Watching You

Watching You
Bersalah


__ADS_3

Suasana pernikahan yang meriah menghilangkan semua permasalahan yang terjadi dalam hidup mereka semua.


Javir sejak tafi menggenggam tangan Gea erat tampa mau melepasnya. Kemanapun dia akan mengikuti Gea, terkadang membuat Gea mengomel karena dia susah untuk bekerja dan mengatur karyawannya.


"Ini pesta pernikahan saudara loe, bisa diem dan pasrahin aja semua sama karyawan loe gak sih?"


Meski Javir mengatakan itu berulang kali Gea tetap saja tidak bisa melepas semua pekerjaan pada karyawannya, hingga akhirnya Aslan yang lainnya harus ikut turun tangan menjauhkan Gea dari segala pekerjaan EOnya daripada berakhir dengan pertengkaran mereka berdua diacara pernikahan Regan.


Dan pada akhirnya dari pertengahan acara hingga selesai, Gea dan Javir malah main diem-dieman meski tangan mereka berdua terus saja bertautan.


"Tunggu sebentar sus, saya cari tempat yang sepi disini bising"


Resa berjalan melewatinya dengan langkah terburu-buru sambil mengangkat telepone.


Perlahan genggaman tangan Javir mengendur, Gea yang merasakannya menoleh pada Javir yang sedang menatap kearah Resa.


"Resa kenapa?" Tanya Gea.


Javir menoleh pada Gea dan tersenyum segaris, "gue nyusul Resa bentar ya" ucap Javir berlari pekic menyusul Resa.


Tidak jauh dari ballroon.


Terlihat Resa mondar mandir dengan wajah panik berbicara dengan orang yang sednag menelfonnya.


Pasti ada sesuatu


Seketika Javir ingatbpada Pak Lutfi yang sedang dirawat dirumah sakit milik Regan.


Perlahan dia melangkahkan kakinya mendekati Resa dengan tenang.


Resa yang masih saja panik hampir saja menabrak Jabir yanh sudah berdiri tepat didepannya menatap kearahbya dengan tajam.


Seketika Resa menutup panggilan teleponnya dan memasukkan ponselnya kedalam tas jinjing yang dia pegang.


"Hai Bang" sapanya dengan kikuk.


"Siapa yang sakit?" Tanya Javir datar.


Terlihat Resa gelagapan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap kelain arah menghindar dari tatapan Javir.


"Em ... Itu pasien yang dibawah pengawasan Resa tiba-tiba drop" ucap Resa gugup.


"Kalau kamu mau ke rumah sakit sekarang gak papa kok"


"Beneran?" Tanya Resa langsungbmenatap Javir tidak percaya.


Javir tersenyum kecil, "ya" ucap Javir sambil berbalik pergi.


Pak Lutfi mengakui Resa sebagai cucunya, dia tidak mengakui Javir, jadi biarkan saja Resa menemui Pak Lutfi.


Langkah Javir terhenti kala melihat Malvin daei kejauhan.


Bagaimanapun juga Papa adalah anak dia, dia hanya tidak mau menerima Je.


Perasaan bersalab menyeruak seketika.


Javir menghela nafas beberapa kalai sebelum melangkah mendekati Malvin, tampa banyak bicara meraih pergelangan tangan Malvin dan menariknya pergi dari kolegan Malvin.


"Je kamu apa-apaan?" Tanya Malvin dnegan suara mendesisi.


"Antar Je kerumah sakit, kepala Je sakit" ucap Javir sekenanya.


^-^


Seorang wanita paruh bawa turun dari pesawat terbang bersama seorang gadis muda yang berdiri disampingnya.


Mata mereka menatap kesegala penjuru arah.


Tangan wanita itu membuka zipper jaketnya membiarkan udara malam menyentuh kulit pucatnya.


"Hot night air" keluh gadis itu.


Wanita paruh baya itu tertawa kecil mendengar keluhan putrinya.


"Hello Mrs Wollter, I'm Dio, ready to guide you while in Indonesia."


"Hello Dio, call me Liana and she is my daughter Nichole, nice to meet you."


Mereka bertiga saling berjabat tangan setelah mengetahui nama satu sama lain.


Liana diam-diam menghela nafas mencoba untuk tidak terlihat sangat bahagia didepan putrinya yang sejak tadi menatap kearahnya.


^-^


"Kamu sebenarnya mau ngapain kesini?" Tanya Malvin.


Javir hanya tersenyum dan terus diam menatap kearah angka lift yang terus berubah sejak tadi.


Ingin rasanya dia cepat-cepat sampai kelantai tempat Pak Litfi dirawat agar menghantikan Malvin yang terus saja bertanya dan mengomel sejak tadi.

__ADS_1


Ting ...


Tampa banyak bicara Javir menarik tangan Malvin keluar dari lift dna berjalan dengan langkah lebar.


"Kalau kamu tetep diam Papa jitak kepalamu" ancam Malvin kesal.


Javir tetap saja diam.


Langkah Javir perlahan melambat saat melihat beberapa orang perawat dan dokter keluar dari ruang rawat Pak Lutfi.


Dan saat kurang selangkah lagi mereka berdiri didepan ruang rawat Pak Litfi, langkah kaki Javir benar-benar terhenti dan memaku di tempatnya bediri.


"Kamu tiba-tiba jalan min nyeret ini malah lang ..."


Seakan tahu jika Malvin sudah membaca nama pasien yang tertulis disamping pintu ruang rawat didepan mereka, tangan Javir melepas genggamannya pada pergelangan tangan Malvin.


Perlahan Javir berbalik badan mengahdap Malvin yang masih menatap kearah nama pasien didepannya.


"Resa didalam" ucap Javir lirih, "beliau sakit sudah cukup lama. Dan ... Resa didalem ... Dia ..."


Kalimat Javir terpotong-potong, semua blank seketika, dia bingung mau berbicara dari amna dan apa yang ingin dia bicarakan lebih dulu.


"Kamu mau minta Papa menyeret Resa keluar dari sana?"


Tatapan mata Javir kembali menatap Malvin dan menggelengkan kepalanya kuat.


"Lalu?" Tanya Malvin dingin.


Mereka saling tatap satu sama lain.


Tangan Jabir mrngepal kuat, "Papa masuk dan ... Temui beliau bisa?"


Begitu ragu Javir mengucapkannya.


Javir sangat mengenal Malvin, dia tidak akan mau masuk menemui Pak Lutfi, tetapi bagaimanapun Javir harus berusaha agar Malvin mau menemuinya.


"Kenapa?"


Javir menghela nafas mendengar pertanyaan dingin Malvin, "karena beliau Ayahnya Papa."


"Kapan?".


"Pa" ucap Javir lirih, "Resa tadi menerima telepon dan panik, bahkan beberapa dokter tadi keluar dari ruangan itu, itu be ..."


"Je sejak kapan begini?" Potong Malvin, "kamu tahu jika Papa tidak suka kamu begini."


Krek ...


Pintu didekat mereka terbuka pelan.


Tatapan mereka berdua beraih secara bersamaan.


Resa berdiri menatap mereka berdua dengan wajah sembab secara bergantian.


"Maaf" cicitnya lirih.


Javir tersenyum segaris, mengelus rambut Resa menenangkan gadis itu yang terlihat ketakutan padanya dan Malvin.


Raut wajah Malvin yang semula penuh amarah berubah melihat Resa.


Perlahan Resa mebgangtak wajahnya menatap Malvin dengan takut, "dia udah hampir sebulan disini" cicit Resa. "Malam gak ada yang menjaga, Resa hanya ... Hanya kasihan ..."


"Hahaaa ..." Javir tertawa kecil mencoba mencairkan ketegangan, "jangan takut begitu. Bagaimanapin dia Kakekmu dan Ayah Papa, bagaimana kondisinya sekarang?."


"Tekanan darahnya barusan sempat drop, tapo sudah setabil lagi untung ..."


Resa menjelaskan apa yang terjadi padi pada Javir kenapa dia bisa panik tadi.


Diam-diam Javir melirik Malvin yang diam menatap Resa menyimak apa yang sesnag Resa jelaskan pada mereka, membuat Javir tersenyim kecil.


"Abang sama Papa mau masuk gak?, Kakek nanyain kalian terus kapan mau jenguk, tapi Resa bialng kalian sibuk jadi Resa gak punya waktu untuk cerita keadaanya sama kalian."


Kakek ...


Senyum Javir semakin lebar mendengarnya.


"Papa mau kembali ke ..."


"Kalian masuk dulu" ucap Javir memotong kalimat Malvin, "Abang mau jemput Mama sama Danil lalu nyusul."


Setelah mengatakan kalimat itu, Javir langsung berlari kecil pergi dari hadapan mereka berdua tampa mengiraukan panggilan Malvin.


Sesampainya didalam lift, Javir mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Aslan.


"Bisa titipkan Danil ke Bunda dan antar Mama ke rumah sakit?, gue gak pulang malam ini."


^-^


Jika semua pulang kerumah masing-masih jika selesai menyelenggarakan acara, maka berbeda dengan Gea.

__ADS_1


Setiap selesai menyelenggarakan acara di suatu ballroom hotel, Gea akan memilih menginap dihotel tersebut karena pagi hari harus membatu pekerja EO membereskan perlengkapan Eo mereka.


Biasanya Yesi akan menemaninya menginap, tetapi malam ini dia memilih pulang bersama orang tuanya.


Gea menggerakkan lehernya yang kaku, seharian harus ikut terlibat dalam proses pernikahan Regan dan Belda sekaligus mengontrol smeua pekerjaan EO miliknya membuat Gea benar-benar kelelahan.


"Ya Tuhan ..." seru Gea.


Hampir saja dia terjatuh


Gea berbalik badan hendak memarahi orang yang duduk di depan lift dengan menselonjorkan kaki sehjngga dia hampir saja terjatuh.


Tetapi amarahnya lenyap seketika kala melihat Javir yang duduk dibawah dengan kepapa mendongak menatap kearahnya dengan tatapan kosong.


"Je ngapain disitu?" Tanya Gea.


Javir hanya tersenyum kecil.


Merasa jika Javir sedang memiliki masalah, Gea tersenyum lebar mencoba menenangkan pria itu.


"Need my hug?"


Gea merentangkan tangannya kesrah Javir.


Senyum Javir semakin lebar, perlahan dia berdiri dan menghambur dalam pelukan Gea, memeluk perempuan itu begitu erat.


^-^


Tangan Javir memeluk pinggang Gea.


Kepalanya bahkan menjadikan perut Gea sebagai bantal.


Tangan Gea mengelus rambut Javir lembut.


Sudah lebih dari setengah jam mereka dalam posisi ini, dan Javir hanya diam tidak mengatakan apapun sehingga Gea juga memilih diam dan tidak bertanya.


"Mata gue udah mengantuk" ucap Gea lirih, "bisa gak tidur yang bener" pontanya.


Kepala Javir menggeleng pelan.


"Gue gak tahu loe kenapa tiba-tiba jadi kayak anak kecil gini, tapi gue bener-bener ngatuk dan besok harus bantu-bantu anak-anak beres-beres Ballroom."


"Gue lagi merasa bersalah" ucap Jabir lirih.


Akhirnya Javir mulai membuka suara membuat Gea menghela nafas lega.


"Merasa bersalah kenapa?, karena udah buat Ayah marah diruang ganti tadi atau karena marahin gue?"


"Wahaha ..." tersengar tawa Javir yang membuat Gea mengerutkan kening.


Javir beringsut, mensejajarkan wajah mereka berdua.


Tangannya menyentuh pipi Gea dan mencubit-cubitnya pelan, membuat Gea kesal dan menepis tangannya.


"Pede banget sih ..." ledek Javir.


"Ih ... Je jangan cubit-cubit nanti tembem pipinya" rajuk Gea.


Lagi-lagi Javir tertawa kecil, "habisnya loe gemesin. Ya kali gue merasa bersakah udah bikin Ayah marah, yang ada gue kesel."


"Terus merasa bersalah kenapa?"


"Merasa bersalah sudah hadir didunia ini"


Kening Gea mengerut mendengarnya.


Buk ...


Tangan Gea tiba-tiba memukul dada Jabir membuat Javir meringis kesakitan.


"Kalau ngomong sembarangan lagi gue tabok tuh mulut" omel Gea sambil melotot.


Javir tertawa kecil.


Menarik Gea dama pelukannya dan memeluknya dengan erat.


Saat keluar dari rumah sakit tadi, dia berniat untuk pergi menenangkan diri ke club malam. Tetapi sesampainya dideoan club, dia mabah terdiam dan enggan masuk.


Tiba-tiba terlintas nama Gea dibenaknya.


Disaat dia kalang kabut, disaat dia mempunyai masalah apapun.


Sejak dulu dan sekarang, entah kenapa Gea menjadi pilihan tempatnya menenangkan diri.


Dan nyatanya, mendekap Gea seperti sekarnag disaat perasaan dia kacau, lebih cepat membuatnya tenang dari pada hanya menatap Gea dari cctv yang dia retes.


Meski Javir masih belum mampu mengeluarkan apa yang dia rasa, taoi setidaknya sudah cukup menenangka hatinya.


^-^

__ADS_1


__ADS_2