
Keluar dari salam mobil, Gea langsung masuk menerobos orang-orang yang hendak bertanya tentang kejadian semalam.
Gea tidak mau berkomentar apapun karena dia benar-benar tidak menyangka jika Faris sampai sejauh itu.
"Hai" sapa Eric.
Mata Gea menyapu seluruh ruangan.
Bersih, tidak ada satupun tanda-tanda penggerebekan semalam.
"Mereka tidur dilantai tiga" ucap Erin menunjuk keatas.
"Siapa yang bersihin semua kekacauan semalam?."
Eric mengangkat kedua bahunya merespon jawaban Gea. "Saat gue dan yang lain dateng semua rapih kok, hanya kaca itu yang menghilang."
"Ya Tuhan, nadi beneran" gumam Gea.
Gea kembali melangkah menaiki tangga.
Lima orang hero yang sedang digembar gembor oleh masyarakat Indonesia sedang tidur dilantai tiga An Angel, lantai privasi Gea.
Javir , Aslan dan Alaric tidur di karpet depan tv, sedangkan Regan dan Mela tidur di sofabed dengan tubuh Mela dililit selimut.
"Dan mereka berlima juga salah satu jejak kejadian semalam" ucap Gea dengan lesu melihat kelimanya.
"Mereka sepertinya kelelahan" ucap Eric yang berdiri dibelakangnya.
"Pasti" ucap Gea membenarkan sambil berjalan mendekati mereka, "kita baru dari Malang menjenguk Ibu As yang masuk rumah sakit, sampai di Jakarta jam dua malam dan dia membujuk gue untuk menginap di rumah karena malas mengantar kesini."
Tangan Gea menunjuk Javir yang tidur tengkurap dengan wajah kelelahannya.
Niat ingin marah pada mereka seakan menguap begitu saja melihat mereka yang tidur dengan wajah kelelahan.
"Gea loe kenapa gak ..."
Suara Yesi terhenti.
Gea berbalik badan dan tersenyum melihat Yesi dan Eric yang bertengkar tampa suara, saling pukul dan saling pelotot.
Gea berjalan perlahan mendekati mereka, memberi isyarat untuk keluar agar tidak mengganggu tidur lima orang itu.
"Acara pernikahan kemarin gimana lancar?" Tanya Gea sambil terus melangkah menuruni tangga.
"Lancat kok meski gak ada loe" jawab Yesi.
"Untuk hari ini meeting di cencel dulu ya, mereka gak mungkin ngizinin gue keluar, dan gak mungkin juga kita ngadain meeting dengan kaca jendela yang gak ada."
Tiba-tiba saja Yesi menghadang langkah Gea dan memeluknya erat.
Gea menghela nafas berat.
"Seandainya semalem lo pulang kesini, gue gak tahu nasib loe gimana" ucap Yesi mulai menangis. "Gue sempet bicara sama Mela, katanya dia hampir di per**sa, tangannya udah kemana-mana."
Tangan Gea membalas pelukan Yesi dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Padahal dia ganteng, gue juga suka dia" ucap Yesi lirih.
Gea menoleh pada Eric sambil menahan tawa, begitupun juga Eric.
"Tapi dia berani mau lecehin loe... tapi ... juga ... kenapa ... kenapa dia malah gila hua ..."
Sontak saja Gea dan Eric tertawa mendengar perkataan Yesi barusan.
Yesi, Eric dan Gea hampir empat tahun bersama Faris, tapi mereka bahkan tidak tahu joka pria itu cukup berani berniat melecehlan Gea setelah kebersamaan mereka selama ini.
^-^
__ADS_1
Meaki disekeliling Gea ada empat orang selain Javir, tetapi sejak tadi tatapan mata Gea hanya tertuju padanya.
Tidak sedikitpun Javir merasa senang dengan tatapan itu, karena tatapan itu memancarkan tanda bahaya.
Javir bahkan tidak tenang makan meski makanan yang Gea sediakan sangat enak.lihat saja Alaric, Regan, Aslan dan Mela yang begitu menikmati makanan mereka, tidak sepertinya yang susah menwlan makanannya.
"Jangan natap gue kayak gitu dong An" tegur Javir lirih.
"Kenapa?" Tanya Gea dengan senyum anehnya.
Javir berdecak, meski tetasa sangat amat lapat, moodnya hilang seketika. "Gue kayak sapi yang dikasih makan banyak sebelum disembelih."
"Woy!" tegur Aslan
"Kita lagi makan be*ok!" seruk Alaric.
Sedangkan Regan dengan Mela tetap sata tidak memperotea.
"Apaan sih, mereka berdua aja gak apa" Javir menunjuk Regan dan Mela dengan garpu yang dia pegang.
"Kita mahbudah biasa liat darah" sahut Mela.
"Apa lagi gue yang sering ngelakuin operasi beperutnya pasien yang dibuka."
Kling ...
Tang ...
Jika Aslan dan Alaric menjatuhkan garpu dan sendok mereka, Javir hanya bergidik ngeri membayangkannya.
"Lanjutin makannya" ucap Gea dengan senyum lebarnya, "kalau gak sampek habis gue ..."
"Siap" potong Javir.
Yang lain tidak mengatakan apapun dan kembali makan dengan tenang.
Setelah satu persatu selesai makan, Mela berdiri hendak mengambil piring-piring mereka tetapi Gea mencekal tangannya, memberi isyarat dengan lirikan mata agar Msla kembali duduk ditempatnya.
Ke empag pria itu saling lirik memberi kode.
"Kenapa hanya gue yang gak tahu?" Tanya Gea.
"Kita gak mau membahayakan loe Gea" jawab Regan.
"Tapi bagaimanapun ini permasalahan gue Ar. Gue juga harus tahu."
"Kalau loe tahu, yang ada bukan penggerebekan" sahut Aslan. "Loe akan bicara baik-baik sama dia" Aslan mengatakan kalimat selanjutnua dengan tatapan tajam.
"Ya iyalah" ucap Gea membenarkan" kalau bisa dibicarakan kenapa pakai kekerasan?."
"Ada kalanya kita gak bisa bicara baik-baik Gea" bantah Alaric.
"Tapi dia gak ..."
Tangan Javir menggenggam tangan Gea dengan erat, sehingga Gea berhenti untuk menyanggah statment dari Alaric.
"Dia bukan lagi ditahap loe bisa ajak diskusi" ucap Javir, "dia udah taham terobsesi dan gila."
Kening Gea mengerut, mulut kembali terbuka ingin membantah tetapi Javir lebih dulu mengatakan kebenaran sehingga Gea diam memilih mendengarkan.
"Dia selalu ngikutin loe kemanapun loe pergi, dan semakin gencar sebulan belakangan." Javir mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di depan Gea, "itu foto-foto yang diambil Nanda saat membuntuti dia yang ternyata membuntuti loe kemanapun. Bahkan polisi menemukan banyak foto loe dikamarnya, and there are some photos that make me angry when I see it."
"Bukan hanya Je" celetuk Aslan, "tapi kita juga."
"Beberapa kali gue menginap disini dan beberapa kali juga gue ngelihat dia disembunyi di lantai dua, gue menginap disini bukan hanya sekedar numpang tidur karena gue sakit, tetapi gue juga mencari kamera tersembunyik yang dia pasang dan ngelindungi loe."
"Dia tidak terlihat seperti itu."
__ADS_1
"Dia bahkan sudah berani membobol pintu lantai tiga ini, mangkanya gue menggantinya agar lebih aman" kali ini suara Javir penuh dengan tekanan.
Javir jengkel pada kepolosan Gea yang percaya-percaya saja dengan pria gila itu.
"Kalau sampek dia berani masuk kelantai ini, gue berani bunuh dia semalem" lanjut Javir.
Genggaman tangannya yang mengerat menunjukkan seberapa marahnya Javir pada apa yang dilakukan Faris.
Tangan Gea menepuk-nepuk punggung tanga. Javir menenangkan.
"Kalau kunci pintu itu aman kenapa kalian bisa masuk?" Tanya Gea menatap mereka berlima satu peesatu.
Javir hendak menarik tangannya tetali Gea menggenggamnya semakin erat.
Kembali Gea menatap Javir, kali ini tatapan matanya penuh selidik menatapnya. Menuntut penjelasan dari Javir.
"Je yang buka" ucap Alaric.
"Kita mah gak tahu apapun" sambung Regan dengan nada polosnya.
"Gue gak sempet nanya juga, karena gue semalem udah ngantuk yang penting tidur" timpal Aslan.
"Apa lagi gue."
Dan selesailah hidup Javir jika mereka melimpahkan semua padanya, terlebih Mela yang malah ikut-ikutan.
Jabir tersenyum lebar pada Gea, "gue memasukkan sidik jari gue dan mereka vertiga untuk kunci pintunya."
Kepala Gea langsung manggut-manggut, "mereka bertiga atau cuma loe?" Tanya Gea seakan memastikan tebakannya.
Javir meringis mendengarnya, dan ringisan itu sekaan membenarkan tebakan Gea.
"Sepertinya gue juga harus berhati-hati sama loe" ucap Gea, tabgannya menyanggak kepalanya diatas meja menatap Javir semakin dalam. "Jangan jangan loe juga terobsesi dengan gue?, kalau begitu gue malah harus ektra hati-hati smaa loe."
Setelah Gea mengatakan itu, Regan langsung berdiri dari duduknya berjalan kearah kulkas.
Aslan berdiri mengambil jas disofabed, sedangkan Alaric dengan tenang meminum air didepannya.
Hanya Mela yang terlihat begitu saja karena benar-benar tidak mengetahui segila mana Javir pada Gea, jadi dia tidak tahut untuk menjawab pertanyaan Gea nantinya.
"Gue gak menyangkal kalau gue sangat terobsesi menjadikan loe sebagai istri gu" ucap Javir.
Gea langsung melepas tangannya, "itu mah telinga loe yang budek, karena gue udah bilang beberapa kali kalau gue butih waktu."
"Sampai kapan?"
"Mana gue tahu"
"An ... Nunggu loe siap itu sampai kapan, yang ada ya gak siap-siap."
Aslan dan Regan saling lirik, Javir berhasil mengganti topik pembahasan sehingga Gea tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Jika bertanya sebagai mana gilanya Javir?, kalian sudah tahu sebagaimana dia gila.
Mulai dari ponsel Gea yang disadap, beberapa CCTV An Angel yang terhubung dengan ponselnya, dia memasang kamera thermal di kamar Gea dan satu lagi ... Pintu akses lantai tiga dia juga memiliki akses keluar masuk.
^-^
.
*Terima kasih sudah mampir ๐
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak dengan klik ๐like and ๐ฌcommen setiap kali kalian selesai baca.
Love You ๐*
Unik Muaaa
__ADS_1