
Jika mereka sudah melakukan project besar, maka seperti biasa ... An Angel Caffe and Resto akan tutup sehari dan hanya buka untuk para karyawan caffe, karyawan EO dan tim edihor milik Gea.
Mereka bisa makan makanan yang disediakan disana, dan seharian akan bebas dari pekerjaan mereka.
Gea duduk di atas panggung, memutar-mutar kursi yang dia duduki sambil menatap ponselnya.
"Bee masih belum bisa dihubungi?"
Fariz, sang drumer band Gea duduk di kursi dekat Gea.
"Gak diangkat" jawab Gea lesu.
"Terus gumana?, party b day loe di Bali nanti gak ada DJ Qiun Bee dong?."
Gea mngangkat wajahnya menatap Faris, "katanya udah pasti berangkat, tapi H-1."
"Sebenarnya ini party untuk apaan sih?" Eric, pemengang bas diband Gea ikut nimbrung diantara mereka berdua. "Gak biasanya loe ulang tahun mau ngadain party tertutup, ada DJnya lagi."
"Soalnya gue lagi setres" jawab Gea asal.
"Kenapa gak ngedugem kayak biasanya aja?"
"Udah gak ada pendukung keluar malem gue"
Eric tertawa mendengarnya, "lebay loe ... keluar malem aja butuh pendukung."
Gea lemirik Eric dengan tajam, "loe gak liat didepan itu mulai tadi ada mobil?."
Eric dan Faris melihat keluar coffe An Angel, sejak tadi memang ada mobil hitam disana.
Mereka Nanda dan Haikal, pasti Javir yang memerintahkan mereka. Secara Javir adalah salah satu petinggi dalam perusahaan ASG, dan mereka berdua dulu juga sudah pernah menjadi bodyguardnya.
Dan yang sedang kita bicarakan datang.
Mobil Javir memasuki pekarangan caffe, bagaimana Gea tahu?, itu ada dalam postingan insta Aslan.
Javir keluar dari dalam mobil, dengan kemeja putih, kancing terbuka dibagian atas, lengan digulung, celana kain dan sepatu fantofelnya, dia pasti dari hotel atau ASG.
Seseoramg menghampiri Javir yang hendak masuk kedalam caffe, tetapi dengan santainya Javir mendorong dia minggir dan terus melanjutkan langkahnya mendekati panggung dimana Gea, Faris dan Eric sekarang menatap kearahnya.
"Bisa kita bicara?" Tanya Javir.
Gea masih duduk dengan diam, dia malah bersandar pada Eric yang berdiri dibelakangnya dengan santai.
"Ini udah malem" sahut Eric, melingkarkan tangannya di leher Gea dengan santai.
"Maaf, kami sedang libur sekarang, kembali lagi besok" timpal Faris.
Mata Javir melirik tajam pada Faris sejenak sebelum kembali menatap Gea dan Eric secara bergantian dengan tatapan tidak suka.
"Karena ini sudah malam ... bukan seharusnya kalian mengakhiri parti kalian?, ini sudah sudah jam sebelas lewat" pungkas Javir.
"Siapa loe yang main ..."
"Gue orang kepercayaan Bokap dia" potong Javir tegas.
Eric dan Faris saling tatap.
Javir memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, "turun sendiri dan kita bicara baik-baik atau gue naik dan bawa loe paksa."
Setelah mengataknnya dengan santai, Javir menatap kesekitar, memberi isyarat pada Gea jika dia akan melakukan apapun meski banyak orang yang akan melihatnya.
^-^
Sebenarnya Javir lelah untuk keluar hari ini, kepalanya sejak bangun tidur juga pening. Jadi dia hanya ingin tidur seharian, maka dari itu dia meminta Nanda dan Haikal untuk mengawasi Gea.
__ADS_1
Tetapi saat melihat sedang bermain game dan tidak sengaja melihat tanggal di ponselnya, Javir teringat jika besok adalah ulang tahun Gea dan mereka semua pasti lupa karena sibuk dengan acara ulang tahun Perusahaan Ganendra yang seharusnya digelar bulan lalu.
"Mau ngomong apa?" Tanya Gea ketus.
Javir tersenyum, duduk menatap Gea yang masih berdiri.
Mereka kali ini ada d taman belakang caffe Gea, An Angel Caffe and Resto menyedian kursi outdoor dan indoor, dan Gea tadi berjalan keluar ketaman belakang, padahal Javir berharap Gea akan membawanya lagi kelantai tiga.
"Duduk aja dulu" ucap Javir.
Gea masih saja berdiri tidak menghiraukannya.
"Gue mau ngomong nunggu empat puluh tiga menit lagi"
Mendengar itu, sontak saja Gea langsung menoleh menatap Javir dengan tatapan horornya.
Javir terkekeh melihatnya, meraih pergelangan tangan Gea, menariknya mendekat. Sedangkan tangan yang lain mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah gelang ...
Saat Javir akan memasangnya kepergelangan tangan Gea, Gea menarik tangannya, tetapi Javir semakin mempererat genggaman tangannya.
"Diam" tegur Javir, "ini hadiah kesepuluh yang akhirnya gue bisa kasih langsung ke loe."
Setelah merasa tidak akan ada lagi perlawanan dari Gea, barulah tangan Javir melepas pergelangan tangan Gea dan memasang gelang yang dia bawa dipergelangan kanan tangan Gea.
Bibirnya tersenyum lebar, kedua tangannya menggenggam tangan Gea dengan erat.
"Kalung dan gelangnya sangat cocok bukan?" Tanya Javir sambil mendongakkan kepalanya menatap Gea yang masih berdiri disampingnya.
Sebelah tangan Gea menyentuh kalung yang dia kenakan malam ini.
"Itu kalung yang gue titipin ke Ayah, diulang tahun ke tujuh belas loe, delapan tahun lalu" ungkap Javir, "dan tadi gue keliling cari gelang yanh sama persis dengan kalung itu."
"Terus loe bilang begini biar gue tersanjung gitu?"
"Loe gila" ledek Gea, menarik tangannya dan duduk dikursi tepat didepan Javir. "Kayak gue mau aja sama loe."
"Enggak"
Javir berdecak mendengarnya, "jangan langsung jawab dong ... pikir dulu."
"Gak perlu gue pikirin."
"Emangnya loe udah gak cinta sama gue?."
"Enggak"
"Serius?, gak pernah deg dekan gitu?"
"Enggak tuh"
"Angel ... dipikir dulu kek baru jawab."
"Ya emang enggak, ngapain gue mikir segala?, ngabisin waktu."
"Gue aja gak masalah ngabisin waktu seumur hidup bareng loe."
"Wah ... kalau gue keberatan banget"
"Angel ..." seru Javir kesal.
Gea hanya mencibir tak perduli.
Perlahan kepala Javir meejam, dan meletakkan kepalanya diatas meja.
__ADS_1
Kepalanya kembali terasa pusing, berdebat dengan Gea kembali membuatnya pusing.
Tangan kanan Javir menggenggam tangan Gea, sedangkan tangan kirinya memijit keningnya. "Kenapa lama banget jam dua belasnya" keluh Javir dengan suara lirih.
"Kenapa?" Tanya Gea, "kalau udah ngantuk pulang gih."
Kepala Javir menggeleng pelan, "bukan ngantuk, tapi kepala gak kuat."
Gea mengerutkan kening, menjulurkab tangannya menyentuh kening Javir yang ternyata panas.
"Loe sakit?" Tanya Gea khawatir.
"Hem" jawab Javir dengan gumahan.
"Kalau sakit kenapa malah keluar?"
"Cari hadiah bulat loe" ucap Javir sambil kembali mengangkat kepalanya dari meja menatap Gea dalam, "dan mau jadi orang yang pertama ngucapinnya nanti."
Gea terdiam sejanak sebelum menghela nafas menatap Javir, "kenapa?" Tanya Gea lirih.
Javir tersenyum lebar, "karena udah sembilan tahun gue gak perbah ngucapin langsung, gak pernah ada saat loe ulang tahun."
"Siapa suruh loe hak dateng tiap Ayah ngadain pesta buat gue?."
"Karena gue gak mau ngerusak hari bahagia loe dengan ngeliat wajah gue."
"Je"
Javir menepuk-nepuk punggung tangan Gea yang masih berada dalam genggamannya, "tiap kali loe liat gue, loe pasti banyak diem, loe juga pernah bilang kalu loe gak nyaman. Jadi gue ...."
"Tapi bukan dengan menghindar, kayak loe ketemu musuh."
"Karena gue gak punya pilihan lain selain menghindar agar loe nyaman."
"Terus kenapa sekarang loe selalu muncul dihadapan gue dan ... dan loe selalu ... ngomong yang ..."
Gea terlihat kesulitan untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia pikirkan.
Tampak lucu didepan Javir hingga Javir tersenyum, tangannya terulur mengelus pipi Gea membuat Gea mematung seketika.
"Gue udah bilang bukan ... saat loe ngubungin gue lebih dulu, gue merasa lega ... merasa bahagia ... merasa bersyukur ... dan ... merasa sesuatu yang ... besar" ungkap Javir.
"Sesuatu?."
"Ya ... perasaan yang lebih dari kata bahagia"
Terasa tangan Gea membalas genggaman tangan Javir membuat Javir semakin tersenyum lebar.
"Munglin lebih tepatnya perasaan senang karena loe ngubungin gue lebih dulu, berarti loe udah maafin gue."
Tangan Gea kembali mengendur.
Javir mengerutkan keningnya.
"Senang?"
"Ya ... senang, akhirnya loe bisa maafin gue dan kita bisa sama-sama kayak dulu."
"Dulu?"
Kepala Javir mengangguk, "ya ... bisa sama-sama lagi kemanapun, soalnya jika hanya sengan Ar, As, dan Al membosankan."
Gea tiba-tiba tersenyum lebar.
Javir ikut tersenyum, melirik jam tangannya dan menatap Gea dalam. "Heppy birthday Angela Lovita."
__ADS_1
Gea menarik nafas dan menahannya, tetap dengan senyum dibibirnya, "terima kasih" ucapnya lirih.
^-^