Watching You

Watching You
Pulang


__ADS_3

Shoulder dislocation


Seletah dokter melakukan pemeriksaan foto rontgen pada bahu, fonis itu yabg diberikan oleh dokter dengan pilihan di oprasi atau memakai alat penyanggah, tetapi Javir tidak mau melakukannya dan memilih pulang begitu saja.


Javir memejamkan mata meremas kertas ditangannya.


Regan dan yang lainnya sudah pergi ke club untuk menjemput Belda yang kabur dari runah sakit untuk perfome, sedangkan Javir dengan alasan menunggu bawahan Enzo selesai diobati dia menyelinap untuk meneriksakan bahunya sehingga ketiga temannya tidak mengetahuinya.


"Kalian langsung balik" perintah Javir sebelum turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam club.


Kemarin mereka dari club yang lainnya kerena Belda juga mengjilang dari rumah sakit, dan hari ini Belda kembali melakukan hal yang sama. Javir tidak yakin Regan akan menahan amarahnya hari ini,terlebih dia baru saja mengamuk di misi mereka.


Javir menatap kearah stage dan Belda sudah tidak ada disana sehingga dia berjalan kearah ruang ganti Belda.


Buk ...


"Ah ..."


Seseorang secara tidak sengaja menabrak lengan kanannya, tetapi bahu kirinya mah ikut sakit sehingga Javir mengerang.


"Oh ... I'm sorry" ucap orang itu.


Javir mengangkat kepalanya dan memberi isyarat denga tangan jika dia baik-baik saja sebelum kembali meneruskan langkahnya.


Selama perjalanan Javir beberapa kali mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menghela nafas dan menghilangkan rasa sakit di bahunya agar tidak ketahuan yang lain.


Pintu ruangan Belda terbuka lebar sehingga Javir bisa langsung melangkah masuk. Didalam sana sudah ada Regan yang meledakkan amarahnya pada Belda tampa bisa dia kontrol lagi seperti sebelumnya.


Belda hanya duduk terdiam didepan meja riasnya, tida membantah perkataan Regan dengan mata memerah tetapi tidak menangis.


"Gue srrasa gak berguna jadi Dokter kalau orang yang gue sayang sakit tapi gak sembuh-sembuh begini" ucap Regan dengan suarah penuh amarah yang menggema.


Gue gak termasuk salah satu orang yang loe sayang itu batin Javir.


"Apa lagi kamu tunangan aku Bee, apa kamu gak bisa ..."


"Emangnya kapan kita tunangan?."


Javir seketika menoleh pada Alaric.


Bukan hanya dia, tetapi Alaric juga tidak menyangka dengan Belda yang ternyata masih berani membantah dengan kalimat yang bisa menyulut amarah Regan.


Javir pikir perempuan itu takut dan memilih diam menahan tangis, nyatanya dia masih saja mempunyai keberanian membantah Regan.


"Kalau yang membantah kita, dia pasti ngamuk" gumam Alaric.


Javir hanya menghela nafas mendengarnya.


Sejak Regan berhasil menjadi Dojter, dia memang menjaga betul kesehatan orang-orang sekitarnya, jadi jangan ditanya lagi seberapa marah Regan jika tahu Javir tidak memberi tahunya tentang cidera yang dialaminya.


Gue kasih tahu loe di Indo aja ya ...


Javir hanya menyuarakan itu di hatinya saja, dia tidak mengucapkannya secara langsung.


Jika dia memberitahu sekarang, Regan pasti akan langsung mengusulkan atau memaksanya untuk kerumah sakit dan melakukan operasi sekarang juga.


Dan jika itu terjadi maka semakin lama lah Javir tingga di negara ini, sedangkan dia ingin cepat-cepat pulang.


^-^


Karena kemarin Ara dan Abra datang saat dini hari, sebisa mungkin Abra tidak membawanha langsung ke mension Romanov sebelum mereka semua menyelesaikan misi.


Ara tidak tahu tujuan mereka sebenarnya di negara itu, karena dia tidak mau mereka terlibat dalam urusan para mafia.


"Tidak menyabngka kalian sangat kompak berlibur kenegara ini" ucap Ara sarkasme, dan tatapan tajamnya.


Mereka berlima Regan, Aslan, Jabir dan Alaric kali ini termasuk Belda juga berdiri dengan rapi berjejer meyaping didepan Ara dan Abra yang sednag duduk.


"Kalian sudah pasti tahu Bunda tidak suka kalian berempat kesini, kenapa malah kesini?."


"Karena Al yg ngajak Bun" sahut Regan.

__ADS_1


Javir melirik Alaric yang berdiri disampingnya sambil menahan senyum.


Alaric sendiri malah mendengus mendengar perkataan Regan barusan, yang pasti akan berakhir menyudutkannya.


"Dan kita hanya meminimalisir keuangan kita Bun" Javir malah ikut nimbrung, "kalau kita liburan kesini kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk menginap."


"Jadi mohon untuk tidak menyalahlan kami" timpal Aslan.


Alaric mengangkat kepala dan menoleh menatap tidak percaya pada ketiga temannya yang saling sahut menyahut sama-sama menyalahkannya.


Tatapan Alaric tertuju pada Abra memibta pertolongan. Tetapi Abra malah memalingkan muka seakan tidak mau ikut campur.


"Bunda kita ..."


"Bunda pasti mengertikan, kita gak punya cukup banyak uang jadi harap dimengerti" potong Regan.


Alaric melangkah maju menatap mereka bergantian sambil berkacak pinggang, "wah ... Gue gak nyangka kalau kalian sehebat ini. Kapan bersekongkolnya melimpahkan semua kesalahan sama gue?."


"Kita tidak bersekongkol apapun" bantah Regan dengan tenanh.


"Inget ya ... Gue hanya memberi usulan doang, tapi kalian yang langsung mengiyakan" ucap Alaric mulai kalap. "Ini rumahku Bun" Alaric berbalik badan dan kembali menghadap Ara, "kalau aku mau pulang apa ada yang salah?, tapi kalau mereka lain lagi. Regan sama Aslan mau ngintilin cewek mereka Bun, Javir ikutan karena dasarnya dia emang pelit gak mau mengeluarkan banyak uang. Jadi jangan nyalahin Al."


Ara berdecak malas, "kalian sama saja, sama sama pengecut" ucap Ara.


"Enggak Bun" bantah Regan.


Mata Ara melotot pada Rengan yang masih saja terus membantah ucapannya. "Kamu juga, cowok pengecut gak sabaran ...."


Dan semakin panjanglah omelan Ara pada mereka semua.


Meaki tampa Regan membantahpun, Ara pasti tetap akan mengomeli mereka. Ara begitu protective pada mereka berempat, meski Aslan, Javir dan Alaric bukan anak kandungnya.


"Je ... jangan keseringan kabur dari maslah, Alaric kalau ditolak ya kejar lah ..."


Javir yang mendengar namanya disebut hanya tersenyum segaris mendengar ucapan Ara dan mengangguk paham.


Beda dengan Alaric yang malah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajahnya memerah malu.


Mereka berempat keluar dari ruang baca di mansion keluarga Romanov dengan menghela nafas lega.


Akhirnya selesai juga mendengarkan omelan panjang dari Ara.


"Kita langsung balik ke Indo nih?" Tanya Alaric.


"Sepertinya begitu" jawab Regan, "meski baru sampai kemarin, Bunda yang tidak suka negara ini pasti akan langsung membawa kita pjlang hari ini juga. Kalau loe mau tinggal sih gak papa, ini rumah loe juga. Bunda gak akan maksa loe untuk belik ke Indo."


"Gue mau pulang" ucap Javir penuh keyakinan, "gue mau beres-beres" sambil berjalan melewati mereka lebih dulu.


"Je" panggil Regan tiba-tiba.


"Apa?" Tanya Javir tampa berbalik badan dan menghentikan langkahnya.


"Are you ok?"


Langkah Javir terhenti sejenak, mengatur raut wajahnya berbalik badan mebghadap pada Regan, Belda dan Alaric yang berjalan dibelakangnya.


"Oke" jawabnya dengan tegas, "gue hanyabmau pulang dan cepet-cepet ketemu Gea dan Danil" lanjutnya dnegan girang dan kembali melangkah pergi.


^-^


Sudah dua hari Ara dan Abra keluar negeri entah kemana, meninggalkan si kembar dalam pengawasannya.


Alhasil ... Bukan hanya Danil yang menjadikan An Angel rumah kedua, tetapi si kembar juga.


Seperti biasa ...


Setiap sore setelah supir keluarga Ganendra menjemput mereka bertiga, Danil dan si kembar akan ke An Angel untuk makan, mengerjakan tugas rumah dari sekolah, tidur dan melakukan apapun seakan tiga lantai di gedung An Angel itu adalah rumah mereka, sampai jam sembilan malam mereka Gea antar kerumah masing-masing.


Sore ini Gea sudah menyiapkan makanan untuk mereka bertiga di lantai satu, tepatnya di caffe An Angel meja khusus tempat nongkrong para Raja setiap kali ke caffeenya.


"Selamat sore semua"

__ADS_1


Suara melengking Bilqis diambang pintu membuat karyawan Gea membalas sapaannya dengan tidak kalah riangnya.


Danil dna Chaka berjalan dibelakang Bilqis, mengikuti anak gadis itu melangkah menuju meja yang telah Gea siapkan.


"Hai guys" sapa Gea.


"Hai Kak An"


Chaka berjalan lebih dulu menghampiri Gea dan bersalaman sebelum duduk dengan manis didepan piring yang sudah Gea perispakan, disusuk Bilqis dan Danil.


Karyawan disa yang sudah biasa melihat pemandanhan itu hanya bisa tersenyum kecil melihat Gea hang begitu telaten dengan tiga anak yang selalu membuat keributan dan mengganggunya.


"Bagaimana sekolah hari ini?" Tanya Gea duduk di kursi kosong depan mereka.


"Baik" jawab Chaka singkat.


"Tapi banyak PR Aka!" Seru Bilqis dengan mata melotot dan kepala yang bergerak kekanan dan kekiri.


"Meski banyak pada akhirnya nanti kamu juga nyontek ke aku atau Chaka" gerutu Danil.


Bilqis mendengus kesal tidak suka.


Gea tersenyum melihat tingkah mereka, "besok atau lusa Ayah kalian sudah kembali. Jadi dari sekolah langsung pulang kerumah masing-masing jangan kesini, mengerti?."


Mereka bertiga malah menghentikan aktifitas makan mereka dan menatap Gea dengan tatapan memelas.


Ingin rasanya Gea juga menatap mereka dengan tatapan itu, tetapi apa daya?.


"Sudah cukup mengganggu Kak Gea, sekarang giliran Abang Je"


Semua menoleh kekanan dan kekiri mencari sumber suara Javir.


Meski Gea tahu jika Javir memasang kamera dan alat sadap, dia tidak tahu apa lagi yang dipasang Javir sehingga mengeluarkan suara.


"Ayah"


Teriakan melengking Danil menarik perhatian Gea seketika.


Danil berlari kearah pintu masuk.


Javir baru saja melangkahkan kakinya dan Danil sudah memeluk pinggabgnya cukup erat.


Terlihat Javir berbicara dengan Danil sebentar sebelum melangkahkan kakinya mendekati meja Gea di pojok caffee.


"Hai Baby An" sapa Javir dengan sneyum lebarnya, "gue pulang."


Gea berdecak dan berdiri melangkah menghapiri Javir dan memeluknya erat.


"esss ... Ah ..." Javkr meringis pelan.


Gea melepaskan pelukannya dan menatap Javir dengan khawatir, "loe kenapa?" Tanya Gea panik.


Seakan ingin memastikan jika Javir baik-baik saja, Gea mebyebtuh tubuh Javir dan tidak sengaja menyentuh bahu kiri Javir membuat Javir kembali meringis.


Padahal pria itu sudah mencoba untuk menghindari tangan Gea yang akan menyentuh bahunya.


"Ahhh ..."


Gea yang panik membuka jaket Javir perlahan dan melihat benjolan di bahu kirinya, "kenapa?" Tanya Gea panik.


Javir hanya bisa menggeleng pelan.


Tangan Gea dnegan cepat mengabil ponselnya diatas meja dan menghubungi Regan.


Baru saha Regan mengangkat panggilannya dengan perasaan khawatir dan kesal Gea membantak Regan.


"Je kenapa!" Bentak Gea.


Semua orang yang berada di dalam Caffee itu menoleh kearah Gea.


^-^

__ADS_1


__ADS_2