Watching You

Watching You
Pengaruh Javir


__ADS_3

Empat mobil mewah satu persatu mulai memasuki halaman perusahaan PT Mega Yasa.


Tidak langsung ke basement, mereka malah terparkir berjejer didepan lobby perusahaan itu.


Bahkan tidak ada yang langsung turun dari dalam mobil hingga Abra turun terlebih dahulu, barulah Regan gang berada di depan turun diikut turun, disusul Aslan yang membuka mobil pemberian Javir, lalu Alaric yang turun dari mobil yang berhenti dibelakang mobil Abra.


Abra yang sudah berjalan didepan berbalik badan, menatap mereka satu persatu yang sedang memberikan kunci mobil mereka pada Pak Dedi supir pribadi Abra.


"Kalian sok jadi orang kaya" Abra mulai mengomel, "kalau tidak ada supir, ya bawa sendiri ke basement" lanjutnya.


Regan dan yang lainnya menyengir berdiri berbaris kesamping didepan Abra dengan stelan rapi, jas hitam dan sepatu kulit mereka.


"Kalian pasti sudah datang dari tadi tapi malah menunggu Ayah masuk" tebak Abra.


Mereka bertiga hanya saling lirik dan tersenyum segaris, seakan membenarkan tebakan Abra barusan.


"Kenapa ka ..."


"Come on Ayah" keluh Alaric, "jangan mengomel. Kita suda berusaha menjadi pria kaya berkelas."


Abra terperangah mendengar.


Regan dan Aslan sekuat tenaga menahan tawa lepas mereka, semua memang Alaric yang mengatur, bahkan Pak Dedi juga ikut mereka libatkan dalam rencana ini.


Disebrang sana, Javir tertawa ngakak membayangkan wajah kesal Abra saat ini, pasalnya ... Abra tidak suka melakukan sesuatu yang menonjol, begitupun dengan mereka semuanya sebenarnya.


Tetapi untuk saat ini, Alaric berhasil merubah pemikiran kedua temannya, dengan alasan demi menghargai pemberian Javir pada mereka.


Beberapa kali Abra berdecak menoleh kebelakang melihat mereka bertiga yang berjalan begitu cool dan berwibawa yang terus saja mengikutinya.


"Maaf ada yang bisa kami bantu?"


Salah seorang karyawan disana menghampiri mereka.


Aslan dan Alaric saling lirik, hingga suara Javir dari earbug yang mereka kenakan menjawab semuanya.


"Dia seorang security"


Sebelum Abra membuka mulut, Alaric menjawab pertanyaan keamanan itu "kami salah satu pemegang saham."


"Rapat sudah dimulai tujuh menit lalu, kena ..."


"Karena kami terlalu sibuk" potong Regan.


"Apa anda tidak mengenal beliau?" Alaric menunjuk Abra membuat Abra mengerutkan kening. "Beliau adalah Abraham Ganendra, Direktur Eklusif perusahaan GG Com, Ganendra Group Compeny dan kami menunggu beliau."


Terlihat wajah Abra yang memerah menahan diri agar tidak marah saat ini juga.


"Baik kalau begitu saya antar"


Mereka berjalan membuntuti security itu.


Saat pintu tempat meeting terbuka, terlihat semua orang berdiri menatap kearah mereka berempat, seakan menyambut kedatangan mereka.


Alaric menarik sebelah ujung bibirnya, tersenyum culas melihat semua orang menatap mereka, sepertinya security tadi memberi informasi secara diam-diam pada salah seorang dalam ruangan itu.


"Pak Abraham" Pak Lutfi berjalan menghampiri mereka menjabat tangan Abra dengan penuh wibawa. "Saya tidak percaya anda adalah salah satu pemegang saham perusahaan kecil saya."


Abra hanya tersenyum kecil sejenak, "ya" jawabnya singkat.


"Mereka?" Tanya Pak Lutfi.


"Apa anda tidak membaca nama-nama pemegang saham perusahaan anda?" Tanya Abra sebelum melangkah kearah kursi kosong diikuti ketiganya, dia malas melayani basa basi Pak Lutfi.


Javir sudah berhasil masuk kesalah aatu cctv dan mulai mengamati dari jarak jauh seperti biasa, menggunakan keahliannya.


Ya ... Javir berada di ruangannya di hotel Raja Throne, mengawasi apapun yang terjadi di rumah meeting itu sembari sesekali melirik layar ponselnya memperhatikan Gea.


^-^


"Kenapa sih senyam senyum sendiri?" Tanya Yesi.


Gea malah tertawa kecil.


"Loe gak lagi kesambet kan?"


"Enggak" jawab Gea singkat.


"Loe kenapa sih?, cerita dong ... Loe akhir-akhir ini berbeda dari biasanya tahu"


Yesi berjalan dan memilih duduk di Top table kitchen set disamping Gea yang sedang mencuci piring.

__ADS_1


"Gue jadian sama Je" ucap Gea dengan cepat dalam satu kali tarikan nafas.


Yesi terdiam beberapa saat sebelum menjerit heboh, "Ya Tuhan ... kapan?, kenapa loe gak bilang ke gue?, sejak kapan?."


Gea tersenyum lebar, "lima hari ... atau ... mau seminggu."


"Oh ... pantes loe terlihat bersinar akhir-akhir ini, ternyata pengaruh seorang Abang Je begitu bisa membuat seorang Angela Lovita si dingin dan cuek berubah shining."


"Kenapa sih loe sewog gitu?"


"Bukan sewot Gea" bantah Yesi, "gue tuh bahagia liat loe bahagaia. Wajah loe berseri-seri gitu keliahatan kalau loe masih idup."


Gea ngakak mendengar perkataan Yesi.


Yesi tersenyum menatap Gea dengan tatapan yang begitu tulus, "akhirnya" gumannya.


"Apa?" Tanya Gea disela-sela tawanya.


"Bisa liat loe ketawa lepas tampa beban, tampa memikirkan sesuatu."


"Apaan sih loe, lebay banget."


"Gue gak lebay."


Nada suara Yesi terlihat berbeda dari sebelumnya, tampak serius dan lirih.


Gea yang semula menghidupkan komper kembali mematikan kompor dan balik menatap Yesi yang ternyata menatanya dengan senyum lebarnya.


"Ini baru Gea yang gue kenal sebelas tahun lalu."


Mata Gea jadi berkaca-kaca mendengarnya.


Senyum Yesi semakin melebar, merentangkan tangan kearah Gea. "Hug me, please" pintanya.


Tampa diminta dua kali Gea masuk dalam pelukan Yesi.


Yesi adalah salah satu saksi bagaimana pengaruh Javir membuatnya tertutup pada semua pria, menjadi perempuan introvert, padahal dulu dia begitu extrovert seperti Bilqis.


"Pengaruh Abang Je memang tidak bisa dipertanyakan, loe sampek berubah gini bahkan chanel loe sampek meledak" ucap Yesi sebelum tertawa ngakak.


^-^


Satu persatu sudah keluar dari dalam ruangan, hanya tersis Abra, Regan, Aslan, Alaric dan Pak Lutfi.


Abra dan yang lainnya tidak keluar dari ruangan itu karena sekretaris Pak Lutfi memberi mereka memo, agar mereka tetap di ruangan meeting.


Pintu tertutup rapat, hanya terdengar suara jarum jam dalam ruangan itu.


"Saya tidak menyangka ternyata dua orang nama pemegang saham baru yang tidak saya kenal adalah kedua putra anda" ucap Pak Lutfi dengan tangan menunjuk Regan dan Aslan.


Abra hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Kalian membeli saham kami secara terus menerus dalam satu bulan terakhir ini, apa ada maksud tertentu?" Kali ini suara Pak Lutfi tersengar mencurigai mereka.


"Saya tidak mempunyai niat apapun" jawab Abra, "saya datang karena orang yang sebenarnya membeli saham anda meminta saya untuk datang."


Aslan melongo menatap Abra tak percaya, bahakan Alaric juga melakukan hal yang sama.


Seakan Abra memang sengaja ingin agar Pak Lutfi mebgetahui kelakuan Javir.


"Kenapa loe gak muncul sekarang?" Ucap Regan menggema entah pada siapa, "gue sibuk gak bisa lama-lama disini."


Disebrang sana Javir tertawa kecil, tangannya mulai memencet keyboard leptopnya dengan cepat.


Perlahan latar proyektor diruang meeting itu turun.


Regan berdiri menyalakan LCD, "biar cepet gue bantu" ucap Regan seakan berbicara sendiri.


Regan kembali duduk dengan tenang setelahnya, menatap kearah layar proyektor yang mulai menyala.


Wajah Javir muncul dilayar proyektor, berdiri didekat kaca pembatas dengan background gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Javir berada di ruangannya. Di ruangan GM hotel Raja Throne.


"Hai selamat siang semua" sapanya.


Javir terlihat menjaga wibawa membuat Alaric tersenyum kecil.


Lain halnya dengan Pak Lutfi yang menatap berang pada Javir.


"Dia yang memiliki seluruh saham atas nama kami" ucap Abra menatap kelayar proyektor.


"Tidak mungkin" ucap Pak Lutfi, "anak seperti dia mampu."

__ADS_1


Regan hanya tersenyum sarkas mendengarnya.


Bahkan Aslan mendengus jengkel.


Tangan Abra mengepal.


"Saya tidak percaya dengan apa yang anda katakan, sangat tidak mungkin anak kemarin sore seperti dia bisa membeli saham perusahaan saya, terlebih darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu hingga di ..."


"WAW!" Seru Javir menggelegar menghentikan perkataan Pak Lutfi yang panjag, "anda meremehkan saya" ucapnya tersenyum culas. "Padahal saya sudah peringatkan anda sebelumnya" lanjutnya dengan suara mendesisnya diakhir kalimat.


Mata Pak Lutfi dan Javir seakan saling menatap tajam melalui layar proyektor.


Mata Javir bahkan memerah terlihat jika dia sedang menahan emosi untuk saat ini.


"Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, maka itu pasti akan berlaku juga padamu" ucap Pak Lutfi dengan senyum sarkasmenya.


Abra dan yang lainnya yang masih berada disana langsung menatap tajam pada Pak Lutfi.


"Seperti Papamu" Pak Lutfi bersandar pada sandaran kursinya, "hanya mengandalkan orang-orang seperti mereka untuk melajutkan hidup. Semoga saja nanti kamu tidak menghamili anak orang diluar nikah juga."


Bukan hanya Javir, tetapi semuanya terlihat marah mendengar ucapan Pak Lutfi barusan.


"Kata-kata anda terlalu kelewatan Pak" desis Regan, "apa anda belum sadar diri posisi anda sekarang?."


Regan bertanya sambil melangkahkan kakinya mendekati Pak Lutfi yang masih duduk dengan tenang dikursinya.


"Anak kemarin sore itu memiliki tiga puluh delapan saham perusahaan anda, apa anda lupa?" Ucap Regan setelah berdiri cukup dekat dengan Pak Lutfi. "Papa Malvin dan Javir tidak hidup bergantung mengandalkan kami, tetapi sebagian bisnis dan pekerjaan kami bergantung pada mereka. Urusan menghamili anak orang diluar nikah, itu kembali pada kepribadian setiap orang, yang ada anda sebagai Ayah yang tidak becus mendidik Papa Malvin dengan benar."


Meski nada dan kata-kata Regan yang pasti sedikit menyinggung Pak Lutfi, Abra sebagai Ayahnya malah tidak berniat untuk meghentikannya.


Regan mengalihkan tatapan tajamnya dari Pak Lutfi pada jam tangannya lalu tersenyum kecut. "Maaf saya harus kerumah sakit sekarang karena harus melakukan operasi, permisi" pamit Regan. Tetapi baru saja membuka pintu ruangan, Regan kembali berbalik badan. "Ah ... saya hampir lupa" ucapnya sambil tersenyum lebar, "dan anak kemarin sore itu berhasil menyusup ke perusahaan anda. Berdo'alah semoga dia tidak tersunggung dengan ucapan anda nanti dan menjual semua database perusahaan anda."


Setelah mengatakan hal itu Regan benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.


Layar proyektor langsung mati seketika.


Aslan menghela nafas malas, berdiri dan berjalan keluar menyusul Regan tampa mengatakan apapun.


Lain halnya dengan Alaric yang masih menghentikan langkahnya disamping Pak Lutfi. "Anda salah menilai orang Pak" ucapnya, "pengaruh mereka berdua sangat besar bahkan melebihi pengaruh sang direktur Ganendra."


Alaric mengatakannya sambil melirik Abra sejenak lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Abra kali ini tertawa lepas, semua yang diucapkan mereka memang benar apa adanya. Dan mereka sudah memawilkan sebagian yang ingin Abra katakan.


Mata Pak Lutfi menatap tidak suka pada Abra.


Saat tatapan mereka bertemu, Abra baru menghentikan tawanya.


"Anda tahu?" Tanya Abra setelah berhasil menghentikan tawanya, "salah satu alasan kenapa database perusahaan saya terlindungi. Itu semua gara-gara dua orang berbakat yang anda buang, mereka heacker yang lebih dari kata handal."


Sampai disini kening Pak Lutfi mengerut, menatap Abra dengan tatapan tak percaya.


"Hotel Raja Throne menjadi salah satu hotel terbaik, termewah sampai meraih beberapa penghargaan. Padahal empat orang anak itu baru memulainya sepuluh tahun lalu dari nol, itu semua karena empat puluh persen yang mengelola adalah Javir Erlangga. Dan tiga orang anak-anak tadi hanya membantu dalam segi keluangan dan sekedarnya saja.


Dari dulu hobbi Javir adalah bermain saham, mungkin dia sudah memiliki saham diberbagai perusahaan di Indonesia atau diluar negeri juga. Jadi anda salah jika meremehkan mereka, pengaruh mereka sangat besar bagi kami. Kami yang bergantung pada mereka, buakan sebaliknya. Mungkin jika Malvin masih berada disisi anda, anda tidak perlu sibuk-sibuk seperti sekarang."


Setelah mengatakan semuanya, barulah Abra berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan itu tampa permisi.


Tangannya mengapal hingga buku tangannya memutih.


Sebenarnya dia dari awal memang malas untuk bertemu Pak Lutfi, tetapi dia tidka bisa membiarkan Regan, Aslan dan Alaric menghadiri rapat para pemegang saham gampa dirinya. Karena mereka mudah terpancing emosi, terutama Regan.


^-^


.


*Hallo ....


Udah lama gak menyapa 🥰


Mohon dukungannya ya🙏


Jangan lupa ⭐Rate🔖Vote 🎁Hadiah 👍Like and 💬Comment setiap kali selesai membaca 😉untuk memberi dukungan novel ini agar lebih dikenal 😍


Tambah ke Rak Favorit kalian dengan klik 💖 agar tidak ketinggalan


Love You 😍


Thank You 😇


Unik Muaaa 😘*

__ADS_1


__ADS_2