian putus karena Danil?."


Satu pertanyaan itu mempu menghentikan tawa Gea dan elusan tangannya seketika.


Terlihat mata Danil mulai berkaca-kaca menatap Gea, tangannya meraih tangan Gea yang emngambang diatas kepalanya dan menggenggam tangan itu erat


"Danil tidak bermaksud begitu" cicit Danil, "Kak Gea ... Danil meminta maaf."


Melihat Danil yang mulai menangis Gea merengkuh tubuh Danil memeluknya dnegan erat.


Mengelus punggung Danil menenangkan agar anak dalam dekapannya tidak semakin menangis.


"Semua baik-baik saja, gak ada yang terjadi" bujuk Gea.


Tangan Danil emmbalas pelukan Gea dengan erat, berkali-kali dia mengucapkan kata maaf dengan lirih.


^-^


Selesai menonton, Bilqis menarik Javir unyuk meneraktirnya makan dnegan mengangkat alis naik turus seakan menunjukkan ancaman padanya membuah Javir mau tidak mau menurutinya.


Bahkan terlihat dengan berat hati Gea mengikuti langkah mereka dadi belakang dnegan Chaka san Danil dikanan dan kirinya.


Tampa bertanya pada hang lainnya, Bilqis memesan semua makanan atas nama mereka membuat Javir geregetan dengan anak perempuan yang satu ini.


"Ya Tuhan ... Jiaka kita punya anak jangan kayak dia ya An" ucap Javir menatap Gea denban tatapan sedihnya.


Gea hanya membalasnya dnegan diam mengerutkan kening membuat Chaka dan Danil terkekeh.


Plak ...


Tangan mungil Bilqis berhasil menggeplak kening Javir, meski dia sedang memesan makanan pada pelayan, telinganya masih mendengar apa yang Javir katakan.


Gea, Danil dan Chaka tertawa kecil melihatnya.


"Waw ... Ada keluarga besar nih"


Tiba-tiba terdengar seruan penuh sindirin yang mendekati meja mereka.


Semua menoleh kearah sumbersuara dengan bersamaan, Qia berada didekat mereka berdiri dnegan dagu terangkat menatap sinis pada ketiga anak yang berada disana.


"Tiga anak sekaligus, WAW" serunya dengan heboh.


Javir dan Gea saling pandang tidak mengerti dengan apa yang dihebohkan oleh Qia, anam dari adik angkat Malvin.


Bahkan beberapa orang yang berada disana juga melihat kearah meja mereka.


"Apa mereka anak kalian berdua?" Tanya Qia menatap Gea dan Javir bergantian, "bukannya kalian belum meni ..."


"Maaf anda mengganggu ketenangan kami" potong Javir tegas.


Mata Qia melebar lalu terkekeh keciul, "ups ... sorrh gue hampir kelepasan ya?"


"Hadeh ..." seru Gea males, "King kong pergi deh jangan buat gara-gara."


Ketiga anak do samping Gea itu tertawa lepas mendengar Gea menyebut Qia dengan panggilan King kong.


Meski mata Qia memelototi mereka bertiga secara bergantian, Bilqis yang memang tengil dari sananya malah semakin mengejeknya dengan menunjuk-nunjuk tangannya membuat Gea ikut tertawa.


Tatapan Javir yang habya tertuju pada Gea merasa bahagia yang luar biasa hari ini, meski tawa dan senyjm Gea bukan untuknya.

__ADS_1


^-^


__ADS_2