Watching You

Watching You
Gak Peka


__ADS_3

"Thanks ya udah nganter" ucap Gea pada Sebastian yang duduk disampingnya.


Kepala Sebastian mengangguk pelan, "sama-sama."


"Padahal loe mau makan ditempat gue malah nganterin gue pulang"


Sebastian tertawa kecil mendengarnya, "loe udah ngucapin kalimat itu berkali-kali Angela lovita" ucap Sebastian mebgingatkan.


Gea tertawa kecil, "habisnya gue beneran gak enak sama loe. Loe pasti laper ya?, apa mau masuk dulu kedalem?."


Kepala Sebasyian embggelebg kuat, "enggak deh makasih, gue merinding kalau ketemu bokap loe."


"Wahahaaa ... Merinding tapi berani ngelamar gue waktu itu."


"Itu mah beda lagi ceritanya atuh Lovita."


Gea mencibir mendengarnya, "ya udah kalai loe gak mau mampir gue turun, thanks ya ..."


"ok"


Gea keluar dari dalam mobil Sebastian, berjalan berputar berdiri tidak jaub dari samping mobil Sebastian dan melambaikan tangannya.


Sebastian datang bertepatan pada saat Gea ditelepone Ara memberi tahu jika si kembar menghilang tidak ada disekolahannya.


Dan Sebastian bersikeras mengantatnyanpulang dari pada dia mengendarai mobol dengan perasaan khawatir atau naik ojek online.


Setelah mobil Sebastian menghklang, Gea menghela nafas dan berbalik badan.


Matanya terbelalak melihat Javir yang berdiri diambang pintu, menayap tajam kearahnya tampa senyum sedikitpun.


"Hai" sapa Gea.


Gea tersenyum sambil melangkah mendekati Javir yang masih berdiri diambang pintu.


Beberapa detik mereka bertatapan dalam diam, tidak ada yang mengatakan apapun membuat Gea merasa keanehan.


"Loe gak papa?" Tanya Gea lembut.


Bukannya menjawab, Javir malah melangkah masuk begitu saja kedalam rumah membuat Gea keheranan.


Kenapa tuh cowok?


Tampa pikir panjang lagi, Gea mengikuti Javir melangkah memasuki rumah Ganendar, dan semakin tercenganglah dia didepan semua orang yang berada di ruang tamu rumahnya.


Mata Gea mengedip tidak percaya dnegan apa yang dilihatnya.


Bukan hanya ada Javir, tetapi Aslan, Alaric, Malvin dan beberapa karyawan ASG seperti Fani, Haikal, Nanda dan bahkan Mela juga berada disana.


Sepettinya situasi kali ini benar-benar genting sehingga Ara berhasil mebgumpulkan semua orang selain dirinya dan Abra.


"Apa dari semua orang disini Gea yang terakhir tahu si kembar menghilang?" Tanya Gea sambil melangkah masuk kedalam rumah.


"Maaf sayang" ucap Ara sambil melangkah mendekati Gea, "Bunda tadi panik gak bisa mikir. Ayah langsung nyuruh Bunda nelpon Je, tapi yang dateng semuanya. Yang inget kamu belum dikasih tahu malah Je, Bunda malah gak sadar kalau disini gak ada kamu sama Ar."


Gea menggenggam tangan Ara dan menepuk punggung tangannya menenangkan wanita itu.


Ya ... Yang tidak ada di sini hanya dia dan Regan, bahkan terlihat dari penampilan Ara saja, Gea bisa melihat dengan jelas jika Ara benar-benar kacau.


"Terus si kembar udah ketemu?"


Kali ini Gea menoleh pada Javir agar mendapat jawaban darinya.


Javir hanya mengangguk dan berjalan pergi duduk disebelah Malvin yang masih memeperhatikan layar leptopnya.


"Papa pulang duluan gih" ucap Javir.


Mata Malvin langsung melirik penuh curiga.


"Je pasti pulang, Bunda gak mungkin ngasih izin Je menginab kalau ada Gea disini."


Mata Gea melotot tajam mendengar kalimat Javir barusan.


Seakan tidak mengindahkan, Jabir bersikap biasa saja meski tahu Gea mempelototinya membuat Gea kesal saja.


Malvin beranjak untuk pamit pulang pada Ara dan Abra.


Satu persatu meninggalkan ruang tamu, tinggal Javir yang duduk dengan tenang sambil memeluk setoples cemilan masih tidak memperdulikan Gea yang menatapnya.


Perlahan Gea berjalan duduk disampong Javir, memperhatikan bahu sebelah kiri Javir lalu beralih pada wajah Javir.


"Gimana bahunya?" Tanya Gea lembut.


Javir diam tidka menanggapi.

__ADS_1


"Masih sakit gak?" Gea kembali bertanya.


Dan Javir masih saja memilih diam.


Gea menghela nafas, merampas tomples cemilan dari tangan Javir.


Tangan Javir hendak mengambil. Topeles itu kembali tetapi Tangan Gea membuat kepalan tinju sudah siap meninju bahu kirinya sehingga Javir mengurungkan niatnya.


"Gue gak suka ya loe diemin" desis Gea.


Javir berdesak dan kembali menyandarkan punggunya dengan malas kesandaran sofa.


"Loe gak mau ngomong sama gue?" Tanya Gea, "Ya udah kalau gitu gue pergi, awas aja ..."


"Kenapa loe sih yang malah marah?" Potong Javir kesal.


Sebelah alis Gea terangkat tidak mengerti.


Javir menoleh kearahnya dan menatap Gea dalam, "kenapa jadi cewek gak peka banget?"


Gea semakin tidak mengeriti hanya memiringkan kepalanya.


"Kita udah berhari-hari gak ketemu, saat ketemu loe malah dianter cowok itu, dengan santainya malah nyapa gue Hai" gerutu Javir.


"Terus ..."


Javir menghela nafas semakin kesal, "kita baru ketemu, apa loe gak bisa antusias ketemu gue?, merasa bersalah kegitu karena baru ketemu gue liat loe malah dianter cowok?."


"Je, gue seneng dan bahagia banget ketemu loe lagi. Tapi apa perlu gue harus ..."


"Perlu dan wajib" potong Javir tegas, "kalau gue ketemu loe setelah beberapa hari gak ketemu gue pasti antusias banget. Saat loe ngelihat gue sama cewek lain, gue pasti ngejelasin kenapa gue bisa sama cewek itu."


"Buat apa gue ngejelasin?, apa loe gak percaya gimana perasaan gue sama loe?."


"Gea" desis Javir lirih, "gue percaya sama perasaan loe. Tapi setidaknya loe bisa peka dan jaga perasaan gue."


Gea terdiam menatap Javir dalam.


Perlahan tangan Gea mengelus lengan Javir dan tersenyum segaris, "loe tahu gue gak pinter ngeekperesiin perasaan gue. Gue bukan loe yang mantan lady killer, yang paham dengan perasaan semua orang."


Setelah mengatakan hal itu, Gea pergi dari saja meninggalkan Javir sendiri diruang tamu.


Mata Javir mengerjab tidak percaya.


^-^


Jam sudah menunjukkan jam sembilan malam.


Regan dan Belda baru saja pulang, ternyata si kembar dibawa mereka berdua seharian berjalan-jalan keliling mall.


Aslan dan Alalric mengantar Belda pupang kerumahnya, karena rumah Belda dan Rumah sakit beda arah, jadi Javir yang mengantar Mela kembali kerumah sakit.


"Resa shift malam lagi?" Tanya Javir saat melihat mobil Resa masih terparkir diparkiran rumah sakit.


"Sepertinya hari ini enggak" jawab Mela.


"Terus kenapa masih disini?" Tanya Javir keheranan, "dia bahkan beberapa hari ini jarang pulang, emang banyak pasien ya?."


"Kalau dirumah sakit mah pasti banyak pasien Je"


"Kalian kekurangan dokter?".


"Loe pikir siapa yang punya nih rumah sakit sampek kekurang dokter?".


"Terus kenapa dia sering lebur mulu akhir-akhir ini?."


Mela menghela nafas dan menoleh pada Javir, "mau gue tunjukin kenapa?" Tanyanya.


Javir mematikan mesin mobilnya dan menoleh pada Mela dengan kening mengerut, merasa aneh dengan pertanyaan Mela barusan.


"Mau enggak?" Tanya Mela lagi, "gue gak punya banyak waktu, gue udah telat ini."


"Ok"


Tampa banyak bicara, Javir membuka pintu mobilnya.


Dari pertanyaan Mela dia merasakan sesuatu yang dirahasiakan oleh Resa padanya.


Rumah sakit ini milik Regan, milik keluarga Ganendra dan tidak mungkin kekurangan dokter sehingga Resa hampir tiap malam kerja lembur dan berangkat pagi.


Buaknnya pergi keruang istirahat atau ruangan dokterbiasa berkumpul, Mela malah berjalan menaiki lift membuat Javir jadi berfikir yang tidak-tidak.


Apa mungkin Resa sakit?

__ADS_1


Tangan Javir mengepal kuat, mencoba menyingkirkan semua perasangka buruknya dan memilih diam tidak bertanya apapun pada Mela untuk saat ini.


Dia bahkan terus saja diam mengikuti langkah Mela hingga mereka berdiri didepan pintu ruang rawat inap vvip.


Javir membaca nama pasien yang berada didekat pintu kamar itu. Lutfi Yasa.


Mata Javir melebar dan semakin mendekat kearah pintu untuk melihat kedalam ruangan itu dari kaca kecil di pintu.


Terlihat Pak Lutfi tertidur di kasur pasien dengan Resa yang duduk disebelahnya sambil membaca buku.


"Sudah gampir beberapa minggu beliau masuk runah sakit" ucap Mela, "dan beberapa hari ini yang menjaganya setiap malam hanya seorang pembantu rumah tangga. Yang terkadang pembantunya menjaga beliau dari pagi, jadi kalau malam Resa meminta pembantu itu bergantian menjaga beliau."


Javir hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasan Mela.


Perasaan Resa memang seperti Bela yang lembut dan penyayang, tidak bisa melihat seseorang kesusahan terutama anggota keluarganya.


"Papa pernah kesini?" Tanya Javir.


"Gak pernah" jawab Mela, "jabgankan Papa Malvin yang sudah terang-terangan dikeluarkan dari keluarga mereka. Istri dan anaknya pun jarang kesini, yang seing si Qia mantan Alaric."


Kepala Javir mengangguk paham.


Perlahan dia melangkah menjauhi pintu ruang inap Pak Lutfi bersama Mela yabg kali ini mengikutinya dari belakang.


"Lo gak masuk buat ..."


"Gak perlu" potong Javir, "sudah ada Resa disana jadi gue gak perlu disana."


"Gak mau tahu kondisininya gimana?, dia ..."


"Mel"


Lagi-lagi Javir memotong kalimat Mela, bahkan dia sampai menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Mela secara langsung.


Seakan mengerti dengan tatapan mata Javir, Mela menghela nafas dan emnganggukkan kepalanya paham.


"Apapun yang terjadi, gue minta tolong jaga adik gue dan dia."


^-^


Semua harus selesai hari ini juga.


Gea turun tangan untuk menyelesaikan dekorasi dirumah Belda untuk acara akad nikah Beelda dan Regan yang akan berlangsung besok pagi.


Karena ini acara pernikahan saudaranya, Gea ingin semua sempurna dan terkesann bagi semua tamu dan mempelai.


Yang menikah disini Belda dan Regan, tetapi yang sangat antusias adalah Gea sehingga Belda hanya bisa pasrah saja melihat Gea yang semula kalem berubah seketika menjadi cewek cerewet dan banyak ngatur.


"Loe kira-kira butuh gak sendal jepit?" Tanya Gea tiba-tiba menghampiri Belda sejak tadi yang duduk diatas sofa memperhatikannya, "kalau butuh gue nanti siapin."


Belda menghela nafas menatap Gea pasrah, "gue gak tahu apa manfaat sendal jepit yang loe tanyain itu. Tapi kalau menurut loe gue nanti butuh, gue punya kok dikamar, gak usha loe siapin segala."


"Harus disiapin Belda ... Kalau loe nerima tamu banyak berdiri masak pakek ..."


"Iya iya ... Nanti gue ambil dikamar dan gue kasih ke loe" potong Belda mulai malas meladeni Gea. "Awas aja kalau loe nikah sama Javir tapi gak serempong nikahan gue sama Ar, gue jambak loe."


Gea tertawa mendengar ancaman Belda, "gue gak rempong-rempong banget kok, biasa aja" bantah Gea.


Lagi-lagi Belda hanya menghela nafas pasrah, "Yang seharusnya nikah itu loe sama Javir, ini malah gue duluam. Loe kapan nyusul?, Bang Je udah tua loh ... Bentar lagi kepala tiga wahhahaa ..."


Belda tertawa sendiri dnegan apa yang dia ucapkan.


Gea tersneyum segaris menanggapinya, "gue masih dalam tahap memberanikan diri."


Tawa Belda perlahan terhenti, dia meraih tangan Gea dan menggenggamnya sambil menatapnya dalam.


"Loe harus mengerti bagaimana perasaan Bang Je, jadi jangan kelamaan terbelenggu dalam ketakutan" ucap Belda lirih.


Gea tersenyim segaris dan mengaggukkan kepala paham.


Ya ... Dia paham ...


Mereka berdua sudah lama saling mengenal.


Sudah lama saling mencintai satu sama lain.


Sudah lama dan berkali-kali Javir mengajaknya menikah.


Dan sudah lama Gea menjadikan ketakutan akan pernikahan sebagai alasannya menolek Javir.


Pria itu selalu memberi banyak waktu dan bersabar untuknya.


^-^

__ADS_1


__ADS_2