
Gea melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya, sudah jam setengah sepuluh, Javir pasti sudah pergi.
Setelah mengantar kliennya keluar dari An Angel, Gea langsung menghela nafas lemas. Padahal Gea berfikir meetingnya hanya setengah jam atau paling lama se jam, tapi hari ini melebihi dari perkiraannya.
"Gue butuh sidik jari loe"
Mendengar suara Javir, sontak Gea langsung berbalik badan, menatap Javir dengan mata berbinar.
Javir berdiri dibelakangnya dengan setelan jas hitam, dan rambut tertata rapi. Ini pertama kali Gea melihat Javir begitu rapi dengan setelan jasnya dari dekat.
"Gue kira loe udah balik" ucap Gea dengan senyum lebarnya.
Sebelah alis Javir terangkat menatap aneh pada Gea, "belum" jawabnya singkat dan berjalan terlebih dahulu masuk kedalam An Angel dan menaiki tangga menuju lantai tiga lantai private temoat Gea tinggal.
Dibelakangnya Gea membuntutinya, sedang berfikir mau memulai pembicaraan seperti apa untuk menjelaskan apa yang dia katakan dalam video itu.
Buk ...
"Hah!"
Karena tidak memperhatikan Javir menghentikan langkahnya, Gea menubruk punggung Javirr dan oleng kebelakang.
Setelah menjerit Gea memejamkan mata pasrah jika harus jatuh dari tangga, tangannya secara reflek terulur kedepan, Javir menangkap pergelangan tangannya menahan agar Gea tidak terjatuh.
Mata Gea seketika terbuka, perlahan Javir menarik Gea kembali berdiri dengan tegak.
"Hati-hati" ucap Javir lembut.
Gea hanya bisa tersenyum menanggapinya, perasaan takut masih menguasai dirinya.
Tangan Javir yang masih menggeggam lengan Gea perlanah terlepas, "tempel jempol loe ke gangang pintu."
Tampa banyak tanya, Gea melakukan apa yang Javir ucapkan, tetapi tatapan matanya terus menatap Javir.
Kling ...
Perhatian Gea teralih pada gangang pintu lantai tiga, private floor Gea.
Gagang pintunya berubah, bukan lagi pakai kunci seperti sebelumnya. Gagang pintunya berubah finger print.
"Yang bisa masuk kelantai ini hanya loe" ucap Javir sambil berbalik badan menghadap Gea, "gue balik."
Kening Gea langsung mengerut menatap Javir dengan tatapan tidak suka.
Seenaknya mengganti gagang pintunya dan pulang begitu saja tampa mengatakan terma kasih atau apapun. Memangnya dia siapa yang seenak itu terhadapnya?, marah sih boleh ... Tapi jagan buat Gea seperti oranv dungu bisan gak?.
Gea menyeka rambutnya, sebelum menuruni tangga hendak mengejar Javir yang sudah keluar dari An Angel dan masuk kedalam mobilnya.
"Sial!" Geram Gea melampiaskan kekesalannya.
^-^
Mereka baru saja sholat mangrib.
Sejak tadi saling tatap dan menghela nafas, lalu melirik pada jam dinding diruang tamu Raja Crown.
Sudah jam enam lewat dua puluh menit.
"Seriusan nih kita gak dateng?" Tanya Javir memastikan.
"Males gue liat muka As" jawab Regan.
"Kalau gue sih tergantung kalian" sahut Alaric.
Javir hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban kedua temannya. "Lagian tuh anak ngapain sih tunangan sama orang yang gak dia suka juga, kalau gue mendingan jomblo dari pada harus hidup seumur hidup dengan orang yang gak gue cinta. Yang ada malah hambar hidup, bukannya bahagia."
Regan dan Alaric yang mendengarnya tertawa kecil.
Dret ...
Ponsel Tegan yang tergeletak diatas meja depan mereka bergetar, nama Gea muncul dilayar ponsel.
__ADS_1
Javir langsung pasang telingat saat Regan mengangkat panggilan Gea.
"*Ar ... gimana?, serius nih gak dateng diacara pertu*nangan As?" Tanya Gea.
Javir mengulum bibir mendengarnya, kata yang dia tanyakan tadi pada Regan, hampir sama dengan apa yang ditanyakan Gea barusan.
"Gue males liat dia" jawab Regan singkat.
"Yang lain juga gak dateng dong?"
"Yupz"
Terdengar dengusan Gea di sebrang, "gue juga males ketemu dia. Niat banget diem-diem mau tunangan sampek gak pakek jasa EO gue, tapi kalau kita gak dateng kan kasihan."
Regan melirik Javir dan Alaric bergantian meminta pendapat mereka.
Javir meresponnya dengan mengangkat kedua bahunya, sedangkan Alaric malah mendengus.
"Ya udah dateng sama-sama "putus Regan, "... iya nanti kita ketemuan di pinyu masuk ... Loe di An Angel kan .... ok kalau gitu Je sama Al yang jemput, gue jemput Belda."
"Yah ..." keluh Alaric dengan bahu merosot.
Regan memutuskan komunikasi mereka dan melirik Alaric dengan kening mengerut.
"Gue bareng loe sama Belda aja, kalau bareng Gea sama Je males" ungkap Alaric. "Kalau gak tengkar, nanti yang ada diem-dieman."
"Emangnya apalagi yang loe harepin dari mereka?" tanya Regan, "status mereka kan cuma mantan deket dan mantan calon tunangan" lanjut Regan.
Bantal sofa langsung melayang kearah Regan.
Regan dan Alaric tertawa ngakak melihat Javir yang tampak kesal.
"Ginama bisa loe kalas sama As?" ledek Alaric, "padahal umur loe lebih tua dari kita bertiga."
"Emangnya ada peraturan yang tua harus nikah duluan?" disini Javir tampak malas meladeni keduanya
"Loe mah kurang agresif, mangkanya status loe ama dia ngambang."
"kayak tai di sungai wahahhaa ...."
"Loe berangkat sendiri, gue mau jemput Angel sendirian!"
Javir berjalan dengan wajah kesalanya menaiki tangga menuju kamarnya.
Sebenarnya dia tadi tidak mengharap banyak saat awal Regan memutuskan akan berangkat bersama. Tetapi setelah menyebutkan namanya, Javir langsung bagaikan diatas angin.
Terlebih Alaric tidak mau bersama mereka. Setidaknya, meski dia dan Gea tidak ada hubungan apapun, atau saling diem nantinya, asal berdua dengan dia saja Javir sudah bersyukur.
Malam ini dia harus tampil dengan rapi, memakai mobil mewah warna puyihnua, sehingga Gea merasa sedang dijemput pangeran berkuda putih.
^-^
Kepala Gea celingak selinguk mencari keberadaan Alaric.
Javir berdiri disamping pintu kemudi yang terbuka, dijok belakang tidak ada tanda-tada keberadaan Alaric.
"Apa perlu gue bukain pintu?" Tanya Javir dengan suara sarkasme.
Gea langsung merengut, berjalan dengan menghentakkan kaki masuk kedalam mobil Javir.
Perlahan mobil berjalan meninggalkan pekarangan An Angel.
Sesekali Gea melirik pada Javir hang menyetir disebelahnya, tidak mengatakan sesuatu atau melirik pada Gea. Javir tampak fokus menyetir menatap kearah depan.
'Dia masih marah' batin Gea.
Tidak suka dengan keheningan yang tercipta, secara terang-terangan Gea menghadap Javir dan menatapnya tajam.
"Loe marah?" Tanya Gea to the poin.
"Enggak" jawab Javir singkat.
__ADS_1
Gea berdecak mendengarnya, "gara-gara gue bilang loe cuma temen Abang gue?."
Javir diam tidak menanggapi.
"Gue bilang begitu karena gue gak mau nanti banyak orang yang gangguin loe" Gea mencoba menjelaskan. "Di chennel gue aja, gue gak pernah memperkenalkan keluarga dan saudara-saudara gue karena gue gak mau privasi mereka diganggu netizen. Dan gue bilang begitu tentang status kita, ya karena gue kuga gak mau privasi loe nanti keganggu juga. Loe bisa gak sih nge ...."
Cit ...
Javir langsung banting setir dan mengerem mendadak, menepikan mobil yang sedang mereka kendarai.
Untung saja Gea mengenakan seatbalt dan tangannya dengan cepat memegang dashbort sehingga kepalanya tidak terbentur kedepan.
"Je!, apa-apaan sih?" Omel Gea.
Javir tidak menjawabnya, dia malah menoleh pada Gea dan memperbaiki duduknya agar menghadap Gea secara langsung.
Kening Gea mengerut, bahkan dia memundurkan wajahnya agar wajah mereka tidak terlalu dekat.
"Apa maksud loe dengan menjelaskan semua?" Tanya Javir dengan suara beratnya.
Mata Gea lengasung bergerak kekanan dan kekiri menghindari tatapan tajam Javir.
"Gue gak minta penjelasan apapun" ucap Javir tetap dnegan suara baritonnya, "lagi pula memang benar status gue hanya Teman Abang Loe."
Javir menekan tiga kata terakhir, dan berhasil menarik perhatian Gea kembali.
"Dan ngomong-ngomong masalah status ..."
Tatapan mata Javir berubah sedih.
Degup jantung Gea serasa berdetak lebih cepat menunggu kalimat yang akan dilontarkan Javir selanjutnya.
"Tidak ada apapun bukan?".
Jelep ...
Bahu Gea langsung melemas setelah mendengarnya.
Perlahan Gea mengulum bibir sebelum tersenyum segaris pada Javir yang menunjukkan senyum lebarnya.
"Ya tidak ada apapun" ucap Gea sambil menahan nafasnya.
Senyum Javir semakin lebar, Javir mengangguk-anggukkan kepala seakan membenarkan ucapan Gea barusan.
"Ok kita lanjut" ucap Javir sambil menghela nafas.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Kali ini Gea menatap keluar jendela mobil Javir, tidak lagi menghadap Javir seperti tadi.
Status kita tidka ada apapun.
Tangan Gea mengapal mengingat apa yang baru saja Javir katakan.
Padahal sebelumnya Javir yang dengan gencar ngotot meminta hubungan mereka seperti sebelumnya, dan sekarang ...
Ah ...
Gea ingin berteriak saag ini juga.
Selang beberapa menit, mereka telah tiba didepan hotel tempat Aslan menyelenggarakan acara pertunangannya.
Terlihat Alaric berdiri bersama Regan dan Belda menunggu kedatangan mereka berdua.
Tepat sebelum Javir membuka pintu untuk keluar, Gea menarik lengan baju Javir.
"Loe main tarik ulur ya?" Tanya Gea dengan mata menicibg menatap Javir tajam.
Javir tertawa kecil, "gue akui emang gue sedang menarik diri dari loe" uvap Javir dengan tegas seakan membenarkan perkataan Gea. "Karena gue udah kebingungan mau ngadepin loe kayak apa, lebih baik gue biasa aja. Gak usah gencar meminta loe untuk sadar atas apa yang loe rasain, karena loe sendiri gak punya keinginan untuk itu. Kalau loe cuma menganggap gue sebagai temen Abang loe, emangnya gue bisa apa?. Itu keputusan loe, dan gue gak bisa memaksakan kehendak gue."
"Gue kan udah jelasin tadi" ucap Gea dengan nada lemah.
__ADS_1
Javir mengangkat kedua bahunya dan melangkah keluar dari mobil, meninggalkan Gea yang masih duduk didalam mobil menatapnya dengan tatapan sedih.
^-^