
Baru saja keluar dari mobil, Dian sudah menghampiri Javir dengan langkah yang tergepoh-gepoh.
Javir yang sedang memberikan kjnci mobilnya pada valet mengerutkan keningnya.
Bahkan sampainya didepan Javir, Dian tersenyum dan menyengir lebar kesenangan. Kepala Javir langsung menoleh kekanan dan kekiri mencoba mencari alasan apa yang membuat sekretarisnya itu mendadak jemur gigi pagi-pagi.
"Bahkan mendung" gumam Javir sebelum kembali menatap Dian, "loe mau jemur gigi dimana?, matahari ketutup."
Sontak saja senyum Dia menghilang tiba-tiba, "gak gitu juga kali Pak."
Javir tersenyum simpul dan berjalan mendahulinya memasuki lobby hotel.
Javir terus melangkah menuju lift yangbakan membawanya keruangannya, tiba-tiba Dian menghadang langkahnya.
"Mau kemana Pak?" Tanya Dian.
Kening Javir mengerut mendengarnya, "keruangan saya lah" ucap Javir dengan formal dan nada malas.
Dian menghela nafas mendengarnya, "saya kan sudah bilang kalau kita ada meeting dengan penyewa ballroom hari ini."
"Masih empat pulih lima menit lagi" keluh Javir.
"Tapi Mbak Gea udah berjalan ke meeting room" ucap Dian dengan tatapan mata seakan mengikuti langkah seseorang.
Javir langsung berbalik badan.
Gea berjalan bersama dengan Yesi kearah meeting room seperti yang dikatakan Dian barusan.
"Kenapa loe gak bilang kalau bareng My An" desis Javir.
"Gue udah bilang loh pak?, gue udah ngirim loe pesan semalem."
Mata Javir melebar, menoleh pada Dian dan memelototinya.
Selama beberapa detik mata Dian mengerjab bingung dengan pelototan Javir, setelah tersadar barulah dia menyengir.
"Maaf Pak" cicitny, "saya sudah mengatakan pada Bapak didalam pesan yang saya kirom semalam."
Javir mendengus dan berjalan begitu saja, meninggalkan Dian yang menggerutu.
"Loe yang mancing ngomong pakek loe gue" gerutu Dian lirih mengekori Javir dari belakang.
Langkah kaki Javir yang lebar membuatnya pertama kali sampai didepan pintu meeting room dan membuka pintu untuk Gea sebelum perempuan itu meraih gagang pintu didepannya.
Dian yang sudah terlanjur kesal mencibir melihat kelakuan Javir.
Gea memilih duduk dideretan kursi bagian kanan, Javir akan membuntutinya tetapi Dian malah menarik lengan Javir dan memaksanya duduk diujung meja.
Javir menatap pergelangan tangannya, masih kurang setengah jam untul memulai meeting.
"Apa kita masih menunggu seseorang?" Tanya Javir sambil melirik Yesi dan Dian mencoba memberi isyarat agar mereka keluar.
"Ya" jawab Gea tampa menoleh kearahnya, "klien kami akan ikut."
Dian dan Yeai yang tidak mengerti isyarat Javir langsung duduk tidak memperdulikan Javir yang mendengus kesal.
Tangan Javir saling bertautan mencoba rilex sejenak, "sudah memutuskan bagaimana hububgan kita selanjutnya?" Tanya Javir perlahan menatap Gea dengan tatapan dalam.
Yesi melirik Gea, sedangkan Dia yang baru sadar apa isyarat Javir tadi langsung merasa serba salah berada diruangan itu.
"Kalau gue bilang enggak, apa loe beneran mau pergi?" Gea malah balik beetanya setelah diam beberapa detik.
Javir tersenyum getir dan mengangguk dengan pasti, "ya" jawab Javir tegas
Kepala Gea langsung terangkat dan menatap Javir, sehingga mata mereka saling bertautan.
"Loe akan pergi selamanya?."
Senyum Javir semakin terukir lebar, meski dadanya serasa sesak. "Yap" ucapnya sambil menahan nafas, "selamanya."
"Seriusly?."
Kepala Javir mengangguk berkali-kali, "ya ... Selamanya, dan gue akan menginjakkan kaki didepan loe kalau loe udah nikah."
Suasana dalam ruang meeting itu serasa tidak ada makhluk hidup, semua menahan nafas beberapa detik, tidak terkecuali Dian dan Yesi yang berada disekitat mereka.
Krek ...
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, seseorang berkemeja biru masuk dan menatap kesegala arah.
"Apa saya datang terlambat?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tidak Pak Sebastian kita baru akan mulai" jawab Yesi.
Tautan mata Gea dan Javir terputus.
Raut wajah Gea langsung saja berubah cerah, tersenyum lebar dan berdiri menyambut Sebartian dengan tangan terulur.
"Sela ..."
"Oh my God ... Akhirnya gue ketemu loe"
Bukan membalas uluran tangan Gea, Sebastian langsung memeluk Gea dengan senyum lebarnya.
Meski hanya melihat dari ekor matanya, Javir mengepalakan tangan menahan diri untuk tetap tenang ditempatnya.
Meeting mereka dimulai setelah Sebastian duduk disamping Gea dan Tesi memilih duduk disebrang disamping Dian.
Terdapat perdebatan antara Javir dan Gea sejenak sehingga Dian berderham untuk memecahkan suasana.
Javir membuang muka, menatap Dian seketika. "Panggilkan manager Oprasional, karena dia yang akan mengatasi semuanya."
"Kenapa harus dengan manager oprasio ..."
"Karena bagian Oprational adalah penanggung jawaban ballroom hotel kami" potong Javir, "saya hanya me ...."
Dret ...
Ponsel Javir yang berada diatas meja bergetar.
Nama Bee Bilqis
Muncul dilayar ponselnya.
Javir melirik Gea yang ternuata juga melihat kearah layar ponselnya yang tidak Javir hiraukan hingga layar ponselnya kembali mati.
"Baik ki ..."
Dret ...
Lagi-lagi ponsel Javir bergetar.
Javir membalik ponselnya karena mulai merasa terganggu dengan telephone Bilqis ditengah-tengah rapat dan disaat moodnya sedang hancur.
Dret ...
Ponsel itu kembali bergetar.
Tangan Javir terulur hendak meraih ponselnya, namun lebih cepat tangan Gea yang meraih ponsel Javir dan menerima panggilan Bilqis dengan menload speakernya.
Mata mereka kembali saling bertautan menatap dnegan tatapan dingin.
"Abang Je kemana sih?, Bi mulai tadi nel ..."
"Bi bilang aja kalau Danil sesak, jangan marah-marah dulu" terdengar teguran kencang dari Chaka.
Javir langsung berdiri dari duduknya denhan wajah penuh ke khawatiran, tatapannya menatap Gea tajam kembali mengingat apa yang terjadi terakhir kali di An Angel.
"Bagaimana kondosinya?" tanya Gea mencoba tetap tenang.
"Bi ikut nemenin Danil dimobil Pak Guru mau ke rumah sakit Abang Ar."
Jari Javir memutus panggilan dari Bilqis dan menatap Dian dengan wajah yang masih penuhi perasaan khawatirnya.
"Lanjutkan rapat dengan manager oprational."
Tampa babibu lagi Javir berjalan keluar ruangan meeting dengan terburu-buru.
Tangannya mencari nama Ar di kontak ponselnya dan menghubungi Regan sambol terus berjalan tetapi tidak Regan angkat.
Sampai didepan mobil, valet belum juga sampai membawa mobilnya, sehingga Javir semakin panik hampir berlari ke basement namun terhenti saat mobil Gea berhenti disampingnya dan Gea membuka pintu penumpang.
"Masuk" pintak Gea, "loe gak mungkin fokus nyetir sendiri."
^-^
Kepala Regannbergerak kekanan dan kekiri meregangkan otot leher setelah melakukan operasi selama tiga jam.
Dia berjalan dnegan Mela disampingnya yang baru saja menemaninya melakukan operasi, dengan kedua tangan memegang minuman untuk mereka berdua.
Seperti biasa, setelah melakukan operasi Regan akan kehalaman rumahbsakit untuk menghirup udara sedar.
Drek ...
__ADS_1
Bunyi roda kasur pasien terdengar.
Beberapa perawat dan dokter berdiri didepan ruangan UGD, bersiap menunggu pasien yang akan datang seperti biasa.
Regan dan Mela saling tatap dan menghela nafas sebelum melangkahkan kaki mereka menghampiri dokter dan perawat itu.
Mobil pribadi berhenti didepan mereka, saat pintu penumpang terbuka yang pertama kali keluar adalah Bilqis membiat Regan tampa pikir panjang berlari kearahnya.
"Bi" panggil Regan dnegan wajah penuh kekhawatiran.
"Abang Ar" seru Bilqis berlari kecil menghampiri Regan, "bantu Danil dia gak bisa napas."
Fokus Regan seakan teralih seketika, dia berdiri, berbalik menepuk pundak Mela sebwlum berlari kencang menyuaul dokter dan perawat yang membawa Danil kedalam UGD.
Mela yang paham dengan perintah Regan tampa Regan mengucapkannya langaung menghampiri Bilqis dan menghadang langkah anaknitu yang hendak berlari mengejar Regan.
"Bi disini sama Kak Mel" cegah Mela, "itu perintah Bang Ar."
"Bang Ar gak ngonong apapun brusan" bantah Bilqis.
"Bi jangan banyak omong anak kecil gak boleh masuk kesana."
Mulut Bilqis langsung mengerucut mendengar perkataan tegas dari Mela.
Sedangkan Mela tertawa kecil dan menjulurkan salah satu minuman yang dia pegang sejak tadi, berbicara dengan Bilqis memang butuh ketegasan.
^-^
"Bagaimana dia?" Tanya Javir dnehan nada khawatir.
Regan tersenyum kecil menenangkan Javir, "apa anak loe begitu bandel makan permen strowberi sedangkan dia sudah tahu kalau dia sendiri alergi itu?."
"Berhenti mengoceh Ar" desis Javir tidak sabaran, "jawab dulu pertanyaan gue Danil baik-baik aja enggak!" Ucap Javir dengan nada sedikit membentak.
"Dia baik-baik aja" ucap Regan santai, "mendingan loe boleh masuk dan nemenin dia."
Tampa disuruh dua kali, Javir langaung melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Danil.
Meski dia tahu Gea sejak tadi berdiri disampingnya, tampa mengatakan apapun padanya Javir langsung masuk.
Gea hanya menatap Javir dari kaca pembatas, teringat jelas bagaimana wajah khawatir Javir tadi, bahkan didalam ruangan itu wajah Javir terlihat lega saat melihat Danil membuka mata dan menoleh padanya.
Jika Gea memperhatikan Javir, maka Rwgan yang memperhatikan mereka berdua secara bergantian.
Regan melangkahkan kakinya menghampiri Gea dan berdiri tepat disamping perempuan itu.
"Apa loe liat lingkaran hitam dibawah mata Je?" Tanya Regan
"Hem" jawab Gea hanya dnegan derhaman.
"Kalau begitu apa loe gak bisa memutuskan kelanjutan hubungan kalian secepatnya?."
Pertanya Rehan kali ini terdengan dingin hingga Gea menoleh padanya.
Tatapan mata Regan menajam pada Gea, "dia terlihat lelah karena memikirkan pekerjaan, Danil dan hubungan kalian. Apa loe gak kasihan?, loe boleh marah tapi gue saranin secepatnya kasih keputusan yang jelas."
"Apa loe pikir gu ..."
"I Know" potong Regan, "gue tahu semua keputusan yang loe pilih pasti memberatkan loe apapun itu. Tapi jangan lupa, begitu juga dengan Je. Apa kalian pikir kita para pria tidak merasakan sakit juga?, kita juga manusia and we fell it too." Regan memutuskan tautan mata mereka dan menatap Javir, "jangan ambil susah ... biarkan aja dia pergi."
Gea tertegun mendengar perkataan Regan barusan, tangannya mengepal kuat.
Regan kembali menoleh padanya dan tersenyum lebar, "dia pergi maka cinta loe akan pergi. Loe bisa cari yang baru begitupun juga dia, maka selesai cerita. Tamat."
Sangat santai Regan mengatakannya.
Bahkan tampa rasa bersalah dia melangkah pergi dari sana dengan bersiul-siul santai membuat Gea semakin geram.
^-^
.
...Author kebingungan bagaimana meramaikan nih cerita 😅...
...Banyak yang baca tapi yang ngelike👍dikit apa lagi yang komen💬 hampir gak ada🫠...
...BTW Thanks udah mampir 🥰...
Love You😘
Unik Muaaa
__ADS_1