Watching You

Watching You
Hotel Raja Throne


__ADS_3

Sudah dua tahun sejak Regan menghilang entah kemana.


Seperti yang telah disepakati, setelah hotel Raja Throne milik mereka berdiri, Javir yang akan menjadi Genenaral manager.


Sedangkan dilantai teratas hotel selantai penuh milik mereka berempat. Setiap orang memiliki kamar masing-masing, ruang berkumpul, ruang kerja, ruang gym, dapur dan ruang bermain mereka.


Akses masuk kelantai tersebut cukupsulit dan hanya mereka yang bisa masuk, maka dari itu, lantai tersebut diberi julukan Raja Crown.


Javir berjalan perlahan dengan wajah lelah keluar dari dalam kamarnya, berjalan perlahan kearah dapur.


"Kerjaan loe belum kelar?" Tanya Aslan pada Javir sambil meletakkan segelas air putih didepan Javir.


"Udah" jawab Javir lirih.


"Terus kenapa lesu gitu?"


"Ayah minta kita untuk secapatnya mencari keberadaan Ar, dan semalam data gue hampir hilang gara-gara tuh boca"


Aslan tertawa kecil mendengarnya.


"Ya Tuhan ... lama-lama gue tepar gara-gara kerja terus, mana belum nikah lagi."


"Nikah aja gak ada yang ngelarang."


"Nikah sama kucing?"


Aslan kembali tertawa ngakak, "loe mah cewek udah ada bro. Tinggal loe nya aja hang berani maju dan buktikan kalau loe serius."


Kaning Javir mengerut mendengarnya.


"Jangan sok gak paham, apa perlu gue kahakan kalau cewek yang gue maksud itu Gea?."


Javir berdecak mendengarnya, "satu kata itu tidak mungkin terjadi sama gue dan dia."


"Why?."


"Dia benci gue bro ..." seru Javir, "dan berhenti selalu jodoh-jodohin gue sama dia. Itu buat dia semakin membenci gue."


"Kita berhenti kalau loe juga berhenti jadi Eagle siang malam" terdengar suara Alaric yang ikut nimbrung pembicaraan mereka berdua.


"Gue terlalu sibuk ngurus Raja Throne dan perusahaan ASG, gue gak punya waktu buat ngestalker dia."


"Oh ya?" Tanya Aslan dengan nada tak percaya, "kalau gitu gue akan bilang k Ar untuk ngeblok loe dari ponsel, cctuv dan segala hal yang bersangkutan dengan Gea."


Mata Javir langsung menatap tajam pada Aslan selama beberapa menit sebelum menghela nafas dan bersandar pada sandaran kursi.


"Terserah" ucap Javir pasrah, "semoga aja dengan gitu gue bisa semakin menghilangkan dia dari sini."


Javir menunjuk pelipisnya, memberi isyarat bahwa dia berharap bisa mengjilangkan Gea dari dalam otaknya.


^-^


“Saya maunya anda sendiri yang menangani, saya tidak mau yang lain”.


“Kami memilih anda karena beberapa event dan pernikahan yang ditangani anda selalu melebihi apa yang dibayangkan para klien anda sebelumnya”.


"Tempat acara sudah kami tentukan di dalam proposal itu, harap anda mempertimbangkan penawaran kami."


Anda ....


Gea menghela nafas menatap tiga orang didepannya dengan wajah lesuh.


Abraham Ganendra, Sekretarisnya Sam dan Asistenya Ibnu menatapa Gea dengan tayapan serius mereka.


Perlahan tubuh Gea yang semula tegap duduk di sofa ruangan Abra merosot seketika.


"Aku merasa lebih tua dari kalian kalau kalian berbicara formal padaku" gerutu Gea lirih.


Tawa ketiga pria didepan Gea langsung saja pecah secara bersamaan.


Gea menatap mereka dengan wajah cemberut.


“ternyata hanya lima menit dia bertahan” ucap Sam disela-sela tawanya.


Gea kembali mendengus, meraih tumpukan kertas yang berisi proposal segala hal yang mereka inginkan saat menggelar ulang tahun perusahaan Ganendra.

__ADS_1


Pada awalnya Gea membaca dengan senyum dan menganggukkan kepala tanda dia setuju dengan apa hang tertulis dalam berkas itu, tetapi saat sampai di tempat penyelenggaraan yang ingin mereka tempati, mata Gea langsung membulat.


"Memangnya ballroom Raja Throne udah bisa di gunakan?" Tanya Gea sambil mengangkat wajah menatap mereka bertiga bergantian.


"Ya" jawab Abra yakin, "coba saja kamu cek dulu."


Gea terdiam beberapa saat, "em ... bagaimana kalau diadakan di tempat lain saja, yang sudah biasa ..."


"Tidak" potong Abra, "kita akan melakukannya di ballrom hotel Raja Throne, sekaligus pengenalan ballroom baru mereka. Jadi kamh bisa negosiasi dnegan Aslan, Javir atau Alaric tentang hal ini."


"Kenapa dengan mereka?, yang mengurus ballroom bu ..."


"I know" potong Abra lagi, "tapi selama ballroom itu belum dibuka, maka ballroom itu masih dibawah pengawasan dan tanggung jawab mereka langsung."


"Kalau bicara dengan mereka yang ada aku akan bertengkar"


"Jadi harus profesional dong" sanggah Abra.


"Kamu berhasil menggelar pernikahan artis besar dengan EOmu, tidak mungkin bukan jika hanya acara ulang tahun perusahaan kecil kni kamu gagal?" Tantang Sam.


Gea berdecak kesal.


Kecil dari sisi mana?


Perusahaan Ganendra itu, salah satu perusahaan raksasa di Indonesia.


Dikertas yang Gea baca tadi hampir lebih dari tujuh ratus tamu undangan yang akan mereka undang, jadi dari sisi mananya yang kecil?.


"Paman Ib yakin kamu pasti bisa" uval Ibnu menyemangati.


Gea menghela nafas pasrah.


Sepertinya dia akan kembali berbicara dengan Javir setelah dua tahun ini mereka tidak tegur sapa.


^-^


Saat pagi Javir pasti sedang sibuk, berkeliling hotel untuk memeriksa pekerjaan karyawan hotel secara langsung, meski sebenarnya dia bisa mengeceknya melalui cctv hotel.


Alaric dan Aslan sudah pulang, mereka menginap di Raja Crown hanya pada hari sambu saja selama pekerjaan hotel mereka belum selesai.


"Funiture untuk ballroom kapan datang?" Tanya Javir sambil berjalan kearah ballroom.


"Nanti sore Pak" jawab asistennya Dian.


"Nanti kalau datang dan Pak Felix ikut, tolong segera hubungi saya" perintah Javir.


"Baik Pak."


"Bagus ka ..."


Langkah Javir langsung berputar seratus delapan puluh derajat dan berlarik kecil bersembunyi dibelakang tembok.


Dian yang tidak mengeti malah mengikuti apa yang Javir lakukan.


Tepat didepan ballroom hotel mereka, Gea berdiri menatap ballrom yang masih kosong itu, dengan buku catatan ditangannya.


"Kenapa dia disini?" Tanya Javir.


"Saya tidak tahu Pak" jawab Dian.


Javir memutar bola matanya mendengar ucapan Dina, dia bertanya pada dirinya sendiri kenapa Dian malah menjawab.


Dan ngapain Dian juga ikut bersembunyi?.


Javir berdiri dengan tegak, menatap Dina yang berdiri didepannya dengan tatapan seriusnya.


Tangan Javir menyentuh kerah baju Dian, merapikannya dan menepuk-nepuk pundaknya dengan pelan.


"Tanyakan apa keperluannya, jika bertanya tentang saya katakan saya Sales & Marketing atau apapun" perintah JaVir.


"Baik Pak"


Setelah mendengar eksanggupan Dian, Javir langsung berlari kecil menjauh dari ballroom.


Mengeluarkan ponsel dan earbug dari saku jasnya dan duduk disalah satu kursi reataurant hotel.

__ADS_1


Javir mencoba mendengarkan pembicaraan mereka melalui alat penyadap yang dia pasang dikerah baju Dian barusan.


"Kapasitasnya bisa sampai seribu lima ratus lebih mbak" ucap Dian.


"Sepertinya memang sengaja dibuat untuk megah, pasti ingin pemasukan lebih lagi ya?."


Javir tersenyum mendengarnya.


Memang dia yang merencanakan agar ballroom hotel dibuat seluas dan semegah mungkin.


"Kira-kira kapan bisa digunakan?"


Kening Jabir mengerut mendengar pertanyaan Gea.


"Kurang tahu mbak, furniture dan sebagainya masih belum datang."


"Em ... bisa bicara dengan Sales & Marketing?."


"Bisa mbak, tapi kalau masalah ballroom ini harus langsung keatasan karena belum rampung."


"Atasan?"


"Ya, setidaknya ke General Manager dulu?"


"Em ... bisa tahu siapa namanya?."


"Pak Javir Erlangga mbak"


Karena namanya disebut sebagai General Manager, Javir tersenyum-senyum sendiri lupa jika dia sedang berada dimana.


"Bisa bertemu beliau?."


"Katanya beliau sedang sibuk, meeting atau mungkin keluar."


"Kata siapa?, anda belum mengeceknya loh!"


Javir langsung pukul jidat, apa otak Dian hanya bekerja saat didepan berkas dan pekerjaan saja?.


"Pokoknya tidak bisa bertemu dengan beliau sekarang dan mendadak gini mbak, nanti saya coba tanyakan dulu."


Kesal ...


Javir melepas earbugnya.


Menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, mendongakkan kepala menatap atas restaurant.


Apa Gea akan melakukan event di ballroom Raja Throne?.


Apa yang membuatnya mau menemuinya setelah Dian mengatakan harus menemui Javir?.


Bukannya dia tidak nyaman jika bertemu dengan Javir?.


Dia bisa menghubungi Aslan bukan?, Gea tahu jika Manager Sales & Marketing Hotel Raja Thore adalah Aslan.


Kenapa tidak langsung ke Aslan?


Kenapa malah langsung ke sini?


Kenapa mau bertemu dengannya?


"Ah ..."


Bruk ...


"Ups ..."


Javir berteriak, berdiri dengan cepat hingga kursi yang dia duduki terjatuh.


Beberapa orang menatap kearahnya.


Javir tersenyum segaris, berdiri tegap dmegan penuh wibawanya menunduk meminta maaf pada orang-orang yang merasa terganggu karenanya.


"Gara-gara dia muncul tiba-tiba" gerutu Javir sambil melangkah pergi.


^-^

__ADS_1


__ADS_2