Watching You

Watching You
Sengaja


__ADS_3

Jika kalian tahu bagaimana anak bebek membuntuti ibunya, maka itu yang terjadi pada Javir yang berjalan dibelakang Regan dan Aslan.


Dibelakangnya ada Danil dan Dian yang tampak begitu bahagia menginjakkan kaki mereka kembali di Jakarta.


Dari kejahuan dia melihat Alaric yang datang menjemput mereka denga menggjnakan masker sambil melambaikan tangan, jika semua berjalan kearah Alaric namun tidak dengan Javir yang menghengikan langkahnya.


Tepat dibelakang Aslaric ada Gea yang sedang dirangkul Sebastian, tangan Javir mengepal menatap ketiga temannya yang seakan tidak perduli dengan perasaannya.


"Gue baru saja sakit" gumannya lirih, "apa kalian mau buat gue mati sekalian?."


Kembali Javir berjalan menghampiri mereka setelah menggunakan kaca mata.


"Ada mobil online didepan, gue udah bayar loe pulang langsung" ucap Alaric pada Dian.


Kepala Dian mengangguk dan berjalan pergi kearah yang ditunjuk Alaric.


Mata Javir sejak tadi menatap kelain arah, tidak menatap Gea ataupin ketiga temannya yang tepat berdiri disampingnya.


"Mobil gue disana, kit ..."


Tangan Javir menggandengan tangan Danil dan berjalan begitu saja kearah mobil Alaric.


Bahkan Javir masuk klterlebih dahulu dan memilih duduk dipaling belakang, matanya langsung terpejam sekana memangtidak ingin melihat apapun.


Semua naik kedalam mobil, Aslan duduk disampingnya, dan Rehan duduk disamping Alaric yang mengemudi.


Dan kalian tahu dimana posisi Gea dan Sebastian?, mereka duduk didepan Javir. Seandainya Javir tahu jika Alaric dan Regan yang akan duduk didepan dia akan memilih duduk ditengan bukan dibelakang.


"Kita langsungbke hotel atau ma ..."


"Gue laper" potong Javir tegas.


Mobil serasa sunyi sejenak.


"Ok" sahut Alaric, "kita mampir makan dulu" putusnya.


"Keresto jangan kecafe, gue bener-bener lapar" ungkap Aslan.


"Ok bro ..."


Mobil yang dikendarai Alaric semakin melaju kencang.


Sesekali Javir tidak bisa menahan diri untuk melihat interaksi Gea dan Sebstian, sesekali mereka berbisik-bisik cukup dekat dan tertawa.


Terutama yang tidak bisa lepas dari mata Javir adalah tangan Sebastian yang tidak bisa diam, sesekali meggenggam tangan Gea, mengelus rambut Gea bahkan terkadang mencium punggung tangannya membuat Javir gondok.


Baru saja mobil terparkir, Javir sudah berdiri dan turun dari mobil lebih dulu dengan menggandeng tangan Danil.


Melihat yabg menyusulnya turun duluan adalah Regan, Jabir menghentikan langkahnya menunduk berbisik pada Danil, "Danil duluan masuk Ayah ada urusan sama uncle" ucapnya.


Sebagai anak penurut, Danil mengangguk dan berlari memasuki reataurant terlebih dahulu.


Javir berbalik badan menatap Regan dengan tajam.


Sadar jika tatapan itu untuknya, Regan menghentikan langkahnya dan balas menatap Javir dengan sebelah alis terangkat.


"Loe atau Al yang ngerencanain?" Tanya Javir tampa babibu terlebih dahulu.


Regan tersenyum segaris, "loe pikir gue gila apa?, mana mungkin gue bawa Gea buat mesra-mesraan didepan loe sedangkan jantung loe gak baik-baik aja" ucap Resan menepik dada Javir dan melanhkah pergi.


Tangan Jabir menyeka rambutnya dan kembali berbalik badan mengikuti Regan saat melihat Sebastian turun dari mobil.

__ADS_1


^-^


Seperti biasa jika mereka berempat sedang berkumpul untuk makan, semua makanan akan mereka pesan dan bergilir untuk mencoba satu persatu.


Gea dan Sebastoan terkadang ikut nimbrung dengan pembicaraan keempatnya, tetapi Jabir akan memilih diam jika Gea yang menimbrung.


"Apa kalian biasa makan sebanyak ini?" Tanya Sebastian dengan tatapan tak percaya pada meja mereka yang mulai penuh.


"Ini semua kan habis gak tersisa" jawab Gea.


"Kamu juga mesen makanan sampek macam tiga, apa mau kamu habisin semua?."


Kepala Gea mengangguk cepat.


"Apa loe gak tahu porsi makan dia?" Tanya Aslan.


"Emangnya seberapa banyak?" Sebastian malah balik tanya.


Regan mengangkat sebelah alisnya menatap Gea, "apa didepan dia loe selalu makan sedikit, sok cantik gitu?."


"Enggak juga" bantah Gea.


Plak ...


Alaric memukul pelan pundak Regan, "namanya juga didepan cowok ya harus aok cantik lah Ar" sindir Alaric.


"Alah ... Didepan kita semuanmakanan dia embat" gumam Javir.


"Oh ya?" Tanya Sebastian tak percaya, "kalau semua makanan berarti dia juga makan jeroan kayak semacam hati sapi atau ayam gitu?."


Tangan Javir yang sedang memegang sendok hendak memasukkan makanannya kedalam mulutnya mengambang diudara.


Aslan dan Regan saling lirik satu sama lain.


Dan semua lirikan kecuali Sebastian dan Danil langsung mmtertuju pada Javir.


Ya ... Gea tidak menyukai hati binatang, bahkan mencium baunya saja dia sudah muntah-muntah, dan mereka berempat juga tahu akan hal itu.


"Kalau duren masih gak mau?"


Seakan menyiram minyak pada tabung gak yang siap meletus, semua lirikan mata langsung tertuju pada Sebastian berharap jika dia tidak lanjut mengatakan apapun yang dia ketahui tentang Gea.


Tangan Gea menepuk punggung tangan Sebashian sambil menyengir, "jangan banyak omong cepaf makan karena kita harus kembali ke hotel dan kerja dengan yang lainnya lagi" ucap Gea mencoba mengalihkan pembicaraan.


Kepala Sebastian mengangguk mengiyakan.


Tatapan mata Javir beralih pada tangan Gea sebelum dia kembali memakan makanannya dengan perasaan membara.


Diam-diam Gea menghela nafas, "gue ke toilet bentar" pamitnya.


Javir meminum air didekatnya melirik pada Alaric sambil memiringkan kepala memberi isyarat akan sesuatu.


"Gue mau ngambil sesuatu di mobil" ucap Jabir berdiri dan pergi dari sana.


Javir memeang berjalan keluar, tetapi dia tidak menuju mobil, dia menghela nafas menenangkan diri sejenak sebelum kembali masuk dan berjalan memutar ketoilet.


Javir berdiri tepat di samping toilet wanita.


Tepat ketika pintu toilet terbuka dan Gea keluar, Javir menarik pergelangan tangan Gea.


Javir melangkah keluar dari restauran itu dari pintu belakang sambil menarik gea tidak menghiraukan perkataan Gea yang memintanya untuk melepaskan tangannya.

__ADS_1


Merasa sudah tidak ada orang, Javir berbalik badan, mencengkram kedua pundak Gea dan mendorongplnya kedinding.


Mata Javir menatap tajam pada Gea, dia bahkan tidak perduli saat Gea meringis kesakiyan karena punggungnya membentur tembok.


"Apa loe sengaja melakukan hal ini?" Tanya Javir dengan nada rendah.


"Melakukan apa?" Tanya Gea denagn polosnya.


Tangan Javir mengepal dan menunjuk tembok tepat disamping kepala Gea melepaskan kekesalannya, wajahnya maju semakin mendekati wajah Gea.


"Kalau loe memang sengaja ingin membuat gue cemburu dan marah" sangar rendah hingan seperti desisan. "Selamat loe berhasil" ucap Javir penuh dengan tekanan kali ini.


Tangan Javir yang masih mengepal kembali meninju tembok disamping kepala Gea sebelum berbalik badan dan pergi begitu saja dari hadapan Gea.


^-^


Flash back


Gea menatap Sebastian yang tiba-tiba muncul di ballroon hotel Raja Thrkne tampa memberi tahunya atau krunya.


Sebastian yang tampak canggung menghampiri Gea, sudah beberapa hari mereka tidak bertemu setelah kejadian di An Angel waktu itu. Meski beberapa kali Sebastian ke An Angel, Gea tidak mau menemuinya karena takut Javor akan melihat mereka, bahkan sampai sekarang dia masih menghindar dari Maminya.


"Bisa kita bicara?" Tanya Sebastian.


Gea menghela nafas panjang, "apa lahi Tian?" Tanyanha dengan nada lelah.


Sebastian menyengir, "gue mau minta maaf. Tapi gue gak nyesel sudah mengayakan perasaan dan niat gue langsung sama Ayah loe, karena gue bener-bener tulus dan berharap kita bisa be ..."


"Tian" potong Gea, "gue menghargai perasaan loe untuk gue, dan gue berterima kasih banget akan hal itu. Tapi Tian ... Perasaan gue ke loe dari dulu tetap sama, hanya menganggap kita sebatas teman."


"Bagaimana kalau kita coba dulu, siapa tahu perasaan loe ke gue nantinya bisa berbeda, siapa tahu ki ..."


"Meskipun itu bisa saja terjadi tapi maaf, gue tidak mau mencoba" potong Gea dengan tegas.


Lagi-lagi Sebastian hanya dapat menghela nafas pasrah, "apa loe masih mencintai orang yang sama saat kita masih sekolah dulu?."


Kepala Gea mengangguk.


"Sebegitu cintanya loe sama dia sampai loe gak mau buka hati untuk orang lain?, apa dia juga mencintai loe sebesar loe gini?."


Gea tersenyum segaris, "I don't know" ucap Gea dengan santainya.


Dia berjalan keluar ballroom bersama dengan Sebastian yang mengekorinya dibelakang.


"Apa loe gila?" Ledek Sebastian sambil tertawa kecil, "cinta sama orang sedalem ini, padahal orang itu belum pasti mencintai loe balik. Mendingan sama gue deh Gea, gue se ..."


"Mau bantu coba mencari tahu?" Potong Gea.


Langkah Gea tiba-tiba berhenti dan berbalik badan menghadap Sebastian, membuat Sebastian hampir saja menabraknya.


"Mau bantu gue?" Tanya Gea dengan santainya.


Sebelah Alis Sebastia terangkat tidak mengerti dengan mood Gea yang berubah dalam kurun waktu yang singkat.


Tetapi meskipun kebingungan Sebastian menganggukkan kepala setuju untuk membantu Gea.


Senyum Gea mengembang, menggenggam pergelangan hangan Sebastian dan menariknya sambil melangkah dengan cepat keluar dari lobby hotel.


"AL TUNGGU GUE IKUT"


Flash End

__ADS_1


^-^


__ADS_2