Watching You

Watching You
Baik-Baik


__ADS_3

Gea berdiri tidak jauh dari Belda dan Regan.


Saat menoleh kesamping dia sudah menemukan Aslan disamping kanannya, dan dikirinya ... Javir menatapnya dengan senyum mengembang.


"Sudah gue bilang bukan, mereka pasti menemukan kita" seru Gea.


Belda menoleh pada Gea yang berdiri tidak jauh darinya, menatap kearah Jabir dan Aslan yang berdiri mengapit Gea.


"Mereka siapa?" Tanya Belda.


Gea menunjuk Javir dengan wajah malas, "dia Javir otak ASG dan itu Alaric teman gue dan Aslan."


Kali ini Belda menoleh pada Regan. "Apa kalian datang bersama?" Tanya Belda dengan kening mengerut.


"Tidak"jawab Regan tegas, "kami bertemu dipintu masuk."


Bohong ...


Gea sangat yakin jika apa yang dikatakan Regan pasti bohong, siapa yang tidak mengenal mereka berempat yang selalu bersama?.


Belda melangkah mundur dan berdiri dibelakang Regan.


"Kalau hari ini gue gak dateng dan lihat dengan mata kepala gue sendiri, gue gak yakin Quela Belda dan DJ Quin Bee adalah orang yang sama" ucap Aslan tersenyum miring menatap Belda.


Gea menyikut lengan Aslan sebeljm berjalan menghampiri Belda. "Loe kan udah perfome, loe bisa ganti bajubpakek baju gue. Minta aja sama Yesi, masih ada yang ingin gue bicarakan sama mereka."


Belda mengangguk dan berlari menjauh dari mereka tampa pikir panjang lagi.


Gea menghada Regan menatapnya dengan tatapan tajam, "bisa pergi?, gue mau bicara sama dia."


"Kenapa harus pergi?, sepenting apa ..."


Kepala Gea menoleh pada Aslan dan menatapnya tajam membiat Aslan berhenti meneruskan kalimatnya.


Lalu beralih pada Javir, "terutama loe."


Kening Javir mengerut mendengarnya, "gue kenapa emang?, kalau gue gak mau kenapa?."


Gea memuta bola matanya malas untjk berdebat dengan Javir, dan kembali menatap Regan yang masih berdiri didepannya.


"Kenapa loe bawa dia?" Tanya Gea to the poin.


Regan mengerutkan kening tidak mengerti.


"Gue rasa loe cukup pintar untuk mencari keberadaan gue tampa minta bantuan dia."


Mulai mengerti. Regan melirik pada Javir sejenak. Ternyata Javir yang paham siapa yang Gea maksud sedang menatap kearah Gea.


Aslan dan Alaric perlahan mundur menjauh.


"KENAPA LOE MEMBAWA DIA Ar!"


Teriakan Gea yang menggelegar kembali menarik perhatian Regan.


Bahkan Aslan dan Alaric yanv mulai melangkah pergi menghentikan langkah mereka dan lembali menatap kearah Gea.


Wajah dan mata Gea merah, dadanya naik turun terlihat sedang menahan amarahnya.


Sedangkan ditempatnya berdiri, Javir disana tertegun mendengarnya. Matanya membola menatap Gea tidak percaya jika Gea berteriak marah pada Regan.


Regan memilih diam menatap Gea dengan tenang.


Buk ... buk .... buk ...


Gea memukul dada Regan, tetapi Regan tetap diam, tidak beranjak pergi atau berniat menghentikan pukulan Gea.


Javir melangkah lebar, menarik tangan Gea untuk menghentikan wanita itu memukul Regan, menyentuh kedua pundak Gea dan memaksanya untuk menatap Javir.


"Hentikan Gea!" Bentak Javir.


Gea berhenti berusaha melepaskan diri dari Javir, menatap Javir tajam, mendorong Javir menjauh.


Kening Javir mengerut, menatap Gea dengan tatapan tidak mengerti.

__ADS_1


Kenapa Gea marah sampai sebesar sekarang dia tidak tahu, benar-benar tidak tahu.


"Kenapa?" Javir akhirya memberanika diri untik bertanya.


Tatapan mata Gea semakin menatap Jabir dengan tatapan nyalang.


"Kenapa kalau gue ikut?, gue hanya mengkhawatirkan loe sama kayak As dan Ar, apa salahnya?."


"Salah!" Bentak Gea menggelegar, "bahkan saat loe bernafas di ruangan yang sama dengan gue pun loe juga salah!" Raungnya. "Gue gak putuh rasa khawatir dari loe, gue gak butuh rasa kasihan loe, gue gak butuh semuanya bahkan apapun dari loe, PAHAM!."


Sangat amat cepat, tangan Gea bergerak menarik gelang yang emlingakr ditanga kanannya dan menarik kalung yang dia kenakan lalu melempar tedada Javir sebelum pergi dari sana.


Javir yang tidak mengerti hanya terdiam terdiam, memungut kalung dan gelang yang jatuh diatas pasir, menatapnya sejenak lalu mendongak menatap kearah Gea pergi.


"Leher atau tangannya pasti luka" ucap Javir menatap Aslan.


Aslan menghela nafas kesal, "kalian kenapa sih?, emangnya apa yang loe lakuin kali ini?, bukannya kalian udah baik-baik aja?."


"Kalau loe nanya kegue, gue mau tanya kesiapa?, karena Gea gak mungkin jawab kalu gue yang nanya" ucap Javir dengan senyum sarkasmenya.


Aslan hendak pergi menyusul Gea, tetapi Regan lebih dulu melangkah mendahuluinya.


"Biar gue yang ngomong sama dia, karena dia nyalain gue, udah bawa Je kesini" ucap Regan sambil melanhkah pergi.


"Kalau sama loe yang ada nanti malah tengkar" ucap Aslan menyusul Regan.


Tinggal Javir yang terdiam menatap mereka berdua, sedangkan Alaric malah menghembuskan nafas menatap Javir.


"Dia sepertinya benar-benar marah" ucap Alaric membuat Javir menoleh padanya, "loe gak ngomong apa-apa lagi kan?."


Javir diam tisak menjawab apapun.


Semua baik-baik saja saat terakhir mereka bertemu, mereka berbicara seperti biasa hingga jam dua belas malam Javir mengucapkan selamat ulang tahun dan pamit pulang.


"Dia gak lagi tarik ulur kan?."


"Sepertinya gak gitu" bantah Alaric, "she is really mad of you."


^-^


Dia benar-benar lost control kali ini.


Gara meletakkan gelas kosong ditangannya dan kembali hendak menhambil minuman yang lain namun seseorang mencekal tangannya dan merebut gelas ditangannya.


Tangan Regan mencekal pergelangan tangan Gea herat hingga Gea meringis, mencium gelas ditangannya sebelum embgembalikannya pada Gea.


"Sirup" ucapnya, "habiskan sampai kembung juga gak papa."


Dan semakin kesallah Gea, meletakkan gelas yang dia pegang, menatap Regan dengan berkacak pinggang.


"Tuh kan gue bilang juga apa" ucap Aslan menarik Gea menjauhi Regan dan berdiri ditengah-tengah mereka.


Tampa banyak bicara, Aslan mengecek tangan Gea, memastikan dimana luka Gea, tidak menghiraukan Gea yang sedang beradu mulut dengan Regan.


Seorang pelayan perempuan berjalan hendak melewati mereka bertiga.


"Maaf mbak" panggil Aslan.


Pelayan itu berhenti dan menatap Aslan dengan senyum sopan, "ada yang bisa saya bantu."


"Bisa minta karet gelang sama obat merah gak?, saudara saya luka."


"Baik mas sebentar"


Pelayan itu pergi dari hadapan mereka, Gea dan Regan masih saja adu mulut.


Kesal, Aslan berbalik padan dan menjitak kening Regan. "Loe kesini mau nenangin dia, ini malah ngajak dia adu mulut" omel Aslan.


Regan berdecak malas.


Aslan menarik Gea menuju kursi panjang yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Gea duduk ditengah-tengan antara Aslan dan Regan.

__ADS_1


"Kita gak tahu loe kenapa marah-marah kayak barusan" ucap Aslan, sambil menerima kotak p2k dari pelayan tadi dan menyerahkannya pada Regan. "Tapi gak baik cewek teriak begitu" Aslan memutar tubuh Gea menghadap Regan dan mengikat rambutnya cepol.


"Kalau ada masalah ngomongnya baik-baik" kali ino Giloran Regan yang menasehati.


Mulut Gea malah manyun pada Regan.


Kesal Regan menjitak kening Gea.


"Ih ... Ar ..." keluh Gea.


Sebelum mereka kembali bertengkar, Aslan membalik tubuh Gea agar menghadapnya, dan Reban bisa mengobati luka dileher bagian belakang.


"Apa Je melakukan kesalahan lagi?" Tanya Aslan.


Kepala Gea menggeleng dengan mata melirik kelain arah tidak membalas tatapan mata Aslan.


"Jangan bohong, mata kamu merah tuh, mau nagis ya?."


"Enggak kok" bantah Gea sambil mengangkat dagunya.


Dengan pelan Regan menundukkan kepala Gea, karena dia kesusahan mengobati lehernya.


"An" panggil Aslan lembut, "it's ok cerita aja. Antara kamu dan Je tidak baik-baik saja bukan, kita gak akan marah juga sama Je, karena itu utusan kalian, tapi kalau dia main fisik baru ki ..."


"Huwaaa ..."


Tangis Gea tiba-tiba pecah, memebuat Aslan dan Regan tercengang saling tatap. Regan mengangkat bahunya karena benar-benar tidak mengerti kenapa Gea menangis.


Gea berbalik badan menghadap Regan, memukul pundak Regan keras. "Sakit ... perih tahu ... pelan dong ..."


Regan tercengang, menantap kapas ditangannya yang masih bersi dan Gea secara bergantian.


Plak ...


Tangan kiri Regan menjitak kening Gea hingga Gea hampir terjungkal, "belum juga gue ngapa-ngapain" omel Regan.


"Huwaaa ..."


Tangis Gea semakin pecah, berbalik badan kembali menghadap Aslan dan menangis sambil memeluk Aslan.


Mereka berdua hanya bisa pasrah saja, Gea tidak akan bercerita jika menangis begini. Tetapi jika tenang, dia akan bercerita sendiri pada mereka atau pada Bunda Ara nantinya.


"Kenapa didunia ini tidak ada pria yang baik seperti Ayah?" Tanya Gea disela-sela tangisnya.


"Pasti ada, nanti gue cariin dan sisain satu buat loe" celetuk Regan.


Mata Aslan pangsung memelototinya.


Tangis Gea semakin menjadi gara-gara ucapan Regan barusan membuat Aslan menomeli Regan tampa suara.


"Loe gak mungkin menuin pria kayak Ayah, kalau loe menutup diri dari ssmua orang dan melihara nama Javir Erlangga dihati loe" ucap Aslan.


Gea melepaskan pelukannya, menatap Aslan dengan wajah garang. "kata siapa diahati gue ada dia?, gak ada ... Udah gak ada sama sekali."


"Bo'ong ... Buktinya loe jomblo sampek sekarang" celetuk Regan.


Gea berdiri menatap Regan dengan tajam. "Apa loe perlu bukti?" Tantang Gea.


"Mau buktiin bagaimana loe?"


"Gue akan pacatan sekarang juga"


"Sana gih, emangnya ada yang mau sama loe?."


Gea tersenyum sarkasme sebelum berbalik badan dan berjalan menuju beberapa kerumunan orang yang sedang berkumpul.


Langkah Gea terhenti dekat Faris yang sedang asik berbicara dengan yang lainnya.


Menarik nafas sejenak sebelum ...


"Hei Faris ... loe kan suka gue, gimana kalau kita pacaran"


Dalam satunkali tarikan nafas, dan semua orang terbengong mendengar apa yang dikatakan Gea barusan.

__ADS_1


Tak terkecuali Javir yang baru saja melangkahkan kaki memasuki area pesta Gea.


^-^


__ADS_2