Watching You

Watching You
Dia Datang


__ADS_3

Dian berjalan terburu-buru menghampirinya yang baru saja turun dari mobil depan lobby hotel Raja Throne.


Wajah Dian tampak kesal membuta Javir mengerutkan keningnya.


"Kenapa loe?" Tanya Javir sebelum Diam neghentikan langkahnya.


"Itu ada perempuan mulai tadi buat onar Pak" jawab Dian.


Javir menyapu seluaruh lobby dengan tatapan matanya dan terdiam menatap seseorang yang berdiri dikelilingi dua security dan beberapa karyawan lainnya.


Ya Tuhan ...


Javir mendeaah melihatnya, dia mencoba menutup wajahnya dengan kedua tangan sebelum melangkah memasuki Lobby.


"Abang!" Teriakan melengking itu membuat Javir terkesiap.


Kepalanya langsung mendongak menatap kearah perempuan yang Dian maksud tadi.


Rambut acak-acakan, baju oversize dan panjang celana denim.


Perempuan itu berlari kearahnya, Javir langsung berdiri tegap sebelum ...


Hap ...


Perempuan itu langsung melompat kearah Javir.


Untung saja Javir sudah menyiapkan diri sebelum perempuan itu meloncat kearahnya, sehingga mereka tidak terjatuh bersama.


Semua mata menatap kearah mereka berdua, tetapi Javir hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Kita diliatin orang, Resa turun!" Pinta Javir dengan nada memerintahnya.


Tangan Resa semalin mlingkar erat pi leher Javir, kakinya juga semakin mengerat membelit tubuh Javir.


Jeivanka Teresia, adik perempuan satu-satunya Javir yang masih menjadi mahasiswa jurusan kedokteran. Yang memang selalu maja dan kebiasaan setiap kali bertemu akan berlari memeluknya.


"Enggak" rengek Resa sambil menggelengkan kepalanya, "aku mulai tadi ngantuk, mau langsung naik nunggu Abang sambil tidur disofa, tapi mereka malah ngelarang."


Resa melepas sebelah tangannya sambil menunjuk semua orang yang berada disana, membuat Javir oleng.


Tangan Javir sengan sigap langsung mempererat lingkaran tangannya dipinggang Resa, menahan agar gerakan Regan tudak membuat mereka terjatuh.


"Terutama dia" Resa menunjuk Dian yang berdiri disamping Javir dengan tatapan garang, "dia gak percaya aku adik Abang!" Ucap Resa heboh.


"Iya iya ... nanti Abang suruh minta dia minta maaf, sekarang turun dulu."


"Abang gak kangen?" Tanya Resa menatap Javir dengan wajah sedihnya, "udah hampir setahun gak ketemu" gumamnya.


"Kangen, tapi tur ..."


"Resa?"


Alaric tiba-tiba muncul begitu saja entah dari mana.


Resa spontan langsung melepas belitannya pada Javir, hampir saja dia terjatuh jika saja Javir tidak sigap memegangi lengannya.


Melihat Alaric berdiri tidak jauh dari mereka, mata Resa langsung berbinar.


Sejak pertama kali mengenal Alaric, Resa sudah menjadi fans fanatik pria itu, melebihi kekagumannya pada Regan.


"Bang Al ..."


Alaric langsung saja berlari menuju lift.


Javir yang melihatnya hanya tertawa kecil, selalu saja ...


^-^


Mata Abra menatap tajam pada Malvin yang baru saja memasuki ruangannya.


Malvin menghentikan langkahnya tepat didepan meja kerja Abra, sebelah alisnya terangkat melihat tatapan tajam Abra padanya.


"Kenapa loe natap gue sinis gitu?" Tanya Malvin secara blak-blakan.


"Ngapain loe kesini pagi-pagi?" Abra malah balik tanya.


Malvin mendengus, duduk dikursi tampa menunggu Abra mempersilahkannya untuk duduk.


"Gue mau minta bantuan" jawab Malvin.


"Enggak kalau untuk Je dan Gea" tolak Abra, kembali sok sibuk mengerjakan berkas didepannya.


"Gue gak perduli sama si GeJe" bantah Malvin, "mereka udah pada dewasa. Gue mau minta tolong masalah Resa."

__ADS_1


Tangan Abra berhenti membalik kertas didepannya, nada suara Malvin yang terdsngar serius mengalihkan perhatiannya.


Malvin bersandar pada sandaran kursi, wajahnya tampak serius kali ini, tidak seperti pertama kali masuk yang masih terlihat santai.


"Minta tolong buat surat permintaan dokter magang di rumah sakit Mitra Keluarga milik Ganendra" ucap Malvin tampa menunggu Abra bertanya apa yang dia maksud.


Kening Abra mengerut, Malvin tidak pernah meminta bantuannya untuk menggunakan jabatan dan pengaruhnya sebagai seorang Ganendra, meski mereka sudah berteman puluhan tahun, bahkan meski Malvin dalam kesulitanpun tidak pernah. Ini kali pertama dia memintanya, yang berarti ada sesuatu yang terjadi.


"Ok gue kirim kepihak kampusnya paling lambat nanti sore" ucap Abra sungguh-sungguh.


"Apa loe gak mau tanya apapun?."


"Enggak" tolak Abra, "karena gue udah mengenal loe."


Kepala Malvin mengangguk pelan, "gue mau menjauhi Resa dari dia. Apapun alasannya, gue gak mau dia menarik gue kembali melalui anak-anak gue."


Sampai disini Abra paham akan sesuatu.


"Kenapa semua orang tua yang melantarkan anaknya kembali mencari mereka untuk meeruskan bisnis mereka?" Gumannya.


Malvin yang mendengarnya hanya tertawa sumbang, Abra langsung mengerti siapa orang yang dia maksud.


"Gue kecolongan" desisi Malvin, "dia sudah menemui Resa."


^-^


Resa tertidur, perempuan itu benar-benar mengantuk seperti yang dikatakannya tadi.


Setelah berhasil mencium kedua pipi dan mendapat pelukan dari Alaric, Resa perlahan merebahkan diri di sofa panjang dengan kepala di pangkuan Alaric.


"Dia beneran tidur" ucap Alaric lirih.


"Pasti dia kesulitan dengan tugas-yugas kedokterannya, sampek jarang pulang dan kelelahan seperti itu" sahut Javir.


Perlahan dia mengangkat kepala Resa dari pangkuan Alaric dan meleyakkan kepalanya ke bantal sofa.


Tangan Javir mengelus rambut Resa dan membensrkan letak selimutnya. "Dia datang bukan weekend, pasti ada sesuati yang terjadi."


Alaric manggut-manggut membenarkan, sudah lama dia tidak bertemu Resa sejak anak itu masuk ketahun kedua kuliah jurisan Kedokteran. Jadi kedatangannya yang begitu tiba-tiba dan memaksa ingin bertemu Javir pasti ada hal penting yang mau dibahas.


"Kenapa loe gak angkat panggilannya, kalau tahu dia disini udah gue bawa dia kesini biar tidur."


Javir tertawa kecil sambil berjalan kekursi kerjanya, duduk didepan Alaric yang duduk dikursi tepat didepan meja kerjanya.


Atas yang dimaksud Javir adalah lantai Raja Crown tempat tinggal mereka berempat.


"Jadi ... loe ke Gea bawa ponsel yang biasa loe gunain buat ngintai dia" tebak Alaric.


"Ya ... karena terburu-buru."


Kepala Alaric manggut-manggut mendengarnya.


Javir menghela nafas, bersandar pada sandaran kursi dan menggerak-gerakkan kursinya kekanan dan kekiri.


"Hasilnya gimana?" Tanya Alaric.


"Dia maafin gue" jawab Javir singkat.


"Terus?"


"Apanya yang terus?"


"Hubungan kalian lah ..."


"Biasa aja"


"Biasa aja dalam arti apa nih?" Tanya Alaric mencoba memastikan, "dalam tanda kutip gak bicara, gak ketemu dan jauhan. Atau biasa aja kayak gue sama loe gini?."


Javir tersenyum miring, "biasa kayak kita."


Alaric berdecak mendengarnya, "seriusly?, emangnya hanya sekedar teman udah enough?."


Javir tertawa kecil mendengarnya, "no ... I want more, tapi gue harus bersabar dan harus bertahap."


"Dan harapan loe sampek nikah?"


"Yupz, harapan terbesar untuk saat ini selain bisnis kita."


Terdengar dengusan Alaric, membuat Javie melirik padanya dengan senyum simpul.


"Sebentar lagi ada yang mau menyusul As"


^-^

__ADS_1


Perlahan Resa membuka matanya, menoleh kekanan dan kekiri.


Dia tidak lagi tidur disofa ruangan Javir, dia tidur di suatu kamar yang cukup luas. Regan menoleh keatas nakas, ada beberapa buku dengan tulisa Hotel Raja Throne. Pasti dia disalah satu kamar hotel milik Javir dan ke tiga temannya.


"Udah bangun?"


Javir berjalan menghampiri Resa yang duduk diatas kasur.


Sejak tadi Javir duduk diruang tamu menunggu Resa bangun sambil mengerjakan berkas-yang harus dia selesaikan.


Kepala Resa mengangguk pelan.


"Ada apa?" Tanya Javir lembut.


Resan menundukkan kepala dalam.


"Hey Baby Girl" panggil Javir duduk bersila disamping Resa, "apa karena lama gak ketemu jadi gak mau lagi cerita sama Abang?."


Perlahan kepala Resa terangkat, "Abang ... udah beberapa kali ada Kakek-kakek ngaku sebagai Kakek Resa, Ayah Papa."


Javir terdiam bingung mau merespon bagaimana selama beberapa detik sebelum tersenyum kecil, "lalu?."


"Namanya Kakek Lutfi Yasa" ucap Resa semakin lirih, "dia minta Resa untuk berhenti jadi Dokter dan nerusin usaha beliau."


Sampai disini Javir mulai merasa getaran dari suara Resa, sebentar lagi adik satu-satunya itu pasti akan menangis.


"Resa gak mau, Resa bilang kenapa gak minta Papa atau Abang, ka ... "


Terlihat nafas Resa terputus-putus.


Tangan Javir menggenggam tangan Resa, sedangkan tangannyangblainnya mengelus puncak kepala Resa lembut.


"Katanya Papa gak mau, dan ... dan Abang bukan cucu resmi keluarga Yasa heee ... hehhe ..." tangis Resa mulai pecah. "Abang anak diluar nikah Papa sama perempuan lain, apa Papa selingkuh dari Mama?."


Javir terdiam, wajahnya datar menatap Resa.


Tangan Resa menggenggam tangan Javir dan beringsunt perlahan memeluk Javir erat, menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Javir.


"Papa gak gitu kan Bang?" tanya Resa disela-sela tangisnya.


Javir membalas pelukan Resa erat, "enggak sayang gak gitu."


Resa meregangkan pelukannya, mendongakkan kepala menatap Javir. "Terus apa maksudnya?, Mama yang ngerebut Papa dari Mama Abang?, Mama yang jadi pelakor saat Papa dan Mama Abang pacaran begitu?. Terus ..."


"Hei" seru Javir menghentikan ucapan Resa yang ngelantur, "apa Papa dan Mama terlihat seperti itu?" tanya Javir dengan nada tegas.


Javir menghela nafas, "jangan berfikir begitu lagi. Kalau kamu penasaran kenapa tidak bertanya pada Kakek itu? "


Kembali Resa merebahkan kepalanya dalam pelukan Javir, "setelah dia bilang Abang buka cucunya aku marah, dan dia malah ikut marah. Kita adu mulut, saat dia bilang Abang anak diluar nikah Re menjerit dan pergi dari sana."


"Seharusnya Resa ke Papa atau Mama, bukan malah ke Abang" ucap Javir lembut, "ganya baik-baik jangan nangis."


"Apa Abang gak tau?."


Resa melepas pelukannya dari Javir, menatap Javir dengan tatapan sedihnya membuat hati Javir terenyuh melihatnya.


Javir tersenyum segaris, "tahu ... Tapi lebih jelasnya biar Papa yang jelasin."


Sejenak mereka terdiam, hingga Javir yang lebih dulu memutuskan tautan mata mereka dan turun dari kasur perlahan.


Tangannya mengambil paperbag diatas nakas dan meletakkannya disisi Resa yang masih duduk diatas kasur.


"Mandi dulu sana" perintah Javir, "nanti Abang anter kamu ketemu sama Pa ..."


"Gak mau" tolak Resa menggeleng kepala cepat.


"Abang temenin juga nanti ketemu Papa, ayo mandi dulu, Abang juga mau mandi."


Javir menjauh dari sana, mengambil jas yang dia letakkan diatas sofa ruang tamu dan berjalan perlahan membuka pintu.


Bibir Jabir perlahan terukir senyum , sebelum menghela nafas dan memejamkan matanya.


Perlahan dia melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan dan meletakkan kepalanya dipundak Gea yang berdiri didepannya.


Entah kapan Gea datang, Jabir tidak tahu. Yang pasti dia datang disaat yang tepat kali ini, Javir benar-benar butuh sandaran untuk melepaskan sesak didadanya sejak tadi.


Senyum Javir menghilang, tangannya memeluk Gea begitu erat. "Dia dateng" gumam Javir lirih, "Resa kesini karena dia datang menemuinya, dan bicara yang memuat anak itu bingung."


Tangan Gea menepuk pelan punggung Javir menenangkannya.


Perlahan nafas Javir kembali stabil, tangannya melingkari pinggang Gea, menarik tubuh Gea mendekat dan memeluknya erat.


Javir membenamkan wajahnya diceruk leher Gea, kedatangan Gea yang tak terduga membuatnya sedikit merasa tenang.

__ADS_1


^-^


__ADS_2