Watching You

Watching You
Ayo Bicara


__ADS_3

Hari ini hari Rabu, jadi hari ini An Angel pasti ramai, dan salah satu temannnya pasti sudah ada disana seperti biasanya.


Jemarinya bergerak-gerak menikmati lagu Rossa yang dinyanyikan oleh Gea, salah satu astis tanah air kesukaan Gea. Seperti biasa, dia mendengarkannya melalui kamera tersembunyi yang dia sembunyikan di An Angel.


Entah hanyabperasaan Javir saja atau mungkin ini adalah balasan Tuhan dari kesabarannya mengerjakan tumpukan pekerjaan sejak dia kembali dari Madura tadi pagi, perjalanan menuju An Angel tidak ada kemacetan sama sekali.


Sampai di An Angel satu persatu anggota band Gea turun dari panggung, menyisahkan Gea yang sedang mengucapkan terima kasih pada penggemarnya yang sudah datang, sebelum akhirnya Gea menutup penampilannya malam ini.


Satu ide terlintas di benak Javir sehingga dia melangkah lebar menuju panggung meski Gea sudah turun dari sana.


Tangan Javir meraih gitar, dan mengetup mic yang ternyata masih hidup.


"Hai pujaan hati, apa kabarmu ...."


Tatapan mata Javir menatap Gea yang menghetikan langkahnya, berbalik badan menatap pada Javir dengan mata terbelalak.


Javir tersenyum lebar, melambaikan tangan sebelum memulai memetik gitarnya. Javir bernyanyi lagu milik Kangen band itu sambil tersenyum menatap Gea.


Di meja panjang tempat biasa dia dan yang lainnya berkumpul langsung riuh bersiul-siul melihat Javir bernyanyi. Disana ada Aslan dan Mela, slaah satu perempuan teman selain Gea.


Beberapa penggemar dan pelanggan An Angel kembali duduk dikirsi mereka, Da yang mengeluarkan kamera untuk merekam, bahkan salah satu editor Gea yang tadi berniat akan mematikan kamera malah terus merekam.


Sampai dipertengahan lagu, senyum Javir menghilang saat melihat wajah Gea yang terlihat datar menatapnya. Tidak ada senyum dan mata berbinar yang diharapkan.


Tangan Javir berhenti memetik gitar, menghela nafas kembali menatap Gea dengan senyum dibibirnya. "Hei Bab, mau balas-balasan lagu?."


Gea tersenyum sarkas, menatap Javir dengan dagu terangkat. "Pergi lah kau, pergi dari hidupku, bawalah semua rasa bersalahmu."


Mata Javir membulat mendengarnya.


Sedangkan dimeja panjang sana, tawa Aslan dan Mela langsung menggema, bahkan mereka berdua bertepuk tangan dan bersiul-siul heboh.


Gea masih melanjut bernyanyi, sambil tersenyum sarkasme menatap kearah Javir.


"An ..." seru Javir mencoba menghentikan.


"Bawalah rahasiamu yang tak ingin ... ku tahui" Gea masih saja dengan santai bernyanyi.


"Gak ada rahasia" seru Javir dari atas panggung.


Beberapa orang yang ada disana menertawakan Javir, tetapi Javir tidak memperdulikan mereka, dia hanya perduli pada lirik lagu yang dinyanyikan Gea yang membuatnya terganggu.


"Kamu takkan mengerti rasa sakit ini, kebohongan dari mulut manismu."


Javir yang kesal melepas gitar ditangannya, berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri Gea.


Kepala Gea memiring, senyum sarkasnya semakin lebar, terlihat tatapan matanya semakin tajam menatap Javir.


"Pergilah kau, pergi dari hi ..."


Javir membungkam mulut Gea, menghebtikannya untuk terus bernyanyi.


Wajah mereka hanya berjarak sejengkal, mata mereka saling bertautan menatap tajam.


Tangan Gea mencoba melepas tangan Javir dari mulutnya, tetapi Javir malah menyentak tubuh Gea mendekat membuat Gea memelototinya.


"Gue akan cium loe disini kalau loe masih nyanyi" ancam Javir.


Dari telapak tangannya, Javir merasa bibir Gea tersenyum, sebelum akhirnya tertawa lepas.


Javir menurunkan tangannya, menatap Gea dengan perasaan lega. "Thank god that's not true" gumam Javir.


Gea berhenti tertawa, menatap Javir dengan sebelah alis terangkat sebelum berbalik badan meninggalkannya.


"Gak bener kan?" Tanya Javir sambil berjalan membuntuti Gea menuju meja panjang tempat semuanya berkumpul.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Gea, Javir menyentak lengannya sebelum Gea duduk dikursi tepat didepan Aslan hingga menghadap padanya.


Mata mereka kembali bertautan.


Tidak ada yang mengatakan apapun selama beberapa detik, hingga Javir tersadar jika tangannya sedang menyekal lengan Gea kuat, dan perlahan mulai mengendur.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Javir.


"Silahkan" jawab Gea datar.


"An ayo bi..."


"Gea" potong Gea penuh tekanan.


Kening Javir mengerut, terlihat jelas jika Gea sedang menahan diri untuk marah oasanya, "apa lagi yang salah kali ini An?."


Gea mengangkat kedua bahunya cuek.


^-^


Javir menutup pintu akses dari lantai dua kelantai tiga, lantai pribadi Gea di An Angel.


Tok tok tok ...


"Je ... kenapa di kunci segala" teriak Aslan dari balik pintu.


"Gue gak akan melakukan hal yang diluar batas, shut up!"


Javir berteriak marah pada Aslan, namun tatapan matanya menatap pada Gea yang berjalan dnegan santai duduk disofa bed depan tv.


Setelah tidak terdengar lagi teriakan dan ketokan pintu, barulah Javir melangkahkan kakinya duduk tepat disamping Gea dan menghadap padanya.


"Apa lagi yang salah?" Tanya Javir lembut.


Lagi-lagi Gea hanya mengangkat bahu.


Kepala Gea menoleh menatap Javir dengan tatapan tidak menerima, karena scorpio yang Javir maksud pasti adalah dirinya.


"Apa?" Tanya Javir seakan menantang, "loe dan Ar sama-sama scorpio, dan sama-sama selalu membuat orang bingung dengan sikap kalian yang sulit ditebak."


Gea langsung merengut dan membuang muka.


"Loe tiba-tiba marah, kesel, nice ... and than ... berubah lagi."


Gea tetap memilih menatap kelain arah.


"Gue kira urusan kita sudah selesai waktu di Bali malam itu, sekarang apa lagi Angela Lovita?."


Dengan cueknya Gea malah kembali mengangkat bahu seperti tadi.


Kesal ... benar-benar kesal, Javir berdiri, duduk dimeja tepat didepan Gea, menyentuh puncak kepala Gea lalu memutar kepala Gea memaksanya menatap Javir.


"Kita bicara serius sekarang?" Tanya Javir lembut, "gue gak perduli apa yang akan terjadi, gue ingin urusan kita selesai sekarang, hari ini, malam ini, dan detik ini juga An."


Terlihat Gea menghela nafas, tatapan tajamnya seakan menghilang ... Dia balas menatap Javir dengan tatapan biasanya, tidak lagi terlihat penolakan disana.


Tangan Javir menggenggam kedua tangan Gea erat.


"Loe gak mau temenan sama gue, and me too" ucap Javir terdengar penuh keyakinan. "Gue gak mau hanya sekedar sebatas teman Gea, sama seperti loe yanv gak mau nganggep gue teman. Kita menginginkan lebih dari sekedar teman, jadi ayo ki ..."


Gea menarik tangannya, melepas tangan Javir yang genggaman tangannya.


Javir mengerutkan kaningnya, menatap Gea dengan tatapan tak mengerti.


Tatapan Gea yang menatapnya tidak suka membuatnya kebingingan.

__ADS_1


"You also want a relationship more than friends right?" Tanya Javir perlahan, berhati-hati agar tidak membuat kesalahn.


"No!" Bantah Gea tegas, "bahkan berteman dengan loe gue gak ingin."


Mata Javir mengedip-ngedip menatap Gea dengan tatapn tak percaya sebelum Javir menunduk, mengulum bibirnya menahan diri untuk tidak lepas kontrol. sebelum kembali menatap Gea dengan rahang mengetat.


"But you still love me" desis Javir.


"Who said that?" Tanya Gea dengan nada tak terima, bahkan dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan melipat tangannya didepan dada.


Javir tersenyum culas, mencondongkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka. "Gak ada yang bilang, tapi itu kesimpulan yang gue ambil dari apa yang kitabicarakan malam itu, apa yang gue ucapin salah?" Tanya Javir lebut dan lirih, "padahal gue berharap ... you still love me, becouse I still love you Angel."


Tangan Javir kembali meraih tangan Gea dan menggenggamnya, tatapan mereka kembali bertautan.


Javir tersenyum segaris, terasa lega melihat Gea kembali menatanya tampa penolakan. "Jangan bersikap defensive begini, ayo bicara secara terbuka karena sekarang kita sudah sama-sama dewasa."


Meski Javir sudah memintanya, terlihat jelas dari tatapan mata dan raut wajah Gea yang menunjukkan sedang membangun batasan diantara mereka.


"Harapan gue sejak dulu loe selalu ingat gue dan gak bisa lupain gue, meski gue tahu gue bersalah. Gue tahu gue terlalu egois berharap itu, setelah apa yang gue lakuin."


Javir berhenti untuk meluapkan semua, menunggu respon Gea yang ternyata masih saja diam menatapnya.


Perlahan Javir menyatukan tangan Gea dalam satu genggaman tangan kirinya, dan tangan kananya terulur menangkup pipi kiri Gea lembut.


"Loe tahu ?, tampa loe mengatakan benci sama gue ..." kalimat Javir mengambang sejenak, "loe udah membalas sakit hati loe kegue selama bertahun-tahun dengan susahnya gue ngelupain tatapan loe saat kita batal tunangan An."


Mereka terdiam.


Javir hanyut dalam tatapan Gea yang mulai melembut, tatapan yang dia rindukan dari seorang Angela Lovita padanya.


"Gue cinta loe" ucap Javir lirih, "dari dulu gue mendem" lanjutnya.


Gea masih diam tidak mengatakan apapun, bahkan bergerakpun tidak, dia hanya diam menatap Javir.


"Gue ingin bilang saat malam ulang tahun Ganendra, tapi gue bingung mau bilang dari mana jadi gue minta loe ngaggep gue temen aja. Saat malam ulang tahun loe, gue kembali menahan diri untuk bilang karena gue takut loe tolak gue secara terang-terangan. Dan di Bali waktu itu ..." Javir menghela nafas kesal, "ketokan pintu itu Fariz menghentikan gue."


Kali ini Gea meresponnya dengan mengulum bibirnya sejenak menahan tawa.


Respon itu membuat beban yang di pikul Javir serasa terangkat.


"Dan saat mendengar loe nyanyi dengan tatapan tajam dan terdengar sungguh-sungguh tadi membuat gue lebih ketakutan dari malam-malam sebelumnya," kali ini Javir mengucapkannya dalam satu kali tarikan nafas. "Gue cinta loe Angel, I know I'm a shameless man after what I did to you, but can't we start over together?. Can you ..."


Leher Javir seakan tercekat.


Gea menarik tangannya dari genggaman tangan Javir dengam cepat, wajahnya nemoleh kelain arah.


Kembali sesak ...


Tatapi Javir masih tersenyum dan menghela nafas tenang.


Kepala Javir menunduk mencoba kembali menenangkan dirinya, tetapi tatapannya terpaku pada tangan Gea yang mengepal erat.


Javir tersenyum miris.


Kembali Javir mengangkat wajahnya menatap Gea yang masih memalingkah muka.


Tangannya terulur mengelus puncak kepala Gea lembut, "sepertinya gue terlalu banyak bicara, maaf ya" ucapnya lembut.


Javir berdiri, tetap dengan sebelah tangan menyentuh puncak kepala Gea.


"Tidur ya ..." ucap Javir lembut, perlahan wajahnya mendekat, mencium puncak kepala Gea cukup lama.


"Good night My An, semua yang gue katakan tadi real. Tapi kalau itu buat loe gak nyaman, jangan dipikirin, anggep aja angin lalu" ucapnya sebelum melangkah pergi.


Dia tidak mau memaksa, niatnya untuk menyelesaiakn semuanya sepertinya harus dia tahan.

__ADS_1


Perasaan tersakiti pasyi masih membekas dalam diri Gea, padahal sudah lebih sepuluh tahun.


^-^


__ADS_2