Watching You

Watching You
Mengkonfirmasi


__ADS_3

Sejak tadi Malvin berada didepan sebuah sekolah dasar, menatap kearah gerbang sekolah menunggu anak laki-laki dilayar ponselnya muncul.


Ya ... Malvin ingin melihat Danie secara langsung.


Ting ... ting ...


Bel sekolah berbunyi nyaring.


Terlihat beberapa anak keluar dari dalam sekolah.


Beberapa diantara mereka menghampiri para pedagang kaki lima yang berjejer didepan sekolah mereka, beberapa orang yang lainnya langsung pulang dengan orang tua yang menjemputnya atau berjalan bersama teman mereka.


Tatapan mata Malvin tertuju pada sosok anak laki-laki yang dia cari, Danil berjalan sendiri dengan tatapan lesunya seorang diri melewati Malvin.


Malvin menoleh kekanan dan kiri mencari keberadaan Liza tetapi tidak ada disana, Danil berhenti di depan salah satu penjual telur gulung, menatap sejenak sebelum kembali melangkahkan kaki.


"Apa dia tidak mempunyai uang?" Gumam Malvin.


"Dia memang tidak mempunyai uang Om"


Malvin tersentak seketika, beberapa anak berdiri disampingnya menatap kearah Danil.


Kening Malvin mengerut menatap mereka tidak suka.


"Tapi liat saja tingkahnya seperti orang kaya"


"Pakai gel rambut"


"Pasti dia mencuri."


Malvin berdecak tidak suka dan memilih pergi dari sana tampa memperdulikan mereka.


Dia tidak percaya jika anak itu adalah cucunya, tidak mungkin Javir memiliki anak yang berusia delapan sembilan tahun, yang benar saja.


^-^


Javir kembali bekerja seperti biasa, mencoba terlihat tidak mempunyai masalah apapun, meski sebenarnya dia dan Malvin bekerja sama untuk memecahkan persoalan Danil.


Jam sudah menunjukkan jam setengah empat, Liza sebentar lagi pasti pulang dan dia harus secepatnya mengkonfirmasi siapa Daniel sebenarnya.


"Mau kemana Pak?" Tanya Dian.


Padahal baru saja Javir melangkahkan kakinya kekuar dari ruangannya, Dia sudah menanyainya.


Javir berbalik badan dan menatap tajam pada Dian, "apa Gea meminta loe untuk ngelapor?."


"Iya Pak" jawab Dian terang-terabgan.


Sontak saja Javir melongo mendengarnya, "bilang saja mau menemui Pak Malvin" ucap Javir sekenanya.


"Beneran Pak?"


Javir berdecak kesal dan melangkah pergi begitu saja.


Mengetahui Gea mengkhawatirkannya dia sangat bahagia, tetapi kenapa malah mengutus Dian melapor segala.


Dian salah satu orang terkepo disekitarnya selain ketiga temannya itu.


Baru masuk mobil, ponsel Javir berdenting. Dia pikir Gea yang mebgirim pesan padanya, ternyata malah Malvin yang mensherelok dan mengirim pesan padanya.


PaMav : temui Papa di tempat itu


Gagal sudah dia mau bertemu dengan Liza.


^-^

__ADS_1


Liza memasuki caffe yang biasa dia dan teman sekantornya datangi setiap kali oulang kantor.


Segelas kopi dan bercengkrama dengan mereka sebelum pulang setidaknya membantunya agar tidak membawa kemumetan otaknya pulang.


"Apa anda Eliza Husna?"


Liza menoleh kesamping, karena merasa orang itu bertanya padanya, terlebih suara itu cukup dekat dengannya yang akan duduk bersama -teman-temannya.


Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri didekatnya, debgan kaca mata hitam.


"Ya benar saya Eliza Husana, ada apa ya Pak?" Liza melirik kedua temannya.


"Saya Malvin Papa Javie, bisa bicara sebentar?"


Mata Liza langaung membulat seketika kala pria didepannya itu mengatakan jika dia Papa Javir.


Cepat-cepat Liza mengambil tas dan kopinya di meja, "sory ya gak bisa nimbrung" ucap Liza pada teman-temannya.


Orang-orang dikantor tidak tahu jika dia mempunyai anak, jadi setelah mengetahui Malvin dadalah Papa Javir dan pasti akan membicarakan Danil, Liza memilih untuk menjauh dari meja teman-temannya.


Liza memilih duduk didekat kaca pojok caffe, Malvin duduk didepannya menghadap padanya.


Liza yakin jika dibalik kaca mata hitam itu, Malvin sedang menatapnya, sehingga Liza menjadi gelagapan sendiri.


"Jika boleh tahu ada perlu apa pak?" Tanya Liza secara langsung.


"Saya rasa kamu bisa menebak apa keperluan saya" jawab Malvin datar, "tetapi saya masih menunggu seseorang."


Malvin membuang muka menatap keluar.


Dari cara Malvin duduk Liza bisa memastikan jika Malvin memang Papa Javir.


Tiga tahun mengenal Javir di organisasi kampus dan selalu melihatnya memimpin rapat organi sasi yang duduk didepan para anggota, membuat Liza hafal betul bagaimana Javir duduk.


^-^


Jangan tanya dari mana Javir tahu Liza bekerja dimana, bagi seorang hecker itu perkara yang cukup muda.


Langkah kaki Javir berhenti sejenak kala melihat Malvin dan Liza duduk berhadapan.


Sepertinya apa yang gue pikir kan sama dengan apa yang PaMav pikirkan, batinnya.


Javir kembali melangkahkan kakinya mendekati mereka.


"Selamat siang semuanya" sapa Malvin sebelum duduk disamping Malvin.


Liza menatap Malvin dan Javir bergantian dengan sorot mata yang kebingungan.


"Sebenarnya gue mau ketemu loe hari ini, tetapi Papa gue minta gue dateng kesini tampa gue tahu ada loe" jelas Javir


"Apa mau kalian?" Tanya Liza dengan suara mendesis seakan menahan amarahnya.


Javir tersenyum segaris, "santai aja ... Kita kesini hanya mau mengkonfirmasi sesuatu kok."


"Mengkonfirmasi apa lagi?" Tanya Liza berang, "Kalau loe emang gak percaya dia anak loe ya udah, lagian gue gak minta pertanggung jawaban dari loe kok."


"Saya tidak pernah mengajarinya untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat" sanggah Malvin.


"Tapi saya memang tidak membutuhkan tanggung jawabnya Om" tekan Liza, "meski saya kesulitan membesarkan anak itu, saya tidak pernah mengharap anak anda untuk tanggung jawab."


"Apa alasan kamu berkata seperti itu?" Tanya Malvin penuh tekanan.


Javir melirik Malvin dari samping, terlihat jelas jika Papanya menahan amarah kali ini.


Begitupun dengan Liza yang menatap tajam dengan mata memerah pada Malvin.

__ADS_1


"Karena saat kami melakukannya kami sama-sama mabuk dan dia sudah pergi saat saya sadar, jika dia ingatpun dia tidak akan bertanggung jawab" Liza menghentikan kalimatnya sejenak beralih menatap Javi tajam. "Karena kalian orang berada berbeda sengan saya yang memang dari kampung."


Javir terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Liza. "Gue aja gak pernah ingat kapan gue mabuk, apa loe gak salah liat?" Tanya Javir, "gue hanya sa ..."


"See!" Seru Liza memotong ucapan Javir, kembali menatap Malvin dengan tatapan berangnya, "benar bukan dia malah meragukan penglihatan saya dan sok tidak ingat jika dia mabuk malam itu." Liza menatap Javir lagi, "kira-kira seminggu setelah kelulusan angkatan loe kita mabak-mabukan di tempat Yoga, loe maaih belum ingat?."


Kali ini bukan hanya Liza yang emnatapnya, tetapi Malvin juga.


"Pa, Je mabuk hanya satu kali itupun di luar negeri saat tahu alasan An membatalkan pertuangan. Saat itupun Kavur masih sadar, gak sampai hklang akal." Javir mencoba untuk meyakinkan Malvin, "Papa tahu setiap kelakuan Je, Je tidak mungkin mabuk-mabukan."


"Papa tidak tahu" ucap Malvin, "karena satu minggu setelah kamu wisudah itu berarti setelah Gea membatalkan pertunangan kalian dan kamu mematikan semua sistem Papa."


Javir mencengkram rambutnya.


Dia tidak mempunyai alibi yang dapat meyakinkan Malvin.


^-^


Selesai mandi Gea turun dari lantai tiga bersama Yeai yang juga menginap di An Angel.


Dia mulai membantu membuka Caffe, mengelap meja dan mengelap kaca Caffe bersama beberapa karyawannya dan Yesi yang ikut membantu.


"Kalau di rumah mah gue pagi-pagi tidur" gerutu Yesi.


Gea tertawa kecil, dia memang sengaja membangunkan Yesi pagi-pagi dan memintanya ikut membantu bersiap-siap membuka Caffe sebagai imbalan dia menginap di An Angel tampa bayar.


"Dari pada low tidur dihotel ngeluarin uang, mendingan bantu gue beres-beres."


Mulut Yesi langsung manyun.


Gea tertawa kecil melihatnya.


"Permisi"


Mereka berdua menghentikan pekerjaan mereka mengelap kaca, berbalik menghadap sumber suara yang menyapa.


Gea dan Yesi saling lirik, seorang anak kecil dengan wajah lebam dan luka disudut bibirnya berdiri didepan mereka.


"Apa Ayah disini?"


Kening Gea mengerut mendengarnya.


"Ayah siapa?" Tanyanya sambil berjalan menghampiri anak itu dan berjongkok didepannya.


Anak itu membuka tasnya dan mengeluarkan foto, "Lupa nama Ayah siapa, tapi beberapa video yang Danil lihat Papa sering ke tempat ini."


Gea mengambil selembar foto yang julurkan anak itu dan terdiam ditempatnya.


"Bang Je" ucap Yesi dengan suara tercekat.


"Bukan" bantah Anak itu.


Gea tersenyum segaris menatap anak itu, "Kalau pria di foto ini namanya Javir, apa ka ..."


"Ya" potong Anak itu dengan mata berbinarnya, "apa Ayah Javir disini?, bilang saja Danil mau bertemu."


Senyum Gea menghilang seketika.


Ya ...


Yang berdiri didepannya adalah Danil yang sedang mencari Javir.


"Telepon Javir pakai hp gue, bilang jika anaknya Danil disini" ucap Gea melirik Yesi.


Gea berdiri, menyeka rambutnya, mendongak menatap kearah langit sebelum kembali tersenyum menatap Danil yang masuh berdiri ditempatnya.

__ADS_1


Tangan Gea terulur pada Danil meski sebenarnya engkan, "ayo ikut biar kakak obati luka kamu dulu sebelum bertemu Ayah" ucalnya dnegan senyum lebar.


^-^


__ADS_2