
Dret ...
Ponsel Gea sejak tadi terus saja bergetar, panggilan masuk dari Regan, Aslan dan Alaric terus bergantian masuk.
Gea malas, amat sangat malas.
Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Ara menyeretnya pulang ke rumah keluarga Ganendra dan melarangnya keluar rumah tampa alasan yang jelas, padahal dia banyak kerjaan yang menumpuk di An Angel.
Dret ...
Kembali ponsel Gea bergetar.
Gea yang sudah kesal dan merasa terganggu menghentikan kerjaannya, melirik layar ponselnya dan tercengan membaca nama JE yang muncul.
"Wah ... sudahnya menghilang dia muncul" keluh Gea.
Telunjuk Gea menggeser icon untuk menerima panggilan.
Jika berharap yang pertama kali didengar suara Javir, kalian salah ... karena yang pertama terdengar oleh Gea adalah suara tiga orang jang selalu mau tau ususan orang lain.
"Wah ... panggilan Je di terima"
"Gue nlp lebih dari lima kali Ge!"
"Jangan lagi nagis ke gue kalau Je ngapa-ngapain loe!!!"
Yang terakhir adalah teriakan nharing Aslan yang membuat Gea meringis.
Bahkan disana terdengar suara Regan, yang berarti mereka berempat sedang berkumpul bersama sekarang.
"Mereka selalu saja berisik" gerutu Javir.
Gea tersenyum mendengarnya.
"Hah" Javir menghela nafas, "lega rasanya loe ngangkat panggilan gue."
Gea memilih untuk diam tidah mengatakan apapun.
Suara teriakan Aslan, Regan dan Alaric semakin mengecil terdengar, sepertinya Javir menjauh dari kerecokan ketiga temannya.
"Em ... loe masih disana kan?" Tanya Javir.
"Ya" sahut Gea sekenanya.
Beberapa meit mereka terdiam tampa mengatakan apapun, terdengar helaan nafas Javir berkali-kali.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Gea hanya bisa tersenyum kecil saat kembali mendengar helaan nafaas Javir, tampa berniat membuka obrolan terlebih dulu, toh bukan dia yang lebih dulu menghubungi, tetapi Javir. Jadi Gea memilih diam menunggu apa yang akan Javir katakan.
"An ..." panggilnya lembut, "jangan berpikir gue menghindar atau pergi setelah apa yang kita obrolin malam itu" ucap Javir.
Memang benar, Gea berfikir seperti itu setelah kembali dari Bali dan Javir tidak pernah muncul lagi didepannya.
"Gue hanya butuh ketenangan untuk mencerna semua yang kita bicarakan" Javir terdia beberapa detik sebelum melanjutkan, "dan saat gue yakin akan satu hal ... Ayah dateng bahkan terutama Bunda ngerecokin nuntut gue nemuin Ar."
Gea hanya mampu diam tidak mengatakan apaoun, bingung mau mengatakan apa.
"Woy ..." itu teriakan Regan, "kita ngubungin dia mau bicara bisnis, jangan malah pacaran, otak loe gak mikir kerjaan kita banyak."
Kening Gea mengerut mendengarnya.
Bisnis?
Pantas saja Aslan, Rehan dan Alaric bergantian menghubunginya sebelum Javir.
"Maaf, gue lupa" ucap Javir.
__ADS_1
Gea mengulum bibir menhan tawa.
"Gue yang jelas loe masuk sana!"
Berani taruhan, Regan sekarang marah dan merampas ponsel Javir.
Regan yang memang mempunyai keturunan sifas dominan dan bossy dari Abrajam Ganendra terkadang membuat Gea kesal.
"Gue dan anak-anak yang lain mau melesap ketergantungan bisnis kita sama dari Ayah, kalau loe mau kita bisa kerja sama. Jadi kita ..."
Gea hanya bisa menghela nafas.
Yakin jika Regan dan yang lainnya benar-benar tersudut kali ini, sehingga mereka pasti kalang kabut menemui Regan.
"Leptop Je sampai mati gara-gara ngelacak gue dimana" suara Regan terdengar lirih kali ini, "padahal sebelumnya dia tidak pernah senekat ini, loe tahu kenapa?."
Gea mendengus mendengarnya, "emanya gue pikirin, salahnya dia sendiri, emanya ada hubungannya dengan gue?."
"Ada" jawab Regan tegas, "karena Bunda bawa-bawa An Ange."
Raut wajah Gea berubah datar.
"Gue gak mau ngedukung hubungan loe sama Je" lanjut Regan, "karena kalau loe sama dia ada apa-apa hubungan kita pasti jadi canggung. Tapi mau percaya atau enggak, gue mau yang terbaik buatl loe."
Percaya atau tidak, Regan tidak akan berbicara seperti ini jika berhadapan lengsung dengan Gea. Sifat arogannya terlalu tinggi, yang ada pada akhirnya mereka selalu cekcok.
^-^
Setelah sekian lama, inilah kerjaan terberat namun menyenangkan bagi Javir semasa hidupnya.
Bekerja sambil melihat wajah Gea meski melalui video call, cukup membantu menenangkan orak Javir tetap stabil.
"Yang mau loe dijadikan iklan kirim cepat ya" ucap Javir dengan lembut disela-sela kesibukan tangan dan matanya yang menatap layar leptopnya.
Sebisa mungkin dia tidak sering menatap kearah layar ponsel yang menampilkan wajah Gea disebarang sana, karena Regan sudah mengomelinya beberapa kali karea itu.
Bahkan kali ini Regan duduk disampingnya sambil mengerjakan tigas yang sudah mereka berempat bagi.
Tidak ada suara lagi, hanya terdengar suara Alaric didalam kamar dengan Aslan yang sedang melakukan photishoot.
"Hallo abang ..."
Suara lembut yang tidak asing itu membuat Regan dan Javir terdiam, bahakn bulu kudu Javir dan Regan merinding mendengarnya.
Perlahan secara bersamaan Regan dan Javir menoleh pada ponsel yang masih terhubung dengan Gea.
Tepat dibelakang Gea duduk, ada Ara yang berdiri menatap kearah kamera ponsel dengan tatapan tajam dan senyum lebarnya.
"Ha ... Hai Bun" sahut Regan terbatah-batah.
"Lagi kerja apa sayang?" tanya Ara lembut, "wah ... Javir dan yang lainnya sekarang disana ya ... kenapa gak bilang-bilang Bunda?"
Matilah ...
Setelah menemukan lokasi Regan, mereka bertiga langsung terbang tamla memveri tahu Ara. Sekarang wanita itu pasti sedang menatan kekesalannya, dapat dilihat dari tatapan tajam dan senyum lebar yang tidak dapat menenangkan Javir.
Mata Javir melirik pada Regan meminta pertolongan.
"Assalamu'alaikum"
Suara Ara terdengar begitu lemah lembut dan terkesan dibuat-buat.
"Wa'alaikumsalam"
Mau tidak mau Regan dan Javir menjawab salam Ara dengan bersamaan, tetapi mata Javir tidak berani melirik layar ponselnya.
Regan menghela nafas, sepepertinya dia mencoba tenang dan mengambil ponsel Javir agar camera hanya tertuju padanyan, membuat Javir menghela nafas lega.
__ADS_1
"Apa kabar Bunda?" sapa Regan terdengar mencoba seantai mungkin.
"Wah ... ternyata kamu masih perduli ya ... sama kabar Bunda?" Itu sebuah sindirian.
"Bunda, gak mungkin Ar gak perduli sama Bunda" ucap Regan lembut.
Javir kembali memfokjskan diri pada pekerjaan yang masih belum selesai.
Regan sudah mengembalikan leptopnya kesemula, itupun karena mereka benar-benar membutuhlan leptop atau komputer saat ini, jika tidak ... Javir tidak yakin kalau Regan dengan senang hati mau menghidupkan leptopnya kembali.
"... Kayak Gea dong dan Javir"
Kepala Javir menoleh pada Regan karena namanya dan Gea disebut.
"Sekarang Gea yang gak mau, tapi malah Javir yang mau ngejar-ngejar Gea terus."
Mata Javir melotot mendnegarnya.
"Kenapa Bunda malah bawa-bawa Gea sih?" terdengar protesan Gea disebrang.
"Kamu diam" omel Ara pada Gea, "emang kenyataannya begitu, kamu sehatusnya bangga dong dikejar-kejar Je."
Javir tersenyum mendengarnya, Ara sepertinya mulai akan membantunya seperti janjinya.
Padahal saat Ara mengatakan mau membantuny, Javir tidak percaya. Karena Ara orang yang tidak mau ikut campur masalah percintaan anaknya.
Cling ...
Satu pesan masuk ke room chat yang terconnect pada leptopnya.
My An:
Percaya atau tidak
Gw gak merasa bangga
Javir mengulum bibirnya menahan tawa membaca pesan yang dikirim Gea padanya.
JE :
Percaya atau tidak
Yg d ucapkan Bunda sepertinya
Akan menjadi kenyataan
My An:
?????
JE:
Can't wait to meet you
My An:
Loe gak lagi gila kan?
JE:
Yeah ...
Becouse of you An
My An:
🤺
__ADS_1
JE :
🫂