Watching You

Watching You
Melamar Gea


__ADS_3

Tidak ada yang memulai percakapan lebih dulu.


Sudah lebih dari semenit mereka berdua hanya berdiri diam saling tatap terhalang kaca pembatas Cafe An Angel tampa mengatakan apapun bahkan berniat untuk melabgkah dari pijakan kaki mereka berdua.


Perlahan senyum Gea terukir membuat Jabir menghela nafas dan berjalan mundur duduk dimeja dengan lemas tetap dengan tatapan mata menatap manik mata Gea.


Senyjm Gea semakin lebar, dia meletakkan kain lap kaca yang sejak tadi dia pegang didiatas meja kosong disampingnya dan merentangkan tangannya srakan memngundang Javir untuk memeluknya.


Javir masih saja terdiam ditempatnya.


Tiba-tiba saja dari samping ada yang menarik tangan Gea sehingga tubuh Gea terhuyung dan masuk dalam dekapan orang yang menarik tangannya.


Gea yang masih terkejut mendongakkan kepala sambil mencoba melepaskan tubuhnya dari pria yang memeluknya.


Gerakannya terhenti kala melihat pantulan wajah Alaric dikaca pembatas.


"Kalau dia gak mau loe bisa peluk gue" ucap Alaric sambil tertawa kecil.


"Loe ini bikin kaget aja" gerutu Gea dan membalas pelukan Alaric.


Meski tahu Javir akan marah, Gea tetap saja membalas pelukan Alaric sambil tertawa kecil.


Baru beberapa detik mereka pelukan, kerah baju belakang Alaric ada yang menarik hingga Alaric terhuyung kebelakang dan pelukan mereka berdua terlepas.


"Gue masih marah sama loe, jangan peluk-pelok" omel Javir.


Tubuh Gea sudah berada dalam pelukan Javir.


Gea terkekeh kecil.


Suasana hati Jabir benar-benar tidak baik, dan Gea dengan yakin percaya jika sebenarnya Alaric tahu akan hal itu.


Sebagai seorang wanita yang selalu berada ditengah-tengah keempat pria itu, Gea masih belum mengerti jalan pikiran mereka yang terkadang saling meledek dan membully satu sama lain.


Sesampai dilantai tiga, Gea melepaskan diri dari tangan Javir yang sejak tadi merangkulnya.


Tangannya menggenggam tangan Javir dan menatap pria didepannya dengan tatapan dalam.


"Tell me everything" pinta Gea.


Javir tersenyum segaris, tangannya yang tidak digenggam Gea mengelus rambut Gea yang terurai.


"Nanti malam tunggu aku dirumah keluarga Ganendra" ucap Javir penuh percaya diri.


Sebelah alih Gea terangkat mendengarnya.


^-^


Malvin menatap tidak percaya dengan apa yang ada didepannya kali ini.


Bahkan Bella dan Resa sudah berdandan dengan cantik dan berpakaian rapi.


Diatas meja ruang tamu sudah penuh dengan berbagai macam barang yang membuat Malvin tercengang melihatnya.


"Ayo kita berangkat"


Seruan dari arah pintu tumah membuat Malvin menoleh kebelakang.


Alaric, Aslan dan Regan masuk dengan berpakaian rapi dan rambut tertata rapai tidak seperti biasanya yang hanya memakai t-shirt dan berantakan saat datang kerumahnya.

__ADS_1


"Memangnya mau kemana?" Tanya Malvin tidak mengerti.


Alaric dan Aslan saling bertatapan dan menahan tawa mereka berdua.


Lain hanya dwngan Regan yang hanya menghela nafas seakan pasrah menatap Malvin dari atas kebawah.


"Kalau pakaian Pamav yang gak rapi gini karena menunggu Ibu kandung dan Saudara Malvin ikut melamar Gea, maaf anda harus kecewa karena mereka sudah pulang sore tafi" ucap Regan dengan datarnya.


Malvin seketika gelagapan menoleh pada Bela dan Regan secara bergantian. "jangan dengeri dia" larang Malvin membela diri sambil melangkah lebar menghampiri Bela. "Bisa tolong jelaskan ini kalian sedang ngapain dan mau kemana?" Tanya Malvin.


Dia benar-benar bingung.


Satu kata yang dia tangkap dari ucapan Regan barusan, namun semakin membuatnya kebingungan, melamar.


Bela yang akan menjawab pertanyaan Malvin mengurungkan niatnya saat emndengar langkah kaki dari arah tangga.


Tap ... Tap ... Tap ...


Langkah kaki yang begitu cepat dari arah tangga menarik perhayian Malvin.


Javir melangkah menuruni tangga dengan setelan jas dan rambut yang tertata rapi.


"Papa mau ikut tidak?" Tanya Javir setelah menghentikan langkahnya dan berdiri didepan Malvin.


"Je jangan bercanda" desis Malvin.


"Tidak ada yang sednag bercanda Pa" jawan Javir dengan nada seriusnya, "malam ini juga Javir akan melamar Gea."


^-^


Sedangkan di rumah keluarga Ganendra.


Ara yang sedang menata meja makan dengan dibantu Belda, sedangkan Gea duduk dikursi sembari menghidup dan matikan layar ponselnya entah sudah yang keberapa kalinya.


Javir memintanya untuk menunggunya malam ini dirumah keluarga Ganendra, tetapi pria itu tidak menjelaskan untuk apa Gea menunggunya.


"Hem ..."


Gea menghela nafas dan meletakkan kepalanya diatas meja makan dengan lemas.


"Ayah sama si kembar kenapa belum dateng?" Keluh Gea lirih, "kalian juga mulai tadi belum selesai nyiapin makannya."


"Bentar lagi selesai" sahut Belda lembut.


"Belda bawa makanan terlalu banyak" timapa Ara sambil berjalan menghampiri meja makan dengan sepiring ayam goreng ditangannya, "lauk sampai bermacam-macam gini siapa yang mau makan?."


Belda menanggapi keluhan Ara dnegan tawa kecilnya.


Gea menangkat kelapanya dan menatap meja makan keluarga mereka yang penuh dengan berbagai macam makanan.


Meski banyak makanan didepannya, Gea benar-benar tidak berselera untuk makan.


Sikap Javir tadi sore benar-benar membuatnya terganggu, pria itu hanya memintanya menunggu lalau setelah mengatakan itu dia pergi begitu saja.


"Ibu ... Non ... Itu ..."


Bi Sari tiba-tiba datang tergepoh-gepoh menghampiri mereka bertiga dimeja makan.


"Apa bi?" Tanya Ara dnegan nada lembutnya.

__ADS_1


Terlihat Bi Sari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sekaan bingung yang mau menjelaskan pada mereka semua.


"Iti ... Didepan ada yang bawa-bawa" jelasnya masih kebingungan.


Gea mengerutkan kening mencoba mengerti apa ingin yang dikatakan Bi Sari sebenarnya.


"Gea coba lihat gih"


Belda mearik tangan Gea agar berdiri dan sedikit mendorongnya untuk pergi dari ruang makan.


Dengan pasrah Gea melangkah perlahan.


Abra dengan si kembar berjalan menuruni tangga sambil menatap kearah Gea yang berjalan dneban lemas kearah punti rumah.


Baru saja Gea membuka pontu setengah, matanya langsung mengerjap melihat beberpa ornag yang berdiri didepannya smabil membawa bingkisan ditangan mereka masing-masing.


Perlahan kepala Gea menoleh kearah Jabir yang berdiri dengan tegap menatap dalan kearahnya.


"Ada Ayah kan?" Tanya Javir, terdengar sedikit ada getaran dalam kalimatnya diucapkannya.


"Ada" jawab Gea lirih.


Kali ini matanya melirik pada ketiga pria yang berdiri dengan gagah dibelakang Bela dan Resa mereka juga membawa sesuatu.


Jantung Gea langsung berdegup kencang.


"Gea kenapa tidak di su ..."


Kalimat Regan terhenti melihat siapa yang berdiri didepannya.


Abra sudah berdiri disamping Gea menatap dengan bingung pada orang-orang didepannya.


"Kami datang untuk melamar Gea" ucap Malvi dengan tegasnya dan penuh.


Kening Abra seketika mengerut dan menoleh pada Gea menuntut meminta penjelasan.


Merasa sedang ditatap dari samping, kepala Gea langsung menoleh cepat menatap Abra dan menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu apapun.


"Kaki gue pegel berdiri terus"


Malvin langsung menerobos masuk sambil menyerahkan bingkisan yang dia bawa pada Abra.


"Kami datang mau melamar Gea"


Nada ucap Javir dengan nada sopan membuat sebelah alis Abra lagi-lagi terangkat, dia tidak pernah mendengar nada bicara Javir seperti ini sebelumnya.


^-^


.


Maaf karena baru bisa update 🙏


Karena sebentar lagi akreditas sekolah, jadi kerjaan Author amat sangat menumpuk 🫠


Jadi mohon maklum jika hanya bisa update sesempatnya saja 🙏


Terima kasih sudab mapir 🥰


Love you😘

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2