
"Tangkap"
Tampa babibu datang-datang Regan melempar sebotol air minum padanya membuat Regan terkaget dan hampir saja botol itu mengenai wajahnya.
Regan mengambil stik ps dan duduk bersila disamping Javir.
"Tumben loe disini?" Tanya Javir sambil melirik Regan sejenak, "biasanya lagi sibuk diruang operasi."
"Ada dokter lain, kepala gue tiba-tiba pening tadi jadi kesini."
"Hemz ... mangkanya meski galau jangan gila kerja" ledek Javir, "otak loe gak capek apa?, mana mikirin si Belda malah ditambah mumet sama pekerjaan loe yang gak selesai-selesai."
"Jangan sok nasehatin gue Je" gerutu Regan, "hubungan loe sama gea juga gak baik-baik aja dan gak selesa-selesai."
"Tapi gue gak gila kerja kayak loe" geram Javir, bentar lagi juga selesai dan baik-baik aja seperti semua" lanjut Javir dengan nada sewot.
Puas dengan saling sindir dan meledek, mereka berdua langsung fokus pada permainan PS mereka, ada bara persaingan disana.
Ting ...
Tiba-tiba pintu terbuka, Aslan datang dengan telepon di telinga, duduk disofa dekat mereka berdua.
Tetapi kedatangan Aslan tidak menghilangkan percikan itu, yang ada mereka tidak perduli Aslan pindah duduk di sofa panjang tepat di belakang mereka berdua yang duduk dibawah.
"Gak tahu ah ... gue gak tahu mau ngapain Zia biara bisa balik lagi ke gue" ucap Aslan sambil berbaring di sofa panjang.
"Ah ... teragis banget sih cerita percintaan dua saudara gue ini"
Itu suara Gea.
Entah sengaja atau tidak, Aslan menloadspeaker ponselnya.
Jemari Javir langsung terhenti bergerak sejenak memfokuskan pendengarannya, mata menatap layar tv dan jemarinya kembali bergerak setelahnya.
"Sama-sama ditinggal pergi pas bucin-bucinnya wahahaa ...."
Terdengar suara renyah tawa Gea disebrang sana, yang menular pada Javir bibir Javir tersenyum lebar mendengarnya.
Gea tertawa, berarti perempuan itu sedang baik-baik saja.
"Jangan ketawa An, hubungan loe juga gak beres tuh sama Je" balas Aslan meledek.
Terdengar dengusan disebrang, "gue gak bicaraan masalah gue ya As" ucap Gea terdengar kesal.
Kali ini gantian Aslan yang terkekeh mendengarnya, "cerita cinta loe sama gue hampir sama juga kok, sama-sama pernah berpisah, ketemu lagi ya gak?."
"Hem"
"Loe jadian sama gue aja mau gak?."
Tak ...
Stik ps ditangan Javir terjatuh seketika.
Javir berbalik menatap Aslan dengan tatapan tajam penuh permusuhan dan amarah yang berkobar.
Aslan sendiri malah balik menatapnya dengan cengiran santai, dia bahkan tetap tiduran disofa panjang.
"Kita kan bukan saudara kandung, gak papa dong kalau kita berdua nikah" seakan membujuk Gea untuk bersamanya.
Secara sengaja dia sedang menyiram minyak tanah ketabung gas yang sudah mulai keluar api dan siap meletus kapan saja.
"Bisa juga sih heehehee ..."
Ucapan Gea yang diakhiri dengan kekehan membuat Javir hilang kendali seketika, perempuan itu malah membisakan ajakan Aslan.
Javir seketika berdiri hendak menendang Aslan tetapi Regan dengan cepat menarik tubuhnya mundur sehingga Javir hanya menerjang pinggiran sofa dan berhasil membuat sofa tergeser dari tempat semula.
"Mau coba gak?" Tanya Aslan dengan santainya dia duduk menyilang kakinya, seakan tendangan Javir tidak berpengaruh padanya.
Mata Regan melotot memperingati Askan untuk tidak memancing Javir.
__ADS_1
Dasarnya mereka berempat memang hobi memancing emosi satu sama lain, Aslan tidak sampai disana membuat Javir semakin membara.
"Sekarang mumpung hubungan gue sama Zia gak jelas, hubungan loe dan Javir kan gak jelas. Kita perjelas aja sama mereka, ayo ki ..."
Kalimat Aslan langsung terpotong saat dia dengan cepat menghindar dari lemparan segala benda yang di lempar Javir padanya.
"Pikir-pikir dulu ya sayang, dada"
Aslan memutuskan sambungan kominukasinya dengan Gea, dia terus saja menghindar dan lari menaiki tangga menhindar sejauh mungkin dari Javir.
Regan yang sudah kewalahan melepas belitan tangannya dari tubuh Javir.
Terlihat nafas Javir memburu menatap Aslan nyalang, dia berdiri ditempatnya tidak menghampiri Aslan yang sedang duduk dianak tangga mengatur nafasnya.
"Gue pastikan, kalau loe beneran nikah dengan Gea. Saat itu juga gue akan buat Zia nikah sama gue" ancam Javir.
Sebelum pergi, Javir mengambil kunci mobil jaket dan masuk ke lift berniat keluar dari Raja Crown saat itu juga.
Regan menghela nafas menatap Aslan dengan tatapan kesal, lalu mereka berdua tertawa ngakak menggema diruang istirahan itu.
"Loe tahu dia lagi begitu malah manas-manasinnya keterlaluan banget" ucap Regan disela-sela tawanya.
"Hehehe ... liat wajah sangarnya gue lagi tertantang" sahut Aslan.
Meski tampa Aslan katakan lebih dulu pada Regan, Regan sudah tahu jika Aslan tidak benar-benar mengajak Gea menikah, dia hanya mau mempermainkan Javir.
Mereka hanya ingin Gea dan Javir tidak membuat mereka berdua berada ditengah-tegah hubungan mereka.
Sangat sulit memilih antara Gea dan Javir, jadi sebenarnya siapa yang bertengkar siapa yang kerepotan?.
^-^
Danil bermain sepak bola bersama denga teman-temannya yang lain, haru ini giliran kelas empat yang berolah raga.
Hanya Bilqis yang satu kelas dengan Danil sedangkan Chaka berbeda dikelas yang berbeda. Meskipun begitu, karena mereka sama-sama kelas empat, pembelajaran olah raga mereka dihari yang sama.
Pembelajaran olah raga selesai, karena setelah pembelajaran olah raga selesai adalah istirahan, kebanyakan anak-anak bermain dilapangan, seperti Danil yang sedang asik bermain sepak bola hingga tidak menyadari tatapan mata Chaka sejak tadi menatap kearahnya.
"Apa kita tanya Kak An aja?"
Keplaa Chaka menggeleng pelan.
"Kenapa?" Tanya Bilqis heran, "Kak An pasti tau kenapa bisa Abang Je punya anak seblum nikah."
"Hemz" Chaka mendengus mendengar celotehan Bilqis, "dari pada tanya Kak Gea lebih baik tanya Abanv Javir saja Bi".
"Kenapa gak ke Kak An aja?"
"Udah nurut aja, jangan coba-coba tanya ke Kak Gea awas loh."
Mulut Bilqis mengerucug mendengar larangan Chaka yang penuh ancaman.
Chaka memang lebih mengerti Gea dari pada Bilqis, karena Bilqis lebih dekat pada Aslan, sedangkan dia pada Gea.
Meski mereka adalah adik kandung Regan, mereka lebih dekat dengan kakak angkat mereka karena Regan selalu saja menjahili mereka berdua.
Jika mereka bertanya pada Gea, Chaka yakin perempuan itu akan sedih nantinya.
^-^
Bagaimana cara menyapanya?
Apa dengan Hai?
Atau bagaimana kabarmu?
Javir bingung sendiri bagaimana harus menyapa Gea untuk saat ini.
Kali ini dia berada didepan An Angel, entah kenapa dan bagaimana bisa dia berada didepan Cafe and Resto itu Javir juga tidak tahu.
Dia hanya mengendarai mobilnya kesembadang arah tampa memikirkan kemana, yangboenyung dia tidak lagi satu ruangan dengan Aslan.
__ADS_1
Semua gara-gara Aslan, dia ada disini gara-gara Aslan yang membuatnya terbakar emosi. Kurang ajar ... mau balik dan tidak jadi masuk, Nadia sudah melihatnya dan melambaikan tangan kearahnya meski dia berada didalam mobil.
Sial ...
Aslan si*lan ...
Jabir memaki Aslan didalam hati berkali-kali sejak tadi.
Setelah memantapjan diri, akhirnya Javir keluar dari dalam mobil berjalan masuk kedalam An Angel.
Para karyawan Gea yang sudah mengenal Jabir langsung saja melambaikan tangan bahkan ada yang langsung menyapa Javir begitu Javir melangkah masuk.
Di tempat biasa Javir dan yang lainnya nongkrong, ada Gea dan Eric yang terlibat dalam pembicaraan serius, mungkin membicarakan tentang chennel milik Gea hang sudah beberapa hari ini tidak update apapun.
Nanda berjalan menghampiri Javir yabg masih dia menatap Gea dengan jarak yang agak jauh dari tempatnya berdiri.
"Mau gue panggilin mas?" Tanya Nadia.
Javir tersenyum kecil, "gak usah biar gue aja" tolaknya.
Kembali Javir melangkan menghampiri Gea, dia langsung duduk di dekat Gea tampa mengatakan apapun.
Meski tahu Javir duduk disampingnya, Gea tetap saja berbicara dengan Eric tidak menghiraukan Javir. Lain halnya dengan Eric yang tidak konsentrasi dengannapa yang dibicarakan Gea karena Javir terus-menerus menatap Gea sejak tadi.
"Ok gini aja" potong Eric ditengan-tengan Gea hanh sejak berbica padanya, "loe urusin dulu nih pacar loe udahnya itu kita diskusi lagi."
Tampa menunggu apapun, Eric langsung pergi begitu saja bahkan setuju atau tidaknya Gea pun tidak dia hiraukan.
Gea masih menatap kearah tempat Eric duduk tadi.
"Gue kangen" ucap Javir.
Padahal tadi dia kebingungan mau bicara apa lebih dulu, sekarang dia malah langsung mengutarakan apa yang dia rasakan pada Gea.
Berada didekat Gea seperti ini memang membuatnya lost kontrol akan segala sesuatu, entah itu perasaannya, tangannya yang mulai meraih tangan Gea dan menggenggamnya, bahkan pandangannya hanya tertuju pada Gea meski perempuan itu tidak balik menatap padanya.
Gea menarik tangannya, tetapi Javir semakin erat emnggenggam tangan itu.
"Gue udah bilang bukan, gue gak bisa menahan diri akan apapun kalu ada loe didepan gue" ucap Javir lirih. "Jadi ini konsenkuensinya yang harus loe terima karena belum mutusin bagaimana hubungan kita selanjutnya."
"Kalau gitu gak usah temuin gue biar loe gak usah menahan diri" ucap Gea dingin dan menatap Javir tajam.
Perlahan genggaman tangan Javir melonggar, "jadi loe mau hubungan kita stop sampai sini?" Tanya Jabir mencoba memastikan apa yang dia tangkap dari kalimat yang Gea ucapkan barusan.
Kening Gea mengerut mendengarnya, "loe yang mengambil kesimpulan sendiri."
Tangan Javir benar-benar melepas genggamn tangannya, menyeka rambutnya dengan kasar melampiaskan kekesalannya.
"Sebenarnya harus berapa lama loe butuh waktu mempertimbangi hububgan kita?."
Dengan cueknya Gea hanya mengangkat kedua bahunya santai.
"Jangan bilang loe juga mempertimbangkan untuk memulai cerita percintaan loe bareng Aslan!."
Kening Gea semakin mengerut dalam, "loe ngomong apaan sih?."
"Gue denger semua apa yang loe dan Aslan omongin tadi."
"Oh ya?."
"YA!" Jawab Javir tegas, "apa tidak bisa mencarai pria lain selain Aslan."
"Maksud loe gue boleh punya pe ..."
"Gak gitu juga An!."
Mereka berdua saling tatap dengan tatapan tajam.
Tidak ada yang mengatakan apapun sampai Javir meraup wajahnya kasar dan menatap Gea dengan tatapan lesu.
"Gue harus apa An?" Tanya Javir lirih, "gue mau kita terus bersama. Tapi kalau loe mau putus, maka sesuai janji gue, gue hanya bisa mengiakan dan pergi. But ... Itu berat buat gue."
__ADS_1
Javir tertawa kecil seakan menertawakan dirinya sendiri yang pelinplan dan tidak tahu diri masih mengharap Gea mau mereka bersama.
^-^