
Tiga pasang mata itu mebatap pada Kavir dan Danil yang bersembunyi dibelakangnya.
Hari ini, untuk pertama kalinya Javir membawa Danil kerumah keluarganya.
Setelah Danil keluar dari rumah sakit, Javir membawa anak itu tinggal di hotel miliknya karena Javir benar-benar sibuk dengan semua pekerjaan hotelnya, sehingga baru sekarang dia sempat untuk memperkenalkan Danil pada Malvin, Bela dan Resa secara resmi.
Terasa genggaman tangan Danil mengerat menggenggam celana Javir, menyembunyikan diri dari tatapan Malvin, Bela dan Resa.
Javir mendengus menatap ketiganya bergantian, "berhenti memberi tatapan seperti itu, dia jadi takut" keluh Javir.
"Memangnya kami menatak dia seperti apa?" Tanya Malvin sok tidak berdosa, "kami menatap dia biasa saja kok."
"Ya biasa saja" sambung Bela.
Sedangkan Resa berdiri berjalan menghampiri Danil dan berjongkok didekatnya.
Tangannya terulur kearah Danil dan tersenyum lebar, "hai ... asih ingat dengan dokter tidak."
Kepala Danil menoleh menatap Resa lalu mengangguk pelan.
"Namaku Resa, adik dia" ucap Resa dengan jari telunjuk sebelah kiri yang menunjuk Javir.
Tak ...
Javir menggeplak tangan Resa, "gak sopan" tegurnya.
Resa hanya terkekeh dan mencibir lalu kembali menatap Danil dengan senyum lebarnya, "namamu?."
Perlahan Danil mengulurkan tangannya, "Danil" ucap Danil lirih.
Dengan sigap Resa menggendong Danil dan membawanya mendekati Malvin dan Bela.
Mata Danil emenatap Javir lekat, Javir membalasnya dengan senyum dan membuntuyinya dari belakang.
"Ayo salim sama Uti dan Akung."
Resa menurunkan Danil didepan Bela dan Malvin.
Tangannya terulur dengan ragu pada Bela membuat Bela tersenyum dan menarik tibuhnya untuk duduk dipangkuannya.
"Jangan takut begitu" ucap Bela lembut, "mulai hari ini kamu akan menghabisakan banyak waktu dengan Uti dan Akung, karena Ayahmu sibuk kerja."
"Ayah bisa menemani Danil saat malam, tidak apa-apa kan?" Tanya Javir.
"Iya" ucapnya, "kadang Ibu juga gitu kok."
Bela yang semula menunduk menatap Danil menbangkat wajahnya, beralih menatap Javir.
"Tapi kali ini ada yang akan mengantar dan menjemputmu pilang sekolah, ada yang menemani kamu juga" kali ini Malvin yang angkat bicara meski terdengar datar.
Javir menatap Malvin dengan dalam, diam-diam dia menghela nafas lega Malvin mau menerima Danil.
"Ayo aunty antar kamu lihat kamar kamu dulu" ajak Resa dengan antusias.
Danil melirik Javir sebelum turun daei pangkuan Bela dan meraih tangan Resa yang terulur padanya.
Javir menganggukkan kepala mencoba menenangkan Danil.
Terdengar celotehan Resa yang mencerikanan seberapa antusiasnya dia dan Brla menyiapkan kamar untuk Danil.
"Terima kasih dan maaf" ucap Javir lirih
"It's ok, Mam seneng kembali punya teman dirumah dan rumah kita kembali ramai."
Javir tersenyum segaris pada Bela.
"Lalu hubunganmu dengan Gea bagaimana?" Tanya Malvin.
__ADS_1
Pertanhaan itu seketika menghilangkan senyum diwajah Javir.
Mata Javir menatap kelain arah, tidak lagi menatap Bela seperti tadi. "Sepertinya selesai" ucap Javir lebih lirih dari tadi.
"Kenapa?" Tanya Bela heran.
"Sepertinya apa maksudmu?" Suara Malvin terdengar tegas, "yang jelas."
"Gea tidak mengatakan apapun, bahkan dia tidak memberi isyrat apapun."
"Dan kamu sudah menyimpulkan hubungan kalian selesai?."
"Ya, memangnya apa lagi?."
Malvin mendengus mendengarnya.
Sedangkan Javir menundukkan kepalanya dalam, dedua tangannya saling bertautan. "Jika benar Gea memilih mengakhiri hubungan kami ..." suara Javir seakan menggantung, "Je akan membawa Danil pergi."
Malvin dan Bela saling tatap mendengar perkataan Javir, meski Malvin sudah tahu hal itu, masih saja Malvin rerkejut karena Javir benar-benar akan melakukan hal itu.
"Pergi kemana?" Tanya Malvin dengan suara dalam, "apa kamu akan pe ..."
"You know me well, what will happen to me after our relation ends, Dad" potong Javir.
Tangan Malvin meraup wajahnya kasar dan menatap Javir dengan tatapan tajam, "memangnya pergi akan menghilangkan kegilaanmu?."
"Apa ada pilihan lain?" Tanya Javir dengan dada yang mulai terasa sesak, "apa Papa bisa memastikan aku tidak akan semakin gila berada didekatnya tetapi aku tidak bisa melakukan apapun?."
"Bukannya sebelumnya kamu bisa?" Tanya Bela lembut.
Kepala Javir menggeleng pelan, wajahnya terangkat emnatap Bela dengan tatapan sendurnya. "But not fot the second time Mam."
Suasana seketika hening.
Javir berdiri dadi duduknya, "Je keatas dulu" pamitnya.
Menyerahkan semua keputusan pada Gea, tetapi sampai saat ini perempuan itu tidak memberi jawaban apapun.
Apa salah jika Javir mengambil kesimpulan jika Gea menginginkan hubungan mereka berakhir?.
Pasti terlalu berat untuk Gea.
^-^
Jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam, tetapi Gea masih saja duduk dimeja kerjanya dilangai dua gedung An Angel, dengan Yesi hang menemaninya.
Sepulang dari Surabaya, dia langsung emnuju A Angel dan sampai sekarang Gea masih belum beranjak dri duduknya, hampir lima jam lamanya.
Gea meletakkan macbooknya diatas meja dan menggelak-gerakkan lehernya mulai terasa pegal.
"Udah?" Tanya Yesi?.
Kepala Gea menganggu pelan, "udah" ucapnya sambil melirik jam dinding.
"Seprei kamar loe udah gue ganti, malam ini tidur disini kan?"
Kepala Gea mengangguk pelan.
"Em ... boleh gue tanya sesuatu lagi?" Tanya Yesi dengan ragu.
Gea menaikkan sebeleh alisnya.
"Hubungan loe sama Bang Je" ucap Yea lirih, "sekarang bagaimana?."
Mendengar pertanyaan Yesi, langsung saja Gea mendengus kesal.
Punggungnya bersandar pada sandaran kursi kerhanya, mendongakkan kepala dan menggerak-gerakkan kursi kursi kekanan dan kekiri.
__ADS_1
"Entahlah" jawab Gea lirih.
"Apanya yang entahlah?."
"Dia menyerahkan keputusan hubungan kita ke gue, tapi gue gak tahu mau bagaimana?."
"Setelah sebulan lebih loe pergi, loe masih eblum bisa memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kalian gitu?."
Kepala Gea mengangguk pelan.
Kali ini Yeai yang mendengus, "Gea loe ..."
"Apa loe tahu Danil sekarang tinggal bersama Je?" Potong Gea.
Yesi yang terkejut berjalan mendekati Gea, menatapnya dengan tataoan tak percaya membuat Gea terkekeh pelan.
Tentu saja Yesi tidak tahu, karena dia tidka cukup dekat dengan ketiga teman Javir. Tidak mungkin bukan dia bertanya pada Malvin meski dia cukup dekat dengan teman Papanya itu.
"Danil beneran anak Bang Je?" Tanya Yesi terperangah.
Kepala Gea menggelng, "enggak" jawabnya santai.
"Terus kenapa tinggal dengan Bang Je."
Gea tersenyum kecut kali ini, dia tidak langaung menjawabnya, dia memitar kursi yang dia duduki.
"Loe tahu gue gak memiliki satu tetespun darah keluarga Ganendra didiri gue?" Tanya Gea lirih.
Kepala Yesi mengangguk, "ya."
"Dan dia melakuakan hal yang sama pada Danil" Gea melirik Yesi menunggu responnya.
"Tapi Ayah dan Mami dulu sempat menikah Gea."
Gea tertawa kecil mendengarnya.
Kembali duduk dengan tegap menatap Yesi dnegan senyum segaris dan tataoan kosongnya.
"Gea loe da ..."
"Saat Je menganggap gue seperti sampah, gue merasa itu karma dari apa yang sudah Mami gue perbuat pada Bunda" pontong Gea lirih. "Dan kali ini, gue gak tahu mau ngomong ini karma atau apa."
^-^
Tangan Jablvir mengepal menatap layar leptopnya.
Sudah berkali-kali dia memutar video respon Gea disaat perempuan itu memperhatikannya dan Liza dari leptop Vira.
Saat Regan meminta Gea membuka leptop Vira dan mendengar apa yang Javir katakan pada Liza untuk meminta hak asih Danil, saat itu juga Javir meretes leptop itu dan merekam respon Gea.
Tetapi dalam rekaman itu bukan hanya respon Gea yang Javir dapat, dia mengetahui apa yang dia lakuakn kali ini begitu mirip dengan apa yang Abra lakukan pada Vira demi Gea.
Dia tidak tahu akan hal itu, Javir seakan serba salah mengambil keputusan.
Dan itu adalah salah satu alasan terkuat Javir untuk menyimpulkan jika Gea memang ingin hubungan mereka selesai.
"Sudah hampir sebulan An" ucap Javir lirih tetap menatap tajam pada layar leptopnya.
Tangannya mulai bergerak cepat diatas leptopnya, video yang tadi dia putar terhenti.
Seperti biasa rutinitasnya setiap malam, Javir akan mengecek keadaan An Angel setelah para karyawan pergi. Kali ini menemukan sesuatu sehingga tangannya terhenti seketika.
Bibir Javir yang semua tidak terukir senyum tiba-tiba tersenyum.
Layar leptopnya menampilkan Gea yang sekarang sedang duduk menonton tv di lantai tiga An Angel.
Gea sudah kembali, lalu apa yang harus Javir lakukan selanjutnya?.
__ADS_1
^-^