
Aslan sudah kembali ke Jakarta terlebih dahulu menggunakan pesawat terbang, sedangkan mobilnya dia pasrahkan kepada Regan.
Dengan alasan kasihan pada Regan yang harus bekerja di Rumah sakit besok, Javir dengan senang hati menawarkan diri akan membawa mobil Aslan dengan Gea.
Saat Abra termakan hasutan Ara dan Gea, jangan ditanya lagi bagaimana senangnya Javir, tetapi kali ini senyum sumringahnya langsung pudar seketika saat melihat dua orang masih saja duduk manis di jok belakang.
"Kenapa kalian gak turun?" Tanya Javir.
Mereka sudah didepan bandara Malang, tetapi Regan dan Alaric masih dengan santai duduk didalam mobil Aslan tidak turun bersama Abra dan Ara.
Bukannya menjawab, mereka berdua malah tidak menghiraukan pertanyaan Javir.
Alaric sibuk dengan ponselnya sedangkan Regan malah memejamkan mata, siap-siap hendak tidur selama perjalanan.
"Woy" seru Javir mulai kesal.
"Perintah Ayah" jawab Regan, "takut yang ketiga syetan."
"Biar lama sampai jakarta" sahut Alaric sekenanya, "gue mau santai-santai aja dulu."
Javir berdecak kesal, hilang sudah harapannya mampir tempat-tempat wisata lagi bersama Gea.
Terpaksa Javir melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan bandara.
Kalau begini mah sama saja gak ngasih izin Ayah, gerutu Jabir dalam hati.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Javir melihat nama Nanda yang muncul dilayar ponselnya.
Sesekali Javir melirik pada Gea sebelum mengangkatnya, mengatur suara sekecil mungkin agar Gea yang duduk disampingnya tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Apa?" Tanya Javir setelah menempelkan ponselnya ditelinga.
"Malam ini dia sepertinya akan menginap, dia bahkan sekarang ...."
"Lanjut nanti" potong Javir.
Apa yang akan disampaikan oleh Nanda pasti informasi buruk tentang tugas yang dia berikan.
Javir mengakhir panggilan Nanda dan melirik Gea yang masih saja anteng menatap kesekeliling.
Melirik kaca spion didepannya, dan ternyata Regan menatap kearah spion juga sehingga mereka bersitatap sejenak. Seakan menangkap tatapan yang mencurigakan dari Javir, Regan menckba memecahkan kesunyian tampa mengalihkan perhatiaanya pada Javir yang sudah kembali fokus menyetir
"Kita isi bensin dulu, dan Gea mendingan pipis dulu gih biar nanti gak berhenti lama direst area" ucap Regan.
"Iya, nanti kita gantian nyetir dan tidurnya" celetuk Javir.
"Ya udah, didepan itu ada spbu" Gea nenunjuk kearah depan. "Deket dengan mini mareket gue mau belanja snack dulu."
"Ok"
Mobil mulai memasuki spbu, Javir baru menghentikan mobilnya Gea langsung turun dan berjalan kekamar mandi.
Javir moneleh kebelakang menghadap Regan dan Alaric, "ada yang mau gue omongin" ucap Javir pada Regan.
Kepala Regang mengangguk, "loe nunggu Gea dateng dan ulur waktu" pinta Regan menoleh pada Alaric.
"Ok" sahut Alaric.
"Sepuluh menit, tahan dia sepuluh menit. Gue sama Ar nunggu kalian di mini market" ucap Javir.
Alaric hanya memberi tanda Ok tampa bertanya lebih lanjut, karena dari tingkah mereka berdua, Alaric sudah paham pasti sedang terjadi sesuatu.
Merek berdua turun dari dalam mobil dan berjalan beriringan.
Javir mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya pada Regan, "itu beberapa rekaman yang gue ambil" ucap Javir.
Sambil terus melangkah, Regan memperhatikan rekaman yang Javir berikan kepadanya.
__ADS_1
"Selama di Malang gue minta Nanda dan Haikal ngawasin disekitar."
"Terus?"
"Bantu gue jebak dia malam ini juga, loe nanti jelasih via chat sama Al karena kita juga butuh dia" terang Javir.
Kepala Regan mengangguk memberi respon jika dia setuju, selang beberapa menit setelahnya Regan terkekeh dan menyerahkan ponsel Javir kembali.
Mereka menghenyikan langkahbmereka sebelum masuk kedalam mini market.
"Obsesinya melebihi kegilaan loe" ucap Regan disela-sela tawanya.
"Gue ngelakuin ini buat ngelindungi dia Ar" bantah Javir, tidak terima dikatakan gila.
"Basi loe"
^-^
Mata Pak Lutfi menatap tajam pada Malvin yang duduk didepannya.
Diatas meja kerja Pak Lutfi ada setumpuk berkas yang baru saja dia baca sebelum Malvin masuk tampa mengetuk pintu keruang kerjanya.
"Bagaimana?" Tanya Malvin santai, "itu semua informasi tetang keluarga saya yang sengaja saya bukaan akses untuk detektif suruhan anda."
Ya ... Malvin dengan sengaja membuka pelindung komputernya agar detektiv yang ingin mencari informasi tentangnya dan keluarganya mendapatkan apa yang dia cari. Terlebih informasi tentang seberapa kaya keluarganya, dan seberapa kaya seorang Javir Erlangga.
Brak ...
"Papa kata ..."
Kepala Malvin perlahan menoleh kearah pintu, disana sudah ada istri kedua Pak Lutfi, Ibu Tirinya.
Tangan Malvin melambai dengan senyum lebarnya, "hai Ibu tiri" sapanya dengan santai.
"Panggil dia Mama Malvin" desis Pak Lutfi.
"Kenapa gak bilang kalau mau pulang?" Tanya Ibu tirinya dengan suara lembut, "kalau tahu kan Mama bisa siapain kamar tamu untuk kamu nginap."
"Kamar tamu?" Tanya Malvin membeo, "wah ... pasti kamarku sudah dipakai Dion" ucapnya melirik Pak Lutfi. "Ternyata bukan hanya foto Mama kandung yang hilang, foto dan kamarku juga" lanjutnya.
Wajah Pak Lutfi terlihat darat.
Tatapan mereka berdua kembali bertautan saling menatap tajam satu sama lain.
"Kalau memang sudah menyingkirkan kami, kenapa malah ngotot mau anak saya untuk menggantikan kedudukan anda di perusahaan?."
Diakhir kalimat, Malvin sempat melirik Ibu Tirinya yang berjalan perlahan berdiri disamping Pak Lutfi.
Tatapan perempuan itu begitu tajam menatap Pak Lutfi dan Malvin secara bergantian.
"Kasihan putra putri anda dan istri anda tercinta" ucap Malvin dengan seakan bersimpati, "mereka masih butuh tenaga anda di perusahaan untuk menghidupi mereka. Anak saya tidak membutuhkan sepeserpun uang Anda, mereka bahkan bisa bertahan tampa uang dari saya."
Ruangan itu hening selama beberapa saat sebelum Malvin berdiri dan menatap Pak Lutfi dan Ibu tirinya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Bahkan Ibu Tirinya sampai memalingkan muka tidak membalas tatapan mata Malvin.
"Saya berhasil meredam amarah Je" ucap Malvin dengan suara dingin, "tapi ingat ... jika anda kembali memprofokasinya dengan mengganggu Resa, sehingga dia benar-benar akan membuat Mega Yasa gulung tikar detik itu juga. Saya tidak akan sedikitpun melarangnya apalagi membantu anda, jadi tolong jangan lagi mendekati saya dan anak-anak saya."
"Kamu berani mengancam Papamu?, betapa kurang ngajarnya kamu sebagai ..."
"Saya disini berdiri bukan sebagai anak Pak Lutfi Yasa" potong Malvin menggelegar.
Tatapannya semakin menajam menatap Ibu Tirinya berusaha membungkamnya untuk tidak ikut campur masalah mereka berdua.
"Kalian ... tidak, lebih tepatnya anda berhasil memdepak saya dan membuat saya dengan suka hati keluar dari keluargan penuh drama kalian. Jadi posisi saya disini bukan lagi seorsng anak, saya hanya seorang Ayah yang melindungi anak-anaknya dari drama keluarga bul***t kalian."
"Papa hanya ingin bertemu dengan cu ..."
__ADS_1
"Ayolah ..." seru Malvin memotong kalimat Pak Litfi, "anda saja tidak menganggap saya sebagai anak anda, kenapa sekarang malah menganggap anak saya sebagai cucu dan penerus anda?."
Terlihat tangan Pak Lutfi mengepal mendengarnya.
"Anda sudah membaca berkas-berkas itu" ucap Malvin menunjuk tumpukan kertas didepan Pak Lutfi. "Dan anda pasti akan semakin gencar mengganggu anak-anak saya, jadi saya kesini bukan untuk meminta hak saya" dua kata terakhir, Malvin mengatakannya penuh tekanan sambil menatap Ibu Tirinya. "Tetapi malah ingin memberi anda peringatan jangan mendekati anak saya, permisi."
Malvin melangkah keluar dari ruangan itu tampa permisi.
Sekuat tenaga dia mencoba untuk tenang dan kuat, menatap kedepan dengan tatapan lurus penuh wibawa, menepis semua kenangan yang perlahan mulai memasuki otaknya tentang rumah itu.
Jika saja bukan karena ingin Lak Lutfi berhenti menemui Resa dan mengganggu studinya, Malvin tidak akan menginjakkan kaki dirimah ini.
Jika saja dia ingin agar Pak Lutfi berhenti menghina Javir, Malvin tidak ingin menginjakkan kaki dirumah ini.
Semua demi melindungi anak-anaknya, demi melindungi keluarganya dadi perasaan iri dan dengki Ibu tiri Malvin dan anaknya.
^-^
"Ini demi Gea" ucap Regan, "dia saja tidak keberatan kenapa loe marah uring-uringan menggerutu mulai tadi?."
Alaric menatap Regan dengan tatapan kesalnya.
Tidak terlihat sama sekali wajah khawatir atau tidak tenang dari wajah Regan. Bahkan wajah itu terlihat santai dan sangat tenang, berbanding terbalik dengan Alaric.
"Udah lah ... Mendingan loe siap-siap dengan tugas loe sekarang" perintah Regan.
"Loe gak ada khawatir-khawatirnya sama sekali ya?."
"Buat apa khawatir, dia bisa melindungi diri sendiri."
Dan semakin kesal lah Alaric dibuatnya, sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak menjitak kepala Regan sekarang juga.
Srek ...
Terdengar suara dari ponsel Regan yang membuat mereka terdiam seketika.
Dengan perasaan khawatir Alaric menaikkan volume ponsel Regan yang tersambung dengan ponsel Javir.
"Kurang ajar ..."
Teriakan marah Javir membuat wajah Alaric semakin pias.
Regan malah tersenyum lebar, melirik Alatic dengan santainya. Regan terlihat senang, sangat berbanding terbalik dengan Alaric.
"Siap-siap dengan tugas loe" ucap Regan penuh arti.
Mobil yang ditumpangi mereka berdua mulai bergerak dan melaju dengan kencang menuju An Angel di ikuti beberapa mobil dibelakangnya.
Semua demi melindungi Gea, mereka membuat setrategi sejak mereka masuk tol Malang menuju Jakarta.
Dan bukan hanya mereka bertiga yang terlibat, bahkan beberpa orang kenalan mereka dan bebrrpa karyawan ASG juga ikut andil dalam melindungi Gea dari kegilaan seseorang pengagumnya.
^-^
.
Hello Reader ...
Ayo dong budidayakan kebiasaan kasih πlike and π¬comment kalian tiap kali selesai baca π
Terima kasih sudah mampir π
Terima kasih atas dukungannya π
Love You π
Unik Muaaa
__ADS_1