Watching You

Watching You
Danil Hilang


__ADS_3

Kepala Javir benar-benar mau pecah.


Lagi-lagi Gea menolaknya denga alasan yang sama seperti pertama.


Takut


Trauma


Tunggu bentar


Javir benar-benar kehilangan akal, apa yang harus dia lakukan lagi untuk perempuan itu, semua ketulusan dan kesungguhan hatinya sudah dia tunjukkan semua.


Dan Sebastian ...


Pria iru tidak bisa diremehkan, dia tidak punya celah seperti pria-pria yang sebelumnya mendekati Gea. Bahkan meski dia sangat cinta pada Gea, pria itu masih bisa mengendalikan diri, tidak seperti Fariz bahkan dirinya yang selalu mengawasi Gea dimanapun.


Tidak ...


Javir menggelengkan kepala, dia tidak mengawasai, tetapi hanya memperhatikan Gea.


"Jadi bagaimana Pak"


Tangan Dian yang menyentuhnya dari bawah meja membuatnya terperanjat. Dia sekarang berada diruang meeting, dan dia malah bgelamun memikirkan Gea.


Pasti Dian mencolek pahanya agar Javir kembali fokus dengan pembahasan mereka.


"Take foto akan diambil langsung di Hotel Raja Thron di Bali atau di sini saja?"


Dian seakan kembali menjelaskan pertanyaan salah satu karyawan devisi pemasanan yang mengajukan pertanyaan untuknya.


"Meski konsep hotel di Bali sama dengan hotel Raja Throne kita disini, lebih baik kita melakukan photoshoot langsung di Bali."


"Kali ini kita pakai model Ambasador kita yang mana Pak?, Pak Alaric atau Mbak Zia?."


Javir terdiam, berfikir sejenak. "Kalau bisa kita pakai dua-duanya, saya akan diskusikan dulu dengan Pak Aslan dan dua model kita. Karena ..."


Tring ....


Ponsel Javir tiba-tiba berbunyi di tengah meeting, semua mebatap kearahnya, padahal dia tidak suka ada bunyi ponsel saat meeting, ini malah ponsel dirinya sendiri yang berbunyi cukup nyaring.


Sial ...


Gara-gara memikirkan Gea dia jadi lupa untuk mengalihkan ke mode diam.


MaBel


Kening Javir mengerut melihatnya, tidak biasanya Mamanya menelfonnya di jam kerja.


Javir mengangkat tangan memberi isyarat untuk menjeda waktu meeting mereka dan harus mengangkat panggilan masuknya.


"Ada apa Ma?, tumben nelpon di jam kerja?" Tanya Javir sambil melirik manager pemasaran dan Diam.


"Danil gak ada disekolahnya"


"APA?"


"Danil gak ada disekolanya Je" ulang Bela, "Bilqis dan Chaka bilang gak tahu, mereka malah ngasih mama tasnya Danil."


Kepala Javir langsung blank saat itu juga.


"Je ..." panggil Bela.


"Iya Ma, Mama pulang aja ... Biar Je yang cari Danil, dih Ma."


Javir memutuskan komunikasi secara sepihak.


Jepalanya kembali terangkat menatap karyawannya satu persatu, otaknya berputar untuk mengatakan sesuatu.


"Begini" ucapnya pelan dan menghela nafas mencoba tenang, "saya akan diskusikan dulu dengan Pak Aslan dan kedua model Ambasador kita untuk menyelaraskan jadwal mereka. Meeting kita sampai disini dulu, terima kasih semua selamat sore."


"Selamat sore Pak."


Tampa banyak bicara lagi. Javir langsung berbalik badan dan keluar dari ruang meeting dengan terburu-buru.


Tangannya menscroll layar ponselnya untuk mencari keberadaan Danil.


Diam-diam Javir memasang alat pelacak di jam tangan dan ponsel Danil, dan ponselnya berada diarea sekolah sehingga Javir tampa pikir panjang menghubungi Danil.


"Ponselnya gak dibawa Je, dia menitipkan ponselnya ke Bilqis tadi."


Itu Maminya yang menerima.


Javir meraup wajahnya dengan kesal, "jamtangan Danil disitu gak Ma?."


"Gak ada" jawab Bela.


"Ok trima kasih."


Jam tangan ...


Salah satu harapan Javir kali ini adalah jam tangan yang dia berikan, semoga saja Danil tidak melepas jam tangan itu juga.


"Biar saya yang mengemudi Pak"


Javir menoleh kebelakang, ternyata Dian sudah berada dibelakangnya.


Dian mengikutinya sejak keluar dari ruang meeting, tetapi Javir malah tidak menyadarinya.


"Kita cari dia disekolahnya dulu"

__ADS_1


Javir masuk kedalam mobil duduk dikursi samping kemudi.


Mencoba mengambil tas di jok belakang lalu tersadar akan sesuatu.


Sial ...


Dia lupa membawa leptopnya!


^-^


Bela berjalan dengan tergepoh-gepon masuk kedalam perusahaan ASG dengan Tofa, salah satu karyawan ASG yang Malvin pasrahkan untuk melindungin Bela.


"Bapak beneran didalem kan?, telepon saya gak diangkat ini."


"Saya sudah pastikan ke Nanda kalau bapak ada dikantor Bu" jawab Tofa.


Bela menatap angka di lift yang tampak begitu lambat bergerak, benar-benar tidak mengerti keadaannya.


Dia sedang khawatir.


Malvin malah tidak menerima panggilan darinya yang hampir puluhan kali, dan kali ini malah lift serasa melambat bergerak membawanya kelantai ruangan Malvil membuatnya semakin kesal saja.


Ingin rasanya Bela menggerutu, mengumpat dan mencaci maki lift yang membawanya. Tetapi ada Tofa disampingnya, tidak mungkin buka istri atasannya memaki dan mengumpat sembarangan.


Ting ...


Pintu lift terbuka membuat Bela menghela nafas lega dan kembali buru-buru melangkah keluar lift menuju ruangan Javir.


"Diruangan ada siapa?" Tanya Bela sambil melangkahkan kaki melewati meja Nanda.


"Pak Malvin baru selesai meeting Bu, beliau sendirian didalam."


Tampa mengetyk pintu Bela membuka pintu ruangan Malvin.


Baru saja Malvin akan merebahkan tubuhnya di sofa, mendengar pintu yang tiba-tiba terbuka dia langsung mengurungkan niatnya dan menoleh kearah pintu dengan wajah siap marah.


"Pa, aku nelfon mulai tadi kenapa gak diangkat-angkat?" Sembur Bela.


Malvin mengelyarkan ponselnya dari saku celana dan terbelalak melihat jumlah panggilan dari Bela.


Kepala Malvin kembali terangkat menatap Bela yang sudah berdiri didepannya dengan kedua tangan terlipat didepan dada.


Mata Malvin melirik Tofa mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi.


Tofa mengangkat tas Danil yang dia pegang sejak tadi.


"Aku selesai rapat Beb" ucap Malvin dengan nada lelah duduk di sofa.


Bela berjalan cepat duduk tepat disamping Malvin, "bantu Javir cari Danil Pa ... Danil ilang, dia gak ada disekolahnya."


"Javir pasti bisa nemuin Danil dimana" ucap Malvin dengan santai.


"Danil gak bawa ponsel Pa, Javir pasti kesulitan cari anak itu. Kamu gimana sih jadi Akung kayang gak perduli banget sama cucu" omel Bela.


Malvin yang seakan asik memainkan ponselnya membuat Bela kesal memukul pundaknya.


"Aw ... Sakit Beb"


"PAPA!" Teriak Bela kesal.


"Ya Tuhan ... Jangan berteriak" keluh Malvin, "ini lagi minta tolong semua orang ubtuk cari tuh anak."


Bela yang tidak percaya langsung merampas ponsel Malvin dan mengecek apa benar Malvin sedang meminta bantuan semua orang atau tidak.


Dan ternyata Malvin benar-benar mengirim pesan pada beberpaa orang bawahannya, pada group Aase sahabatnya, group Raja bahkan Resa juga.


Tangan Bela melempar ponsel Malvi kearah Malvin dengan kesal.


"Beb, aku sedang mumet ya ... Jangan tambah bikin mumet."


Wajah Bela langsung cemberut, "aku tahu dia bukan cucu kendung kita. Tapi Javir, anak kita yang bertanggung atas hidup Danil Pa. Bagaimana pun Danil titipan Tuhan, meski pun dia bukan darah daging anak kita."


Terlihat Malvin menghela nafas menatap Bela pasrah, mengelus rambut Bela lembut sebelum berdiri berjalan kearah meja kerjanya.


Bela tersenyum lebar, Malvin pasti akan mencari keberadaan Danil.


^-^


Javir menatap layar ponselnya dengan kening mengerut, kepalanya kembali menoleh kesamping lalu menatap kesekitar, dia berada dipanhkalan ojek online.


"Apa Danil disini Pak?" Tanya Dian menoleh kekanan dan kekiri memastikan lokasi yang diarahkan Javir benar adanya.


"GPS yang gue pasang di jam tangannya berhenti disini" ucap Javir sambil kembali memastikan di layar ponselnya.


"Kita mulai tadi pindah-pindah tempat loh Pak, bapak yakin alat pelacak Bapak itu bener?."


Javir berdecak mendengar keraguan Dian.


Dia tidak pernah salah selama ini, terbukti dengan seberapa akuratnya dia selalu bisa menemukan Gea.


Bahkan alat itu juga salah satu alat yang Malvin pasang disetiap benda milik Keluarga Ganendra, jadi jangan diragukan lagi keakuratannya.


Javir keluar dari dalam mobil berjalan menghampiri para ojol yang sedang berkumpul dipangkalan mereka.


"Maaf Pak, apa kalian pernah melihat anak ini?" Tanya Javir menunjukkan foto Danil diponselnya.


"Gak pernah Pak" ucap salah satu diantara mereka, "hei ... Kalian pernah ada yang lihat anak ini gak?" Teriaknya pada temannya yang lain.


Beberapa orang menghampiri Javir dan mengatakan tidak pernah melihat Danil.

__ADS_1


"Bisa minta tolong untuk mengingatnya Pak, siapa tahi pernah mengantar anak ini kesuatu tempat dan membayar ongkos dengan barang seperti jam tangannya."


Javir mengatakannya dengan tatapan mengiba, agar mereka mau membantunya.


Javir yakin salah satu dari mereka ada yang memegang jam tangan milik Danil, alat pelacak itu tidak akan pernah salah.


"Saya gak pernah Pak."


"Saya seharian gak pernah dapat orderan dari anak kecil Mas."


"Kalau saya mah baru keluar Mas."


Jawaban mereka membuat kepala Javir sekamin berdenyut sakit.


Javir meraup wajahnya, mencoba kembali memastikan lokasi yang ditunjukkan alat pelacaknya untuk kesekian kalinya.


"Di jam tangannya ada alat pelacak, dan titik lokasinya disini Pak" ucap Javir dengan nada sedikit meninggi, "saya tidak butuh jam tangan itu, saya hanya butuh anak saya dimana!."


Kali ini Javir mulai lost control, menatap mereka satu persatu. "Lagi pula meski mahal, jam tangan itu tidak bisa dijual tampa sertifikatnya, yang ada anda bisa dituduh mencuri nanti."


Javir mengacak-acak rambutnya sebelum berbalik badan dan pergi dari hadapan mereka.


"Saya kembalikan jam tangan ini tapi anda harus menebusnya."


Kalimat itu menghentikan langkah Javir.


Tubuh Javir kembali berbalik, seorang pria paruh baya duduk diatas lincak bambu, Javir melihatnya sedang terlentang dengan wajah yang ditutupi jaket.


Javir melangkah lebar kearah beliau, "Saya tidak butuh jam tangan itu, saya hanya butuh anak saya."


Pria itu mengeluarkan jam tangan Danil dari saku celananya dan menjulurkannya pada Javir, "saya juga tidak butuh jam tangan itu, saya hanya butuh uang."


Dengan cepat Javir mengeluarkan dompetnya dam mengambil seluruh uang didalam dompetnya.


Hanya ada empat ratus delapan puluh dua ribu, Javir memang jarang mempunyai uang ces di dompetnya.


"Didompet saya hanya ada uang segini Pak" ucap Javir sambil menjulurkan uang ditangannya.


Pria itu mengambil uang Javir dan menyerahkan jam tangan Danil, "anak yang mempunyai jam tangan itu meminta antar ke alamat rumah yang ternyata kosong, setelah itu dia meminta saya untuk mengantarnya ke Angel cafe."


"An Angel Cafe and Resto?" Tanya Javir mencoba memastikan.


"Ya, dan sampai disana dia baru bilang tidak punya uang dan membayar saya dengan jam tangan malah itu."


^-^


Ya ... Danil di An Angel.


Duduk menatap kearah jendela seakan emnunggu kedatangan seseorang.


Meski telinganya mendemgar bisikan dari beberapa karyawan Gea yang membicarakannya, dia tetap saja diam tidak memperdulikan mereka.


"Beneran itu anak yang waktu itu?."


"Iya, itu anak yang memanggil Mas Javir Ayah"


"Dia sendirian kesini?"


"Ngapain anak itu disini?"


"Manague tahu"


"Kalau kalian gak mau diem gue aduin ke Gea" ancam Yesi yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka.


Semua bubar seketika.


Yesi berdecak melihat kelakuan pelayan An Angel yang selaku saja mempunyai bahan gosipan tiao hari.


Dengan sehelas susu coklat, Yeai berjalan menghampiri Danil dan duduk disampingnya.


"Susu coklat gak papa kan?" Tanya Yesi memastikan agar tidak terjadi kejadian seperti malam itu.


Danil mengangkat wajahnya, menatap Yesi dan menganggukkan kepalanya dengan senyum segarisnya.


"Kalau gitu silahkan diminum"


Yeai meletakkan susu coklat yanh dibawanya tepat didepan Danil.


Senyum Danil semakin terukir lebar dna meminumnya dengan perasaan senang, membuat Yesi ikut tersenyum.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Yesi.


"Sendiri" jawab Danil dengan riang.


"Hah?" Yeai ternganga mendengarnya, "kamu gak bareng Ayahmu?."


"Enggak, Ayah hak tau Danil kesini"


Semakin membulatlah mata Yesi mendengar jawaban dari Danil.


Dret ...


Ponselnya bergetar, saat dia menghidupkan layar ponselnya.


Yesi semakin terkejut tidak percaya membaca notifikasi pop up yang muncul dilayar ponselnya.


Gea \= Danil Hilang


^-^

__ADS_1


__ADS_2