
"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk menjadi keluarga"
Gea yang baru saja membuka pintu untuk Bilqis langsung terperanjat.
Sebelum keluar dari mobil Gea sempat memperhatikan sekitar dan mobil Javir tidak ada disekitar sana.
Kepala Gea menoleh kekanan dan kekiri kembali memastikan jika mobil Javir memang tidak ada.
"Kenapa?" Tanya Javir lembut, "cari mobil gue?."
Gea yang ketahuan hanya tersenyum segaris beberapa detik dan memalingkan mukanya.
Dia berjongkok merapikan baju Bilqis dan Chaka mencoba untuk tidak menghiraukan Javir dan Danil.
"Apa sudah dipastikan tidak ada yang tertinggal?" Tanya Gea, untuk yang ketiga kalinya sejak mereka keluar dari pekarangan rumah keluarga Ganendra.
"Udah Kak" jawab Chaka sambil berjalan memeluk Gea dan mencium pipinya.
"Ini ketiga kalinya kak An bertanya" gerutu Bilqis dan mengikuti Chaka memeluk Gea.
Gea terkekeh dan kembali berdiri, "ya sudah sana masuk" ucap Gea.
Bilqis dan Chaka melihat pada Danil yang masih diam disamping Javir menggengham tangan Javir erat sambil menatap Gea.
Dengan ragu Gea melirik Javir, terlihat Javir tersenyum kecil mengelus rambut Danil.
"Sana masuk sama Bilqis dan Chaka" ucap Javir lembut.
Danil mendongak menatap Javir dan tersenyum, melepaskan tangannya dari genggaman tangan Javir dan menjulurkan tangan untuk bersalaman.
"Assalamu'alaikum" ucapnya lirih.
Danil yang semula sudah balik badan hendak pergi tiba-tiba kembali berbalik badan menghadap Gea dan berjalan perlahan kepadanya.
Tangan kecil Danil terulur dengan ragu.
Karena tidak mendapat sambutan dari Gea, Danil meraih tangan Gea dan bersalaman tampa mengatakan apapun sebelum melangkah pergi memasuki sekolahnya terlebih dahulu.
"Apa Danil tidak bisa bertemu ibunya Bang?"
Tiba-tiba terdengar suara Bilqis.
Gea dan Javir menunduk bersamaan menatap kearah si kembar yang berdiri menatap Javir, mereka masih belum masuk.
"Dia pasti kangen ibunya" ucap Chaka sebelum melangkah pergi.
"Jika tidak bisa bertemu Ibunya, kenapa Abang tidak memberinya Ibu baru?."
Dan tercenganglah Gea mendengar pertanyaan Bilqis yang seharusnya tidak keluar dari mulut anak kecil seusianya.
Lain halnya dengan Javir yang tertawa kecil. Selain cerewet, sifat Bilqis yang berbicara diluar dugaan sangat menggambarkan seorang Ganendra.
^-^
Mata Javir tidak lepas dari Gea yang duduk disampingnya, Gea sedang menyetir sambil menggerutu tidak jelas sejak tadi.
Meski terkadang Javir bisa mengerti gerutuannya, tetap saja dia sok tidak mengerti dan memilih untuk diam menatap Gea dari kursi samping pengemudi.
Dia sengaja tidak membawa mobil dari rumah untuk mengantar Danil, karena memang ingin nebeng dengan Gea. Lagi pula Gea akan ke Hotel Raja Throne untuk memantau para pekerja membereskan perabotoan EO An Angel di ballroom hotel.
"Padahal udah janji mau ketemu loe keesokan setelah kita ngo ..."
"Gue malah bersyukur" potong Gea judes.
Bukannya marah atau tersinggung, Javir terkekeh mendengar nada bicara Gea. "An, gue gak bermaksud untuk gak menemui loe. Gue lihat loe sibuk mendekorasi ballroom untuk acara kemarin, jadi gue gak mau ganggu loe."
"Bahkan menelfonpun tidak?, ke..."
Sebelah alis Javir terangkat menilah Gea yang tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
Gea meringis, mengulum bibirnya dan memejamkan mata sejenak, sehingga Javir tahu apa alasan Gea tidak melanjutkan kalimatnya.
Gea keceplosan, sedangkan dia sebenarnya tidak ngin Javir tahu jika dia sedang marah karena Javir tidak menemuinya .
"Kemarin loe sibuk, saat malam gue telponan sama Aslan, kata Aslan loe udah tidur" jelas Javir.
"Alasan"
__ADS_1
Javir tersenyum kecil, menjulurkan tangannya mengelus puncak kepala Gea yang ditepis Gea kasar dengan wajah juteknya.
Javir hanya bisa menghelan nafas dan memilih diam dan kembali menatap Gea dari samping selama perjalanan mereka menuju hotel Raja Throne.
Sesampainya di depan lobby hotel Raja Throne.
Javir cepat-cepat berlari kecil hendak membuka pintu disamping Gea tetapi lebih dulu Sebastian yang membukanya sehingga Javir memelankan langkah kakinya.
"Hai Love" sapa Sebastian sambil memeluk Gea.
Belum juga Javir selesai terkejut dengan panggilan Love Sebastian pada Gea, pria itu malah memeluk Gea didepan matanya.
Dan yang semakin membuat Javir terbakar adalah Gea yang membalas pelukan Sebastian bahkan dia menepuk punggungnya pelan.
Tangan Javir mengepal kuat hingga memutih melihat pemandangan didepannya.
"Kenapa loe disini?" Tanya Gea pada Sebastian dengan senyum diwajahnya.
"Mau ketemu loe lah" jawab Sebastian penuh percaya diri.
Mulut Javir ternganga mendengarnya, pria itu mecoba gimbal pada Gea.
"Emangnya gak dimarahin ama bos loe?"
"Alasannya kan mau menyelesaikan pembayaran jasa EO loe, tapi kalau loe sibuk ... Gue gak masalah kalau kita tunda dulu, hitung-hitung biar gue bisa lebih sering ketemu loe."
Mata Javir yang maaih melotot mulai memerah manahan amarah mendengar perkataan Sebastian barusan.
Dengan langkah lebar Javir berdiri diantara Gea dan Sebastian yang sedang berjalan hendak masuk kelobby hotel, tangannya menyentak tangan Gea sehingga Gea menghentikan langkahnya dan menghadap Javir.
Kening Gea mengerut melihat Senyum lebar Javir, tetapi tatapan matanya seakan menyiratkan sesuatu yang tidak dia mengerti.
"Inget, kamu akan menjadi Ibu dari anak-anakku" sangat lembut Javir mengucapkannya, "jadi jaga sikap sayang" lanjutnya.
Gea terperangah medengarnya, bahkan Javir menggunakan panggilan aku kamu yang membuat Gea semakin tercengang tidak habis pikir.
"Beberapa karyawan sudah melihat kita malam itu saat naik lift bersama keatas sana" kali ini senyum Javir semakin lebar, "jadi jangan memberi mereka gosip tentang kamu yang mendua didepan mataku."
"JE!" seru Gea.
Cup ...
Sangat cepat Javir mencium pipinya dan melangkah pergi dari sana tampa mengatakan apapun lagi, bahkan dia juga tidak memperdulikan teriakan kesal Gea.
Dengan sneyum lebar dan kegirangan, Javir memasuki hotel.
Semua mata yang menangkap apa yang baru saja Javir lakuakan pada Gea langsung berbisik-bisik heboh.
"Waw"
Satu kata datar, tampa ekperesi menghentikan langkah Javir hingga dia hampir saja terjengkang kebelakang.
Ya ... Yang berdiri didepannya adalah Abra, sedangkan dibelakangnya ada Ibnu sang Asisten Abra.
Meski tubuh Javir setara dengan Abra bahkan lebih tinggi dari Ibnu, detik itu Javir merasa tubuhnya mengecil seketika.
"Berani cium anak gadis orang didepan umum?"
Saat itu serasa malaikat maut mulai mendekati Javir.
Sekuat tenaga Javir mencoba tersenyum didepan Abra meski terlihat kikuk.
^-^
Seperti biasa, Danil tidak memiliki teman di sekolah itu.
Dia baru sekolah sebulan, lalu tidak masuk dua minggu dan kembali sekolah lagi.
Teman-teman yang tadinya mulai dekat dengannya entah kenapa menjauh dan tidak ada yang mau mendekatinya.
Kecuali dua orang itu, si kembar Bilqis dan Chaka anak dari teman Ayahnya yang selalu mengganggunya.
Terutama Bilqis, Danil selalu merasa malas meladeni Bilqis yang cerewet dan selalu bertanya banyak hal dan apapun, membuat kepalanya sakit rasa.
"Hei" sapa Bilqis namun tidak Danil hiraukan.
Bilqis duduk disampingnya, kali ini tidak ada Chaka yang selalu mengikutinya dengan menunjukkan wajah terpaksanya.
__ADS_1
"Kenpa gak main bola sama mereka?" Tanya Bilqis.
"Mereka gak mau main sama aku" jawab Danil sekenanya.
"Bukan mereka yang gak mau main, tapi kamunya yang gak mau main sama mereka."
Danil diam-diam mendengus.
"Mau gak Kak An jadi Ibumu?" Tanya Bilqis.
Mata Danil langsung meliriknya tajam, tuh kan ... Tadi Bilqis bertanya kenapa Danil tidak mau main bola, sekarang malah langsung bertanya kepertanyaan yang berat.
Lagi pula siapa itu Kak An?, Danil mana tahu ...
"Mau tidak mau kalau Ayah mau menikah sama siapapun kan aku harus menganggap dia Ibu juga" ucap Danil lirih.
"Tapi kalau Kak An jadi Ibu barumu mau tidak?" Tanya Bilqis dengan nada tidak sabar.
"Aku kan sudah bilang siapapun, jadi menski itu Kak An atau Kak Gea terserah" ucap Danil mulai kesal.
Tuk ...
"Aw"
Tangan Bilqis menggetok kepala Danil membuat danil mengadu sakit dan menatapnya tajam.
Bukan merasa bersalah, Bilqis malah mendengus secara terang-terangan dan menatap Danil malas.
"Kenapa main pukul?" Tanya Danil marah.
"Habisnya kamu bo**oh" umpat Bilqis tampa merasa berdosa, "Kak An dan Kak Angel itu satu orang yang sama. Angela Lovita, dikeluarga dan orang dekatnya dipanggil An sedangkan teman-temannya memanggilnya Gea."
"Mana aku tahu Kak An itu Kak Gea"
"Nama channelnya kan An Angel, apa kamu gak tahu?."
"Tapi akau kan gak tahi nama panggilan dikeluarganya An" kali ini Danil mulai terpancing emosi.
Danil berdiri dari duduknya dan bernilat pergi.
Tangan Bilqis menarik ujung lengan bajunya, "mau kemana kamu ..."
"aku males ngomong sama kamu, kamu cerewet."
Tangan Bilqis melepas pegangannya dari lengan baju Danil.
Kembali Danil melangkahkan kakinynya pergi menjauh dari Bilqis.
"Ibu sama Ayah tidka menikah, jadi kalau Ayah mau nikah lagi aku memangnya bisa apa?" Danil mendumel sambil berjalan kekelasnya. "Kata Akung Ayah pasti menikah dan aku akan punya Ibu baru, dan aku harus menerimanya, apa lagi Ayah sayang Kak Gea. Danil gak papa kok punya Ibu baru asal kak Gea."
Bibir Danil tiba-tiba bergetar, matanya berkaca-kaca.
Langkahnya terhenti didepan pintu kelasnya, dia tidak masuk kedalam kelas melainkan berbalik badan dan berlarik kencang kearah taiolet.
Mata Chaka hanya bisa menatap tampa ekperesi pada Danil.
Meaki Danil tadi bergumam, dia mendengar apa yang Danil katakan tadi meski tidak cukup jelas.
"Ibu Baru?, dia mau Kak An?"
Tatapan mata Chaka berubah dingin menatap kearah Danil pergi tadi.
^-^
.
Hai Readers ...
Maaf jika banyak TYPO π
Terima kasih sudah mampir π
Jangan lupa dukungannya dengan meninggalkan πLike and π¬ Komen kalian setiap kali selesai baca.
Love you π
Unik Muaaa
__ADS_1