Watching You

Watching You
Menyenangkan


__ADS_3

Bebas, lepas dan this is me, Itu yang dirasakan Gea setiap kali turun ke dancing floor. Semua kepenatan dan bebannya seakan terangkat seketika.


Kali ini Gea berada disuatu club malam.


Seperti biasa Gea selalu menari gila-gilaan, tidak perlu khawatir ada yang melecehkannya karena selalu ada pria bertubuh tegap berdiri di sekitarnya, siapa kalau bukan orang suruhan DJ Quin Bee sahabatnya yang diam-diam selalu mengawasinya.


Meski Quin hari ini tidak tampil, perempuan itu selalu memastikan jika Gea aman.


Gea melirik pergelangan tangannya, sudah menunjukkan jam sebelas, waktunya pulang. Tubuhnya sudah berkeringat dan mulai relax, saatnya mengambil tasnya yang dia titipkan ke bartender lalu pulang untuk tidur.


Bartender kenalannya menyerahkan tas miliknya setelah diam-diam mengambil sebotol kecil air mineral yang biasa Gea bawa didalam tas. Gea hanya suka menari tetapi tidak untuk minum minuman beralkohol.


“Sekali-kali coba cocktail gitu” ucap salah satu bartender.


Gea terkekeh meraih gelas minumannya, “bos dan Rio yang biasa melayani gue gak protes kok loe yang protes mas Dewa” ucap Geaa menekankan dua kata terakhir sambil menggerak-gerakkan kepalanya.


Sontak Dewa terkekeh. “gue gak protes tapi nyaranin sekali-kali loe harus coba...”.


"Loe mau gue berakhir mengenaskan di hotel?" Potong Thifa sambil melotot. "Asal loe tau ya, gue tuh masih pipippp.....”.


Rio dan Dewa langsung tertawa mengerti apa arti kata pipippp yang Gea maksud.


"Tumben loe kesini disaat Quin gak perfome?" Tanya Rio.


"Karena otak gue lagi bermasalah" ucap Gea sekenanya kembali mengundang tawa mereka.


Perlahan Rio menjauh memberi kode pada Gea, hal yang sudah biasa baginya, pasti ada pria yang mendekat. Gea turun dari kursi dengan menjinjing tasnya untuk segera pergi.


“Hai”.


Belum juga berbalik, Gea langsung memejamkan mata sejenak sambil memutar bola mata. Dia berbalik badan hendak membalas sapa namun tenggorokannya tercekat.


Pria di depannya tersenyum simpul sambil mengangkat kedua alisnya penuh percaya diri.


Dan detik itu juga Gea tersadar, dia berdeham mengangkat dagunya menunjukkan kepongahan menatap manik pria itu secara langsung.


Mata mereka saling bertatapan namun memancarkan tatapan yang berbeda. Senyum pria itu semakin merekah dan menatapnya tajam dari atas kebawah, salah satu hal yang Gea benci.


Semua pria sama saja.


Gea memutuskan tatapan mereka terlebih dahulu dan memilih melangkah kaki pergi dari hadapan pria itu.


“Waw”. Seru pria itu dengan nada lantang hingga Gea sempat mendengarnya.


Gea tidak menghiraukan dia terus berjalan dengan langkah lebar, terkadang bahunya juga berbenturan dengan beberapa pengunjung lain.


“Kenapa terburu-buru?”.


Ternyata pria tadi berhasil mengejarnya sampai basement club. Gea tidak mengindahkannya terus berjalan ke tempat mobilnya diparkir.


“Ini masih jam sebelas, kita masuk lagi biar gue temenin”.


Perkataan pria barusan menghentikan langkah Geaa, membuat pria itu kegirangan dan berdiri di depannya.


Mata mereka kembali saling tatap seperti tadi, tatapan dingin Gea tidak dapat melunturkan senyum pria di depannya.


“Gue mau pulang minggir” ucap Gea dingin.


Pria didepannya kembali berdiri didepan Gea menghalanginya membuka pintu mobil.


"Sepertinya loe cukup sering kesini sampai kenal dekat dengan para bartendernya, apa Ayah tahu kelakuan loe yang satu ini."


"Javir Erlangga" ucap Gea dengan suara mendesis, "sebaiknya loe diem jangan coba-coba muka mulut loe."


Yupz ... pria itu adalah Javir.


Mendengar perkataan Gea penuh dengan ancaman, Javir malah tersenyum lebar menatap Gea begitu dalam.


"Loe kebiasaan ke club malam sepertinya sejak dua tahun terakhir?."


"Bukan urusan loe!"


Javir tersenyum semakin lebar, "gue ngerasa kecolongan."

__ADS_1


Gea berdecak mendengarnya, mendorong Javir menjauh agar dia bisa membuka pintu mobil.


Tepat sebelum masuk kedalam mobil, Gea menoleh menatap Javir. "Kalau loe mau ngasih tahu Ayah juga gak masalah" ucap Gea dengan santai dan senyum merekmehkannya, "karena gue sudah cukup dewasa jntuk keluar masuk tempat ini."


^-^


Kita kembali ke satu jam yang lalu.


Javir memejamkan mata sejenak setelah beberapa jam menatap layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Kembali teringat kejadian tadi siang.


Perempuan itu kembali mau menemuinya, berbicara dengannya, kembali menghubunginya dan kembali membuat kepala Javir penuh dengan dia lagi, itu salah satu alasan kenapa Javir tidak cepat meyelesaikan pekerjaannya karena selalu teringat pertemuan itu.


Dret ...


Ponsel Javir bergetar, panggilan masuk dari Aslan.


Kening Javir mengerut, melihat jam sudah menunjukkan jam sepuluh, ada kepentingan apa Aslan malam-malam menghubunginya.


"Je ... Gea dimana?" Tanya Aslan.


Baru saja Javir akan mengatakan halo, Aslan sudah lebih dulu bertanya keberadaan Gea.


"Emangnya gue buntutnya Gea, bisa tahu dia dimana" ucap Javir dengan nada malas.


Terdengar decakan Aslan disebrang, "dia gak ada di An Angel, ponselnya gak aktif. Jangan-jangan dia bunuh diri gara-gara loe persulit kerjaannya" ucap Aslan ngawur.


"Loe kalau ngomong asal jiplak aja tuh mulut, cari aja dirumah siapa tahu dia pulang."


"Gak ada, gue habis dari sana."


Kening Javir mengerut mendengarnya.


"Coba aja cek dia ada diclub mana?, biasanya kalau dia lagi mumet dia ..."


"Wait, loe bilang club?"


Tidak ada sahutan dari Aslan, Javir dengan cepat membuka laci mejanya, memgeluarkan ponsel yang selalu dia gunakan untuk menstalk Gea.


Javir tidak mendengarkan apa lagi perkataan Aslan selanjutnya.


Jika Aslan mengatakan kata biasa, berarti Gea sudah sering keluar masuk club, dan dia tidak tahu sama sekali?.


Kurang ajar ...


Gara-gara kesibukannya mengurus hotel dan mencari keberadaan Regan siang malam, waktu Javir untuk menstalker Gea hanya bisa pada saat-saat waktu senggang saja.


"Kalau ada apa-apa gue akan bilang ke Ayah kalau loe yang ngajarin dia clubing" ucap Javir marah.


Klik ...


Javir memutuskan sambungan telepon mereka, berdiri terburu-buru hingga kursi kerjanya terjatuh dan berlari keluar dari kamarnya.


Club Blue Heavent


^-^


Yesi kembali melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah lebih dari tiga puluh menit dia dan Gea duduk didepan ruang meeting perusahaan Ganendra.


Sejak sampai, Gea kembali tertidur. Padahal selama perjalanan tadi Gea sudah tertidur dimobil dan Yesi yang menyetir, sampai si perusahaan Ganendra Gea meblai tidur lagi, padahal Ibnu sudah memintanya menunggu diruangan Abra agar bisa tidur di sofa, tetapi Gea menolak.


Yesi tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan Gea, tiba-tiba jam lima Gea menelfonnya dan memintanya mengantar Gea ke perusahaan Ganendra jam tujuh.


Pintu ruang meeting terbuka, satu persatu orang keluar dari sana.


Perlahan Gea membuka matanya, mengeluarkan sebotol air dari dalam tasnya untuk dia minum sebelum berdiri dan berjalan masuk. Sedangkan Yesi mengekorinya dari belakang tampa banyak bicara.


Hampir saja Yesi menabrak punggung Gea saat Gea tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu saja.


Tatapan Gea tertuju pada Javir yang duduk diatas meja ruang rapat sedang tersenyum lebar pada Ara dan Abra, padahal dia tidak ingin bertemu Javir untuk saat ini.


"Hei ... Ada apa kesini?" Tanya Sam menghampiri Yeai dan Gea.

__ADS_1


Perhatian Gea teralih pada Sam yang berdiri disampingnya, "kita mau berdiskusi masalah penyelenggaran ulang tahun Perusahaan Ganendra" jawab Gea.


"Ok"


Sam langsung berjalan menghampiri Abra dan menyampaikan maksud kedatangan Gea dan Yesi saat itu.


"Hai sayang" sapa Ara memeluk Gea dan Yesi bergantian.


"Hai Bun"


"Lagi mau bahas kerjaan sama Ayah ya?"


Kepala Gea mengangguk membenarkan.


"Ya udah kalau gitu Bunda pulang duluan, selamat bekerja."


Tampa disuruh Gea langaung duduk di salah satu kursi tepat disamping kanan Abra duduk, dan saat mengangkat wajahnya menatap kedepan, ternyata Javir duduk tepat disebrangnya.


Tidak ada senyum di bibir pria itu, Gea yang melihatnya masa bodoh dan memutuskan tautan mata mereka.


"Sepertihya ini waktu yang tepat untuk membahas perayaan ulang tahun perusahaan, penanggung jawab Event dan pemilik tempat penyelenggara berada disini" ucap Abra duduk dengan tenang menatap Gea dan Javir bergantian.


"Pemilik tempat?" Tanya Javir.


"Ya ... Ulang tahun perusahaan Ganendra akan digelar diballroom hotel kalian, sekalian untuk pembukaan ballroom baru kalian, apa Gea tidak memberitahumu?" Abra menoleh pada Gea, "kamu tidak memberitahu Javir?."


"Sudah tapi dia menolak" ucap Gea datar, "maka dari itu saya kesini untuk menyarankan tempat yang lain."


"Kapan saya menolak?" Tanya Javir.


"Anda sendiri yang mengatakan jika anda tidak butuh!"


"Lebih tepatnya saya mengatakan bahwa kami sebenarnya tidak butuh, itu bukan kata tolakan nona."


Rahang Gea mengetat mendengarnya, tatapannya sangat tajam penuh amarah pada Javir.


Sedangkan Javir menatapnya dnegan tatapan dingin dan tajamnya. "Jika sebenarnya anda yang menolak tawaran kami untuk menjadi partner kerja, jangan membalikkan fakta."


Mata Gea membulat mendengarnya.


"Saya sudah setuju tawaran anda pada saat anda mengancam akan menjambak rambut saya."


Setelah mengatakan itu, senyum lebar Javir langsung terbit dibibirnya.


Abra menatap Gea dengan mata terbelalak, "kamu kenapa malah main ancam-ancaman kayak preman?, kenapa bukan bernegosiasi?."


Semua yang ada disana tertawa kecil.


Wajah Gea langsung memerah, dia tidak membantah karena dia mengatakan hal itu pada Javir, itupun karena Gea kesal.


"Jadi anda sebenarnya mau maju mundur atau lempar batu sembunyi tangan?" Tanya Javir.


Mata Gea kembali memelototi Javir, menatapnya dengan jengkel.


Senyum Javir semakin lebar, meraih ponselnya dan fokos menggerakkan jemarinya diatas layar ponselnya tidak menghiraukan tatapan tajam lenuh peringatan dari Gea.


Gea mengerti dengan dua istilah yang diucapkan Javir itu, keduanya menyiratkan dua makna berbeda.


Maju mundur dalam urusan kerja sama ballroom


Atau


Melempar batu sembunyi tangan, menyudutkan Javir atas ballroom dan kejadian semalam.


Dret ...


Layar ponsel Gea menyala, pop-up notifikasi pesan yang muncul bisa terbaca oleh Gea membuat Gea semakin kesal.



Sial ...


Javir tersenyum sarkasme sambil memiringkan kepalanya, namun tatapan matanya masih terlihat sangat dingin menatap Gea.

__ADS_1


^-^


__ADS_2